Penyesuaian diri mahasiswa baru(Fresh Men) dengan Lingkungan Kampus



Topik Wawancara
Penyesuaian diri mahasiswa baru(Fresh Men) dengan Lingkungan Kampus"


A. Latar Belakang & Tujuan Wawancara
 1.Latar Belakang

     Manusia merupakan makhluk dinamis yang terus mengalami perkembangan dampir dalam setiap kali manusia memasuki lingkungan baru, manusia membutuhkan fase beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Salah satunya adalah perubahan menjadi mahasiswa baru. Istilah mahasiswa baru (freshman) menurut kamus Oxford (Hornby,1995. h. 473) adalah pada masa tahun pertama di Universitas. Mahasiswa tahun pertama umumnya berusia antara 17 sampai 20 tahun.
    Mahasiswa baru merupakan stataus yang disandang oleh mahasiswa di tahun pertamanya kuliah. Memasuki dunia kuliah merupakan merupakan perubahan besar pada hidup seseorang (Santrock,2006; Greenberg, 1999). Biasanya individu mengalami banyak perubahan ditahun pertamanya kuliah ketika memasuki perguruan tinggi. Hal ini terkait dengan penyesuaian yang merupakan permasalahan berat yang haru  dihadapi individu ketika memasuki dunia kuliah (dyson & renk,2006) penyesuaian diperlukan karena adanya perubahan pada kehidupan individu.
    Menurut Apollo (dalam Santoso dan Brotowidagdo, 2012) dalam hal pencarian jati diri selain dimasyarakat, sekolah juga memberikan andil yang cukup besar dalam membentuk kepribadian dan pola pikir remaja. Karena banyak waktu yang dilalui oleh remaja salah satunya di lingkungan sekolah. Tidak berbeda halnya dengan masalah yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Maka dari itu remaja harus mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan dan keadaan yang baru. Salah satu hal baru yang ditemui remaja adalah masuknya remaja ke lingkungan baru mereka yakni jenjang pendidikan perguruan tinggi.
       Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang bersifat dinamis. Dinamika penyesuaian diri melibatkan sejumlah faktor-faktor psikologis dasar yang mengantarkan individu kepada perilaku yang ajastif/penyesuaian diri yang baik (adjustive behavior).

2. Tujuan

 1. Untuk mengetahui dinamika penyesuaian diri mahasiswa baru dengan lingkungan kampus
 2. Mengetahui faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri
 3. Menambah kajian ilmiah tentang penyesuaian mahasiswa baru
 4. Untuk mengetahui kepercayaan diri mahasiswa baru dalam beradaptasi dengan lingkungan
     kampus
 5. Mengetahui bagaimana mahasiswa baru meyesuaikan diri dengan lingkungan kampus
 6. Untuk menengetahui seberapa besar pengaruh kepercayaan diri terhadap penyesuaian sosial

B.DasarTeori
 1.Dasar Teori

    
Definisi Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan yang baru dan harapan-harapan sosial baru. Orang dewasa awal diharapkan memaikan peran baru, seperti suami/istri, orang tua, dan pencari nafkah, keinginan-keingan baru, mengembangkan sikap-sikap baru, dan nilai-nilai baru sesuai tugas baru ini (Hurlock, 1996).
Hurlock (1993) dalam hal ini telah mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya.
      Menurut Piaget (dalam Santrock, 2002: 15) pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11 sampai 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealis, dan logis daripada pemikiran operasional konkret. Piaget menekankan bahwa bahwa remaja terdorong untuk memahami dunianya karena tindakan yang dilakukannya penyesuaian diri biologis.
      H. S. Becker dalam Personal Changes in Adult Life (1964) menyatakan bahwa masa dewasa awal merupakan suatu masa atau periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan yang baru dan harapan-harapan sosial baru.
   Secara biologis, masa ini merupakan puncak pertumbuhan fisik yang prima, sehingga dipandang sebagai usia yang tersehat dari populasi manusia secara keseluruhan (healthiest people in population).
   Secara psikologis, pada usia ini tidak sedikit di antara mereka yang kurang mampu mencapai kematangan. Hal ini disebabkan karena banyaknya masalah yang dihadapinya dan tidak mampu mengatasinya.
 
