TEORI KEPRIBADIAN B.F SKINNER


                            MENDALAMI DAN MEMAHAMI TEORI B.F SKINNER
                           SECARA KOMPREHENSIF SEBAGAI PEMBELAJARAN
                                                         TEORI KEPRIBADIAN

                                                                   
                                                                      BAB  I

                                                            PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

    teori tentang belajar yang telah berkembang mulai abad ke-19 sampai sekarang ini.
Pada awal abad ke-19 teori belajar yang berkembang pesat dan memberi banyak sumbangan terhadap para ahli psikologi adalah teori belajar tingkah laku (behaviorisme). Teori ini pada awal mulanya dikembangkan oleh psikolog Rusia Ivan Pavlov (tahun 1900-an) dengan teorinya yang dikenal dengan istilah pengkondisian klasik (classical conditioning) dan kemudian teori belajar tingkah laku ini dikembangkan oleh beberapa ahli psikologi yang lain, di antaranya yaitu B.F Skinner.
   Di awal abad ke-20 sampai sekarang ini teori belajar behaviorisme mulai ditinggalkan
dan banyak ahli psikologi yang baru lebih mengembangkan teori belajar kognitif dengan asumsi dasar bahwa kognisi mempengaruhi perilaku. Penekanan kognitif menjadi basis bagi pendekatan untuk pembelajaran.
Walaupun teori belajar tingkah laku mulai ditinggalkan di abad ini, namun mengkolaborasikan teori ini dengan teori belajar kognitif dan teori belajar lainnya sangat penting untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang cocok dan efektif, karena pada dasarnya tidak ada satu pun teori belajar yang cocok untuk menciptakan sebuah pendekatan pembelajaran yang tepat dan efektif.
   Dengan adanya pemikiran-pemikiran seperti ini, maka kami terdorong untuk menyusun sebuah makalah yang berjudul “Teori Belajar B.F. Skinner (operant conditioning)”.
Di mana teori ini merupakan salah satu teori belajar tingkah laku (behaviorisme) yang telah dikembangkan oleh B.F. Skinner.

B.  Rumusan Masalah

      Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Siapa B.F. Skinner?
2) Bagaimana sejarah munculnya teori kondisioning operan B.F Skinner?     
3) Kajian Umum Teori B.F Skinner
4) Bagaimana teori belajar B.F. Skinner?
5) Bagaimana implementasi teori belajar B.F. Skinner dalam pembelajaran?  
6) Apa kelebihan dan kekurangan teori belajar B.F. Skinner?

C.    Tujuan

        Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui biografi dari B.F. Skinner.
2) Untuk memahami sejarah munculnya teori kondisioning operan B.F Skinner.
3) Mampu menjelaskan teori belajar B.F. Skinner.
4) Mampu mengimplementasikan teori belajar B.F. Skinner dalam pembelajaran.
5) Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan teori belajar B.F. Skinner.

                                                                          BAB II

                                                                  PEMBAHASAN

A. Biografi B.F. Skinner

   B.F. Skinner lahir pada tanggal 20 Maret 1904 di sebuah kota kecil bernama Susquehanna, Pennsylvania.
   Ayahnya adalah seorang pengacara dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang baik.
Ia merefleksikan tahun-tahun awal kehidupannya sebagai suatu masa dalam lingkungan yang stabil, di mana belajar sangat dihargai dan disiplin sangat kuat. Skinner mendapat gelar BA-nya dalam sastra bahasa inggris pada tahun 1926 dari Presbyterian-founded Humilton College.
Setelah wisuda, ia menekuni dunia tulis menulis sebagai profesinya selama dua tahun.
   Pada tahun 1928, ia melamar masuk program pasca sarjana psikologi Universitas Harvard.
Ia memperoleh MA pada tahun 1930 dan Ph.D pada tahun 1931. Pada tahun 1945, dia menjadi kepala departemen psikologi Universitas Indiana.
   Kemudian 3 tahun kemudian, tahun 1948, dia diundang untuk datang lagi ke Universitas Harvard.
Di Universitas tersebut dia menghabiskan sisa karirnya.
   Skinner adalah seseorang yang aktif dalam berbagai kegiatan, seperti melakukan berbagai penelitian, membimbing ratusan calon doktor, dan menulis berbagai buku.
   Meski tidak sukses sebagai penulis buku fiksi dan puisi, ia menjadi salah satu penulis psikologi terbaik. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Walden II.Pada tanggal 18 Agustus 1980, Skinner meninggal dunia karena penyakit Leukemia.

