Hadits Tentang Walimatul 'Urs

Pengajian Ahad Pagi Majlis Tafsir AL-Qur'an(MTA) 
Ahad, 07 Mei 2017/10 Sya’ban 1438
   Brosur No. : 1853/1893/IA


Walimatul 'Urs

1. Anjuran mengadakan walimatul 'urs

Walimatul 'Urs ialah menyelenggarakan makan-makan sehubungan dengan pernikahan, baik ketika ijab qabul maupun sesudahnya. Di dalam hadits disebutkan :

Dari Anas bin Malik RA, bahwasanya 'Abdur Rahman bin 'Auf datang kepada Rasulullah SAW sedangkan padanya ada bekas kuning-kuning. Lalu Rasulullah SAW bertanya kepadanya, maka ia memberitahukan kepada beliau bahwa ia baru saja menikah dengan wanita Anshar. Rasulullah SAW bertanya, "Berapa kamu memberikan mahar kepadanya ?". 'Abdur Rahman bin 'Auf menjawab, "Seberat biji kurma dari emas". Rasulullah SAW bersabda, "Selenggarakanlah walimah meskipun (hanya) dengan (menyembelih) seekor kambing".
[HR. Bukhari juz 6, hal. 139]
~
Dari Anas (bin Malik) RA, bahwasanya Nabi SAW melihat ada bekas kuning-kuning pada 'Abdur Rahman bin 'Auf. Maka beliau bertanya, "Apa ini ?". Ia menjawab, "Ya Rasulullah, saya baru saja menikahi wanita dengan mahar seberat biji kurma dari emas". Maka beliau bersabda, "Semoga Allah memberkahimu. Selenggarakanlah walimah meskipun (hanya) dengan (menyembelih) seekor kambing".
[HR. Bukhari juz 6, hal. 139]
~
Dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi SAW melihat ada bekas kuning-kuning pada 'Abdur Rahman bin 'Auf. Maka beliau bertanya, "Apa ini ?". Ia menjawab, "Ya Rasulullah, saya baru saja menikahi wanita dengan mahar seberat biji kurma dari emas". Maka beliau bersabda, "Semoga Allah memberkahimu. Selenggarakanlah walimah meskipun (hanya) dengan (menyembelih) seekor kambing".
[HR. Muslim juz 2, hal. 1042]

2. Mengadakan walimah supaya diukur dengan kemampuannya. Mengadakan walimah tidak harus mewah, tetapi supaya diukur dengan kemampuannya, dan jangan mengangkat yang di luar kemampuannya.
Rasulullah SAW dalam mengadakan walimah cukup sederhana. Di dalam hadits disebutkan :