  2.
Defenisi Penyesuaian Diri
     Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Penyesuaian disebut dengan istilah adjusment. Adjustment merupakan suatu hubungan yang harmonis dengan lingkungan fisik dan sosial (Chaplin, 2000: 11). Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya.
    Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu proses yang mencakup suatu respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dari dunia luar atau lingkungan tempat individu berada (Ali & Asrori, 2004).
    Menurut Schneiders (dalam Patosuwido, 1993) penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustrasi dan kemampuan untuk mengembangkan mekanisme psikologi yang tepat.
    Sawrey dan Telford (dalam Colhoun & Acocella, 1990) mendefinisikan penyesuaian diri sebagai interaksi terus-menerus antara individu dengan lingkungannya yang melibatkan sistem behavioral, kognisi, dan emosional.
    Menurut Callhoun dan Acocella (dalam Sobur, 2003), penyesuaian dapat didefenisikan sebagai interaksi individu yang kontinu dengan diri individu sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia individu.
    Schneiders (1964: 51) mendefinisikan penyesuaian diri
yaitu “A process, involving both mental and behavioral responses, by which an individual strives to cope successfully with inner, needs, tensions, frustration, and conflicts, and to effect a degree of harmony between these inner demands and those imposed on him by objective world in which the lives”( Penyesuaian diri merupakan proses yang meliputi respon mental dan perilaku yang merupakan usaha individu untuk mengatasi dan menguasai kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, frustasi, dan konflik-konflik agar terdapat keselarasan antara tuntutan dari dalam dirinya dengan tuntutan atau harapan dari lingkungan di tempat ia tinggal).
     Menurut Schneiders (1964), pengertian penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:
 
1. Penyesuaian Diri Sebagai Adaptasi (Adaptation)
      Dilihat dari latar belakang perkembangannya, pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation). Padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti, fisiologis, atau biologis. Dengan demikian, dilihat dari sudut pandang ini, penyesuaian diri cenderung diartikan sebagai usaha mempertahankan diri secara fisik (self-maintenance atau servival).
  2. Penyesuaian diri sebagai Bentuk Konformitas (Conform)
     
Dalam sudut pandang ini, individu selalu diarahkan kepada tuntutan konformitas dan terancam akan tertolak dirinya manakala perilakunya tidak sesuai dengan norma yang berlaku
  3. Penyesuaian Diri sebagai Usaha Penguasaan (Mastery)
     
individu mampu membuat rencana dan mengorganisasikan respon diri sehingga dapat menguasai, menanggapi masalah secara efisien dan variasi individu (perbedaan individual pada perilaku dan respon terhadap masalah). penyesuaian diri sebagai usaha individu untuk mengatasi tekanan dan menguranginya tuntutan kebutuhan serta usaha memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dan tuntutan lingkungan, selanjutnya berusaha untuk menyelaraskan hubungan individu dengan realitas.