B. Sejarah Munculnya Teori Kondisioning Operan B.F Skinner

    Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori S-R.
Waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat pada pelaksanaan penelitian.
Istilah-istilah seperti cues (pengisyratan), purposive behavior (tingkah laku purposive) dan drive stimuli (stimulus dorongan) dikemukakan untuk menunjukkan daya suatu stimulus untuk memunculkan atau memicu suatu respon tertentu.
   Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur.
   Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan begitu, banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.
   Asas-asas kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan oleh John Watson. Artinya, agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu, maka studi tingkah laku harus dijadikan fokus penelitian psikologi.
   Tidak seperti halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya, Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan.

C. Kajian Umum Teori B.F Skinner

   Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan) yaitu sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai  berikut:
 1. Belajar itu adalah tingkah laku.
 2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam         kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
 3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau
     sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di                observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
  4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang                 dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
   Skinner membuat eksperimen sebagai berikut: dalam laboratorium, Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “Skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan, yaitu tombol, alat memberi makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat dialiri listrik.
   Karena dorongan lapar (hunger drive), tikus berusaha keluar untuk mencari makanan.
Selama tikus bergerak kesana-kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shaping.
   Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati, Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement).
   Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulu-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif.                 Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang.
Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain:
1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi          penguat.
2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
4. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
5. Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman.Namun ini lingkungan perlu diubah, untuk  menghindari adanya hukuman.
6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.

D. Implementasi Teori Belajar B.F. Skinner dalam Pembelajaran
     Penggunaan teori Skinner ini diimplementasikan dalam proses pembelajaran dikelas sebagai berikut :
1) Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
2) Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar          diperkuat.
3) Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
4) Materi pelajaran digunakan sistem modul.
5) Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
6) Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
7) Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
8) Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran
     agar tidak menghukum.
9) Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
10) Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
11) Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
12) Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
13) Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
14) Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
15) Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya    
      masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya.Sehingga naik atau tamat sekolah
      dalam waktu yang berbeda-beda tugas guru berat, administrasi kompleks.

E. Teori Belajar B.F Skinner

  Teori Skinner sering juga disebut dengan operant conditioning. Dinamakan teori Skinner karena penelitian pada teori ini dilakukan oleh seorang ilmuan bernama lengkap Burhuss Frederic Skinner. Dia lahir pada tanggal 20 Maret 1904 di sebuah kota kecil bernama Susquehanna, Pennsylvania.
   Ayahnya adalah seorang pengacara dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang baik. Ia merefleksikan tahun-tahun awal kehidupannya sebagai suatu masa dalam lingkungan yang stabil, dimana belajar sangat dihargai dan disiplin sangat kuat. Sebelum membahas lebih mendalam mengenai Teori Skinner ini, terlebih dahulu akan dibahas mengenai Teori Conditioning.
   Mula-mula teori Conditioning ini dipelopori oleh Ivan Pavlov (1927), kemudian dikembangkan oleh Watson (1970). Percobaan yang dilakukan Pavlov terhadap anjingnya menggambarkan bahwa belajar dilakukan dengan mengasosiasikan suatu ganjaran (reward) dengan rangsangan (stimulus) yang mendahului ganjaran itu.
   Perangsang bersyarat dan perangsang tidak bersyarat merupakan pengkondisian (conditioning) di dalam proses pembentukan perilaku. Watson mengembangkan teori ini melalui percobaan tentang gejala takut pada anak, dengan menggunakan tikus putih. Menurut teori ini, belajar adalah suatu proses yang disebabkan oleh adanya syarat tertentu yaitu berupa rangsangan.
Pengkodisian (conditioning) dalam bentuk rangsangan dan pembiasaan mereaksi terhadap perangsang tertentu menimbulkan proses belajar.
   Seperti Pavlov dan Watson, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respons, tetapi berbeda dengan kedua ilmuan yaitu Pavlov dan Watson. Skinner kurang setuju dengan teori dari Pavlov.
   Skinner menyatakan bahwa teori Pavlov hanya berlaku bagi interaksi antara stimulus dan respons yang sederhana saja.
   Padahal manusia dalam menjalankan fungsinya memerlukan prilaku yang kompleks yang mempersyaratkan terjadinya interaksi stimulus dan respons yang kompleks pula. Dengan demikian, interaksi stimulus-respons dalam diri seorang individu tidaklah sesederhana itu.
   Menurut Skinner, kunci untuk memahami perilaku individu terletak pada pemahaman terhadap hubungan antara stimulus satu dengan stimulus lainnya, respons yang dimunculkan, dan juga berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut. Skinner setuju dengan pendapat Watson yang mengatakan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku.

