Wednesday, May 31, 2017

Refleksi Tentang Gagasan Jung


(1)
Kegelapan Di Atas Kegelapan:
"Seberapa gelap Kedirian Kita"?

    Dalam banyak hal barangkali kita ini tidak lebih dari lembaran photo copy dari teks yang ditulis, dirancang oleh lingkungan (keluarga, masyarakat, budaya). Kita lahir, tumbuh dan berkembang dalam dunia yang telah lengkap dengan prinsip, nilai, norma, aturan. Itu serupa tisu yang dicelupkan dalam cawan bertinta merah, maka merahlah ia. Dengan begitu, apa yang disebut sebagai diri yang otentik, terlalu sulit dilacak, dikenali, bahkan dibayangkan.
Dan itu pun masih dipergelap dengan persona, yang membuat kita begitu terlatih melakukan penipuan diri. Menampakkan wajah yang lain, yang barangkali jauh berbeda dari wajah kita yang sebenanya. Selain bahwa kenyataannya, ada shadow, yang barangkali kita malu mengakuinya, menentangnya, dan atau mengingkarinya. Itu sisi gelap, dorongan-dorongan hewan purba, yang membuat kita sama dengan binatang ternak, atau yang lebih liar dari itu. Dan hewan yang berpikir, dapat melakukan kekejian-kekejian yang bahkan tak dapat dilakukan oleh binatang. Juga anima-animus
Artinya, bukan hanya kegelapan kita yang berlapis-lapis, tapi juga ada pertentangan-pertentangan jiwa yang berlawanan, yang bila sedemikian carut marutnya, membuat kita tak lagi mengenali bagian sadar dan tak sadar dari diri kita. Seperti labirin, semakin masuk ke dalam, menyusurinya, semakin gelap dan semakin gelap, penuh ranjau. Maka, dalam keadaan semacam itu, nyaris mustahil mengalami keutuhan kepribadian, menyatunya semua aspek dalam jiwa yang berlawanan. Dan lebih mustahil lagi, melakukan realisasi diri (self-realization). Tak ada yang dapat direalisasikan dari diri yang tak otentik, dari jiwa yang begitu gelap, tak disadari, tak dikenali.
Maka, barangkali ada banyak orang yang hidup dan mati bukan sebagai diri sendiri. Mereka pikir dirinya kupu-kupu, tapi sebenarnya kepompong. Dikira kepompong, tapi sejatinya ulat. Dan itu pun kupu-kupu, kepompong, dan ulat yang dikonstruks oleh hal-hal di luar diri. Hidup dan mati hanya dalam evolusi tubuh, tapi tidak demikian dengan jiwanya. Tubuh berevolusi, dan dapat saja tumbuh lebih cepat, tapi ada perhentian. Namun tidak begitu dengan jiwa. Ia dapat terus tumbuh, tak punya garis tepi. Kitalah yang membuatnya bertepi, dan lalu membusuk.

(2)
Membaca Diri:
"Ekstravert atau Introvert"?

     Membaca Jung, saya jadi tergoda untuk membacai diri sendiri. Sekaligus ingin menunjukkan bagaimana gagasan tentang dunia luar (ekstravert) dan dunia dalam (introvert) ini, dapat difahami, ditafsir dengan cara yang sedikit berbeda.
Agaknya, saya lebih cenderung introvert ketimbang ekstravert. Saya lebih betah dengan kesendirian ketimbang kebersamaan. Lebih tahan dalam kesunyian ketimbang keramaian. Saya dapat berhari-hari, berminggu, dan berbulan sendirian. Tapi akan merasakan kelelahan psikologis, kosong, hampa bila terlalu sibuk dengan banyak orang, dalam keramaian, bahkan dalam hitungan dua tiga hari. Saya merasa, ada sesuatu yang hilang dari diri saya. Dan itu penanda, bahwa saya butuh kesendirian. Beranjak menuju diri, beringsut dari dunia luar.
Pun begitu, ada sesi keberminatan indrawi (sensing) dalam diri saya. Ketika terlalu lama sendiri, saya juga merasa kosong, sebab terhempas dari realitas, berjauh jauh jarak dengan dunia luar. Itu penanda bagi saya untuk keluar menghirup udara di luar diri. Dan sederhana. Saya hanya mengendari motor, keliling desa-desa, menyusuri jalan-jalan yang membelah persawahan, dan lalu berhenti di warung kecil, perlintasan kereta api, atau menatap senja kemerahan. Seringkali bersama isri dan anak saya. Atau, saya tetap berdiam di rumah, mendengarkan musik yang saya suka, atau mencari-cari musik yang lain. Itu sudah cukup membuat jiwa saya terisi kembali. Itulah kenapa, saya tak suka hiburan yang digambarkan banyak orang (jalan-jalan, nonton dan semacamnya). Bila saya melakukannya, itu wujud dari perhatian dan penghargaan saya pada orang lain. Dan terutama, orang-orang terdekat. Berpikir (thinking) tentu saja adalah dunia terbesar dari diri saya sebagai seorang pengajar. Dan itu lebih dari sekedar tugas rutin, formal-prosedural. Mengajar yang di dalamnya riuh dengan dialektika pemikiran, adalah sebentuk jalan hidup, yang saya bahagia, bermakna melakukannya. Atau semacam pengabdian, yang disana saya menangkap sisi heroik. Saya meyakini, merasa, dan mengalami bahwa saya dapt bertumbuh dalam jalan yang saya pilih.
Namun, diantara penanda seorang manusia adalah juga tentang rasa (feeling). Cinta, rindu, syukur, keharuan, keterikatan psikologis, bahagia, makna-makna adalah tentang rasa, yang seringkali tak tertakar oleh pikiran. Itulah mengapa mencintai dengan hati, memahami dengan pikiran. Dan itu bukan hanya akan membentuk cinta yang mencerdaskan, tapi juga ditaburi dengan gugusan syair. Rasa adalah bagian dari diri yang selayaknya diperkaya.
Dan tentu saja, indrawi yang secara sadar dipilih, pikiran yang benar-benar dipertajam, dan rasa yang sungguh-sungguh diolah, dapat menguatkan intuisi (intuiting) yang sekali waktu dapat diandalkan saat tak cukup pijakan untuk bergerak.

(3)
Merenung-Refleksi Diri:
"Apakah Lebih Mungkin yang Introvert"?

     Ekstrovert dan introvert itu, juga fungsi-fungsi psikologisnya bersifat netral, belum terkait dengan positif dan negatif. Ia berkaitan dengan seberapa banyak energi kesadaran yang dikeluarkan, apakah ke luar diri (ekstrovert) ataukah ke dalam diri (introvert). Juga fungsi-fungsi psikologisnya, apakah lebih thingking (pemikir) feeling (perasa) sensing (pengindra), ataukah intuiting (intuitif). Misalnya, dua orang yang sama-sama ekstravert ketika melihat gelandangan kecil jalanan, bisa jadi beda penayerapannya. Yang pemikir-thingking, mungkin berkata, “Apa dan mengapa anak-anak hidup dijalanan?” Dan yang perasa-feeling mungkin berkata, “Oh, kasihan sekali.” Dan tentu saja, dalan thinking ada feeling, dalam feeling ada thinking.
Jung yang mengatakan, “Who looks outside, dreams, who looks inside, awakes.” Apakah dengan begitu, yang introvert lebih mungkin dapat melakukan refleksi diri dibanding ekstrovert? Jawabanya, belum tentu, dan tidak sesedehana itu.
Pertama-tama, kita cermati dulu apa itu refleksi diri? Secara sederhana, ia petama-tama adalah suatu upaya sadar membangkitkan ulang atau memantulkan pengalaman tentang diri. Ibrat LCD proyektor yang memantulkan cahaya ke arah slide, sehingga materi, file-file, bukan saja terlihat jauh lebih luas tapi juga lebih besar, baik huruf dan atau gambar-gambarnya. Dengan begitu, akan jauh lebih jelas dan terang itu huruf, kata, kalimat, dan gambar apa, juga maknanya.
Nah, karena dalam ruang refleksi itu, pengalaman tentang diri menjadi jauh lebih jelas dan terang, maka yang bersangkutan dapat melakukan permenungan, intropeksi, pembenahan, menata, manafsir ulang tentang diri, hidup, pengalaman dan dunianya. Artinya, ada kemungkinan bagi peningkatan kesadaran. Sadar itu artinya terjaga (awakes). Orang yang terjaga menjadi tahu, sadar apa dan bagaimana sebaiknya dan semestinya berbuat. Itulah saya kira makna dari, “Who looks inside, awakes.” Adapun, “Who looks outside, dream” itu kebalikannya. Terlalu fokus, sibuk, terjebak pada perkara dunia, orang-orang, pekerjaan dan sebagainya, sehingga lalai melakukan permenungan, intropekesi, pembenahan, menata, manafsir ulang tentang diri, hidup, pengalaman dan dunianya. Tidak punya LCD proyektor diri. Dengan begitu, tidak memiliki cukup kejelasan, kesadaran, dan pemahaman tentang apa, mengapa, dan bagaimana diri dan dunianya. Karena tak cukup kejelasan, kesadaran, dan pemahaman tentang apa, mengapa, dan bagaimana diri dan dunianya, bisa jadi yang dia lakukan penuh ilusi, semu, mimpi-mimpi (dreams). Nah, “Who looks inside, awakes“ dan “Who looks outside, dream” itu berbeda, dan atau tak sesedehana dengan apa yang dimasud ekstrovert-introvert.
Perlu diperhatikan bahwa ekstrovert itu lebih tertuju di luar diri (toward the outside world), yakni orang yang cenderung tebuka, asertif, dapat bersosialisi, orientasi pada orang lain, dunia di luar diri. Sementara yang introvert ke dalam diri (toward of the self), yakni cenderung menarik diri, pemalu, fokus pada diri, baik pikiran maupun perasaan.
Apakah orang yang cenderung menarik diri, pemalu, fokus pada diri, baik pikiran maupun perasaan (introvert) lebih mungkin melakukan refleksi diri, dibanding orang yang cenderung tebuka, asertif, dapat bersosialisi, orientasi pada orang lain, dunia di luar diri (ekstrovert)? Jawabannya, belum tentu, dan tidak sesedehana itu. Gampangnya, diam belum tentu merenung. Dan merenung belum tentu dalam diam. Apakah orang yang sibuk dengan pikiran dan perasannya sendiri bermakna sedang melakukan refleksi? Belum tentu juga. Apakah orang yang tebuka, bersosialisi, banyak hadir di dunia di luar tak punya waktu untuk melakukan refleksi? Juga belum tentu.
Ekstrovert dan introvert itu baru sebatas soal seberapa banyak energi kesadaran yang dikeluarkan, apakah ke luar diri atau kah ke dalam diri, dan belum menyangkut fungsi psikologis, apakah ekstrovert-introvert yang pemikir (thingking); yang perasa (feeling); yang pengindra (sensing); ataukah yang intuitif (intuiting). Katakanlah misalnya, introvert yang pemikir yang lebih fokus pada ide-ide, gagasan ketimbang orang. Pertanyaanya, apakah yang dipikir itu ide-ide, gagasan tentang apa dan bagaimana diri dan hidupnya, yang membawanya pada refleksi? Belum tentu. Atau juga ekstrovert yang pemikir, yang logis, objektif, analisis. Pertanyaanya, apakah yang dipikir secara objektif analisis itu selalu tenang hal-hal di luar diri dan pengalamannya? Juga belum tentu.
Jadi, refleksi itu akan lebih pada soal peristiwa, moment-moment penting tentang diri dan apa yang dialami seseorang, ketimbang perkara apakah seseorang itu ekstrovert dan introvert.

