Wednesday, May 31, 2017

Refleksi Tentang Gagasan Jung


(1)
Kegelapan Di Atas Kegelapan:
"Seberapa gelap Kedirian Kita"?

    Dalam banyak hal barangkali kita ini tidak lebih dari lembaran photo copy dari teks yang ditulis, dirancang oleh lingkungan (keluarga, masyarakat, budaya). Kita lahir, tumbuh dan berkembang dalam dunia yang telah lengkap dengan prinsip, nilai, norma, aturan. Itu serupa tisu yang dicelupkan dalam cawan bertinta merah, maka merahlah ia. Dengan begitu, apa yang disebut sebagai diri yang otentik, terlalu sulit dilacak, dikenali, bahkan dibayangkan.
Dan itu pun masih dipergelap dengan persona, yang membuat kita begitu terlatih melakukan penipuan diri. Menampakkan wajah yang lain, yang barangkali jauh berbeda dari wajah kita yang sebenanya. Selain bahwa kenyataannya, ada shadow, yang barangkali kita malu mengakuinya, menentangnya, dan atau mengingkarinya. Itu sisi gelap, dorongan-dorongan hewan purba, yang membuat kita sama dengan binatang ternak, atau yang lebih liar dari itu. Dan hewan yang berpikir, dapat melakukan kekejian-kekejian yang bahkan tak dapat dilakukan oleh binatang. Juga anima-animus
Artinya, bukan hanya kegelapan kita yang berlapis-lapis, tapi juga ada pertentangan-pertentangan jiwa yang berlawanan, yang bila sedemikian carut marutnya, membuat kita tak lagi mengenali bagian sadar dan tak sadar dari diri kita. Seperti labirin, semakin masuk ke dalam, menyusurinya, semakin gelap dan semakin gelap, penuh ranjau. Maka, dalam keadaan semacam itu, nyaris mustahil mengalami keutuhan kepribadian, menyatunya semua aspek dalam jiwa yang berlawanan. Dan lebih mustahil lagi, melakukan realisasi diri (self-realization). Tak ada yang dapat direalisasikan dari diri yang tak otentik, dari jiwa yang begitu gelap, tak disadari, tak dikenali.
Maka, barangkali ada banyak orang yang hidup dan mati bukan sebagai diri sendiri. Mereka pikir dirinya kupu-kupu, tapi sebenarnya kepompong. Dikira kepompong, tapi sejatinya ulat. Dan itu pun kupu-kupu, kepompong, dan ulat yang dikonstruks oleh hal-hal di luar diri. Hidup dan mati hanya dalam evolusi tubuh, tapi tidak demikian dengan jiwanya. Tubuh berevolusi, dan dapat saja tumbuh lebih cepat, tapi ada perhentian. Namun tidak begitu dengan jiwa. Ia dapat terus tumbuh, tak punya garis tepi. Kitalah yang membuatnya bertepi, dan lalu membusuk.

(2)
Membaca Diri:
"Ekstravert atau Introvert"?