Ada enam asumsi dasar dari teori Operant Conditioning ini, yaitu :
1) Hasil belajar merupakan perilaku yang dapat diamati
2) Perubahan perilaku sebagai hasil belajar secara fungsional berhubungan dengan perubahan
     situasi dalam lingkungan atau suatu kondisi
3) Hubungan antara perilaku dan lingkungan dapat ditentukan hanya jika elemen-elemen
     perilaku dan kondisi percobaan diukur secara fisik dan diamati perubahannya dalam situasi
     yang terkontrol ketat
4) Data yang dihasilkan oleh percobaan-percobaan trhadap perilaku merupakan satu-satunya
     data yang dapat dipergunakan untuk mengkaji alasan munculnya suatu perilaku.
5) Sumber data yang paling tepat adalah perilaku dari masing-masing individu.
6) Dinamika interaksi antara individu dengan lingkungannya bersifat relatif sama untuk semua
     jenis makhluk hidup.
    Skinner mengembangkan teori operant conditioning ini melalui percobaan terhadap burung
dan kotak yang dilengkapi pengungkit. Apabila pengungkit itu kena tekanan maka ia dapat
mengeluarkan makanan. Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu :
➽ Respondent response (reflexive response), yaitu respons yang ditimbulkan oleh prangsang perangsang tertentu. Perangsang-perangsang yang demikian itu, yang disebut eliciting stimuli, menimbulkan respons-respons yang secara relatif tetap, misalnya makanan yang menimbulkan keluarnya air liur. Pada umumnya perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respons yang ditimbulkannya.
➽ Operant Response (instrumental response), yaitu respons yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian itu disebut reinforcing stimuli atau reinforceri, karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme. Jadi, perangsang yang demikian itu mengikuti (dan karenanya memperkuat) sesuatu tingkah laku tertentu yang telah dilakukan. Jika seorang anak belajar (telah melakukan perbuatan), lalu mendapat hadiah, maka dia akan menjadi lebih giat belajar (responsnya menjadi lebih intensif/kuat).
   Dalam kenyataannya, respons jenis pertama itu (respondent response atau respondent
behavior) sangat terbatas adanya pada manusia dan karena adanya hubungan yang pasti antara
stimulus dan respons kemungkinan untuk memodifikasikannya adalah kecil.
   Sebaliknya, operant response atau instrumental behavior merupakan bagian terbesar
daripada tingkah laku manusia, dan kemungkinannya untuk memodifikasi \boleh dikatakan tak
terbatas.
   Fokus teori Skinner adalah pada respons atau jenis tingkah laku yang kedua ini; soalnya ialah
bagaimana menimbulkan, mengembangkan dan memodifikasikan tingkah laku tersebut. Jika
disederhanakan prosedur pembentukan tingkah laku dalam operant conditioning itu adalah
sebagai berikut :
1) Dilakukan identifikasi mengenai hal apa yang merupakan reinforcer (hadiah) bagi tingkah laku       yang akan dibentuk itu.
2) Dilakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk
tingkah laku yang dimaksud. Komponen-komponen itu lalu disusun dalam urutan yang
tepat untuk menuju kepada terbentuknya tingkah laku yang dimaksud.
3) Dengan mempergunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-tujuan
sementara, mengidentifikasi reinforcer (hadiah) untuk masing -masing komponen itu.
4)  Melakukan pembentukan tingkah laku dengan menggunakan urutan komponen-
komponen yang telah tersusun itu. Kalau komponen pertama telah dilakukan maka
hadiahnya diberikan; hal ini akan mengakibatkan komponen itu makin cenderung untuk
sering dilakukan. Kalau ini sudah terbentuk, dilakukannya komponen kedua yang diberi
hadiah (komponen pertama tidak lagi memerlukan hadiah); demikian berulang-ulang,
sampai komponen kedua terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga,
keempat, dan selanjutnya, sampai seluruh tingkah laku yang diharapkan terbentuk.
   Dalam kenyataan, prosedur penyederhanaan operant conditioning banyak variasi dan
lebih kompleks.Komponen proses belajar menurut Skinner terdiri dari stimulus yang
diskriminatif (discriminative stimulus) dan penguatan (positif, negatif, dan hukuman) untuk
menghasilkan respons (perubahan tingkah laku).
   Stimulus yang diskriminatif menurut Skinner merupakan stimulus yang selalu hadir
untuk pemunculan suatu respons. Kunci berwarna merah merupakan stimulus yang diskriminatif
dalam percobaan Skinner terhadap burung merpati. Jika merpati mematuk kunci merah maka
merpati akan memperoleh makanan. Setelah beberapa kali pengulangan, jika kunci diganti warna
maka merpati tidak akan mematuk.
