Perilaku Mencontek pada mahasiswa

Pedoman Observasi
Perilaku Mencontek Pada Mahasiswa

A. Latar Belakang Observasi
     Dalam menghadapi era globalisasi sekarang ini, diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan ini terlebih dahulu dapat dilakukan dengan peningkatan mutu pendidikan. Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan merupakan hasil dari sebuah proses belajar diukur dengan prestas iakademik yang dicapai selama kurun waktu tertentu. Persaingan yang ketat dalam dunia pendidikan memungkinkan adanya perilaku mencontek yang dilakukan agar memperoleh hasil yang memuaskan, hal ini dilakukan oleh semua pelaku pendidikan tidak terkecuali oleh mahasiswa.   
     Kata mencontek sudah tidak asing di dunia pendidikan terutama pada siswa maupun mahasiswa sebagai peserta didik. Fenomena ini sering terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun universitas, karena setiap orang pasti ingin mendapatkan nilai yang baik dalam ujian dan segala cara di lakukan untuk mencapai tujuan itu. Banyak yang beranggapan bahwa mencontek merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja bila hasil yang didapat memuaskan.
    Masalah mencontek seharusnya menjadi masalah serius yang harus segera ditangani. Pendidikan karekater yang dicanangkan oleh pemerintah, khususnya Kementrian Pendidikan Nasional, seperti tidak bermakna. Hal ini dikarenakan perilaku mencontek telah menjadi benalu yang secara perlahan membunuh karakter mahasiswa.
    Sangat mungkin terjadi apabila tidak mendapatkan penanganan yang baik, ,mencontek mampu menjadi pintu bagi terjadinya masalah yang lebih besar. Perilaku menyontek apabila dilakukan terus menerus akan menjadi bagian dari kepribadian individu. Dampaknya, perilaku mencontek akan menjadi bagian kebudayaan yang berdampak pada kaburnya nilai-nilai moral dalam setiap aspek kehidupan dan pranata sosial dan bahkan bisa melemahkan kekuatan masyarakat.
    Saat ini mencontek pada saat ujian sepertinya bukan hal yang tabu lagi bagi sebagian kalangan mahasiswa. Berbagai cara dan strategi mulai dari yang termudah hingga yang tercanggih dilakukan untuk mendapatkan jawaban. Contohnya bertanya pada teman, saling menukar lembar jawaban, hingga melihat catatan kecil di kertas atau di handphone yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kurangnya keyakinan diri dapat menyebabkan perilaku mencontek muncul semakin tinggi. Jika perilaku mencontek tersebut sering dilakukan akan menajdi kebiasaan yang akhirnya akan menjadi budaya di kalangan mahasiswa untuk mendapat nilai akademik yang baik. Dengan kata lain, selalu mementingkan hasil daripada proses pada kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dilakukan karena dewasa ini banyak mahasiswa yang melakukan perilaku mencontek sebagai solusi mendapatkan nilai akademik dengan mudah.

B. Dasar Teori Aspek Psikologis yang Diobservasi
     Pengertian Perilaku Menyontek
    Bower (1964) mendefinisikan “cheating is manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure),” yang berarti mencontek adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuanyang terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis.
    Deighton (1971) juga mendefinisikan “Cheating is attempt an individual makes to attain success by unfair methods,”yang berarti, mencontek adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.
    Mencontek dalam tugas akademik meliputi susunan yang bermacam-macam dari fenomena psikologis, meliputi pembelajaran,perkembangan, dan motivasi. Fenomena ini merupakan inti dari psikologi pendidikan.
    Berdasarkan perspektif pembelajaran (learning), mencontek merupakan sebuah strategi yang (membuat kita berpikir pendek) berfungsi seperti cognitive shortcut. Di mana pembelajaran yang efektif seringya menggunakan pengaturan diri dan strategi kognitif yang kompleks, mencontek menghalangi pemakaian strategi tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelajar yang memilih untuk mencontek dikarenakan mereka tidak mengetahui bagaimana menggunakan strategi pembelajaran efektif atau sederhananya karena mereka tidak ingin menghabiskan waktu untk menggunakan strategi tersebut.
    Berdasarkan perspesktif perkembangan, mencontek dapat muncul dalam kuantitas dan kualitas yang berbeda tergantung dari level perkembangan kognitif, sosial dan moral siswa. Di mana mencontek cenderung sedikit muncul pada anak-anak daripada remaja (Miller, Murdock, Anderman, Poindexter), perbedaan perkembangan ini karena adanya perubahan pada kemampuam kognitif siswa dan struktur sosial dari konteks pendidikan di mana anak-anak dan remaja berinteraksi.
    Berdasarkan perspekstif motivasi, perilaku mencontek muncul karena adanya alasan tertentu dari siswa yang bersangkutan. Beberapa siswa mencontek karena mereka sangat fokus pada extrinsic outcomes seperti rangking, siswa lain mencontek karena mereka fokus dengan menjaga kesan untuk diri mereka sendiri atau untuk teman-teman mereka, kemudian siswa yang lain mencontek karena kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan diri dalam menyelesaikan tugas-tugas yang kompleks atau juga karena sifat yang telah berkembang pada diri mereka.

