Filsafat Yunani Kuno


1. Para Sofis


    Abad ke-5 SM kata Sofis berarti orang-orang yang bijaksana, “orang yang memiliki keahlian tertentu”. Di lain pihak, istilah sofis bergeser artinya menjadi “guru bayaran keliling”.
Di kemudian hari istilah sofis menjadi negatif: “seorang penipu daya cerdik dengan argurnentasi yang menyesatkan”. Maka Sofisme bukanlah mazhab yang terorganisir, tetapi lebih merupakan gerakan intelektual yang sedang “ngetrend” saat itu.
Hal itu disebabkan karena:
    1) Keadaan polis Athena yang kian maju dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya.
    2) Untuk mengimbangi kemajuan-kemanjuan tadi para kaum muda membutuhkan pendidikan yang
        lebih tinggi.
    3) Peraturan-peraturan etis menjadi dipersoalkan: apakah bersifat kodrati atau adat kebiasaan yang
        dibuat dan dijalankan secara ajeg (nomos).
Karena ketiga alasan itulah gerakan sofisme merebak dan populer kala itu.

2. Masa Sokrates ( 469 – 399 SM ) dan Kaum Sofis

 a. Sokrates sebagai tonggak periode filsafat
Dia tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya dikenal melalui para muridnya, terutama Plato.
Dia dijadikan tonggak peniodisasi filsafat karena dia “memindahkan filsafat dan langit ke bumi”; dan persoalan alam ke masalah manusia.

 b. Kaum Sofis
Sofis dari kata “sophia” (bijaksana). Kaum sophis semula bermakna positif sebagai kaum terpelajar/cendekiawan, namun kemudian bermakna negatif.

 c. Persamaan antara Sokrates dengan Kaum Sophis
    1) Mereka memajukan pendidikan dan pengajaran masyarakat khususnya kaum muda.
    2) Mereka mengarahkan perhatiannya kepada masalah diri manusia dan etika.
    3) Keutamaan hidup dicapai melalui belajar, tak hanya latihan.
    4) Mereka bertitik tolak dari pengalaman dan kehidupan konknit.

 d. Perbedaan antar Sokrates dengan Kaum Sophis
    1) Kaum Sophis mengaku sebagai cendekiawan dan bijaksana; sedangkan Sokrates tidak.
        Sokrates hanya pecinta kebijaksanaan (philosophos).
    2) Kaum Sophis mau mengajar dengan bayaran; Sokrates dengan tulus ikhlas.
    3) Bagi Sokrates ada kebenaran umum yang objektif. Kaum Sophis menganut sikap relativisme
        dan menolak kebenaran umum itu.
    4) Bagi Sokrates kebenaran setalu terkait dengan moral/etik, tak hanya teoritik sebagai bahan
        perdebatan seperti Kaum Sophis.

  e. Metode Sokrates
    1) Seni kebidanan (maieutike tekhne); seperti pekerjaan ibunya.
    2) Dialektika/dialog (percakapan).
    3) Perintisan metode induksi dan deduksi.

  f. Ajaran etika Sokrates
    1) Lebih mementingkan jiwa manusia daripada raga.
    2) Untuk mencapal kebahagiaan (eudaimonia rohani). Manifestasinya ialah kebaksanaan dan
        keutamaan (arete).
    3) Keutamaan dicapai tidak melalui moral, tetapi melalui pengetahuan.

   g. Ajaran Sokrates tentang negara
      Dia menolak demokrasi dengan alasan bahwa pengaturan negara harus dipegang oleh orang yang benar-benar bijaksana dan berpengetahuan.

Pengikut Sokrates (The Minor Socraties)

 a. Mazhab Megara; tokohnya Euklides
   1) Keutamaan diperoleh melalui pengetahuan yang diajarkan dalam pendidikan.
   2) Realitas hanya satu (monistik), yaitu yang baik.

 b. Mazhab Elis & Eretria; tokohnya Phaidon & Menedemos
   1) Keutamaan dicapai dalam filsafat, khususnya etika.
   2) Etika merupakan obat untuk mencapai kebebasan sempurna.
 c. Mazhab Sinik; tokohnya Antisthenes
   1) Tidak ada pengertian umum; yang ada itu individual.
   2) Keutamaan berupa kepuasan pribadi (autarkea); bebas dan pengaruh duniawi dengan
      kesederhanaan; menolak kesenangan jasmani.
   3) Keutamaan menuju kepada kebahagiaan denga jujur dan berbudi dengan azas kebaikan mutlak.

 d. Mazhab Kirena; tokohnya Aristippos
   1) Menekankan pada kesenangan jasmani (hedonistik).
   2) Kesenangan tergantung pada individu (nominalistik).
   3) Kesenangan hanya didapatkan sekarang dan langsung.