   Makanan dalam hal ini berfungsi sebagai faktor penguatan. Kemungkinan pemunculan
respons dapat dimaksimalkan dengan kehadiran stimulus yang diskriminatif.
   Jika ada stimulus lain yang memiliki persamaaan dengan stimulus diskriminatif maka
respons dapat dimunculkan kembali
   Tujuan dari eksperimen ini sendiri adalah bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah
penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan
semakin kuat bila diberi penguatan. Selain itu menghasilkan hukum-hukum dari teori belajar
yaitu:
1) Law of operant conditioning, yaitu jika timbulnya perilaku yang diiringi dengan stimulus
penguat, maka perilaku itu menguat.
2) Law of operant of extinction, yaitu jika timbulnya operant telah diperkuat melalui proses
conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat , maka perilaku itu akan menurun.
(John W. satrock, 2007).
   Jika dalam teori Thorndike dikenal konsep reward, maka dalam teori Skinner menganggap reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Reinforcement (penguatan)
adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Dan
Punishment (hukuman) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu
perilaku. Penguatan boleh jadi kompleks. Penguatan berarti memperkuat. Secara umum
reinforcement (penguatan) dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Dari Segi Jenisnya, reinforcement dibagi menjadi dua kategori, yaitu:
·   Reinforcemen primer yaitu reinforcemen yang berupa kebutuhan dasar manusia seperti;
makanan, air, keamanan, dan kehangatan.
Reinforcemen sekunder yaitu reinforcemen yang diasosiasikan dengan reinforcemen
primer, seperti; uang mungkin tidak mempunyai nilai bagi anak kecil sampai ia belajar bahwa
uang itu dapat digunakan untuk membeli kue kesukaannya.
b. Dari Segi Bentuknya, reinforcement dibagi menjadi dua, yaitu:
·   Penguatan Positif adalah penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons
meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk
penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll) dan berupa perilaku
(senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol,
atau penghargaan).
·    Penguatan Negatif adalah penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons
meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan).
Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan
tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka
kecewa, dll).
c. Waktu pemberian reinforcemen, ada empat macam pemberian jadwal reinforcemen, yaitu:
·   Fixed Rtio (FR) adalah salah satu skedul pemberian reinforcemen ketika reinforcemen
diberikan setelah sejumlah tingkah laku. Misalnya, seorang guru mengatakan “kalau kalian dapat
menyelesaikan sepuluh soal matematika dengan cepat dan benar, maka kalian boleh pulang
dahulu”.Variabel-Ratio (VR) adalah sejumlah prilaku yang dibutuhkan untuk berbgai macam
reinforcemen, dari reinforcemen satu ke reinforcemen yang lain.Fixed Interval (FI), yang
diberikan ketika seorang menunjukkan prilaku yang diinginkan pada waktu tertentu.Variabel
Interval (VI) yaitu reinforcemen yang diberikan tergantung pada waktu dan sebuah respons.
Tetapi antara waktu dan reinforcemen bermacam-macam.
   Satu  cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif
adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dan
rangsangannya makin memperkuat atau mendorong suatu tindak balas.
   Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan serta
menghindari suatu tindak balas tertentu yang tidak memuaskan. Adalah mudah mengacaukan
penguatan negatif dengan hukuman.
   Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas
terjadinya suatu prilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku.
   Skiner menekankan bahwa hukuman dapat menghasilkan tiga dampak yang tidak
diharapkan, yaitu hukuman hanya bersifat sementara dalam menghilangkan respons yang tak
diinginkan, hukuman dapat mengakibatkan timbulnya perasaanyang tidak mengenakkan, sepert
malu, rasa bersalah, dll, dan hukuman dapat meningkatkan pemunculan perilaku yang dianggap
mengurangi hadirnya stimulus yang tidak menyenangkan.
   Secara umum, hukuman tidak menghasilkan perilaku yang positif. Oleh karena itu,
Skinner lebih menganjurkan penggunaan penguatan daripada hukuman jika ingin memperoleh
respons yang benar.
Berikut ini disajikan contoh dari konsep penguatan positif, negatif, dan hukuman. Contoh dari
konsep penguatan positif, negatif, dan hukuman( John W. Satrock, 2007).