  Faktor-Faktor Perilaku Mencontek

Di dalam buku Pyschology of Academic Cheating di jelaskan bahwa perilaku mencontek ini berhungan dengan variabel situasi yang ada, motivasi, moral, dan faktor-faktor perkembangan. Sementara itu dari hasil survey di litbang Media Group yang dilakukan 19 April 2007, menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menyontek adalah:
a. Teman dan Sanksi (faktor lingkungan)
     Dari hasil survey litbang Media Group yang dilakukan 19 April 2007, ditemukan bahwa penyebab lingkungan ternyata lebih besar peranannya dalam memunculkan tindakan mencontek peserta didik. Hal termasuk penyebab lingkungan adalah teman dan hukuman.Ketika ditanya berapa banyak teman responden dulu yang mencontek, mayoritas responden survei litbang Media Group yang dilakukan 19 April 2007 (46%) menjawab banyak. Jumlah yang menjawab sedikit juga tidak berbeda jauh, ada 44 persen. Sedangkan yang menjawab tidak ada hanya tujuh persen saja.
     Hasil uji Chi-Square antara jawaban ini dengan jawaban pada pertanyaan pertama menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara responden yang menjawab pernah mencontek dengan yang tidak pernah mencontek. Responden yang mengaku pernah mencontek menilai banyak teman mereka yang mencontek. Sedangkan responden yang mengaku tidak pernah mencontek menilai hanya sedikit atau bahkan tidak ada teman mereka yang mencontek. Artinya, tindakan mencontek amat dipengaruhi oleh teman. Jika teman mencontek, maka peserta didik juga akan mencontek. Sebaliknya, jika teman tidak mencontek atau hanya sedikit yang mencontek maka peserta didik juga cenderung tidak akan mencontek.
     Selain teman, tindakan mencontek juga disebabkan lemahnya pemberlakuan sanksi. Mayoritas responden survei (66 %) melihat bahwa guru atau dosen hanya memberikan hukuman yang lemah seperti menegur atau meminta ujian ulang peserta didik yang ketahuan mencontek. Hanya sedikit guru atau dosen yang memberi hukuman berat seperti membatalkan kelulusan peserta didik (15 %). Pengujian dengan Chi-Square antara jawaban ini dengan jawaban pada pertanyaan pertama juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara responden yang menjawab pernah mencontek dengan yang tidak pernah menyontek. Responden yang mengaku pernah mencontek menilaihukuman yang diberikan pada peserta didik yang ketahuan mencontek ringan, tidak tentu, atau bahkan tidak ada hukuman sama sekali. Sedangkan responden yang mengaku tidak pernah mencontek cenderung menjawab hukuman yang diberikan pada peserta didik yang ketahuan mencontek berat atau tidak tentu.
b. Tekanan Tinggi
    Mencontek biasanya dilakukan siswa dalam ujian ataupun mengerjakan tugas yang mana kedua hal tersebut mempengaruhi nilai rapor ataupun lulus tidaknya seseorang dalam ujian. Hal ini memberikan tekanan kepada para siswa, tekanan tinggi inilah yang memicu seorang siswa untuk mencontek.
c. Andil Pengajar dan Pengawas
    Pengajar, baik itu guru dan dosen, atau pihak sekolah dan fakultas, berfungsi sebagai pengawas. Masalahnya, kecurangan akademik ternyata juga ditemukan pada pengajar itu sendiri. Kasus pencurian naskah UN di SMU PGRI 4 Ngawi Jawa Timur menunjukkan bahwa pengajar juga dapat terlibat dalam kecurangan akademik. Jika ditilik lebih jauh, sekolah dan perguruan tinggi sebenarnya berkepentingan atas nilai peserta didiknya. Jika peserta didik memperoleh nilai bagus atau 100% lulus, maka akreditasi sekolah atau kampus meningkat. Sebaliknya, jika nilai jeblok maka akreditasi pun terancam anjlok. Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa pengajar atau pengawas pun memiliki andil untuk mendorong para peserta didik dalam melakukan kecurangan.

