Lanjutan perspektif psikologi(perspektif belajar dan pendekatan humanistik) | belajar psikologi

FeedBurner

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Lanjutan perspektif psikologi(perspektif belajar dan pendekatan humanistik)

PERSPEKTIF BELAJAR
Classical conditioning (Ivan Pietrovich Pavlov) 
   Satu stimulus memicu munculnya stimulus lain.
Selama proses kondisioning, individu peroleh informasi hubungan antara berbagai stimulus, bukan sekedar asumsi sederhana diantaranya.
  
 Stimulus: peristiwa-peristiwa fisik yang berimbas pada perilaku.
PERILAKU
Fokusnya perilaku yang tampak/dapat diobservasi, konsep dianggap berguna hanya jika dapat dikaitkan dengan perilaku yang tampak.
Sketsa percobaan Pavlov
  Modifikasi dari Metode Pavlov 
  Pada alat dalam gambar di sebelah bawah, didasarkan pada teknik Pavlov, air liur dari pipi anjing mengalir ke sebuah tabung, diukur dari gerakan jarum pada tabung berputar.
Skema proses

Kondisioning Klasik dalam Kehidupan Nyata
  Kondisioning klasik membantu jelaskan respons-respons emosional positif terhadap benda-benda atau kejadian-kejadian tertentu, rasa takut & fobia, pengembangan rasa suka & tidak suka, reaksi terhadap pengobatan medis/ placebo.

  Dalam film seri TV Monk, tokoh utama memiliki fobia terhadap kuman.
Bagaimana caranya dia bisa seperti itu?












 


  

   JB Watson menunjukkan bagaimana rasa takut dapat dipelajari & kemudian dapat dihilangkan dengan proses kontrakondisioning. 
“Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya”.
 “Psychology as the Behaviourist view it” (1913)

   Manusia (dan juga spesies lainnya) secara biologis siap  memperoleh beberapa respons adaptif dengan mudah, seperti rasa tidak enak yang terkondisi maupun ketakutan-ketakutan tertentu.
Anda merasa perut Anda penuh setelah makan, tapi Anda tiba-tiba merasa masih ada ruang untuk hidangan penutup. 
Mengapa terjadi hal ini?

Perkembangan kondisioning klasik: menggabungkan temuan tentang motivasi, pembelajaran, dan biologi.
   Penelitian menjelajahi perubahan aktivitas otak di amigdala & korteks orbitofrontal sebagai respons terhadap stimulus terkondisi dari nafsu makan atau kenikmatan, bagaimana respons tersebut mempengaruhi motivasi seseorang untuk makan (contoh: “fenomena restoran”).
   Penelitian lain: penggunaan obat untuk tingkatkan aktivitas reseptor tertentu di amigdala mempercepat terjadinya extinction fobia (takut akan ketinggian) selama perawatan dengan menggunakan virtual reality. 
KONDISIONING OPERAN
Menguat/melemahnya perilaku tergantung pada konsekuensi yang mengikutinya.
Respons-respons yang terbentuk bukan sesuatu yang sifatnya refleks & lebih rumit daripada yang terjadi di kondisioning klasik.
Diasosiasikan dengan B.F. Skinner, yang menyebutnya sebagai “behaviorisme radikal.” 

  

  
Reinforcement memperkuat/meningkatkan kemungkinan terjadinya respons ; hukuman memperlemah/menurunkan kemungkinan terjadinya respons.

Konsekuensi langsung berdampak & berpengaruh lebih besar pada respons daripada konsekuensi yang ditunda.

  Reinforcement primer: memiliki karakteristik alami memperkuat perilaku (karena memenuhi kebutuhan biologis)
   Reinforcement sekunder: memiliki kemampuan meningkatkan kemungkinan terjadinya respons melalui asosiasi dengan reinforcement lainnya.
Perbedaan serupa juga berlaku untuk hukuman.
 Reinforcement positif: sesuatu yang menyenangkan mengikuti sebuah respons.
Apakah contohnya?
 Reinforcement negatif: sesuatu yang tidak menyenangkan dihilangkan.
Sebutkan contohnya!
  