Penguatan positif
-Perilaku
-Murid mengajukan pertanyaan yang bagus
-Konsekuensi
-Guru menguji murid
-Prilaku kedepan
-Murid mengajukan lebih banyak pertanyaan

Penguatan negatif
-Perilaku
-Murid menyerahkan PR tepat waktu
-Konsekuensi
-Guru berhenti menegur murid
-Prilaku kedepan
-Murid makin sering menyerahkan PR tepat waktu
-Hukuman
   Penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. Dalam kedua bentuk itu, konsekuensi
meningkatkan prilaku. Dalam hukuman, perilakunya berkurang.
   Teori Skinner tidak hanya mencakup penjelasan terhadap proses belajar sederhana,
namun juga proses belajar yang kompleks, yang dikenal dengan nama shaping (pembentukan).
   Proses shaping yang dilakukan secara bertahap akan menghasilkan penguasaan terhadap
perilaku yang kompleks melalui perancangan (manipulasi) stimulus yang diskriminatif dan
penguatan.
   Menurut Skinner, proses shaping dapat menghasilkan perilaku yang kompleks yang tidak
memiliki kemungkinan untuk diperoleh secara alamiah atau dengan sendirinya. Shaping yang
berkelanjutan yang dilakukan untuk memperoleh perilaku kompleks, disebut dengan program
oleh Skinner. Dari serangkaian percobaan yang dilakukan oleh Skinner dapat disimpulkan bahwa
a) Setiap langkah dalam proses belajar perlu dibuat pendek-pendek, berdasarkan tingkah
laku yang pernah dipelajari sebelumnya.
b) Untuk setiap langkah yang pendek tersebut disediakan penguatan yang dikontrol
dengan hati-hati.
c) Penguatan harus diberikan sesegera mungkin setelah respons yang benar dimunculkan.
d) Stimulus diskriminatif perlu dirancang sedemikian rupa agar dapat diperoleh perampatan
     stimulus dan peningkatan keberhasilan belajar.
   Dasar teori Skinner dan perkembangan teorinya selanjutnya menjadikan Skinner seorang
penganut aliran perilaku yang mempunyai nama dan pengaruh yang sangat besar terhadap
perkembangan teori belajar dalam aliran perilaku.
   Teori Operant Conditioning dari Skinner percaya bahwa setiap individu harus
diidentifikasi karakteristik maupun perilaku awalnya untuk suatu proses shaping. Skinner
menyatakan, bahwa perilaku dapat dibentuk (dan juga dihilangkan) sehingga (hampir) semua
orang yang memperoleh latihan yang layak akan dapat memiliki perilaku tertentu yang
diinginkan.
   Juga pengkondisian suatu respons sangat tergantung kepada penguatan yang dilakukan
berulang-ulang secara berkesinambungan.
   Skinner juga mengemukakan bahwa manusia dapat diajar untuk berpikir atau menjadi
kreatif melalui metode pemecahan masalah yang melibatkan proses identifikasi masalah secara
tepat (labeling), dan proses mengaktifkan strategi (rule and or sequence) untuk memanipulasi
variabel dalam masalah tersebut sehingga diperoleh pemecahan masalahnya.