   3.Aspek Penyesuaian diri
      Skala yang disusun aspek penyesuaian diri yaitu aspek self knowledge dan self insight, aspek self objectifity dan self acceptance, aspek self development dan self control, aspek satisfaction yang dikemukakan oleh Pramadi (1996, h.240). tingkat penyesuaian diri remaja diperoleh dari perolehan skor hasil pengisian skala. Semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala penyesuaian diri maka semakin tinggi penyesuaian dirinya. Sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah penyesuaian diri remaja.
      Menurut Enung, (2008: 207) pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu: penyesuaian pribadi dan penyesuain sosial.
1. Penyesuaian pribadi
    Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya.
2. Penyesuaian Sosial
    Setiap individu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti.
Mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman, atau masyarakat luas secara umum.
Aspek-aspek Penyesuaian Diri
    Menurut Fromm dan Gilmore (dalam Desmita, 2009:195) ada empat aspek kepribadian dalam penyesuaian diri yang sehat antara lain :
a. Kematangan emosional, yang mencakup aspek-aspek :
    Kemantapan suasana kehidupan emosional
    Kemantapan suasana kehidupan kebersamaan dengan orang lain
    Kemampuan untuk santai, gembira dan menyatakan kejengkelan
    Sikap dan perasaan terhadap kemampuan dan kenyataan diri sendiri
b. Kematangan intelektual, yang mencakup aspek-aspek :
    Kemampuan mencapai wawasan diri sendiri
    Kemampuan memahami orang lain dan keragamannya
    Kemampuan mengambil keputusan
    Keterbukaan dalam mengenal lingkungan
c. Kematangan sosial, yang mencakup aspek-aspek :
    Keterlibatan dalam partisipasi sosial
    Kesediaan kerjasama
    Kemampuan kepemimpinan
    Sikap toleransi
d. Tanggung jawab, yang mencakup aspek-aspek :
    Sikap produktif dalam mengembangkan diri
    Melakukan perencanaan dan melaksanakannya secara fleksibel
    Sikap empati, bersahabat dalam hubungan interpersonal
    Kesadaran akan etika dan hidup jujur

    Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan jumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi perbaikan dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok (Sarwono Sarlito, 2008: 84).
    Kedua hal tersebut merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuain sosial untuk menahan dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawasan yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat (Enung, 2008: 208).
     Ahli lain berpendapat bahwa Aspek-aspek penyesuaian diri meliputi :
  1. Aspek afektif emosional meliputi: perasaan aman, percaya diri, semangat, perhatian, tidak menghindar, mampu memberi dan menerima cinta, berani.
  2. Aspek perkembangan intelektual atau kognitif, meliputi: kemampuan memahami diri dan orang lain, kemampuan berkominikasi dan kemampuan melihat kenyataan hidup.
  3. Aspek perkembangan sosial meliputi: mengembangkan potensi, mandiri, fleksibel, partisifatip, dan bekerja sama (Zainun, 2002: 6).
C. Metode wawancara
  1.Definisi Operasional dan Aspek-aspek wawancara
Definisi Operasional
   Penyesuaian diri adalah suatu proses. Dan salah satu ciri pokok dari kepribadian yang sehat mentalnya adalah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Aspek-aspek wawancara
1. Menentukan topik wawancara
2. Memilih/menentukan narasumber
3. Menentukan tempat dan waktu wawancara
4. Membuat daftar pertanyaan
5. Membawa perlengkapan yang diperlukan, misalnya alat tulis atau perekam.


  2.Tujuan Wawancara
     
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyesuaian diri serta menilai seberapa cepat dan bagaimana proses tahapan mereka dalam beradaptasi dengan lingkungan dan mencari pemahaman tentang penyesuaian diri mahasiswa dengan lingkungan berunya.

  3.Kriteria Subjek (siapa dan apa yag diamati, jumlah subjek)
     S
ubjek dalam penelitian ini adalah tiga orang mahasiswa baru yang terdiri dari dua orang mahasiswa dan satu orang mahasiswi yang kebetulan rekan kerja saya.
yang diamati diantaranya: cara dia berbicara dan intonasinya, ekspresi wajah, personal space, dan bahasa tubuh.

  4.Kriteria Pewawancara
      Pewawancara menjelaskan tujuan kepada koresponden,  pewawancara memberikan empati dengan mendengarkan masalah yang sedang di alami oleh narasumber agar narasumber mendapatkan ketenangan dan rasa aman. Dilanjutkan dengan menggali informasi lebih dalam dari narasumber demi mendapat informasi tentang penyebab masalah narasumber.

