Monday, May 8, 2017

Hadits tentang Adab majlis dan teman duduk yang baik.

Ahad, 08 Januari 2017/09 Rabiul akhir 1438
Brosur No. : 1836/1876/IA



Adab majlis dan teman duduk yang baik Firman Allah SWT.

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[QS. Al-Mujaadalah : 11]
~
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang dari kalian tiba di majlis, hendaklah mengucapkan salam. Dan apabila ia ingin meninggalkan majlis, maka hendaklah mengucapkan salam. Maka yang pertama tidaklah lebih berhaq dari yang akhir”.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 353, no. 5208]
~
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Dahulu kami apabila datang kepada Nabi SAW, seseorang dari kami duduk dimana ia mendapatkan tempat di situ”.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 258, no. 4825]
~
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik majlis adalah yang luas (longgar)”.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 257, no. 4820]
~
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Ada Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu seorang laki-laki (yang sudah duduk di situ) bangkit dari tempat duduknya, agar orang tersebut duduk di situ. Lalu Rasulullah SAW mencegahnya.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 258, no. 4828]
~
Dari Sa’id bin Abul Hasan, ia berkata : Abu Bakrah datang dalam suatu kesaksian, lalu ada seorang laki-laki bangkit dari tempat duduknya (agar Abu Bakrah duduk di situ), maka Abu Bakrah enggan untuk duduk pada tempat tersebut, dan ia berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW melarang dari yang demikian itu”.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 258, no. 4827]
'~
Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian menyuruh seseorang berdiri dari tempat duduknya, lalu ia menduduki tempat itu”.
[HR Muslim juz 4, hal. 1714]
~
Dari Ibnu ‘Umar bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian menyuruh saudaranya untuk berdiri, lalu ia menempati tempat duduknya”. Dan adalah Ibnu ‘Umar apabila ada seorang laki-laki yang berdiri dari tempat duduknya untuk menghor-matinya, ia tidak mau duduk padanya.
[HR. Muslim juz 4, hal. 1714]
~
Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Janganlah seseorang menyuruh orang lain untuk berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk di situ, akan tetapi longgarkanlah dan luaskanlah”.
[HR Muslim juz 4, hal. 1714]
~
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari Abdullah bin ‘Amr, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Tidak halal bagi seseorang untuk memisahkan diantara dua orang (yang duduk), kecuali dengan izin dari keduanya”.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 262, no. 4845]
~
Dari Hudzaifah, bahwasanya Rasulullah SAW mela’nat orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran orang.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 258, no. 4826]
~
Dari Abu Mijlaz bahwasanya ada seorang laki-laki duduk di tengah-tengah lingkaran orang, maka Hudzaifah berkata, “Ia dila'nat atas lisan Nabi Muhammad SAW” atau “Allah mela’nat atas lisan Nabi Muhammad SAW terhadap orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran orang”.
[HR. Tirmidzi, juz 4, hal. 183, no. 2901, dan ia berkata : Hadits hasan shahih]
~
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia kembali lagi ke tempat itu, maka ia lebih berhak (untuk duduk padanya)”.
[HR. Muslim juz 4, hal. 1715]
~
Dari Wahab bin Hudzaifah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang itu lebih berhak pada tempat duduknya. Dan apabila ia keluar untuk suatu keperluan, kemudian ia kembali lagi, maka ia lebih berhak pada tempat duduknya itu”.
[HR. Tirmidzi juz 4, hal. 183, no. 2899]
~
Dari Ibnu ‘Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada tiga orang, maka tidak boleh berbisik-bisik dua orang, tanpa melibatkan yang satunya”.
[HR. Muslim juz 4, hal. 1717]
~
Dari ‘Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian bertiga, maka tidak boleh dua orang berbisik-bisik tanpa melibatkan yang lain, sehingga kalian bercampur dengan orang banyak, karena yang demikian itu bisa membuatnya susah”.
[HR. Muslim juz 4, hal. 1718]
~
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Hati-hatilah kalian dari duduk-duduk (di tepi) di jalan”. Para shahabat berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan tempat duduk kami sama sekali dimana kami berbincang-bincang padanya”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian enggan (meninggalkannya), maka berikanlah hak jalan”. Para shahabat bertanya, “Apa itu hak jalan, ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu orang, menjawab salam, amar ma’ruf dan nahi munkar”.
[HR. Bukhari juz 7, hal. 126]
~
Dari Abu Musa RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan perapian tukang besi, tidak boleh tidak akan kamu dapati dari penjual minyak wangi itu, boleh jadi kamu membelinya atau mencium bau harumnya, sedangkan perapian tukang besi (bisa) membakar badanmu atau pakaianmu, atau kamu mencium bau busuknya".
[HR. Bukhari juz 3, ha. 16]
~
Dari Abu Musa, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, boleh jadi ia akan memberimu atau kamu akan membeli (minyak wangi) darinya, atau kamu akan mendapati bau harumnya. Adapun tukang pandai besi, boleh jadi akan membakar pakaianmu, atau kamu akan mendapatkan bau busuknya".
[HR. Muslim juz 4, hal. 2026]
'~
Dari Anas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan teman duduk yang baik seperti pemilik minyak wangi, jika kamu tidak mendapatkan sedikitpun dari minyaknya, paling tidak kamu mencium bau wanginya. Dan perumpamaan teman duduk yang buruk adalah seperti tukang pandai besi, jika kamu tidak terkena hitam-hitamnya, paling tidak kamu mendapatkan bau busuknya.
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 259, no. 4829]

Doa kaffaaratul majlis

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa duduk di suatu majlis dan banyak gaduh padanya, lalu sebelum bangkit dari majlisnya ia membaca Subhaanakalloohumma wa bi hamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik (Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, aku mohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu), niscaya diampuni baginya apa yang telah terjadi di majlisnya itu.
[HR. Tirmidzi juz 5, hal. 158, no. 3494, hadits hasan shahih gharib]
~
Dari Isma’il bin ‘Abdullah bin Ja’far, ia berkata : Telah sampai kepadaku bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang yang berada dalam suatu majlis, lalu ketika akan bangkit ia membaca “Subhaanakalloohumma wa bi hamdika laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik” (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, aku mohon ampun kepada-Mu, dan aku bertaubat kepada-Mu), melainkan diampuni baginya apa-apa yang terjadi dalam majlis tersebut”. (Isma’il berkata) : Lalu aku ceritakan hadits ini kepada Yazib bin Khashifah, maka ia menjawab, “Begitulah telah menceritakan kepadaku Saib bin Yazid, dari Rasulullah SAW”.
[HR. Ahmad juz 5, hal. 334, no. 15729

No comments:
Write komentar

ads

Translate

FeedBurner

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Author

Author
myself