Monday, May 29, 2017

SHALATUL LAIL

Ahad, 28 Mei 2017/02 Ramadlan 1438
Brosur No. : 1856/1896/IF


Shalat Sunnah Lail ialah : Shalat-shalat Sunnah yang dikerjakan pada malam hari selain Ba'diyah 'Isya'.
Adapun waktunya ialah : Sehabis shalat 'Isya' hingga akhir waktu 'Isya' sebelum masuk waktu Shubuh. Dan shalat Lail itu boleh dikerjakan sebelum maupun sesudah tidur.
Macam-macamnya :
   A. Shalat Sunnah Tarawih.
   B. Shalat Sunnah Tahajjud.
   C. Shalat Sunnah Witir.
   D. Shalat Sunnah Iftitah.

A. Shalat Tarawih
    Tarawih artinya relax, santai, istirahat.
    Ulama mengistilahkan Shalat Sunnah ini dengan Shalat Tarawih, karena melihat riwayat yang menjelaskan tentang bagaimana cara Nabi SAW melakukannya. Yaitu dengan perlahan-lahan/relax/santai serta diselingi dengan istirahat setiap habis salam, sebagaimana riwayat dibawah ini:

Dari 'Aisyah RA, katanya :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَرَوَّحُ فَاَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ. البيهقى 2: 497

Adalah Rasulullah SAW shalat 4 rekaat dimalam hari. Kemudian beliau beristirahat/bertarawih lama sekali, sehingga aku merasa kasihan kepadanya.
[HR. Baihaqi juz 2, hal. 497]

Waktu, Bilangan dan Cara Pelaksanaan shalat tarawih
a. Waktunya.
    Setiap malam pada bulan Ramadlan, boleh dikerjakan diawwal malam atau di pertengahan maupun di akhirnya, baik sebelum tidur maupun sesudah tidur. Tegasnya, shalat tarawih adalah shalat malam di bulan Ramadlan.

عَنْ اَبىْ ذَرّ قَالَ: صُمْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص رَمَضَانَ. فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ اْلخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ. ابو داود 2: 50، رقم: 1375
~
Dari Abu Dzarr, ia berkata : Kami berpuasa Ramadlan bersama Rasulullah SAW. Beliau tidak shalat (malam) bersama kami sehingga tinggal tujuh hari dari bulan itu. Lalu beliau shalat bersama kami hingga lewat sepertiga malam, kemudian beliau tidak shalat malam bersama kami pada malam yang keenam. Tetapi beliau shalat malam bersama kami pada malam yang ke lima hingga lewat tengah malam.
[HR. Abu Dawud juz 2, hal. 50, no. 1375]

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ عَبْدِ اْلقَارِيّ اَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ ابْنِ اْلخَطَّابِ رض لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ اِلىَ الْمَسْجِدِ فَاِذَا النَّاسُ اَوْزَاعٌ مُتَفَرّقُوْنَ يُصَلّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلّى الرَّجُلُ فَيُصَلّى بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: اِنّى اَرَى لَوْ جَمَعْتُ هٰؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ اَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى اُبَيّ بْنِ كَعْبٍ. ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً اُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ: نِعْمَ اْلبِدْعَةُ هٰذِهِ، وَالَّتِى يَنَامُوْنَ عَنْهَا اَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُوْمُوْنَ يُرِيْدُ اٰخِرَ اللَّيْلِ. وَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ اَوَّلَهُ. البخارى 2: 252

Dari Abdurrahman bin Abdul Qariyyi, bahwasanya ia berkata, "Saya pernah keluar ke masjid bersama Umar bin Khaththab RA. pada suatu malam di bulan Ramadlan, Tiba-tiba kami dapati orang-orang berkelompok-kelompok dan terpisah-pisah, ada yang shalat sendirian dan ada yang shalat dengan diikuti beberapa orang. Maka Umar berkata, "Saya berpendapat lebih baik mereka ini saya kumpulkan dengan diimami oleh seorang imam". Kemudian Umar ber'azam dan mengumpulkan mereka itu dengan diimami oleh Ubay bin Ka'ab. Kemudian saya keluar lagi bersama Umar pada malam yang lain, sedang orang-orang shalat dengan bermakmum kepada imam mereka. Umar berkata, "Sebaik-baik bid'ah adalah ini". Dan shalat yang mereka kerjakan pada akhir malam adalah lebih utama dari pada yang mereka kerjakan di awwal malam. Sedangkan orang-orang biasa mengerjakannya di awwal malam.
[HR. Bukhari juz 2 : 252].

b. Bilangan Raka'atnya
,   Shalat Sunnah Tarawih ini, bilangan raka'at yang biasa dikerjakan oleh Nabi SAW adalah sebelas raka'at beserta witirnya. Dan sebanyak-banyaknya tak terbatas, berapa saja seseorang mampu melaksanakan-nya hingga habis waktu shalat sunnah tersebut, yaitu masuk waktu Shubuh.

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى مَا بَيْنَ اَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ اْلعِشَاءِ اِلىَ اْلفَجْرِ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلّمُ بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ، وَ يُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ. مسلم 1: 508
~
Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW shalat antara beliau selesai dari shalat 'Isyak hingga fajar, 11 rekaat. Beliau salam antara tiap-tiap 2 rekaat, lalu berwitir 1 rekaat".
[HR. Muslim juz 1, hal. 508].
~
عَنْ اَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ اَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رض كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُوْلِ اللهِ ص فِي رَمَضَانَ؟ فَقَالَتْ: مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلّي اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلّي اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلّي ثَلَاثًا. البخارى 2: 47، مسلم 1: 509
~
Dari Abu Salamah bin 'Abdur Rahman, bahwasanya ia pernah bertanya kepada 'Aisyah RA, "Bagaimanakah shalatnya Rasulullah SAW di bulan Ramadlan ?". Maka 'Aisyah berkata, "Rasulullah SAW tidak melebihkan di bulan Ramadlan maupun di luar Ramadlan atas sebelas rekaat. Beliau shalat empat rekaat, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rekaat, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga rekaat". [HR. Bukhari juz 2, hal. 47; Muslim juz 1, hal. 509]

Keterangan :
    Maksud hadits tersebut, Nabi SAW shalat 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat. Dilanjutkan lagi 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat. Kemudian beliau shalat witir 3 reka'at.
Namun hadits tersebut bukan merupakan batasan dari Nabi SAW, tetapi hanya menunjukkan bahwa biasanya Nabi SAW shalat malam sebelas raka'at.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. مسلم 1: 516

Dari Ibnu 'Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Shalat malam itu 2 raka'at 2 raka'at. Maka apabila seseorang diantara kalian khawatir masuk Shubuh, hendaklah ia shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan untuk shalat yang telah ia kerjakan".
[HR. Muslim juz 1, hal. 516]

c. Cara Pelaksanaan
   🔄1. Boleh dengan Jahr (suara nyaring) maupun Sirr (suara lembut) :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى قَيْسٍ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: كَيْفَ كَانَ قِرَاءَةُ النَّبِيّ ص بِاللَّيْلِ؟ فَقَالَتْ: كُلُّ ذٰلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ، رُبَمَا اَسَرَّ بِالْقِرَاءَةِ وَ رُبَمَا جَهَرَ. فَقُلْتُ: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِى اْلاَمْرِ سَعَةً. الترمذى 1: 278، رقم: 447، و قال: هذا حديث صحيح غريب

Dari 'Abdullah bin Abu Qais, ia berkata : Aku bertanya kepada 'Aisyah RA, "Bagaimana bacaan Nabi SAW pada waktu (shalat) malam ?". Jawab 'Aisyah, "Semuanya itu pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, terkadang beliau membaca sirr (pelan) dan terkadang beliau membaca jahr (nyaring)". Maka aku berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kelonggaran dalam hal ini".
[HR. Tirmidzi juz 1, hal. 278, no. 447, ia berkata : Ini hadits shahih, gharib]

   🔄2. Boleh dikerjakan dengan berjama'ah maupun munfarid (sendirian)

عَنْ عَائِشَةَ اُمّ الْمُؤْمِنِيْنَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِى الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ. ثُمَّ صَلَّى مِنَ اْلقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ. ثُمَّ اجْتَمَعُوْا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ اَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ اِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ ص فَلَمَّا اَصْبَحَ قَالَ:قَدْ رَأَيْتُ الَّذِى صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِى مِنَ اْلخُرُوْجِ اِلَيْكُمْ اِلَّا اَنّى خَشِيْتُ اَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَ ذٰلِكَ فِى رَمَضَانَ. البخارى 2: 44

Dari 'Aisyah Ummul Mu’minin RA, bahwasanya pada suatu malam Rasulullah SAW shalat malam dimasjid, maka orang-orangpun turut shalat bersama beliau. Kemudian beliau shalat pula pada malam berikutnya, maka bertambah banyak orang yang mengikutinya. Kemudian malam ketiganya atau ke empatnya mereka telah berkumpul, tetapi beliau tidak datang. Maka setelah pagi harinya beliau berkata, "Sungguh saya telah mengetahui apa yang kalian lakukan tadi malam dan saya tidak berhalangan untuk datang kepada kalian, hanyasaja saya khawatir kalau shalat itu diwajibkan atas kalian". (Kata 'Aisyah), "Kejadian tersebut pada bulan Ramadlan".
[HR. Bukhari juz 2, hal. 44]

B. Shalat Sunnah Tahajjud
    Shalat Sunnah Tahajjud adalah : Shalat malam yang dikerjakan di luar bulan Ramadlan.
Nama Tahajjud diambil dari firman Allah ayat 79 surat Al-Israa' :

وَ مِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِه نَافِلَةً لَّكَ. الاسراء: 79

Dan pada sebagian malam bershalat Tahajjudlah kamu sebagai suatu tambahan bagimu.
[QS. Al-Israa' : 79]

Jadi, shalat sunnah tarawih dan shalat sunnah tahajjud adalah sama. Kalau dikerjakan di bulan Ramadlan disebut shalat Tarawih, sedangkan jika dikerjakan di luar Ramadlan disebut shalat Tahajjud.

C. Shalat Sunnah Witir
     Shalat sunnah witir ialah shalat sunnah lail yang dikerjakan dengan bilangan rakaat yang ganjil (witir = ganjil).

عَنْ عَلِيّ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَا اَهْلَ اْلقُرْاٰنِ اَوْتِرُوْا فَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ اْلوِتْرَ. ابو داود 1: 61، رقم: 1416

Dari 'Ali RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Wahai ahli Qur'an, berwitirlah kalian, karena sesungguhnya Allah itu witir/tunggal, Ia suka kepada (shalat) witir".
[HR. Abu Dawud juz 1, hal. 61, no. 1416]

Waktu, bilangan dan cara pelaksanaan shalat witir
a. waktunya :
   Pada setiap malam, baik di dalam maupun diluar Ramadlan, boleh dikerjakan di awwal, pertengahan, ataupun diakhir malam, baik sebelum maupun sesudah tidur, kesemuanya itu pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: مِنْ كُلّ اللَّيْلِ قَدْ اَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص مِنْ اَوَّلِ اللَّيْلِ وَ اَوْسَطِهِ وَ اٰخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ اِلىَ السَّحَرِ. مسلم 1: 512

Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Dalam seluruh (bagian) malam Rasulullah SAW pernah mengerjakan witir, di permulaan malam, dipertengahannya, dan di akhirnya, hingga witirnya selesai pada waktu sahur".
[HR. Muslim juz 1, hal. 512]

عَنْ جَابِرٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ خَافَ اَنْ لَا يَقُوْمَ مِنْ اٰخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ اَوَّلَهُ وَ مَنْ طَمِعَ اَنْ يَقُوْمَ اٰخِرَهُ فَلْيُوْتِرْ اٰخِرَ اللَّيْلِ. فَاِنَّ صَلَاةَ اٰخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ وَ ذٰلِكَ اَفْضَلُ. مسلم 1: 520

Dari Jabir RA, ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa khawatir tidak akan bangun pada akhir malam, maka bolehlah berwitir pada awwal malam. Dan barangsiapa berkeyakinan mampu bangun di akhir malam, maka hendaklah mengerjakan witir pada saat itu, karena shalat di akhir malam itu disaksikan dan yang demikian itu lebih utama".
[HR. Muslim juz 1, hal. 520].