  5.Setting Lokasi/tempat dan waktu (perkiraan tempat wawancara dan durasi wawancara)
   Penelitian ini dilaksanakan di kantin Universitas UKRIM  yang terletak di Jl. Solo Km 11,1  Yogyakarta, kampusnya kebetulan tidak jauh dari rumah saya.
Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal  28 April 2017. selama sekitar 45 menit.  

  6.Jenis Wawancara yang akan digunakan
  
Penelitian ini menggunakan metode semi terstruktur dengan pendekatan fenomenologi. Secara umum, pertanyaan yang digunakan dalam wawancara menggunakan petanyaan terbuka dan tidak sepenuhnya berpedoman pada naskah pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya, pertanyaan yang akan diajukan tergantung pada konteks jawaban dari intervuew nantinya. Namun, masih dalam batasan-batasan pertanyaan yang relevan dengan tujuaan wawancara itu sendiri.
  
Berdasarkan penelitian ini, mereka mampu menyesuaikan diri dengan baik dengan lingkungan barunya. Kemampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan baik dengan lingkungan barunya berdampak kepada hubungan baik mereka dengan lingkungannya. Ada beberapa hal yang menjadi faktor kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan kampus yaitu kepribadian dan adanya senior yang juga saudara dan kakak tingkat semasa di SMA atau SMP, maupun adanya teman dari daerah yang sama sehingga proses penyesuaian antar individu dan kelompok berjalan baik. Waktu dan Tempat Penelitian.

D. Rancangan daftar pertanyaan
  1. Penyesuaian pribadi
-apakah anda pemalu?
-apakah anda termasuk orang yang suka menyapa oragn yang anda belum kenal apabila bertemu?
-apakah anda termasuk orang yang suka menyapa oragn yang anda belum kenal apabila bertemu?
-apakah anda termasuk orang yang mengajak orang berkenalan terlebih dahulu?
-Apakah anda merasa nyaman berkumpul dengan teman-teman baru ?
-Apakah anda mudah mendapatkan teman di tempat kuliah anda ?
-bagaimana anda mengidentifikasi diri dalam lingkunggan universitas?
-Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan anda susah untuk menyesuaikan diri?
pernahkah anda langsung dapat menyesuaikan diri?

  2. Penyesuaian Sosial
-Apakah dengan teman sekelas mudah meyesuaikan diri?
-Bagaimana anda menyesuaikan diri dengan teman yang baru anda kenal?
-Apakah anda sering melakukan kegiatan bersama teman-teman anda ?
-Apakah anda termasuk orang yang susah menyesuaikan diri dengan lingkungan?
-Apakah anda dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar?
-Apakah llingkungan yang tidak nyaman mempengaruhi prestasi anda  dan minat belajar anda?
-Apakah yang anda lakukan agar tetap bisa bertahan dalam komunitas itu?
-Apakah perbedaan budaya menghambat anda dalam bersosialiasi? 
-Dalam rangka proses penyesuaian diri apakah anda mendapat dukungan dari orang-orang di sekitar anda?


    Daftar Pusataka
Hurlock, E. B. (1994). Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.
Ali, M. 2012. Psikologi Remaja Perkambangan Peserta Didik. akarta: Bumi Akasara
Pramadi, A. 1996. Hubungan Antara Kemampuan Penyesuaian Diri Terhadap Tuntutan Tugas dan Hasil Kerja. Anima. Volume XI. Nomor 43. Halaman 237 – 245 (Jurnal Penelitian kajian ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Surabaya).
Enung F. 2008. Psikologi Perkembangan Peserta didik. CV PUSTAKA SETIA. Bandung.
Sarwono,  Sarlito W. 2008. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Zainun. 2002. Psikologi Anak. Jakarta: Gramedia.

Comments

Popular posts from this blog

OTAK dan Pengaruhnya terhadap perilaku manusia

Struktur Otak & Fungsinya