 
Premack principle: tekanan pada aktivitas yang lebih dapat memperkuat perilaku yang kurang menimbulkan minat 
 Satu metode untuk meningkatkan perilaku diharapkan.  
  Hukuman positif: sesuatu yang tidak menyenangkan mengikuti respons. Sebutkan contohnya!
  Hukuman negatif: sesuatu yang menyenangkan dihilangkan.
Istilah lain “omission training”. 
Misalnya?

  Pola respon pada kondisioning operan sebagian tergantung jadwal pemberian reinforcement.
  Continuous reinforcement membuat respons lebih cepat dipelajari. 
  Partial reinforcement membuat sebuah respons tahan terhadap extinction (menjelaskan tetap munculnya perilaku takhayul). 
  Pola partial reinforcement yang berbeda menghasilkan pola respons yang berbeda. 
  Kesalahan yang umum dilakukan: memberikan penghargaan secara tidak tentu pada respons yang ingin dihilangkan.
  Shaping: melatih perilaku yang kemungkinannya kecil terjadi secara spontan.
  Reinforcement diberikan untuk setiap successive approximation 
(menuju respons yang diharapkan hingga akhirnya respons yang diharapkan dapat dicapai).
  Teknik shaping memiliki banyak penerapan yang berguna. Monyet-monyet dilatih membantu para pemiliknya yang lumpuh untuk membukakan pintu, membantu memberi makan, &membalikkan halaman buku. ”Kuda penuntun” berukuran mini membantu orang buta menyusuri jalanan kota.

 
Kondisioning Operant dalam Kehidupan Nyata 
   Modifikasi perilaku: terapan prinsip-prinsip kondisioning operan, sukses pada berbagai situasi, meski reinforcement & hukuman miliki kekurangan.



  Gambar kiri, seorang reinforcement polisi di Palo Alto, California, memberikan reinforcement pada yang taat aturan lalu lintas dengan sertifikat hadiah pada pejalan kaki. Gambar kanan,seorang ibu memperkuat perilaku belajar anak autisnya dengan berikan tepuk tangan.


   Hukuman, ketika digunakan dengan tepat, dapat menekan munculnya perilaku tidak diharapkan, termasuk perilaku kriminal.
  Tetapi hukuman sering disalahgunakan, sehingga dengan tidak sengaja memberikan dampak tidak diharapkan.
  Extinctionperilaku tidak diharapkan dikombinasikan reinforcementpada perilaku diharapkan lebih dipilih daripada hukuman semata.
   Penghargaan dengan tidak membedakan (usaha meningkatkan harga diri anak), tidak akan perkuat perilaku diharapkan ➛ tergantung penuh pada reinforcement ekstrinsik dapat lemahkan kekuatan reinforcement intrinsik. 
    Tetapi uang & pujian tidak menganggu kepuasan intrinsik (diberi penghargaan karena berhasil mencapai kemajuan, bukan sekadar telah berpartisipasi dalam sebuah aktivitas, atau orang memang telah sangat tertarik dengan aktivitas tersebut).