b. Bilangan Raka'at serta Cara Pelaksanaannya
  🔄1) Satu rakaat,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. مسلم 1: 516

Dari Ibnu 'Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam itu. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Shalat malam itu 2 raka'at 2 raka'at. Maka apabila seseorang diantara kamu khawatir masuk Shubuh hendaklah shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan untuk shalat yang telah dikerjakan".
[HR. Muslim juz 1, hal. 516]

  🔄2) Tiga Rakaat,
   Bila melaksanakan 3 rakaat, harus dengan satu tasyahhud di rakaat yang terakhir, lalu salam, sebagaimana riwayat berikut :

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ اِذَا صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ الْمَنْزِلَ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهُمَا رَكْعَتَيْنِ اَطْوَلَ مِنْهُمَا، ثُمَّ اَوْتَرَ بِثَلَاثٍ لَا يَفْصِلُ فِيهِنَّ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، يَرْكَعُ وَهُوَ جَالِسٌ، وَيَسْجُدُ وَهُوَ قَاعِدٌ جَالِسٌ. احمد 11: 498، رقم: 25278

Dari 'Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW apabila setelah shalat 'Isyak, beliau masuk ke rumah. Kemudian beliau shalat 2 rekaat, kemudian shalat lagi 2 reka'at yang lebih panjang daripada 2 reka'at yang pertama tadi, kemudian beliau berwitir 3 rekaat, dan beliau tidak memisahkan diantara tiga rekaat itu. Kemudian beliau shalat lagi 2 reka'at dalam keadaan duduk, beliau ruku' dalam keadaan duduk dan bersujud, dan beliau shalat dengan duduk".
[HR. Ahmad juz 11, hal. 498, no. 25278]
'~
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ:كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُوْتِرُ بِثَلَاثٍ لَا يُسَلّمُ اِلَّا فِى اٰخِرِهِنَّ. الحاكم فى المستدرك 1: 447، رقم: 1140
Dari 'Aisyah, ia berkata, "Dahulu Rasulullah SAW pernah berwitir dengan 3 raka'at, beliau tidak salam kecuali pada rekaat yang terakhir".
[HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1 hal. 447, no. 1140].
~
عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ اَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ لَا يُسَلّمُ فِى رَكْعَتَيِ اْلوِتْرِ. النسائى 3: 235
Dari Sa'ad bin Hisyam, bahwasanya 'Aisyah menceritakan kepadanya bahwasanya dahulu Rasulullah SAW tidak salam pada dua rekaat dalam shalat witir".
[HR. Nasaiy juz 3, hal. 235]
~
Dan tidak diperkenankan shalat witir yang 3 rekaat itu dengan 2 raka'at salam, kemudian disambung dengan 1 rakaat lalu salam. Hal ini menyalahi riwayat 'Aisyah di atas dan juga menyalahi arti witir itu sendiri, karena witir itu artinya ganjil, sedang 2 itu genap, jadi tidak dapat dikatakan witir. Dan juga kita tidak diperkenankan shalat 3 raka'at tersebut dengan 2 tasyahhud 1 salam. Sebab ini menyerupai Maghrib, yang demikian ini dilarang oleh Nabi SAW sebagaimana hadits di bawah ini. Sabda Nabi SAW :

لَا تُوْتِرُوْا بِثَلَاثٍ. اَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ اَوْ بِسَبْعٍ وَ لَا تُشَبّهُوْا بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ. الدارقطنى 2: 24
Janganlah kalian shalat witir 3 rekaat, (tetapi) shalatlah witir 5 rekaat atau 7, dan janganlah kalian menyerupai dengan shalat Maghrib".
[HR. Daraquthniy juz 2, hal, 24].

Keterangan :
    Dalam hadits ini, Rasulullah SAW melarang kita shalat witir 3 rekaat dan memerintahkan untuk shalat dengan 5 rekaat atau 7 rekaat. Sedang hadits-hadits lain menerangkan bahwa Rasulullah SAW sendiri mengerjakan shalat witir 3 rekaat. Maka dari kedua hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa : "Yang dilarang mengerjakan shalat witir 3 rekaat itu adalah shalat witir yang menyerupai shalat Maghrib, sedang shalat witir 3 rekaat yang tidak serupa dengan shalat Maghrib tidak dilarang, bahkan dikerjakan oleh Rasulullah SAW".
Adapun bentuk keserupaan itu ialah : Dengan 2 tasyahhud satu salam. Maka supaya tidak menyerupai shalat Maghrib hendaklah shalat witir 3 rekaat tersebut dikerjakan dengan 3 rekaat sekaligus dengan satu tasyahhud di akhir rakaat dan satu salam.

   🔄3) 5 rekaat dengan satu tasyahhud di rakaat yang terakhir lalu salam.
Berdasar riwayat sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوْتِرُ مِنْ ذٰلِكَ بِخَمْسٍ وَ لَا يَجْلِسُ فِى شَيْءٍ اِلَّا فِى اٰخِرِهَا. مسلم 1: 508

Dari ‘Aisyah, ia berkata, "Dahulu Rasulullah SAW shalat di malam hari 13 rekaat, dari 13 rekaat itu beliau shalat witir 5 rekaat. Dari 5 rekaat tersebut beliau tidak duduk (attahiyat) melainkan pada rekaat terakhir".
[HR. Muslim juz 1, hal. 508].

   🔄4) 7 rekaat dengan 2 tasyahhud di rekaat 6 dan 7 lalu salam.
Berdasar riwayat sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص لَمَّا كَبُرَ وَضَعُفَ اَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ لَا يَقْعُدُ اِلَّا فِى السَّادِسَةِ ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لَا يُسَلّمُ فَيُصَلّى السَّابِعَةَ ثُمَّ يُسَلّمُ تَسْلِيْمَةً. ابن حزم فى المحلى 3: 45

Dari Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah SAW setelah lanjut usia dan lemah badannya, beliau berwitir dengan 7 rekaat dan tidak duduk kecuali pada rekaat yang ke 6, kemudian berdiri tanpa salam lalu menyelesaikan rekaat yang ke 7 kemudian salam dengan satu kali salam.
 [HR. Ibnu Hazm, dalam Al-Muhalla juz 3, hal. 45].

   🔄5) 9 rekaat dengan 2 tasyahhud di rekaat yang ke 8 dan ke 9 setelah itu salam.
Berdasar riwayat sebagai berikut :

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ هِشَامٍ اَنَّهُ قَالَ لِعَائِشَةَ. اَنْبِئِيْنِى عَنْ وِتْرِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَتْ: كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ فَيَبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ اَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَّأُ وَ يُصَلّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيْهَا اِلَّا فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لَا يُسَلّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلّمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ. مسلم 1: 513

Dari Sa’id bin Hisyam, bahwasanya ia bertanya kepada 'Aisyah, "(Ya ‘Aisyah), beritahukanlah kepadaku tentang shalat witir Rasulullah SAW". Jawab 'Aisyah, "Kami biasa menyediakan penggosok gigi dan air wudlu bagi Rasulullah SAW, lalu beliau bangun malam pada waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau menggosok gigi dan berwudlu lalu shalat (witir) sembilan rekaat dan beliau tidak duduk (attahiyat) melainkan pada rekaat yang ke delapan, lalu beliau menyebut, memuji dan berdoa kepada Allah, kemudian beliau berdiri dengan tidak mengucap salam, berdiri shalat (rekaat) yang ke sembilan, kemudian beliau duduk (attahiyat) menyebut, memuji dan berdoa kepada Allah, kemudian beliau mengucap salam sehingga terdengar oleh kami. Setelah itu beliau shalat 2 rekaat dengan duduk. Yang demikian itu jadi 11 rekaat hai anakku".
[HR. Muslim juz 1, hal. 513].

Dan kita dilarang mengerjakan 2 kali shalat witir pada satu malam

عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لَا وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ. الترمذى 1: 292، رقم: 468، و صححه ابن حبان

Dari Qais bin Thalq bin 'Ali, dari ayahnya, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada dua witir dalam satu malam".
[HR. Tirmidzi juz 1, hal. 292, no. 468, dan dishahkan oleh Ibnu Hibban].

   🔄6. Bacaan sesudah shalat witir.

Menurut riwayat Nasai, Rasulullah SAW setelah shalat witir, beliau membaca Subhaanal Malikil Qudduus 3 kali.

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ اَبْزَى عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص، كَانَ يُوْتِرُ بِسَبّحِ اسْمَ رَبّكَ اْلاَعْلٰى، وَ قُلْ يٰۤاَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ، وَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. فَاِذَا فَرَغَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ، ثَلَاثًا وَ يَمُدُّ فِى الثَّالِثَةِ. النسائى 3: 247

Dari Qatadah dari Zurarah dari ‘Abdur Rahman bin Abza dari Rasulullah SAW, biasanya beliau SAW di dalam shalat witir membaca surat Al-A’laa, Al-Kaafirun dan Al-Ikhlash. Setelah selesai lalu beliau mengucapkan, “Subhaanal Malikil Qudduus (Maha Suci Allah Raja yang Maha Quddus) 3 kali, dan beliau memanjangkan pada bacaan yang ketiga”.
[HR. Nasaaiy juz 3, hal. 247]

Dan menurut riwayat Thabaraniy, setelah bacaan tersebut ada tambahan “Rabbul malaaikati war ruuh” (Tuhan nya para Malaikat dan Ruuh), namun tambahan ini tidak shahih, karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Isa bin Yuunus, yang tidak diketahui jarh - ta’dilnya.
Adapun bacaan “Alloohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa, fa’fu ‘annii” itu adalah bacaan bila mengetahui Lailatul Qadr, sebagaimana riwayat berikut :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرَأَيْتَ اِنْ عَلِمْتُ اَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ مَا اَقُوْلُ فِيْهَا؟ قَالَ: قُوْلِي: اللّٰهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنّي. الترمذى، و قَالَ: هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، 5: 195، رقم: 3580

Dari ‘Aisyah, ia berkata : Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau apabila aku mengetahui bahwa malam itu malam Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca ?”. Beliau bersabda, “Bacalah Alloohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku)”.
[HR. Tirmidzi juz 5, hal. 195, no. 3580]

Lafadh tersebut juga diriwayatan oleh Ahmad juz 9 hal. 526, juz 9 hal. 547 dan juz 10, hal. 24, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah juz 2, hal. 1265, no. 3850. Namun dalam ‘Aridlatul Ahwadzi dengan lafadh :

اللّٰهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنّي. الترمذى، فى عارضة الاحوذى، 13: 42، رقم: 3513

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.
[HR. Tirmidzi, dalam ‘Aridlotul Ahwadzi juz 13, hal. 42, no. 3513]

D. Shalat Iftitah.

Shalat Iftitah adalah shalat sunnah dua rekaat yang ringan untuk mengawali shalat lail.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا قَامَ اَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ. مسلم 1: 532

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian bangun malam, maka hendaklah ia membuka shalatnya dengan dua rekaat yang ringan.
[HR. Muslim juz 1, hal. 532].
~
~oO[ @ ]Oo~

Saturday, May 20, 2017

PUASA

Ahad, 21 Mei 2017/24 Sya'ban 1438
Brosur No. : 1855/1895/IF
Puasa



     Puasa, yang di dalam bahasa Al-Qur'an Ash-Shaum/Ash-Shiyaam adalah salah satu dari beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan oleh orang-orang beriman.

Firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Sumber: https://muslim.or.id/4439-tafsir-surat-al-baqarah-183-berpuasa-menggapai-takwa.html
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa seba-gaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
[QS. Al-Baqarah : 183]

1. Pengertian Ash-Shiyam (Puasa)
    Ash-Shiyam atau Ash-shaum menurut lughah/bahasa, artinya : "Menahan diri dari melakukan sesuatu".
Seperti firman Allah kepada Maryam :

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِصَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, Sesungguhnya aku telah bernadzar akan berpuasa karena Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seseorang manusiapun pada hari ini.
[QS. Maryam : 26]

Menurut Syara', ialah :

اَلاِمْسَاكُ عَنِ اْلاَكْلِ وَ الشُّرْبِ وَ غَشَيَانِ النّسَاءِ مِنَ اْلفَجْرِ اِلىَ الْمَغْرِبِ اِحْتِسَابًا للهِ وَ اِعْدَادًا لِلنَّفْسِ وَ تَهْيِئَةً لَهَا لِتَقْوَى اللهِ بِالْمُرَاقَبَةِ لَهُ وَ
تَرْبِيَةِ اْلاِرَادَةِ. تفسير المنار 2: 143
Menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh, mulai fajar hingga Maghrib, karena mengharap ridla Allah dan menyiapkan diri untuk bertaqwa kepada-Nya dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah dan mendidik kehendak.
[Tafsir Al-Manaar juz 2, hal. 143]
~
اَلاِمْسَاكُ عَنِ اْلاَكْلِ وَ الشُّرْبِ وَ اْلجِمَاعِ وَ غَيْرِهِمَا ِممَّا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ فِى النَّهَارِ عَلَى اْلوَجْهِ الْمَشْرُوْعِ. وَ يَتْبَعُ ذ?لِكَ اْلاِمْسَاكُ عَنِ اللَّغْوِ وَ الرَّفَثِ وَ غَيْرِهِمَا مِنَ اْلكَلاَمِ الْمُحَرَّمِ وَ الْمَكْرُوْهِ فِى وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ بِشُرُوْطٍ مَخْصُوْصَةٍ. سبل السلام 2: 150
Menahan diri dari makan, minum, jima' dan lain-lain yang telah diperintahkan syara’ kepada kita menahan diri padanya, sepanjang hari menurut cara yang disyariatkan. Disertai pula menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan keji/kotor dan lainnya dari perkataan yang diharamkan dan dimakruhkan pada waktu yang telah ditentukan serta menurut syarat-syarat yang telah ditetapkan. [Subulus Salaam juz 2, hal. 150]

Tegasnya : "PUASA", ialah : Menahan diri untuk tidak makan, minum termasuk merokok dan bersetubuh dari mulai Fajar hingga terbenam matahari pada bulan Ramadlan karena mencari ridla Allah.

2. Hukum Ash-Shiyam (Puasa)
    Wajib 'Ain, artinya setiap orang Islam yang telah baligh (dewasa) dan sehat akalnya serta tidak ada sebab-sebab yang dibenarkan agama untuk tidak berpuasa, maka mereka itu wajib melakukannya, dan berdosa bagi yang meninggalkannya dengan sengaja.

Firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
[QS. Al-Baqarah : 183]

Dan hadits-hadits Rasulullah SAW :

بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ اَنْ لاَ اِل?هَ اِلاَّ اللهُ وَ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ اِقَامِ الصَّلاَةِ وَ اِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صِيَامِ رَمَضَانَ وَ حَجّ اْلبَيْتِ. البخارى و مسلم
Islam didirikan atas lima sendi, yaitu 1. Mengakui bahwa tak ada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad pesuruh Allah, 2. Mendirikan Shalat, 3. Menunaikan zakat, 4. Berpuasa Ramadlan dan 5. Berhajji.
[HR. Bukhari dan Muslim]
~
اِنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ ص فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَخْبِرْنِى عَمَّا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصّيَامِ ! قَالَ: شَهْرُ رَمَضَانَ. قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ ؟ قَالَ: لاَ. اِلاَّ اَنْ تَطَوَّعَ. متفق عليه عن طلحة بن عبيد الله
Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, saya mohon diterangkan tentang puasa yang diwajibkan oleh Allah kepada saya". Nabi SAW menjawab, "Puasa di bulan Ramadlan". Orang itu bertanya pula, "Adakah puasa yang lain yang diwajibkan atas diri saya ?". Jawab Nabi SAW, "Tidak, kecuali bila engkau hendak mengerjakan tathawwu' (puasa sunnah). [HR. Muttafaq 'Alaih dari Thalhah bin 'Ubaidillah]

3. Yang wajib berpuasa
Ketentuan-ketentuan orang yang berkewajiban menjalankan puasa di bulan Ramadlan :
a. Orang Islam, tidak diwajibkan selain orang Islam.
b. 'Aqil baligh (dewasa), bukan anak-anak.
c. Sehat.
d. Muqim (berada di daerah tempat tinggalnya/daerah iqomahnya), bukan sebagai musafir.
e. Kuat, yakni tidak memaksakan diri karena sangat berat dan payah bila berpuasa.
f. Khusus bagi wanita pada waktu suci, artinya tidak sedang haidl atau nifas.

4. Yang membatalkan puasa Sepanjang tuntunan Allah dan Rasul-Nya hal-hal yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut :

Firman Allah SWT
dalam surat Al-Baqarah ayat 187,

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصّيَامِ الرَّفَثُ اِلى? نِسَآءِكُمْ، هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَ اَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ، عَلِمَ اللهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَ عَفَا عَنْكُمْ، فَلْئ?نَ بَاشِرُوْهُنَّ وَ ابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ، وَ كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا حَتّ?ى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلاَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلاَسْوَدِ مِن َاْلفَجْرِ، ثُمَّ اَتِمُّوا الصّيَامَ اِلىَ الَّيْلِ ... البقرة: 187
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu pakaian bagimu, dan kamupun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi keringanan kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu Fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam ..... .
[QS. Al-Baqarah: 187]

Dari ayat tersebut dapat diambil pengertian bahwa yang membatalkan puasa itu ialah :
a. Bersetubuh suami-isteri dengan sengaja dan dilakukan pada saat puasa (dari mulai masuk waktu
    Shubuh hingga masuk waktu Maghrib), padahal mereka termasuk orang yang berkewajiban puasa.
    Dan yang dimaksud dengan "bersetubuh", ialah masuknya kemaluan laki-laki/suami pada
    kemaluan wanita/istri. Jadi baik mengeluarkan mani maupun tidak, hukumnya tetap sama. Karena
    tidak adanya ayat-ayat lain maupun hadits-hadits yang membatasi, bahwa yang dimaksud
    "bersetubuh" adalah yang mengeluarkan mani, maka ayat itu tetap berlaku sesuai dengan
     keumuman lafadhnya.
b. Makan dengan sengaja, baik makanan yang mengenyangkan atau tidak.
c. Minum, baik yang menghilangkan haus atau tidak, termasuk merokok.

5. Yang boleh tidak berpuasa dan wajib mengganti di hari-hari yang lain :
  a. Orang yang sakit, yang apabila ia tetap berpuasa akan menambah berat atau akan memperlambat 
      kesembuhan sakitnya, sedang sakitnya itu dapat diharapkan kesembuhannya (bukan sakit yang
      menahun atau sakit yang kronis dan terus-menerus sehingga sulit diharapkan kesembuhannya).
  b. Musafir, ialah : Orang yang sedang bepergian keluar dari daerah iqomahnya, baik dengan
      perjalanan yang berat dan sukar maupun dengan ringan dan mudah; kesemuanya diperbolehkan
      untuk tidak berpuasa dan berkewajiban mengganti di hari yang lain.

Berdasarkan firman Allah :
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلى? سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ. البقرة: 184
Dan barangsiapa diantara kamu yang sakit atau dalam bepergian (musafir) ~maka bolehlah ia berbuka~ dan mengganti di hari-hari yang lain (sebanyak yang ditinggalkannya).
[QS. Al-Baqarah : 184].
~
وَ مَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلى? سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ. البقرة: 185
Dan barangsiapa yang sakit atau dalam bepergian (musafir) ~maka bolehlah ia berbuka~ dan mengganti di hari-hari yang lain (sebanyak yang ditinggalkannya).
[QS. Al-Baqarah : 185].

Keterangan : Tentang berapa kilometer jauhnya seseorang disebut sebagai musafir itu tidak ada penjelasan yang tegas dari Nabi SAW, namun yang jelas beliau bepergian dari Madinah ke Makkah, ketika baru sampai di Dzul Hulaifah beliau sudah mengqashar shalat, sedangkan jarak dari Madinah sampai Dzul Hulaifah itu kira-kira 6 mil (kira-kira 12 km) 6.

Batas waktu mengganti Tidak ada ketentuan dalam agama tentang batas waktu mengganti puasa yang ditinggalkan. Dapat dilaksanakan pada bulan-bulan sesudah selesai Ramadlan tahun itu atau bulan-bulan sesudah Ramadlan tahun berikutnya. Tegasnya selama ia masih hidup, kapanpun boleh, tanpa menambah fidyah atau melipat gandakan puasanya (misalnya hutang satu hari diganti dua hari dan sebagainya). Hanya sebaiknya segera diganti.

7. Yang boleh tidak berpuasa dan hanya mengganti fidyah tanpa harus mengganti puasa di hari yang lain.
Yaitu : Orang-orang yang bila dipaksakan untuk berpuasa masih dapat, tetapi sungguh amat payah sekali dalam melaksanakannya. Perhatikan Firman Allah:
وَ عَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَه فِدْيَةٌ ... البقرة: 184
Dan terhadap orang-orang yang bisa berpuasa tetapi dengan susah payah (boleh tidak berpuasa), wajib membayar fidyah.
[QS. Al-Baqarah : 184]

    Ayat tersebut umum, maka siapa saja yang walaupun mampu berpuasa tetapi dengan amat payah (rekoso) dalam menjalankannya, maka termasuk yang dimaksud oleh ayat di atas, misalnya :
a. Wanita yang sedang hamil yang bila berpuasa dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan pada
   dirinya dan/atau anak yang dikandungnya.
b. Wanita yang sedang menyusui, baik anaknya sendiri maupun anak orang lain yang diserahkan
   kepadanya untuk disusui, yang bila dipaksakan untuk berpuasa akan sangat berat bagi dirinya
  dan/atau bagi anak yang sedang disusuinya itu.

Rasulullah SAW bersabda :
اِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنِ اْلمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَ عَنِ اْلحُبْلَى وَ اْلمُرْضِعِ الصَّوْمَ. احمد عن انس بنمالك الكعبى
Bahwasanya Allah SWT telah membolehkan bagi musafir meninggalkan puasa dan mengqashar shalat, dan Allah telah membolehkan perempuan hamil dan yang sedang menyusui meninggalkan puasa.
[HR. Ahmad dari Anas bin Malik Al-Ka'bi].

Dan riwayat dari Ibnu Abbas RA. tentang istrinya yang sedang hamil, katanya :

اَنْتِ ِبمَنْزِلَةِ الَّذِى لاَيُطِيْقُهُ فَعَلَيْكِ اْلفِدَاءُ وَ لاَ قَضَاءَ عَلَيْكِ. البزار وصححه الدارقطنى
Engkau sekedudukan dengan orang yang amat payah untuk berpuasa. Maka wajib atasmu fidyah dan tidak ada qadla' bagimu.
[HR. Al-Bazzar dan dishahihkan oleh Ad-Daraquthni]

Serta riwayat dari Ibnu 'Umar ketika beliau ditanya oleh seorang wanita Quraisy yang sedang hamil tentang hal puasanya, maka jawab beliau :
 اَفْطِرِى وَ اَطْعِمِى كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَ لاَ تَقْضِى. ابن حزم
Berbukalah kamu dan berilah makan tiap hari seorang miskin, dan jangan mengqadla'nya.
[HR. Ibnu Hazm].
c. Orang yang lanjut usia/orang tua yang apabila berpuasa akan sangat memayahkannya.
Berdasarkan keumuman ayat (Surat Al-Baqarah ayat 184) dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas sebagai berikut :
 رُخّصَ لِلشَّيْخِ اْلكَبِيْرِ اَنْ يُفْطِرَ وَ يُطْعِمَ وَ لاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ. الدارقطنى والحاكم
Orang yang sangat tua, dibenarkan untuk berbuka dan wajib memberikan (fidyah) serta tidak ada qadla' atasnya.
[HR. Ad-Daraquthni dan Al-Hakim].
d. Orang yang pekerjaannya sangat berat, yang bila tetap berpuasa walaupun ia kuat akan sangat berat dan memayahkannya. Misalnya : Pengemudi becak, pekerja tambang, karyawan-karyawan pengangkat barang di stasiun, terminal, pelabuhan dan sebagainya.
e. Orang yang sakit menahun yang (menurut ahli kesehatan) sulit diharapkan sembuhnya, atau walaupun sembuh tetapi memakan waktu yang lama sekali.
f. Siapa saja yang karena kondisi badannya atau sebab-sebab lain akan amat berat sekali bila berpuasa, walaupun bila dipaksa akan kuat juga. Untuk nomor d), e) dan f), ini pun dasarnya adalah keumuman lafadh dari ayat 184 surat Al-Baqarah diatas.
Semua yang tersebut diatas, boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah tanpa harus mengganti puasa di hari yang lain.