     Membaca Jung, saya jadi tergoda untuk membacai diri sendiri. Sekaligus ingin menunjukkan bagaimana gagasan tentang dunia luar (ekstravert) dan dunia dalam (introvert) ini, dapat difahami, ditafsir dengan cara yang sedikit berbeda.
Agaknya, saya lebih cenderung introvert ketimbang ekstravert. Saya lebih betah dengan kesendirian ketimbang kebersamaan. Lebih tahan dalam kesunyian ketimbang keramaian. Saya dapat berhari-hari, berminggu, dan berbulan sendirian. Tapi akan merasakan kelelahan psikologis, kosong, hampa bila terlalu sibuk dengan banyak orang, dalam keramaian, bahkan dalam hitungan dua tiga hari. Saya merasa, ada sesuatu yang hilang dari diri saya. Dan itu penanda, bahwa saya butuh kesendirian. Beranjak menuju diri, beringsut dari dunia luar.
Pun begitu, ada sesi keberminatan indrawi (sensing) dalam diri saya. Ketika terlalu lama sendiri, saya juga merasa kosong, sebab terhempas dari realitas, berjauh jauh jarak dengan dunia luar. Itu penanda bagi saya untuk keluar menghirup udara di luar diri. Dan sederhana. Saya hanya mengendari motor, keliling desa-desa, menyusuri jalan-jalan yang membelah persawahan, dan lalu berhenti di warung kecil, perlintasan kereta api, atau menatap senja kemerahan. Seringkali bersama isri dan anak saya. Atau, saya tetap berdiam di rumah, mendengarkan musik yang saya suka, atau mencari-cari musik yang lain. Itu sudah cukup membuat jiwa saya terisi kembali. Itulah kenapa, saya tak suka hiburan yang digambarkan banyak orang (jalan-jalan, nonton dan semacamnya). Bila saya melakukannya, itu wujud dari perhatian dan penghargaan saya pada orang lain. Dan terutama, orang-orang terdekat. Berpikir (thinking) tentu saja adalah dunia terbesar dari diri saya sebagai seorang pengajar. Dan itu lebih dari sekedar tugas rutin, formal-prosedural. Mengajar yang di dalamnya riuh dengan dialektika pemikiran, adalah sebentuk jalan hidup, yang saya bahagia, bermakna melakukannya. Atau semacam pengabdian, yang disana saya menangkap sisi heroik. Saya meyakini, merasa, dan mengalami bahwa saya dapt bertumbuh dalam jalan yang saya pilih.
Namun, diantara penanda seorang manusia adalah juga tentang rasa (feeling). Cinta, rindu, syukur, keharuan, keterikatan psikologis, bahagia, makna-makna adalah tentang rasa, yang seringkali tak tertakar oleh pikiran. Itulah mengapa mencintai dengan hati, memahami dengan pikiran. Dan itu bukan hanya akan membentuk cinta yang mencerdaskan, tapi juga ditaburi dengan gugusan syair. Rasa adalah bagian dari diri yang selayaknya diperkaya.
Dan tentu saja, indrawi yang secara sadar dipilih, pikiran yang benar-benar dipertajam, dan rasa yang sungguh-sungguh diolah, dapat menguatkan intuisi (intuiting) yang sekali waktu dapat diandalkan saat tak cukup pijakan untuk bergerak.

(3)
Merenung-Refleksi Diri:
"Apakah Lebih Mungkin yang Introvert"?