Dari Anas, ia berkata, "Nabi SAW tidak pernah menyelenggarakan walimah atas (pernikahannya) dengan istri-istri beliau sebagaimana walimah atas (pernikahannya) dengan Zainab, beliau menyelenggarakan walimah dengan (menyembelih) seekor kambing". [HR. Bukhari juz 6, hal. 142].
'~
Dari Shafiyah binti Syaibah, ia berkata, "Nabi SAW pernah mengadakan walimah pada (pernikahannya) dengan sebagian istri beliau dengan dua mud gandum". [HR. Bukhari juz 6, hal. 143].
~
Dari Anas bahwasanya Rasulullah SAW memerdekakan Shafiyah, lalu menikahinya, dan beliau menjadikan kemerdekaannya itu sebagai maharnya. Dan beliau membuat walimah pada pernikahannya itu dengan hais (makanan yang terbuat dari kurma, keju dan minyak samin). [HR. Bukhari juz 6, hal. 142]
~
Dari Anas, ia berkata : Nabi SAW pernah singgah diantara Khaibar dan Madinah selama tiga malam, dimana beliau mengadakan pernikahan dengan Shafiyah binti Huyaiy. Kemudian aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimahnya, yang pada walimah itu tidak ada roti dan tidak pula daging. Beliau menyuruh supaya dihamparkan tikar-tikar, lalu diletakkan di atasnya, kurma, keju dan samin. Itulah walimah beliau. Lalu kaum muslimin pada bertanya, "Ini walimah salah seorang ummul mukminin ataukah hamba perempuan yang dimiliki beliau ?". Lalu mereka menjawab, "Jika Nabi SAW menutupinya, maka ia adalah seorang ummul mukminin, dan jika beliau tidak menutupinya, maka ia adalah hamba yang beliau miliki". Kemudian tatkala Nabi SAW akan berangkat meneruskan perjalanan, beliau lalu menaikkannya di belakang beliau, lalu menarik tabir untuk menutupi antara Shafiyah dengan orang banyak.
[HR. Bukhari juz 6, hal. 139].
~
Dari Anas bin Malik, ia berkata, "Rasulullah SAW menikah, lalu beliau mengadakan walimah". Anas berkata, "Lalu ibuku Ummu Sulaim membuat makanan hais, lalu ia tuangkan dalam bejana, kemudian ia berkata, "Hai Anas, bawalah ini kepada Rasulullah SAW. Dan katakanlah, "Ibuku mengirimkan ini untuk engkau, dan dia berkirim salam kepada engkau". Dan katakanlah, "Ini sedikit dari kami untuk engkau ya Rasulullah". Anas berkata, "Lalu aku pergi kepada Rasulullah SAW dengan membawa makanan itu". Lalu aku berkata kepada Rasulullah, "Sesungguhnya ibuku berkirim salam untukmu dan dia mengatakan, "Sesungguhnya ini sedikit dari kami untukmu, ya Rasulullah". Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Letakkanlah makanan itu". Kemudian beliau bersabda, "Undanglah kemari, si Fulan, si Fulan, si Fulan dan siapasaja yang kamu jumpai". Beliau menyebutkan beberapa nama orang laki-laki. Anas berkata, "Kemudian aku mengundang orang-orang yang beliau sebut namanya dan orang-orang yang aku jumpai". Perawi bertanya kepada Anas, "Berapa jumlah mereka itu ?". Jawab Anas, "Kira-kira 300 orang".
[HR. Muslim juz 2, hal. 1051].

3. Undangan walimah.
    Undangan untuk mendatangi walimah ini diutamakan tetangga-tetangga dekat.
Tidak dibedakan baik kaya maupun miskin.
Dan perlu diketahui, bahwa undangan mendatangi walimah ini adalah undangan untuk makan-makan, bukan undangan supaya menyumbang.

Dalam hadits disebutkan :

Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya ia berkata, "Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, dimana yang diundang menghadirinya orang-orang yang kaya, sedang orang-orang fakir ditinggalkan. Dan barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, maka sungguh ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya SAW".
[HR. Bukhari juz 6, hal. 144].
~
Dari Abu Hurairah, bahwasanya ia berkata, “Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah yang diundang padanya orang-orang kaya, sedang orang-orang miskin ditinggalkan. Dan barangsiapa yang tidak mendatangi undangan, maka sungguh ia durhaka kepada Allah dan rasul-Nya”.
[HR. Muslim juz 2, hal. 1054]
~
Dari Ibnu 'Umar, bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Apabila salah seorang diantara kalian diundang pada walimah pernikahan, maka hendaklah ia memenuhinya".
[HR. Muslim juz 2, hal. 1053]
~
Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila salah seorang diantara kalian diundang untuk mendatangi walimah, maka hendaklah ia datang".
[HR. Muslim juz 2, hal. 1052].
~
Dari Nafi', ia berkata : Saya mendengar 'Abdullah bin 'Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Penuhilah undangan ini apabila kalian diundang kepadanya". Nafi' berkata : Dahulu 'Abdullah (bin 'Umar) menghadiri undangan walimah pengantin dan bukan pengantin, padahal ia sedang berpuasa.
[HR. Bukhari juz 6, hal. 144].
~
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila salah seorang diantara kalian diundang (mendatangi walimahan), maka hendaklah memenuhinya. Apabila ia sedang berpuasa, maka hendaklah mendo'akannya, dan apabila tidak berpuasa, maka hendaklah ia makan".
[HR. Muslim juz 2, hal. 1054]
'~
Dari Nafi' dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang diundang pada walimahan pernikahan atau yang semacamnya, maka hendaklah ia penuhi undangan itu".
[HR. Muslim juz 2, hal. 1053]
~
Dari Nafi' bahwasanya Ibnu 'Umar mengatakan dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Apabila salah seorang diantara kalian mengundang saudaranya, maka hendaklah ia mendatanginya, baik itu walimahan pernikahan atau yang semacamnya".
[HR. Muslim juz 2, hal. 1053]
~
Dari Humaid bin 'Abdur Rahman Al-Himyariy, dari seorang laki-laki shahabat Nabi SAW, bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Apabila ada dua undangan yang bersamaan, maka penuhilah yang lebih dekat pintunya diantara keduanya itu, karena yang lebih dekat pintunya itu adalah tetangga yang paling dekat. Dan jika salah satu diantara dua undangan itu datang lebih dahulu, maka penuhilah undangan yang datangnya lebih dahulu".
[HR. Abu Dawud juz 3, hal. 344, no. 3756].
~
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Haknya orang Islam atas orang Islam yang lain ada lima, yaitu : 1. menjawab salam, 2. menjenguk orang sakit, 3. mengantarkan jenazah, 4. mendatangi undangannya, dan 5. mendoakan orang yang bersin (apabila dia mengucapkan Alhamdu lillaah)".
[HR. Bukhari juz 2, hal. 70]
~
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Haknya orang Islam atas orang Islam yang lain ada enam. Lalu (beliau) ditanya, "Apasaja enam itu ya Rasulullah ?". Beliau menjawab, "1. Apabila kamu bertemu dengannya ucapkanlah salam kepadanya, 2. Apabila dia mengundangmu maka datangilah, 3. Apabila dia minta nasehat kepadamu maka berilah nasehat, 4. Apabila dia bersin dan memuji Allah maka doakanlah dia, 5. Apabila dia sakit maka jenguklah, dan 6. Apabila dia meninggal maka antarkanlah jenazahnya".
[HR. Muslim juz 4, hal. 1705]
~
Dari Nafi’, ia berkata : ‘Abdullah bin ‘Umar berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa diundang (untuk mendatangi walimah) kemudian tidak memenuhinya, maka sungguh ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa menghadiri walimah tanpa diundang, maka ia masuk laksana pencuri dan keluar sebagai orang yang merampok".
[HR. Abu Dawud juz 3, hal. 341, no. 3741, dla'if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Abaan bin Thooriq, ia majhul].

Keterangan :
Mengenai walimah ini Imam Al-Husein bin Mas'ud Al-Baghawiy penyusun Kitab Tafsir Al-Baghawiy dan penyusun Kitab Syarhus Sunnah (436-516 H), beliau memberikan penjelasan sebagai berikut :

Mengadakan walimah itu tidak wajib, tetapi hukumnya sunnah. Dan dianjurkan bagi seseorang apabila Allah memberikan keni'matan kepadanya, supaya menampakkannya dalam rangka bersyukur kepada-Nya.
Contohnya seperti :
'aqiqah, undangan khitan, ketika datang dari bepergian jauh, semuanya merupakan sunnah yang dianjurkan dalam rangka bersyukur kepada Allah SWT atas ni'mat yang diberikan-Nya, dan yang sangat dianjurkan adalah walimatul 'urs, undangan khitan, dan undangan makan karena melahirkan dengan selamat. Al-I'dzaar adalah undangan khitan, dan Al-Khurs adalah undangan setelah melahirkan dengan selamat.
[Al-Baghawiy dalam Syarhus Sunnah juz 9, hal. 137]