8. Yang wajib untuk tidak berpuasa dan wajib mengganti dengan puasa di hari yang lain.

Yaitu khusus bagi wanita yang sedang haidl atau nifas.

Berdasar riwayat :

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كُنَّانَحِيْضُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَ لاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ. الجماعة عن المعاذة
Dari 'Aisyah, bahwa ia berkata, "Adalah kami haidl dimasa Rasulullah SAW maka kami diperintahkan supaya mengqadla’ (mengganti) puasa dan kami tidak diperintahkan mengqadla’ shalat".
[HR. Al-Jama'ah dari Al-Mu'adzah]
'~
                                                                           اَلَيْسَ اِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلّ وَ لَمْ تَصُمْ؟ فَذلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا. البخارى
Dari Abu Sa'id (Al-Khudriy) RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, "Bukankah apabila seorang wanita itu haidl, ia tidak shalat dan tidak berpuasa ? Itulah dari kekurangan agamanya".
[HR. Bukhari juz 2, hal. 239]
~
1. Pengertian Sahur
   Sahur, ialah makanan yang dimakan pada waktu sahar. Sahar menurut bahasa ialah "Nama bagi akhir suku malam dan permulaan suku siang". Lawannya ialah : Ashil, akhir suku siang.
Menurut Az-Zamakhsyari, dinamai waktu Sahar dengan Sahar karena ia adalah waktu berlalunya malam dan datangnya siang. Dengan demikian, jelaslah bahwa Sahar bukanlah satu atau dua jam sebelum terbit fajar, namun yang dimaksud adalah nama waktu pergantian siang dan malam. Jadi apabila kita makan pada jam 24.00 (jam 12 malam) atau sedikit setelah itu tidaklah dapat dinamakan "Bersahur (mengerjakan makan Sahur)".

Adapun yang dinamakan makan Sahur adalah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW pada riwayat di bawah ini :
 عَنْ اَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص : ثُمَّ قُمْنَا اِلىَ الصَّلاَةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: قَدْرَ خَمْسِيْنَ ايَةً. احمد و البخارى و مسلم
Dari Anas dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, "Kami pernah bersahur bersama Rasulullah SAW kemudian kami mengerjakan shalat (Shubuh)". Aku (Anas) bertanya kepada Zaid. "Berapa tempo antara keduanya ?". Zaid menjawab, "Sekadar membaca 50 ayat Al-Qur'an".
[HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].

2. Hikmah Sahur
 اَلسَّحُوْرُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَ لَوْ اَنْ يَجْرَعَ اَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَاِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى اْلمُسَحّرِيْنَ. احمد
Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa'id bahwa Nabi SAW bersabda :
Sahur itu suatu berkah. Maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang yang bersahur. [HR. Ahmad]

    Diriwayatkan oleh Muslim dari 'Amr bin 'Ash bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 فَصْلُ مَابَيْنَ صِيَامِنَا وَ صِيَامِ اَهْلِ اْلكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ. مسلم                                                                                        
Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab ialah makan sahur.
[HR. Muslim].

3. Keraguan tentang waktu Sahur
    Bila seseorang ragu apakah telah habis waktu ataukah belum, maka ia diperbolehkan makan dan minum hingga nyata-nyata baginya bahwa waktu sahur telah habis dan masuk waktu shubuh.

Firman Allah :
 وَ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ اْلفَجْرِ. البقرة:187
Dan makanlah, minumlah, sehingga nyata kepadamu benang putih dari pada benang hitam yaitu Fajar.
[QS. Al Baqarah : 187]
Dari ayat di atas jelaslah bahwa Allah memperkenankan makan dan minum, sehingga nyata benar terbitnya Fajar.

4. Adab Berbuka Apabila sudah tiba waktunya dianjurkan untuk segera berbuka :
Dari Sahl bin Sa'ad RA. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,
 لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا اْلفِطْرَ. احمد والبخارى ومسلم وابوداود
"Senantiasalah hamba itu dalam kebaikan apabila mereka menyegerakan berbuka".
[HR. Muslim juz 2, hal. 771].
'~
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda
 يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ:اِنَّ اَحَبَّ عِبَادِى اِلَيَّ اَعْجَلُهُمْ فِطْرًا. الترمذى
Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Yang paling Ku-sayangi dari hamba-hamba-Ku ialah yang paling segera berbuka".
[HR. Tirmidzi juz 2, hal. 103, no. 696, ]

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dari Anas bin Malik, katanya :

 مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص قَطُّ صَلَّى صَلاَةَ اْلمَغْرِبِ حَتَّى يُفْطِرَ وَ لَوْ عَلَى شُرْبَةِ مَاءٍ. ابن عبد البر عن انس بن مالك
Tidak pernah aku melihat walau sekali Rasulullah SAW shalat Maghrib lebih dahulu sebelum berbuka, walaupun hanya dengan seteguk air.
[HR. Ibnu ‘Abdil Barr dari Anas bin Malik]

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi dari Anas, sbb :

 عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ اَنْ يُصَلّىَ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ. ابوداود و احمد و الترمذى
Dari Anas bin Maalik, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW berbuka dengan kurma basah sebelum shalat (Maghrib), jika tidak ada kurma basah, maka beliau berbuka dengan kurma kering, dan jika tak ada kurma kering, beliau menyendok beberapa sendok air.
[HR. Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi]
~
 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُحِبُّ اَنْ يُفْطِرَ عَلَىثَلاَثِ تَمَرَاتٍ اَوْ شَىْءٍ لَمْ تُصِبْهُ النَّارُ. ابو يعلى عن انس                                              
Adalah Rasulullah SAW suka berbuka puasa dengan tiga biji korma atau sesuatu yang tidak dimasak dengan api.
[HR. Abu Ya'la dari Anas]

Rasulullah SAW bersabda :
 اِذَا اَفْطَرَ اَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ، فَاِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَاِنَّهُ طَهُوْرٌ. ابو داود و الترمذى عن سليمان بن عامر
Apabila seseorang diantara kalian berbuka, maka hendaklah ia berbuka dengan korma. Jika ia tidak memperoleh korma, hendaklah ia berbuka dengan air, karena air itu bersih dan membersihkan.
[HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Sulaiman bin 'Amir]

Kesimpulan :
Hadits-hadits di atas menerangkan kepada kita, bahwa apabila kita berbuka puasa maka disunnahkan untuk :
1. Menyegerakan berbuka.
2. Sebelum shalat Maghrib kita berbuka dahulu walaupun dengan seteguk air.
3. Berbuka dengan tiga biji korma, bila tidak ada, dengan sesuatu makanan yang manis dan tidak
   dimasak dengan api. Seperti : pisang, kates, nanas dan lain-lain.
4. Bila tidak ada buah-buahan maka disunatkan kita untuk berbuka dengan air.
5. Dan dikala berbuka dituntunkan untuk membaca do'a sebagai berikut :

 ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ. ابوداود2: 306،عن ابن عمر
Haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapatkan. Insya Allah.
[HR. Abu Dawud juz 2, hal. 306, no. 2357, dari Ibnu Umar]

Tentang doa berbuka puasa
Ada bermacam-macam doa berbuka puasa, diantaranya sebagai berikut :

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Alloohumma laka shumnaa wa ‘alaa rizqika afthornaa fataqobbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim (Ya Allah, untuk-Mu kami berpuasa, dan atas rizqi-Mu kami berbuka, maka terimalah (ibadah) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)”.
[HR. Daraquthni juz 2, hal. 185 no. 26, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi ‘Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah]
~
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (Untuk-Mu aku berpuasa, dan atas rizqi-Mu aku berbuka, maka terimalah ibadahku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)”.
[HR. Thabarani dalam Al-Kabir juz 12, 14 hal. 113, no. 12720, dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah, ia dlaif]
~
Bismillah, Alloohumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthortu (Dengan nama Allah. Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizqi-Mu aku berbuka).
[HR. Thabarani, dalam Al-Ausath hadits no. 7547, dalam sanadnya ada perawi bernama Dawud bin Zabraqan, ia dlaif – Majma’uz Zawaaid juz 3, hal. 279]
~
Dari Mu’adz RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Alhamdu lillaahil-ladzii a’aananii fa shumtu wa rozaqonii fa-afthortu (Segala puji bagi Allah yang telah menolongku, sehingga aku berpuasa dan telah memberi rizqi kepadaku, maka aku berbuka)”. [HR. Ibnu Sunni hal. 169, no. 479, sanadnya dlaif, karena di dalamnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya]
~
Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya bahwa Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Alloohumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthortu (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rizqi-Mu aku berbuka puasa)”.
[HR. Abu Dawud juz 2,hal. 306, no. 2358, hadits tersebut mursal, karena Mu’adz bin Zuhrah tidak bertemu Nabi SAW]
'~
 عَنِ ابْنِ اَبِى مُلَيْكَةَ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةٌ مَا تُرَدُّ، قَالَ ابْنُ اَبِى مُلَيْكَةَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُوْلُ اِذَا اَفْطَرَ: اَللّهُمَّ اِنّى اَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَ لِى. ابن ماجه 1: 55?، رقم  1?53 حسن

Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata : Saya mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu ketika berbuka ada doa yang tidak akan ditolak”. Ibnu Abi Mulaikah berkata : Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr apabila berbuka puasa berdoa, “Alloohumma innii as-aluka birohmatikal-latii wasi’at kulla syai-in an taghfiro lii (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rohmat-Mu yang luas meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni aku)”.
[HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 557, no. 1753, hadits hasan]
~
 عَنْ مَرْوَانَ يَعْنِى ابْنَ سَالِمِ الْمُقَفَّعِ قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَ عَلَى اْلكَفّ وَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ الله ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ. ابو داود 2: 306، رقم 235?، حسن

Dari Marwan, yakni bin Salim Al-Muqaffa’, ia berkata : Aku melihat Ibnu ‘Umar RA memegang jenggotnya, lalu memotong yang lebih dari 16 genggaman tangannya. Ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Dzahabadh-dhoma-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru, insyaa-allooh (Haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapat, insyaa-allooh).
[HR. Abu Dawud juz 2, hal. 306, no. 2357, hadits hasan]

Keterangan :
    Dari riwayat-riwayat di atas bisa kita ketahui bahwa yang derajatnya hasan adalah riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Abi Mulaikah dan riwayat Abu Dawud dari Marwan bin Salim. Namun pada riwayat Ibnu Abi Mulaikah di atas, doa tersebut adalah lafadhnya Ibnu ‘Amr. Adapun pada riwayat Abu Dawud tersebut lafadh doa itu dari Nabi SAW. Dengan demikian kita ketahui bahwa doa berbuka puasa yang paling kuat riwayatnya adalah yang diriwayatkan Abu Dawud dari Marwan bin Salim dari Ibnu ‘Umar (Dzahabadh-dhoma-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru, insyaa-allooh).
~
~oO[ @ ]Oo~

Kewajiban Suami Terhadap Istri

Ahad, 29 Nopember 1998/10 Sya'ban 1419
Brosur No. : 958/998/IA
  Al-Akhlaqul Karimah (ke 29)



Kewajiban Suami Terhadap Istri

     Suami adalah pemimpin dan pelindung bagi istrinya, maka kewajiban suami terhadap istrinya ialah mendidik, mengarahkan serta memengertikan istri kepada kebenaran. Kemudian memberinya nafqah lahir-bathin, mempergauli serta menyantuninya dengan baik.