     Ekstrovert dan introvert itu, juga fungsi-fungsi psikologisnya bersifat netral, belum terkait dengan positif dan negatif. Ia berkaitan dengan seberapa banyak energi kesadaran yang dikeluarkan, apakah ke luar diri (ekstrovert) ataukah ke dalam diri (introvert). Juga fungsi-fungsi psikologisnya, apakah lebih thingking (pemikir) feeling (perasa) sensing (pengindra), ataukah intuiting (intuitif). Misalnya, dua orang yang sama-sama ekstravert ketika melihat gelandangan kecil jalanan, bisa jadi beda penayerapannya. Yang pemikir-thingking, mungkin berkata, “Apa dan mengapa anak-anak hidup dijalanan?” Dan yang perasa-feeling mungkin berkata, “Oh, kasihan sekali.” Dan tentu saja, dalan thinking ada feeling, dalam feeling ada thinking.
Jung yang mengatakan, “Who looks outside, dreams, who looks inside, awakes.” Apakah dengan begitu, yang introvert lebih mungkin dapat melakukan refleksi diri dibanding ekstrovert? Jawabanya, belum tentu, dan tidak sesedehana itu.
Pertama-tama, kita cermati dulu apa itu refleksi diri? Secara sederhana, ia petama-tama adalah suatu upaya sadar membangkitkan ulang atau memantulkan pengalaman tentang diri. Ibrat LCD proyektor yang memantulkan cahaya ke arah slide, sehingga materi, file-file, bukan saja terlihat jauh lebih luas tapi juga lebih besar, baik huruf dan atau gambar-gambarnya. Dengan begitu, akan jauh lebih jelas dan terang itu huruf, kata, kalimat, dan gambar apa, juga maknanya.
Nah, karena dalam ruang refleksi itu, pengalaman tentang diri menjadi jauh lebih jelas dan terang, maka yang bersangkutan dapat melakukan permenungan, intropeksi, pembenahan, menata, manafsir ulang tentang diri, hidup, pengalaman dan dunianya. Artinya, ada kemungkinan bagi peningkatan kesadaran. Sadar itu artinya terjaga (awakes). Orang yang terjaga menjadi tahu, sadar apa dan bagaimana sebaiknya dan semestinya berbuat. Itulah saya kira makna dari, “Who looks inside, awakes.” Adapun, “Who looks outside, dream” itu kebalikannya. Terlalu fokus, sibuk, terjebak pada perkara dunia, orang-orang, pekerjaan dan sebagainya, sehingga lalai melakukan permenungan, intropekesi, pembenahan, menata, manafsir ulang tentang diri, hidup, pengalaman dan dunianya. Tidak punya LCD proyektor diri. Dengan begitu, tidak memiliki cukup kejelasan, kesadaran, dan pemahaman tentang apa, mengapa, dan bagaimana diri dan dunianya. Karena tak cukup kejelasan, kesadaran, dan pemahaman tentang apa, mengapa, dan bagaimana diri dan dunianya, bisa jadi yang dia lakukan penuh ilusi, semu, mimpi-mimpi (dreams). Nah, “Who looks inside, awakes“ dan “Who looks outside, dream” itu berbeda, dan atau tak sesedehana dengan apa yang dimasud ekstrovert-introvert.
Perlu diperhatikan bahwa ekstrovert itu lebih tertuju di luar diri (toward the outside world), yakni orang yang cenderung tebuka, asertif, dapat bersosialisi, orientasi pada orang lain, dunia di luar diri. Sementara yang introvert ke dalam diri (toward of the self), yakni cenderung menarik diri, pemalu, fokus pada diri, baik pikiran maupun perasaan.
Apakah orang yang cenderung menarik diri, pemalu, fokus pada diri, baik pikiran maupun perasaan (introvert) lebih mungkin melakukan refleksi diri, dibanding orang yang cenderung tebuka, asertif, dapat bersosialisi, orientasi pada orang lain, dunia di luar diri (ekstrovert)? Jawabannya, belum tentu, dan tidak sesedehana itu. Gampangnya, diam belum tentu merenung. Dan merenung belum tentu dalam diam. Apakah orang yang sibuk dengan pikiran dan perasannya sendiri bermakna sedang melakukan refleksi? Belum tentu juga. Apakah orang yang tebuka, bersosialisi, banyak hadir di dunia di luar tak punya waktu untuk melakukan refleksi? Juga belum tentu.
Ekstrovert dan introvert itu baru sebatas soal seberapa banyak energi kesadaran yang dikeluarkan, apakah ke luar diri atau kah ke dalam diri, dan belum menyangkut fungsi psikologis, apakah ekstrovert-introvert yang pemikir (thingking); yang perasa (feeling); yang pengindra (sensing); ataukah yang intuitif (intuiting). Katakanlah misalnya, introvert yang pemikir yang lebih fokus pada ide-ide, gagasan ketimbang orang. Pertanyaanya, apakah yang dipikir itu ide-ide, gagasan tentang apa dan bagaimana diri dan hidupnya, yang membawanya pada refleksi? Belum tentu. Atau juga ekstrovert yang pemikir, yang logis, objektif, analisis. Pertanyaanya, apakah yang dipikir secara objektif analisis itu selalu tenang hal-hal di luar diri dan pengalamannya? Juga belum tentu.
Jadi, refleksi itu akan lebih pada soal peristiwa, moment-moment penting tentang diri dan apa yang dialami seseorang, ketimbang perkara apakah seseorang itu ekstrovert dan introvert.
No comments:
Write komentar

ads

Translate

FeedBurner

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Author

Author
myself