BELAJAR & PIKIRAN (KOGNITIF)
   Tahun ‘30-an, Edward Tolman mempelajari pembelajaran laten, tidak ada reinforcement nyata dalam proses belajar & respons tidak dimunculkan sampai ketika reinforcement telah tersedia (bukan respons spesifik, tetapi pengetahuan mengenai respons-respons beserta konsekuensinya).
  Tahun ‘60-an & ‘70-an terjadi peningkatan pengaruh teori sosial-kognitif dalam pembelajaran, menekankan pada pembelajaran observasional & peranan keyakinan, interpretasi kejadian, & kognisi lainnya. 
Pembelajaran Laten
   Eksperimen klasik: tikus-tikus yang selalu temukan makanan di akhir labirin, semakin sedikit kesalahan capai makanan (kurva berwarna hijau), Tikus-tikus yang tidak pernah terima makanan tunjukkan sedikit peningkatan  (kurva berwarna biru). Tikus kelompok ketiga tidak peroleh makanan selama 10 hari, lalu  diberi makanan mulai hari ke11 (kurva berwarna merah) tunjukkan peningkatan cepat dari saat mulai diberikan makanan  & dengan cepat samai kinerja kelompok tikus penerima makanan dari awal penelitian. Pembelajaran: perubahan kognitif yang dapat ter jadi meskipun tidak ada reinforcement & hasil belajar ini tidak terlihat hingga muncul reinforcement yang jelas (Tolman & Honzik, 1930).
 
Ahli sosial-kognitif menyatakan:

  pembelajaran berdasarkan observasi  (seperti  pembelajaran laten), apa yang diperoleh merupakan pengetahuan & bukan respons spesifik.
  Karena pembelajaran laten, ketika gadis kecil ini makin dewasa & siap membuat sendiri hidangannya, dia sudah memiliki  pengetahuan bagaimana cara membuatnya.
   Orang dewasa /anak-anak, dengan cara sama, belajar melalui observasi. Albert Bandura dkk: anak-anak saksikan film yang tunjukkan orang dewasa menendang, memukul, & memalu sebuahboneka karet besar (gambar atas). Anak-anak tirukan perilaku orang dewasa tersebut; beberapa di antaranya tirukan dengan hampir sempurna.
  Orang berbeda persepsi & keyakinan, peroleh pelajaran yang berbeda atas kejadian/situasi yang sama. Contoh, beberapa orang jadi lebih agresif setelah dihadapkan pada gambar-gambar kekerasan di media, tetapi kebanyakan orang tidak.
  Faktor-faktor: atensi, retensi, proses produksi, motivasi.
  Lebih jauh, hubungan sebab – akibat bekerja dalam arah sebaliknya: Orang agresif cenderung pilih tayangan & gambar kekerasan & lebih cenderung terpengaruh daripada orang lain.
Albert Ellis:
rumus A-B-C  activating event (A) ➛ private belief (B) ➛ emotional consequency (C)
  Penyebab psikopatologi: pandangan & interpretasi maladaptif; ada keyakinan irasional & pikiran tidak logis.
Aaron Beck: distorsi negatif persepsi tentang realita
  Tidak semua pendekatan psikologi dapat digolongkan secara tepat ke dalam salah satu di antara kelima perspektif utama tersebut.
  2 gerakan penting, psikologi humanistik & psikologi feminis, telah pengaruhi pertanyaan peneliti, metode yang digunakan,  kesadaran mengenai bias dalam psikologi.
  Penelitian khusus kontemporer yang disebut psikologi positif ikuti tradisi humanistis, fokus pada aspek positif perilaku manusia.
Abraham Maslow (hirarki kebutuhan)

 PENDEKATAN HUMANISTIK
 HUMANISTIK
   Keberadaan manusia: sifatnya bebas, tidak dikendalikan faktor internal/eksternal; individu punya kesempatan/kecenderungan capai yang terbaik; pandang dunia dari sisi positif (optimisme); pembentukan konsep diri favorabel sangat penting sebagai dasar perkembangan.
Tokoh: Abraham Maslow; Carl Rogers; Frederick Pearls; Victor  Frankl

 Carl Rogers (person-centered therapy) Terapis: -genuineness (tulus) -empathy (empati) -uncounditional positive regard (penghargaan tak bersyarat)


Frederic Pearls (terapi gestalts)
Victor E. Frankl (konsep kebermaknaan hidup)

0 Response to "Lanjutan perspektif psikologi(perspektif belajar dan pendekatan humanistik)"

Post a Comment