Firman Allah SWT :


اَلرّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلى بَعْضٍ وَّ بِمَا اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِـهِمْ. النساء:34

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafqahkan sebagian dari harta mereka ....
[QS. An-Nisaa' : 34]
~
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ. التحريم:6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[QS. At-Tahrim : 6]
~
وَ أْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلوةِ وَ اصْطَبِرْ عَلَيْهَا، لاَ نَسْأَلُكَ رِزْقًا، نَحْنُ نَرْزُقُكَ، وَ اْلعَاقِبَةُ لِلتَّقْوى. طه:132

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu, Kami lah yang memberi rezqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa.
[QS. Thaahaa : 132]
~
وَ عَلَى اْلمَوْلُوْدِ لَه رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلاَّ وُسْعَهَا. البقرة:233

Dan bagi ayah berkewajiban memberi nafqah dan memberi pakaian kepada ibu (dan anaknya) dengan cara yang ma'ruf. Seseorang tidak dibebani kecuali sekedar kesanggupannya.
[QS. Al-Baqarah : 233]
~
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مّنْ سَعَتِه، وَ مَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُه فَلْيُنْفِقْ مِمَّا اتيهُ اللهُ، لاَ يُكَلّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ مَا اتيهَا، سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا. الطلاق:7

Hendaklah orang yang mampu memberi nafqah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezqinya hendaklah memberi nafqah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [QS. Ath-Thalaaq : 7]
~
يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلمَحِيْضٍ، قُلْ هُوَ اَذًى فَاعْتَزِلُوا النّسَآءَ فِى اْلمَحِيْضِ، وَ لاَ تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّى يَطْهُرْنَ، فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللهُ، اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَ يُحِبُّ اْلمُتَطَهّرِيْنَ. نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ، فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّى شِئْتُمْ، وَ قَدّمُوْا ِلاَنْفُسِكُمْ، وَ اتَّقُوا اللهَ وَ اعْلَمُوْآ اَنَّكُمْ مُلقُوْهُ، وَ بَشّرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ. البقرة:222-223

Mereka bertanya kepadamu tentang haidl. Katakanah : "Haidl itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haidl, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri". Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah khabar gembira orang-orang yang beriman.
[QS. Al-Baqarah : 222-223]
~
وَ عَاشِرُوْهُنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ، فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَّ يَجْعَلَ اللهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا. النساء:19

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Dan bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bershabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
[QS. An-Nisaa' : 19]
~
وَ لَـهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ وَ لِلرّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ. البقرة:228

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu derajat kelebihan dari pada istrinya.
[QS. Al-Baqarah : 228]
~
Dan sabda Rasulullah SAW :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. َاْلاِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَ الرَّجُلُ رَاعٍ فِى اَهْلِهِ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَ اْلمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا وَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا. وَ اْلخَادِمُ رَاعٍ فِى مَالِ سَيِّدِهِ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. متفق عليه

Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemim-pinannya. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam menjaga harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan masing-masing dari kamu sekalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.
[HR. Bukhari dan Muslim]
~
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ حَيْدَةَ رض قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ اَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: اَنْ تُطْعِمَهَا اِذَا طَعِمْتَ وَ تَكْسُوَهَا اِذَا اكْتَسَيْتَ وَ لاَ تَضْرِبِ اْلوَجْهَ وَ لاَ تُقَبِّحْ وَ لاَ تَهْجُرْ اِلاَّ فِى اْلبَيْتِ. ابو داود، جديث حسن

Dari Mu'awiyah bin Haidah RA, ia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, apa yang menjadi haknya istri atas suaminya ?". Rasulullah SAW bersabda, "Kamu memberinya makan apabila kamu makan, kamu memberinya pakaian apabila kamu berpakaian, jangan memukul muka, janganlah kamu menjelek-jelekkannya dan janganlah kamu meninggalkannya kecuali di dalam rumah".
[HR. Abu Dawud]
~
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَمْعَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يَجْلِدْ اَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ اْلعَبْدِ. البخارى

Dari 'Abdullah bin Zam'ah, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "Janganlah seseorang diantara kamu memukul istrinya sebagaimana memukul seorang hamba".
[HR. Bukhari]
~
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: كَفَى بِاْلمَرْءِ اِثْمًا اَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ. ابو داود

Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash RA, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "Cukuplah bagi seseorang itu berdosa, apabila ia mengabaikan orang yang makan dan minumnya menjadi tanggungannya".
[HR. Abu Dawud]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: دِيْنَارٌ اَنْفَقْتَهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَ دِيْنَارٌ اَنْفَقْتَهُ فِيْ رَقَبَةٍ، وَ دِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ، وَ دِيْنَارٌ اَنْفَقْتَهُ عَلَى اَهْلِكَ، اَعْظَمُهَا اَجْرًا الَّذِيْ اَنْفَقْتَهُ عَلَى اَهْلِكَ. مسلم

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "Satu dinar kamu infaqkan fii sabiilillah, satu dinar kamu pergunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar kamu sedeqahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu, maka yang paling bersar pahalanya ialah yang kamu belanjakan untuk keluargamu".
[HR. Muslim]
~
عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ اْلبَدْرِيِّ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: اِذَا اَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى اَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ. متفق عليه

Dari Abu Mas'ud Al-Badriy RA, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda, "Apabila seorang laki-laki memberi belanja kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka yang demikian itu tercatat sebagai sedeqah".
[HR. Bukhari dan Muslim]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: اَلْيَدُ اْلعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اْليَدِ السُّفْلَى. وَ ابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ. وَ خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى. وَ مَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ. وَ مَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda, "Tangan yang di atas itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Dahulukanlah dalam pemberianmu kepada orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedeqah ialah yang lebih dari keperluan. Dan barangsiapa yang berlaku perwira, maka Allah akan memelihara keperwiraannya dan barangsiapa yang mencukupkan diri, maka Allah akan mencukupkannya".
[HR. Bukhari]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيَّ ص قَالَ: وَ اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَاِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَ اِنَّ اَعْوَجَ شَيْءٍ فِى الضِّلَعِ اَعْلاَهُ، فَاِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَ اِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ اَعْوَجَ، فَاصْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا. البخارى و مسلم و اللفظ للبخارى. و لمسلم: فَاِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَ بِهَا عِوَجٌ. وَ اِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَ كَسْرُهَا طَلاَقُهَا.
~
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda, "Nasehatilah wanita-wanita itu dengan baik, karena sesungguhnya mereka itu diciptakan (laksana) tulang rusuk, dan sesungguhnya sebengkok-bengkok tulang rusuk ialah yang paling atas. Maka jika kamu paksa meluruskannya (dengan kekerasan) berarti kamu mematahkannya, dan jika kamu biarkan saja, maka akan tetap bengkok, karena itu nasehatilah wanita-wanita dengan baik".
[HR. Bukhari dan Muslim, dan bagi Muslim]
Jika kamu mengambil kesenangan dengannya, niscaya kamu dapat kesenangan dengannya dalam keadaan dia bengkok itu, dan jika kamu meluruskannya, niscaya kamu menyebabkan patahnya. Sedangkan patahnya itu berarti cerainya.
~
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لَوْ اَنَّ اَحَدَكُمْ اِذَا اَتَى اَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَ جَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَقُضِيَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرُّهُ. متفق عليه

Dari Ibnu 'Abbas RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Seandainya seseorang diantara kamu ketika mendatangi istrinya mengucapkan Bismillaahi, Alloohumma jannibnasy-syaithoona wa jannibisy-syaithoona maa rozaqtanaa (Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari syaithan, dan jauhkanlah syaithan dari rezqi yang Engkau anugerahkan kepada kami), lalu dari hubungan keduanya itu ditaqdirkan lahirnya anak, maka syaithan tidak akan membahayakannya".
[HR. Bukhari dan Muslim]
~
اِذَا جَامَعَ اَحَدُكُمْ اَهْلَهُ فَلاَ يَأْتِهِنَّ كَمَا يَأْتِى الطَّيْرُ لِيَمْكُثْ وَ لْيَلْبَثْ. الطوسى

Apabila seseorang dari kamu mengumpuli istrinya, maka janganlah mendatangi mereka sebagaimana burung, tetapi hendaklah ia tinggal sebentar dan jangan segera pergi.
[HR. Ath-Thusi]
~
عَنْ اِيَاسِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى ذُبَابٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَضْرِبُوْا اِمَاءَ اللهِ. فَجَاءَ عُمَرُ رض اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَ: ذَئِرْنَ النِّسَاءُ عَلَى اَزْوَاجِهِنَّ. فَرَخَّصَ فِى ضَرْبِهِنَّ. فَأَطَافَ بِآلِ رَسُوْلِ اللهِ ص نِسَاءٌ كَثِيْرٌ يَشْكُوْنَ اَزْوَاجَهُنَّ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَقَدْ اَطَافَ بِآلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ نِسَاءٌ كَثِيْرٌ يَشْكُوْنَ اَزْوَاجَهُنَّ لَيْسَ اُولئِكَ بِخِيَارِكُمْ. ابو داود

Dari Iyas bin 'Abdullah bin Abu Dzubab RA, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda : "Janganlah kamu memukul kaum wanita (para hamba Allah yang wanita)". Kemudian 'Umar RA datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Ya Rasulullah, kini para istri menjadi berani kepada suaminya". Maka Rasulullah SAW mengizinkan untuk memukul mereka. Tiba-tiba rumah Rasulullah SAW dikerumuni oleh banyak wanita yang mengadukan kekejaman suami mereka, maka Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh telah banyak wanita mengelilingi rumah keluarga Muhammad, mereka mengeluh tentang kekejaman suaminya. Mereka (para suami yang kejam itu) bukanlah orang yang baik diantara kamu".
[HR. Abu Dawud]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً اِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ اَوْ قَالَ غَيْرَهُ. مسلم

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "Janganlah seorang mukmin (laki-laki) membenci kepada orang mukmin (perempuan), jika dia tidak menyukai sesuatu kelakuannya, pasti ada juga kelakuan lainnya yang menyenangkan".
[HR. Muslim]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَ خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ. الترمذى

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik diantara mereka akhlaqnya, dan orang yang paling baik diantara kamu sekalian adalah orang yang paling baik terhadap istri mereka".
[HR. Tirmidzi]
~
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لاَهْلِهِ وَ اَنَا خَيْرُكُمْ لاَهْلِى. ابن ماجه

Sebaik-baik diantara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap istriku.
[HR. Ibnu Majah]
~
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ اْلعَاصِ رض، اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَ خَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا اْلمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ. مسلم

Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda, "Dunia adalah kesenangan sementara dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah". [HR. Muslim]
~
~oO[ A ]Oo~

Kunci Meraih Mimpi

  Setiap orang pasti mempunyai mimpi atau harapan(everybody has a dream), harapan itu adalah perjalanan hidup yang terkadang pahit manis rasanya tetapi karena harapan kita mempunyai tujuan dan kekuatan untuk memperjuangkan sesuatu.
Dan dalam mewujudkan mimpi tersebut tentunya ada beberapa cara yang harus dilakukan, dibawah ini ada 9 kunci meraih mimpi yang saya dapatkan dari kuliah di UPH dengan pembicara panglima TNI gatot nurmantyo:

1. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa (great prayer)
   Yang pertama kamu harus 'berdo'a', meminta kepada tuhan "tuhan bantu saya untuk meraih mimpi, saya ingin menjadi.....).
Tuhan akan mengabulkan doamu sesuai dengan persepsimu, jadi kalau kamu bersepsi tuhan mengabulkan pasti akan dikabulkan. Dan apapun yang terjadi doamu harus tetap 'supaya tuhan tidak bingung' insyaallah tuhan pasti  akan mengabulkan setiap doamu.