3. Plato (427-347 SM)

  a. Tahap pemikirannya (3 periode)
   1) Sepenuhnya ikut Sokrates.
   2) Mengikuti jalan pikirannya sendiri (dalam masalah dunia idea dan masalah negara).
   3) Terarah ke hal praktis/alami.

  b. Ajaran tentang idea-idea
   1) Idea berbeda dengan istilah modern ide/idea yang secara umum dimengerti sebagai gagasan yang datang dan subyek. Idea bukan ciptaan subyek, Ia terlepas dan subyek yang berpikir.
Ia tidak tergantung pada pemikiran, justru sebaliknya: pikiran itulah yang tergantung pada idea-idea. Berfikir berarti mengarahkan aktivitas pikiran kepada idea-idea. Cara memahami idea misalnya: dalam ilmu pasti, bisa ditemukan bermacam-macam segitiga secara “fisik inderawi”, akan tetapi idea segitiga tetap.
   2) Dua dunia
     - Dunia benda-benda jasmaniah beragam, berubah
     - Dunia idea tetap

Hubungan dua dunia:
 → Idea tidak terpengaruh dengan dunia jasmaniah, idea-idea justru mendasari dan menyebabkan 
    benda-benda jasmaniah.
 → Idea-idea “hadir” dalam benda-benda jasmaniah konkrit, tapi idea-idea itu tidak berkurang
    apa-apanya sedikitpun.
 → Benda-benda konkrit berpartisipasi pada satu atau Iebih idea. Atas partisipasinya benda-benda
    tersebut, idea juga tidak terkurang apa-apanya.
 → ide adalah “model”, Benda-benda konkrit adalah gambaran “tak sempurna yang menyerupai
    “model idea” tadi.
    Jadi dunia idea adalah dunia tersendiri, yang mandiri, sebagai “keberadaannya” yang “otonomi”. Bahkan, dunia ide itulah yang sejati. Dunia jasmaniah/fisik inderawi hanyalah suatu bayang-bayang dunia idea. Dalam dunia idea ada hierarkhi idea dan idea yang tertinggi” idea yang baik”.
Tetapi Plato mengusulkan 5 idea utama yaitu, ada, identik, lain, diam, gerak.

   c. Ajaran tentang Pengenalan
    Ada 2 jenis pengenalan yaitu: rasio dan inderawi.
     - Rasio mengenal dunia idea dengan obyek jelas, tetap, tidak berubah, mutlak yang disebut dengan
       istilah episteme (knowledge).
     - Inderawi mengenal dunia benda-benda jasmaniah dengan obyek relatif, berubah- ubah yang
       disebut dengan istiah doxa (opinion)
Dengan demikian Plato mengatasi pertentangan Heraklitos dan Parmenides dengan pengenalan dan “yang ada”.
    Dalam menjawab tentang permasalahan tentang dunia jasmaniah yang dianggap nyata, Plato menggambarkan bahwa: Manusia sebagai tahanan yang dibelenggu dalam gua.
Menghadap dinding gua. Di gua ada nyala api dan ada budak-budak lalu lalang dekat api ---- orang-orang tahanan tadi melihat bermacam-macam bayangan. Bayangan itulah yang dianggap realitas.
Ketika tahanan dibawa keluar dan gua, mereka merasa telah mengetahui realitas dan ketika mata mereka menatap matahari matanya silau, padahal itulah realitas yang sejati.
Matahari adalah dunia idea, sedangkan bayang-bayang para budak adalah benda-benda jasmaniah yang dianggap realitas yang sesungguhnya. ltulah kekeliruan manusia pada umumnya.

d. Ajaran tentang Manusia (Jiwa dan raga)
    Plato membagi manusia atas jiwa dan raga (badan). Keduanya berdiri “sendiri- sendiri”.
Keduanya dianggap sebagai dua substansi yang berbeda. Bahkan tubuh atau badan dianggap sebagai penjara jiwa. Jiwa bersifat baka/kekal, immortal dan sebelum jiwa ke dunia ini, ia sudah punya “pra eksistensi”.  Pada masa itulah sebenarnya jiwa sudah mengenal idea-idea. Maka pengenalan adalah pengingatan kembali terhadap idea-idea semasa jiwa masih dalam “pra eksistensi” (sebelum datang “menyusup ke dunia ini”). Dan peran doxa adalah menolong ke episteme.
     Menurut Plato, Jiwa itu terdiri dari 3 bagian, yang masing-masing menjalankan fungsinya:
   1) Rasional-----kebijaksanaan-----kepala
   2) Keberanian-----kegagahan-----dada
   3) Keinginan-----pengendalian diri-----dada
Sedangkan yang bertugas menjamin keseimbangan antara ketiga bagian jiwa tadi adalah keadilan. Ajaran ini kemudian terkenal sepanjang jaman dan dikenal sebagai “The Cardinal Virtues” yakni:
       ⤭Temperance (kesederhanaan)
       ⤭Fortitude (ketabahan)
       ⤭Prodence (kebijaksanaan)
       ⤭Justice (keadilan)
Plato juga menggambarkan bahwa jiwa rasional bagaikan kusir yang mengendalikan 2 ekor kuda bersayap. Jiwa rasional (sais) mengendalikan keberanian yang bertujuan ingin keatas ke dunia idea disamping itu juga mengendalikan keinginan yang bertujuan ke bawah (ke bumi).
Tentang Jiwa dunia bahwa Plato menggambarkan jagad raya sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos. Akan tetapi, jiwa dunia/ jagad raya diciptakan lebih dulu daripada jiwa manusia.