Hal-hal yang Termasuk Kategori Mencontek

Bentuk-bentuk mencontek atau kecurangan akademik menurut Underwood (2006) adalah sebagai berikut:
a. Perilaku curang dalam test dan ujian didefinisikan sebagai tindakan tidak jujur yang dilakukan dibawah pengawasan yang mencakup berbagai tindakan yang dilakukan secara individual atau berkelompok untuk mendapatkan keuntungan yang tidak pantas dalam berbagai bentuk evaluasi belajar yang dapat berupa latihan, tes, atau ujian. Tindakan ini dapat berupa:
   1) Melihat lembar jawaban siswa lain.
   2) Berinteraksi secara aktif dengan siswa lain yang juga sedang melaksanakan ujian baik dengan
       isyarat-isyarat tertentu atau dengan menggunakan alat elektronik seperti handphone dan lain
       sebagainya.
   3) Mendapatkan informasi dari pihak lain yang berada di luar ruang ujian dengan memanfaatkan
       teknologi digital (handphone, dll).
   4) Menyamar atau menggantikan. Menggantikan orang lain dalam ujian dengan berpura-pura
        menjadi individu tersebut, mengerjakan tugas orang lain atau menyebabkan seseorang
        menggantikan dirinya dalam ujian dan membuat orang lain mengerjakan tugas yang seharusnya
       dikerjakan sendiri.
   5) Mendapatkan informasi yang tidak diijinkan sebelum pelaksanaan ujian (telah mengetahui soal
        dan jawaban dalam ujian tersebut).
   6) Menyimpan dan memberitahukan soal yang akan ditanyakan dalam ujian kepada siswa lain yang
       belum mengikuti ujian tanpa sepengetahuan pihak penyelenggara ujian.
   7) Mengganti lembar jawaban yang disediakan dalam ujian dengan lembar jawaban yang telah
        disediakan sendiri sebelum ujian berlangsung.
   8) Menggunakan materi atau alat-alat yang tidak digunakan saat tes berlangsung seperti kertas yang
       disembunyikan, atau mengakses internet menggunakan telepon genggam.
b. Perilaku curang dalam kegiatan akademik yang tidak diawasi (pembuatan karya tulis, pengerjaan tugas rumah). Tindakan ini dapat berupa plagiarisme, kolusi dan subtitusi.
   1) Menyalin materi-materi yang didapatkan dari karya tulis oranglain tanpa mencantumkan sumber
       dengan jelas.
   2) Menggunakan ide dan hasil karya orang lain untuk kepentingannya sendiri tanpa sepengetahuan
       sumber.
   3) Mengumpulkan karangan atau karya tulis yang sama atau sangat mirip pada dua tugas atau mata
       kuliah yang berbeda.
   4) Melakukan banyak parafrase dari sumber-sumber lain ketika membuat karya tulis tersebut,
       sebagian besar merupakan peniruan terhadap ide orang lain.

Sedangkan bentuk-bentuk perilaku curang menurut Finn & Frone (2004) dalam Rosa (2009:16) adalah sebagai berikut:
   1) Mendapatkan soal atau jawaban dari teman yang telah mengerjakan ulangan terlebih dahulu.
   2) Membantu teman mencontek saat ujian.
   3) Menyalin hampir seluruh kata demi kata dari suatu sumber dan mengumpulkan tugas sebagai
       hasil karya sendiri.
   4) Mengumpulkan tugas yang telah dikerjakan oleh orang lain atau orang tua.
   5) Mengerjakan tugas bersama orang lain padahal tidak ada instruksi untuk bekerjasama.
   6) Membiarkan orang lain menyalin tugas yang telah dikerjakan.
   7) Menyalin beberapa kalimat tanpa mencantumkan sumber aslinya.