2.Bermimpilah setinggi-tingginya (great dreamer)
  Selain berdoa kamu juga harus  menanamkan mimpi setinggi-tingginya.
 Sebagai contoh Pak Jokowi kuliah kehutanan di UGM jadi pegawai sampai di aceh tapi karena mimpinya terus akhirnya sekarang menjadi presiden.
Barrack Obama pada saat sekolah di menteng ditanya,"apa cita-citamu?" dan jawabnya "saya akan menjadi presiden amerika" dan tanggapan orang "kamu sudah hitam,orang negro, bajumu lecek,tinggalnya diindonesia lagi, mimpi jadi presiden?" tapi barack obama dimanapun ditanya "saya presiden amerika" dan buktinya jadi presiden amerika. Semua itu dengan menanamkan mimpi yang tinggi.

3. Tetap fokus wujudkan mimpi ((focus)

   Selain mempunyai mimpi yang tinggi kamu juga harus fokus terhadap mimpimu, setiap saat harus fokus "saya akan jadi presiden, saya akan jadi pengusaha, saya akan pemilik rumah sakit, saya akan pemilik perusahaan penerbangan " harus fokus.

4. Optimis
   Selanjutnya kita harus optimis bahwa mimpimu suatu saat pasti terwujud.

5. Berbuat maksimal mewujudkan mimpi (action) dan menghadapi hambatan dengan fleksibel (flexible)
    Selain optimis kamu jangan hanya sebagai pemimpi kamu harus action, actionnya bagaimana?
  1.kamu tidak boleh frustasi
  2.kamu harus fleksibel
    Bergaul fleksibel, belajarpun fleksibel, kamu jangan hanya percaya dengan pelajaran yg ada di sekolah tapi kembangkan seperti buka internet, buka website cari tambahan-tambahan sehingga apabila kamu dikasih pekerjaan oleh guru, guru mu akan terkejut karena kamu pasti mencari literatur-literatur, mencari bahan-bahan dari luar, fleksibel untuk mempelajari pelajaran apapaun.

6. Harus memiliki relasi (networking)
   Ketika mimpimu besar, kamu tidak bisa menggapai mimpimu sendiri, semua orang yang ada dilingkungan kita jadikan network(buatlah network dan jaringan) bayangkan dari kamu awal semua orang menjadi networkmu, apapun nanti karirnya akan mendukung kamu dan pasti bisa tercapai.

7. Tetap belajar (keep learning)
    Dan karena mimpimu besar maka kamu harus terus belajar, belajar apapun saja dan jangan puas hanya dengan pelajaran yang kita dapat disekolah tetapi kembangkan terus lalu belajar dengan kehidupan juga.

8. Lakukan semuanya dengan do by heart (dengan hati)
   Selanjutnya yang paling penting kamu harus lakukan segalanya dengan do by heart(dengan hati). Kamu diminta tolong temanmu lakukan dengan hati . 
  Hari jum'at sore, tau-tau dosen kasih pekerjaan yang panjang dan sulit "waaduh ini dosen satu: sudah tua, galak, ngasih pekerjaan susah lagi ngga tau kalau kita sudah mau liburan". Harusnya kamu balik "dosenmu baik sekali pekerjaan yang sulit justru dikasih waktu yang panjang yang saya punya kesempatan untuk mencari referensi dari manapun juga, beliau sangat baik saya harus kerjakan dengan referensi-referensi terbaru dan terbaik". Lakukakan semua itu  dengan du bai'at.

9. Introperksi
   Selanjutnya yang paling penting setiap hari sebelum tidur kamu bertanya kepada dirimu;
"sudahkah saya konsisten dan fokus terhadap mimpi saya"?,
"sudahkah saya berdo'a"?,
"sudahkah saya optimis hari ini"?,
"sudahkah saya fleksibel"?,
"sudahkah saya punya network baru sekarang ini"?,
"sudahkah saya melakukan aksi-aksi untuk meraih mimpi saya"?,
"sudahkah saya belajar belajar ilmu"?,
dan "sudahkah saya melakukannya dengan do by heart (dengan hati)"?.
Kalau belum catat dan rencanakan besok, manakala kamu bangun dipagi hari buka catatanmu "saya harus lakukan apa yang sudah saya rencanakan" dan jangan lupa berdoa. Dan semua itu harus kamu lakukan setiap hari dan saya yakin, kita semua punya peluang kamu sudah benar pada posisimu sekarang untuk meraih mimpi, jangan ragu-ragu tanamkan mimpimu setinggi-tingginya dan insyaallah itu pasti tercapai.
 Yang terakhir saya ucapkan selamat belajar, semangat berjuang menjadikan kita sebagai bangsa pemenang, serta wujudkan indonesia raya.
Terimakasih sekali lagi lakukan semua dengan niat terbaik, berani, tulus dan ikhlas.
Selamat berjuang meraih mimpi, KAMU PASTI BISAAA!!!!!!!

Wednesday, May 17, 2017

Hukum bagi pelaku Zina(pacaran)