F. Kelebihan dan kekurangan atau kelemahan dari Teori B.F Skinner

1. Kelebihan
   Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini
ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya
pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya
kesalahan.
2. Kekurangan atau kelemahan
   Tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik
menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya
kegiatan belajar-mengajar.
    Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.
Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah
satu cara untuk mendisiplinkan siswa.
   Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari
perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari
kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti : kata-kata kasar, ejekan, cubitan,
jeweran justru berakibat buruk pada siswa.
   Selain itu kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi didalam situasi pendidikan
seperti penggunaan rangking Juara di kelas yang mengharuskan anak menguasai semua mata
pelajaran. Sebaliknya setiap anak diberi penguatan sesuai dengan kemampuan yang diperlihatkan
sehingga dalam satu kelas terdapat banyak penghargaan sesuai dengan prestasi yang ditunjukkan
para siswa : misalnya penghargaan di bidang bahasa, matematika, fisika, menyanyi, menari atau
olahraga.

          BAB III

           PENUTUP

A. Kesimpulan

·   B.F. Skinner lahir pada tanggal 20 Maret 1904 di sebuah kota kecil bernama Susquehanna,
Pennsylvania. Pada tanggal 18 Agustus 1980, Skinner meninggal dunia karena penyakit
Leukemia.
·   Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya
teori S-R. Dari serangkaian percobaan yang dilakukan oleh Skinner dapat disimpulkan bahwa :
a. Setiap langkah dalam proses belajar perlu dibuat pendek-pendek, berdasarkan tingkah
laku yang pernah dipelajari sebelumnya.
b. Untuk setiap langkah yang pendek tersebut disediakan penguatan yang dikontrol dengan
hati-hati.
c. Penguatan harus diberikan sesegera mungkin setelah respons yang benar dimunculkan.
d. Stimulus diskriminatif perlu dirancang sedemikian rupa agar dapat diperoleh perampatan  
    stimulus dan peningkatan keberhasilan belajar.
·   Implementasi teori belajar B.F. Skinner dalam pembelajaran antara lain bahan yang
dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis, hasil berlajar harus segera
diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat, proses belajar harus
mengikuti irama dari yang belajar, materi pelajaran digunakan sistem modul, tes lebih
ditekankan untuk kepentingan diagnostic, dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan
aktivitas sendiri, dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman, dalam pendidikan
mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum,
tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah, hadiah diberikan kadang-kadang (jika
perlu), tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan,
dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping, mementingkan kebutuhan yang akan
menimbulkan tingkah laku operan, dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine dan
melaksanakan mastery learning
·    Kelebihan Teori Skinner
  Kelebihan dari Teori Skinner ini adalah pada teori ini, seorang pendidik diarahkan untuk
menghargai setiap anak didiknya
·    Kekurangan / Kelemahan Teori Skinner
  Adapun beberapa kekurangan/kelemahan dari teori Skinner ini berdasarkan analisa
teknologi (Margaret E. B. G. 1994) adalah bahwa teknologi untuk situasi yang kompleks tidak
bisa lengkap, analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis, keseringan respon
sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian dan tanpa adanya
sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti
tentang sebuah kedisiplinan.

B.   Saran

   Makalah ini disusun dengan tujuan untuk menambah wawasan dan membantu
memudahkan kita dalam mengikuti mata kuliah Teori Belajar Matematika. Kami sebagai
penyusun memberi saran dan harapan yang besar kepada pembaca yang budiman untuk
mempergunakan makalah ini sebaik mungkin. Selain itu kami juga menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan, maka dari itu kami bersedia menerima tiap
kritikan dan saran dari pembaca yang bersifat membangun.
   Semoga dengan diterbitkannya makalah ini wawasan kita mengenai mata kuliah Teori
Belajar Matematika bisa bertambah luas dan dapat kita implementasikan dalam kehidupan kita
sehari-hari. Kami mengucapkan terimakasih dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya
kepada pembaca dan semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan makalah ini.

Comments

Popular posts from this blog

OTAK dan Pengaruhnya terhadap perilaku manusia

Struktur Otak & Fungsinya