C. Metode Observasi
     Metode yang akan digunakan dalam observasi ini adalah observasi alami (naturalistik).Dalam metode observasi peneliti berada di luar objek yang diteliti atau tidak menampakkan diri sebagai orang yang sedang melakukan penelitian. Sumber datanya ialah situasi wajar atau “natural setting”. Peneliti dengan demikian mengumpulkan data berdasarkan observasi situasi yang wajar, sebagaimana adanya, tanpa dipengaruhi.
1) Definisi Operasional Aspek yang Diobservasi
    Mencontek adalah sebuah strategi yang membuat kita berpikir pendek dengan cara-cara tidak jujur
    yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan akademik dan menghindari kegagalan
    akademik. Mencontek dalam tugas akademik meliputi susunan yang bermacam-macam meliputi
    pembelajaran, perkembangan, dan motivasi.
2) Tujuan Observasi
   − Memenuhi tugas dari dosen pembimbing.
   − Membuktikan perilaku mencontek mahasiswa dengan cara - cara tertentu saat dilaksanakannya
      ujian
3) Kriteria Subjek
  − Jumlah Subjek : 36 orang mahasiswa diamati secara bersamaan
  − Jenis Kelamin Subjek : Pria dan Wanita.
  − Usia Subjek : 18 tahun keatas.
4) Perilaku yang diamati
    Perilaku mencontek mahasiswa kelas 22B jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Mercu
    Buana Yogyakarta saat ujian mata kuliah Ekonomi Dasar.
5) Observer
    Observer merupakan mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta Fakultas Psikologi semester
    2 yang telah mempunyai dan kompeten dalam bidang Observasi. Dalam pengamatan ini,
    dibutuhkan observer sebangayak enam orang dengan tugas satu orang observer, mengobservasi 6
    orang mahasiswa yang duduk di barisan depan, tengah dan belakang.
6) Setting Lokasi/Tempat dan Waktu Observasi
    − Tempat : Kampus 4 Universitas Mercu Buana Yogyakarta Ruang 310
    − Hari/Tanggal : Sabtu, 07 Mei 2016
    − Waktu : 08.00 – 09.00
    − Durasi : 60 menit
7) Jenis Observasi yang Akan Digunakan
    Jenis observasi yang akan digunakan oleh tim penyusun yaitu observasi non partisipan dan
    observasi sistematik.
   a. Observasi Non Partisipan
       Observasi non partisipan adalah observasi yang dalam pelaksanaannya tidak melibatkan peneliti  
       sebagai partisipan atau kelompok yang diteliti.
   b. Observasi Sistematik
       Observasi Sistematik adalah observasi yang diselenggarakan dengan menentukan secara 
       sistematik faktor-faktor yang akan diobservasi lengkap dengan kategorinya. Dengan kata lain 
       wilayah materi observasi telah dibatasi secara tegas sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian.
       Umumnya observasi sistematik dilakukan dalam jangka waktu pendek. Oleh karena itu agar
       terkumpul data sebanyak mungkin, maka observasi ini memerlukan lebih dari seorang observer
       dan bilamana dimungkinkan dilengkapi pula dengan penggunaan alat pecatat mekanik
       (elektronik).
8) Teknik Pencatatan
    Teknik observasi yang digunakan berupa event sampling. Teknik event sampling fokus pada
    perilaku itu sendiri dan eksplorasi dari karakteristik event. Pada event sampling, observer
    menunggu kemunculan perilaku yang dipilih kemudian merekamnya. Tidak ada batasan waktu,
    fokus ada pada perilaku itu sendiri dan waktu adalah sebagai akibat dari durasi normal dari
    peristiwa. Rentang perilaku-perilaku yang diamati dibatasi . Pada event sampling, waktu yang
    dibutuhkan tidak dapat ditentukan. Pada kasus observasi ini, akan dihitung berapa banyak suatu
    indikator perilaku muncul pada mahasiswa menggunakan teknik tally mark.

D. Lembar Pencatatan Observasi
LEMBAR REKAM OBSERVASI

    Selain itu, berdasarkan observasi yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sejumlah mahasiswa terlihat melakukan tingkah laku mencontek dengan jumlah total mahasiswa yang melakukan tingkah laku mencontek sebanyak 2 orang dari 36 mahasiswa dan tidak melakukan perilaku menyontek sebanyak 34 orang dari 36 orang mahasiswa. Tingkah laku yang paling banyak muncul adalah melihat lembar jawaban siswa laindan yang paling jarang atau tidak pernah muncul adalah mengganti lembar jawaban yang disediakan dalam ujian dengan lembar jawaban yang telah disediakan sendiri
    Tingkah laku menyontek lain yang muncul diluar prediksi tingkah laku menyontek yang telah ditentukan sebelumnya (dalam tabel lembar rekam observasi) adalah sebagai berikut :
1. Ruangan hening namun bisa terdengar suara pssst
2. Banyak mahasiswa yang meminjam alat tulis antar sesama
3. Terdengar suara ringtone hp mahasiswa
4. Terdapat subjek yang berpura pura menjatuhkan bolpoin
9 | Tugas Observasi Mahasiswa Kelas 21C UMBY Tahun 2016
5. Terdapat subjek yang mengganggu temannya saat ujian berlangsung
6. Terdengar suara suara “nomor 1..... nomor 3...... “
7. Terdapat subjek yang melempar sebuah kertas ke teman lain sebanyak satu kali
8. Subjek A terlihat berinteraksi aktif dengan teman di sekitarnya
9. Terdapat subjek yang terlihat bertukar lembar jawaban dengan temannya
10. Terdapat subjek yang mencolek teman di depannya
11. Terdapat subjek yang mengobrol dengan temannya
12. Aada subjek yang meminta izin untuk mengambil tambahan alat tulis didalam tasnya
13. Suasana kelas sangat rusuh ketika pengawas meninggalkan kelas dalam waktu sekejap

No comments:

Post a Comment