     Menurut manusia orang pacaran zina hukumnya tidak mau tau ..
bagi yang mempunyai agama islam harus wajib tau bagi orang yang zina hukum islam tetap berlaku bila tidak di dunia pasti di akirat. Bila tidak taubat dengan sungguh-sungguh.
.
Halal Haram Dalam Islam (ke-20)
Hukuman Zina
اَلزَّانِيَةُ وَ الزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ، وَّ لاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلاخِرِ، وَ لْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مّنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ. النور:2
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu (menjalankan) agama Allah jika kamu beriman kepada Allah dan hari kiamat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.
[QS. An-Nuur : 2]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ وَ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ اَنَّهُمَا قَالاَ: اِنَّ رَجُلاً مِنَ اْلاَعْرَابِ اَتَى رَسُوْلَ اللهِ ص فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَنْشُدُكَ اللهَ اِلاَّ قَضَيْتَ لِى بِكِتَابِ اللهِ. وَ قَالَ اْلخَصْمُ اْلآخَرُ وَ هُوَ اَفْقَهُ مِنْهُ: نَعَمْ، فَاقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللهِ وَ ائْذَنْ لِى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قُلْ، قَالَ: اِنَّ ابْنِى كَانَ عَسِيْفًا عَلَى هذَا فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ، وَ اِنِّى اُخْبِرْتُ اَنَّ عَلَى ابْنِى الرَّجْمَ فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَ وَلِيْدَةٍ. فَسَأَلْتُ اَهْلَ اْلعِلْمِ، فَاَخْبَرُوْنِى اَنَّ عَلَى ابْنِى جَلْدَ مِائَةٍ وَ تَغْرِيْبَ عَامٍ، وَ اَنَّ عَلَى امْرَأَةِ هذَا الرَّجْمَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ َلأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ. اْلوَلِيْدَةُ وَ اْلغَنَمُ رَدٌّ. وَ عَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَ تَغْرِيْبُ عَامٍ. وَ اغْدُ يَا أُنَيْسُ لِرَجُلٍ مِنْ اَسْلَمَ اِلَى امْرَأَةِ هذَا، فَاِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا. قَالَ: فَغَدَا عَلَيْهَا، فَاعْتَرَفَتْ، فَاَمَرَ بِهَا رَسُوْلُ اللهِ ص، فَرُجِمَتْ. الجماعة
Dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid, mereka berkata : Bahwa ada seorang laki-laki Badui datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah, Demi Allah, sungguh aku tidak meminta kepadamu kecuali engkau memutuskan hukum untukku dengan kitab Allah”. Sedang yang lain berkata (dan dia lebih pintar dari padanya), “Ya, putuskanlah hukum antara kami berdua ini menurut kitab Allah, dan ijinkanlah aku (untuk berkata)”. Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Silakan”. Maka orang yang kedua itu berkata, “Sesungguhnya anakku bekerja pada orang ini, lalu berzina dengan istrinya, sedang aku diberitahu bahwa anakku itu harus dirajam. Maka aku menebusnya dengan seratus kambing dan seorang hamba perempuan, lalu aku bertanya kepada orang-orang ahli ilmu, maka mereka memberi tahu bahwa anakku harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedang istri orang ini harus dirajam”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh aku akan putuskan kalian berdua dengan kitab Allah. Hamba perempuan dan kambing itu kembali kepadamu, sedang anakmu harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun”. Dan engkau hai Unais, pergilah bertemu dengan seorang dari Aslam untuk bersama-sama ke tempat istri orang ini, dan tanyakan, jika dia mengaku, maka rajamlah dia”. Abu Hurairah berkata, “Unais kemudian berangkat ke tempat perempuan tersebut, dan perempuan tersebut mengaku”. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan untuk merajamnya, kemudian ia pun dirajam.
[HR. Jama’ah]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَضَى فِيْمَنْ زَنَى وَ لمَْ يُحْصَنْ بِنَفْيِ عَامٍ وَ اِقَامَةِ اْلحَدِّ عَلَيْهِ. احمد و البخارى
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW pernah memutuskan hukuman orang yang
berzina tetapi tidak muhshan, yaitu dengan diasingkan selama setahun dan dikenakan hukuman dera. [HR. Ahmad dan Bukhari]
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: خُذُوْا عَنِّى، خُذُوْا عَنِّى. قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً. اَلْبِكْرُ بِاْلبِكْرِجَلْدُ مِائَةٍ وَ نَفْيُ سَنَةٍ وَ الثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَ الرَّجْمُ. الجماعة الا البخارى و النساشى
Dari ‘Ubadah bin Shamit ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Ambillah (hukum itu) dariku, ambillah (hukum itu) dariku. Sungguh Allah telah membuat jalan bagi mereka (perempuan), yaitu : Perawan (yang berzina) dengan jejaka, sama-sama didera seratus kali dan diasingkan setahun. Sedang janda dengan duda, sama-sama didera seratus kali dan dirajam”.
[HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Nasai]
عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَنَّ رَجُلاً زَنَى بِامْرَأَةٍ، فَاَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ ص: فَجُلِدَ اْلحَدَّ، ثُمَّ اُخْبِرَ اَنَّهُ مُحْصَنٌ، فَاَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ. ابو داود
Dari Jabir bin ‘Abdullah bahwa ada seorang laki-laki berzina dengan seorang perempuan, lalu Nabi SAW memerintahkan untuk si laki-laki itu didera sebagai hukumannya. Tetapi kemudian beliau diberitahu, bahwa laki-laki tersebut adalah muhshan (sudah kawin), maka diperintahkan untuk dirajam, lalu orang itupun dirajam.
[HR. Abu Dawud]
عَنْ جَابِرٍ بْنِ سَمُرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص رَجَمَ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ وَ لَمْ يَذْكُرْ جَلْدًا. احمد
Dari Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah SAW merajam Ma’iz bin Malik. Dan Jabir tidak menyebutkan tentang dera.
[HR. Ahmad]
Keterangan :
a. Dari hadits-hadits diatas bisa diambil pengertian bahwa hukuman zina muhshan (laki atau perempuan yang sudah pernah nikah), adalah dirajam hingga mati. Adapun hukuman dera bagi mereka hanyalah sebagai hukuman tambahan.
b. Sedangkan hukuman zina yang bukan muhshan (jejaka atau perawan), adalah didera/dijilid seratus kali. Adapun hukuman pengasingan hanya sebagai hukuman tambahan.
Dilaksanakan hukuman apabila sudah jelas berbuat zina.
وَ الّتِيْ يَأْتِيْنَ اْلفَاحِشَةَ مِنْ نّسَآئِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوْا عَلَيْهِنَّ اَرْبَعَةً مّنْكُمْ، فَاِنْ شَهِدُوْا فَاَمْسِكُوْهُنَّ فِى اْلبُيُوْتِ حَتّى يَتَوَفّهُنَّ اْلمَوْتُ اَوْ يَجْعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً. النساء:15
Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.
[QS.An-Nisaa’ : 15]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: اَتَى رَجُلٌ رَسُوْلَ اللهِ ص وَ هُوَ فِى اْلمَسْجِدِ فَنَادَاهُ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنِّى زَنَيْتُ فَاَعْرَضَ عَنْهُ حَتَّى رَدَّدَ عَلَيْهِ اَرْبَعَ مَرَّاتٍ، فَلَمَّا شَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ اَرْبَعَ شَهَادَاتٍ دَعَاهُ النَّبِيُّ ص فَقَالَ: اَبِكَ جُنُوْنٌ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَهَلْ اَحْصَنْتَ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اِذْهَبُوْا بِهِ فَارْجُمُوْهُ. قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: فَاَخْبَرَنِى مَنْ سَمِعَ جَابِر َبْنَ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كُنْتُ فِيْمَنْ رَجَمَهُ، فَرَجَمْنَاهُ بِاْلمُصَلَّى. فَلَمَّا اَذْلَقَتْهُ اْلحِجَارَةُ هَرَبَ، فَاَدْرَكْنَاهُ بِاْلحَرَّةِ، فَرَجَمْنَاهُ. متفق عليه
Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah SAW di masjid, lalu menyeru, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar telah berzina”. Kemudian Rasulullah SAW berpaling, sehingga orang tersebut mengulanginya sampai empat kali. Maka setelah ia bersaksi atas dirinya empat kali, ia dipanggil oleh Nabi SAW. Lalu Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau mengidap penyakit gila ?” Ia menjawab, “Tidak”. Nabi bertanya lagi, “Apakah engkau sudah nikah ?” Ia menjawab, “Sudah”. Lalu Nabi SAW menyuruh para sahabat, “Bawalah dia lalu rajamlah”. Ibnu Syihab berkata, ada seorang yang mendengar dari Jabir bin Abdullah memberitahukan kepadaku, bahwa Jabir berkata, “Aku termasuk salah seorang yang merajamnya, yaitu kami rajam dia di mushalla (lapangan yang biasa untuk shalat ‘ied). Tetapi tatkala batu-batu lemparan itu melukainya, ia lari, lalu kami tangkap dia di Harrah, kemudian kami rajam (sampai mati)”.
[HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].
عَنْ جَابِرٍ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: رَأَيْتُ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ جِيْءَ بِهِ اِلَى النَّبِيِّ ص وَ هُوَ رَجُلٌ قَصِيْرٌ اَعْضَلُ لَيْسَ عَلَيْهِ رِدَاءٌ، فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ اَرْبَعَ مَرَّاتٍ اَنَّهُ زَنَى، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَلَعَلَّكَ؟ قَالَ: لاَ، وَ اللهِ. اِنَّهُ قَدْ زَنَى، اْلآخِرُ فَرَجَمَهُ. مسلم و ابو داود
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, Aku pernah melihat Ma’iz bin Malik dibawa menghadap Nabi SAW. dia adalah seorang laki-laki yang berperawakan pendek kekar, tanpa berselendang. Lalu ia bersaksi atas dirinya empat kali, bahwa ia telah berzina. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, "Barangkali (engkau gila) ?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah”. Memang benar-benar dia telah berzina. Lalu akhirnya dia dirajam.
[HR. Muslim dan Abu Dawud].
و لاحمد: اِنَّ مَاعِزًا جَاءَ فَاَقَرَّ عِنْدَ النَّبِيِّ ص اَرْبَعَ مَرَّاتٍ، فَاَمَرَ بِرَجْمِهِ
Ahmad meriwayatkan bahwa Ma’iz pernah datang kepada Nabi SAW mengaku berzina dengan empat kali pengakuan. Lalu Nabi SAW memerintahkan supaya dirajam.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ لِمَاعِزِ بْنِ مَالِكٍ اَحَقٌّ مَا بَلَغَنِى عَنْكَ؟ قَالَ: وَ مَا بَلَغَكَ عَنِّى؟ قَالَ: بَلَغَنِى اَنَّكَ قَدْ وَقَعْتَ بِجَارِيَةِ آلِ فُلاَنٍ. قَالَ: نَعَمْ. فَشَهِدَ اَرْبَعَ شَهَادَاتٍ. فَاُمِرَ بِهِ، فَرُجِمَ. احمد و مسلم و ابو داود و الترمذى و صححه
Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Nabi SAW bertanya kepada Ma’iz, “Betulkah apa yang sampai kepadaku tentang masalahmu itu ?”. Ia membalas bertanya, “Apa yang sampai kepadamu tentang aku ?”. Nabi SAW bersabda, “Berita yang sampai kepadaku, bahwa engkau telah mengumpuli seorang perempuan keluarga si fulan”. Ia menjawab, “Betul”. Lalu ia bersaksi atas dirinya empat kali. Kemudian Nabi SAW memerintahkan supaya dirajam, lalu ia dirajam.
[HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi, dan Tirmidzi mengesahkannya].
و فى رواية قال: جَاءَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ اِلَى النَّبِيِّ ص فَاعْتَرَفَ بِالزِّنَا مَرَّتَيْنِ، فَطَرَدَهُ، ثُمَّ جَاءَ فَاعْتَرَفَ بِالزِّنَا مَرَّتَيْنِ، فَقَالَ: شَهِدْتَ عَلَى نَفْسِكَ اَرْبَعَ مَرَّاتٍ اِذْهَبُوْا بِهِ، فَارْجُمُوْهُ. ابو داود
Dan dalam satu riwayat dikatakan, Ma’iz pernah menghadap Nabi SAW mengaku telah berzina, dia mengulangi pengakuannya dua kali. Lalu Nabi SAW menyuruhnya keluar. Kemudian ia datang lagi, mengaku telah berzina, dia mengulangi pengakuannya dua kali lagi. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Karena engkau telah bersaksi atas dirimu empat kali, maka sekarang (hai para sahabat) bawalah dia lalu rajamlah !”.
[HR. Abu Dawud]
عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ ص جَالِسًا فَجَاءَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ فَاعْتَرَفَ عِنْدَهُ مَرَّةً فَرَدَّهُ، ثُمَّ جَاءَ فَاعْتَرَفَ عِنْدَهُ الثَّانِيَةَ، فَرَدَّهُ، ثُمَّ جَاءَ فَاعْتَرَفَ عِنْدَهُ الثَّالِثَةَ، فَرَدَّهُ، فَقُلْتُ لَهُ: اِنَّكَ اِنِ اعْتَرَفْتَ الرَّابِعَةَ رَجَمَكَ. قَالَ: فَاعْتَرَفَ الرَّابِعَةَ، فَحَبَسَهُ، ثُمَّ سَأَلَ عَنْهُ، فَقَالُوْا: مَا نَعْلَمُ اِلاَّ خَيْرًا. قَالَ: فَاَمَرَ بِرَجْمِهِ. احمد
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata, “Aku pernah duduk-duduk di samping Nabi SAW lalu seorang laki-laki namanya Ma’iz bin Malik datang mengaku di hadapan Nabi SAW bahwa ia telah berzina, sekali pengakuan, ditolak Nabi SAW. Kemudian ia datang lagi dan mengaku di hadapan Nabi SAW untuk kedua kalinya, lalu ditolaknya lagi. Kemudian ia datang lagi dan mengaku di hadapan Nabi SAW untuk ketiga kalinya, lalu ia pun ditolaknya lagi”. Kemudian aku (Abu Bakar) berkata, kepada Ma’iz, “Kalau engkau mengaku yang keempat kalinya, pasti akan dirajam”. Lalu ia pun mengaku yang keempat kalinya. Kemudian ia ditahan. Kemudian Nabi SAW bertanya (kepada para sahabat) tentang dia. Maka jawab shahabat, “Kami tidak tahu kecuali kebaikannya”. Abu Bakar berkata, “Kemudian Nabi SAW memerintahkan untuk dirajam”.
[HR. Ahmad]
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ: كُنَّا اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ ص، نَتَحَدَّثُ اَنَّ اْلغَامِدِيَّةَ وَ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ لَوْ رَجَعَا بَعْدَ اعْتِرَافِهِمَا، اَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ يَرْجِعَا بَعْدَ اعْتِرَافِهِمَا لَمْ يَطْلُبْهُمَا. وَ اِنَّمَا رَجَمَهُمَا بَعْدَ الرَّابِعَةِ. ابو داود
Dari Buraidah ia berkata, “Kami para sahabat Rasulullah SAW pernah berbincang-bincang tentang masalah perempuan Ghamidiyah dan Ma’iz bin Malik seandainya mereka berdua itu mau menarik pengakuannya itu, atau mereka tidak menarik sesudah pengakuannya (yang ketiga kali) itu niscaya merekapun tidak akan dituntut. Mereka itu dirajam, hanyalah karena pengakuannya yang keempat kalinya”.
[HR. Abu Dawud]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا اَتَى مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ النَّبِيَّ ص قَالَ: لَعَلَّكَ قَبَّلْتَ، اَوْ غَمَّزْتَ اَوْ نَظَرْتَ؟ قَالَ: لاَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: اَنِكْتَهَا؟ لاَ يَكْنِى. قَالَ: نَعَمْ. فَعِنْدَ ذلِكَ اَمَرَ بِرَجْمِهِ. احمد و البخارى و ابو داود
Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata : Tatkala Ma’iz bin Malik datang kepada Nabi SAW, Nabi SAW bertanya, “Barangkali engkau hanya mencium saja, atau mungkin engkau sekedar meraba saja atau mungkin sekedar memandang saja ?”. Ma’iz menjawab, “Tidak ya Rasulullah”. Lalu Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau setubuhi dia ?”. (Beliau tidak menggunakan kata sindiran). Ia menjawab, “Ya”. Ketika itu lalu beliau memerintahkan untuk dirajam.
[HR. Ahmad, Bukhari dan Abu Dawud]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ اْلاَسْلَمِيُّ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ اَنَّهُ اَصَابَ امْرَأَةً حَرَامًا اَرْبَعَ مَرَّاتٍ، كُلُّ ذلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ، فَاَقْبَلَ عَلَيْهِ فِى اْلخَامِسَةِ، فَقَالَ: اَنِكْتَهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: كَمَا يَغِيْبُ اْلمِرْوَدُ فِى اْلمِكْحَلَةِ وَالرَّشَاءُ فِى اْلبِئْرِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَهَلْ تَدْرِى مَا الزِّنَا؟ قَالَ: نَعَمْ. اَتَيْتُ مِنْهَا حَرَامًا مَا يَأْتِى الرَّجُلُ مِنِ امْرَأَتِهِ حَلاَلاً. قَالَ: فَمَا تُرِيْدُ بِهذَا اْلقَوْلِ؟ قَالَ: اُرِيْدُ اَنْ تُطَهِّرَنِى. فَاَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ. ابو داود و الدارقطنى
Dari Abu Hurairah ia berkata : Seorang laki-laki dari suku Aslam datang kepada Rasulullah SAW lalu ia mengaku telah melakukan perbuatan haram dengan seorang perempuan, dengan empat kali pengakuan, yang setiap kali pengakuannya itu Nabi berpaling. Lalu untuk yang kelima kalinya baru Nabi menghadapinya, seraya bertanya, “Apakah engkau setubuhi dia ?”. Ia menjawab, “Ya”. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah seperti celak masuk ke dalam wadahnya dan seperti timba masuk ke dalam sumur ?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bertanya lagi, “Tahukah engkau, apakah zina itu ?”. Ia menjawab, “Ya, saya tahu. Yaitu saya melakukan perbuatan yang haram dengan dia seperti seorang suami melakukan perbuatan halal dengan istrinya”. Nabi bertanya lagi, “Apakah yang kamu maksud dengan perkataanmu ini ?”. Ia menjawab, “Saya bermaksud supaya engkau dapat membersihkan aku (sebagai taubat)”. Maka Nabi SAW memerintahkan untuk dirajam, lalu dia dirajam.
[HR. Abu Dawud dan Daruquthni]
~oO[ A ]Oo~