4. Tidak ada batasan tertentu tentang lamanya walimah

Dari Qatadah dari Al-Hasan (Al-Bashriy) dari 'Abdullah bin ‘Utsman Ats-Tsaqafiy dari seorang laki-laki yang buta sebelah matanya dari Tsaqif, dikatakan bahwa dia mempunyai nama terkenal, yaitu pujian yang baik. (Qatadah berkata), "Jika nama laki-laki itu bukan Zuhair bin 'Utsman, maka aku tidak tahu siapa namanya". Laki-laki itu berkata : Bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Walimah pada hari pertama adalah benar, pada hari kedua dikenal, dan pada hari ketiga adalah sum'ah dan riya' (untuk mencari wah)".
[HR. Abu Dawud juz 3, hal. 341, no. 3745, dla’if].

Keterangan :
Hadits di atas adalah dla’if, karena sumbernya (akhir sanad) adalah dari seorang laki-laki dari Tsaqif yang tidak jelas siapa nama orang tersebut, andaikata namanya betul Zuhair bin ‘Utsman itupun masih diperselisihkan tentang keshahabatannya, lagi pula dalam sanad hadits tersebut ada perawi bernama ‘Abdullah bin ‘Utsman Ats-Tsaqafiy, ia majhul.
Bahkan ada riwayat yang menyebutkan ada yang mengadakan walimah sampai 7 hari, sebagaimana riwayat berikut :

Dari Hafshah (binti Siiriin), ia berkata : (Ayahku mengatakan) bahwa ketika ayahku Siiriin menikah, ia mengundang para shahabat Rasulullah SAW selama tujuh hari. Ketika harinya orang-orang Anshar, ayahku mengundang mereka, termasuk shahabat Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit.
[HR. Ibnu Abi Syaibah juz 3, hal. 556, no. 17157].

Dari riwayat ini bisa diambil kesimpulan, memang tidak ada batasan tertentu dari Nabi SAW tentang lamanya mengadakan walimah. Walloohu a’lam.

5. Do’a untuk pengantin.

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW apabila mendo’akan orang yang menikah, beliau mengucapkan “Baarokalloohu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir” (Semoga Allah memberikan berkah kepadamu, dan semoga Allah mencurahkan berkah kepadamu, dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan).
[HR. Abu Dawud juz 2, hal. 241, no. 2130].
~
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW apabila mendo’akan (orang yang menikah), beliau mengucapkan, “Baarokalloohu lakum wa baaroka ‘alaikum wa jama’a bainakumaa fii khoir” (Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian, dan semoga Allah mencurahkan berkah kepada kalian, dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan).
[HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 614, no. 1905].

6. Tentang undangan khitan.

Adapun tentang undangan khitan ada riwayat sebagai berikut :

Dari 'Umar bin Hamzah, ia berkata : Saalim memberitahukan kepadaku, ia berkata : Dahulu Ibnu 'Umar mengkhitankan aku dan Nu'aim, maka ia menyembelih kambing untuk kami. Dan sungguh aku merasa gembira bahwa kami membuat gembira anak-anak dengan disembelihkan kambing untuk kami".
[HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad hal. 333, no. 1282]
~
Dari Al-Hasan, ia berkata : ‘Utsman bin Abul ‘Ash pernah diundang untuk mendatangi acara khitan, lalu ia menolak menghadirinya. Kemudian dia ditanya, maka ia menjawab, “Sesungguhnya kami di masa Rasulullah SAW tidak pernah mendatangi acara khitan dan tidak pernah ada undangan untuk itu”.
[HR. Ahmad juz 6, hal. 270, no. 17928]

Keterangan : Riwayat ini dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibnu Ishaaq, yaitu Muhammad, iamudallis. Walloohu a‘lam.

Comments

Popular posts from this blog

OTAK dan Pengaruhnya terhadap perilaku manusia

Apa itu Filsafat?