e. Ajaran tentang negara
 1) Plato menggaambarkan negara ideal terdiri dan 3 bagian:
   1) Yang pertama golongan tertinggi (kepemimpinan) yang memerintah adalah para filsuf yang
        bijaksanaan yang mengatur dengan kearifan dan kebijaksanaan.
   2) Yang kedua golongan pembantu (para prajurit) yang menjaga keamanan dengan kegagahan dan
        keberanian.
   3) Yang ketiga golongan terendah (petani, tukang batu) yang berproduksi, mencukupi keperluan
        hidup atau pekerja yang mengendalikan diri.
Setiap golongan memainkan peranan masing-masing, tanpa campur tangan golongan yang satu terhadap yang lain. Yang memungkinkan semua itu adalah keadilan.
Sebagaimana ajarannya tentang jiwa, ketiga golongan akan selaras/harmonis oleh prinsip keadilan.
Maka negara idea menurut Plato bukan demokrasi, tapi anistokrasi. (aristo : yang baik, kratein: yang berkuasa).

f. Bentuk pemerintahan
   Negara yang memiliki UUD, terbaik monarkhi, yang terjelek demokrasi. Negara yang belum memiliki UUD yang terbaik adalah demokrasi, yang terjelek adalah monarkhi.

4. Aristoteles (384 – 322 SM)

a. Tahap pemikirannya (3 periode)
  1) di Akademi Plato mengikuti ajaran Plato
  2) di Assos dia mengkritik ajaran Plato tentang Idea
  3) di Athena dia berbalik dan spekulatif ke empirik (konkrit, individual)

b. Logika
  1. Nama dan fungsi Logika
     lstilah logika diperkenalkan Cicero (pada abad 1 SM), yang berarti seni berdebat.
Kemudian Alexander Aphrodisias memakai istilah logika dalam arti sekarang, yakni suatu kajian tentang valid atau tidaknya penalaran. Aristoteles sendiri menggunakan dua nama yakni:
     • Analytica yakni argumen dengan premis-premis yang jelas-jelas benar.
     • Dialectica yakni argumen dengan hipotesis.
Aristoteles membuat kerangka ilmu sebagai berikut:
     • ilmu praktis yang terdiri dan etika, politika
     • produktif yang terdiri dani teknik, kesenian, kedoktenan.
     • teoritis yang tediri dan fisika, matematika, filsafat.
Logika “bukan ilmu” melainkan alat/piranti/organon bagi ilmu-ilmu. Aristoteles sering dibeni gelar Bapak Logika, meski filsuf sebelumnya dia sudah “bermain logika” (secara implisit), tapi baru Aristoteleslah yang memberikan uraian sistematis tentang logika.
 
  2. lnduksi dan deduksi
       Induksi adalah jalan pikiran yang dimulai dan kasus-kasus khusus untuk kemudian menarik kesimpulan untuk yang bersifat umum.
       Deduksi adalah jalan pikiran yang dimulai dan hal-hal yang bersifat umum dan jelas-jelas benar untuk kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus.

    3. Silogisme adalah argumentasi yang terdiri dari tiga putusan.
      • semua kepala negara kelak pasti mati --------------------- premis mayor
      • Bill Clinton adalah kepala negara ---------------------------- premis minor
      • Bill Clinton kelak pasti mati ------------------------------------konklusi

    4. Pengenalan Rasional
       Meski semua makluk hayati mempunyai jiwa, tapi hanya mahluk manusia sajalah yang memiliki rasio. Rasio ini tidak hanya menangkap satu aspek sebagaimana indera, melainkan menangkap segala sesuatu yang ada.
Yang ditangkap rasio adalah esensi (hakikat) suatu benda. Rasio dibagi menjadi 2 yakni:
      a) rasio pasif (intelectus possibilis), bagian rasio ini “menenima esensi”
      b) rasio aktif (intelectus agens), bagian rasio ini “melepaskan esensi”
Dan cara rasio menangkap esensi dengan abstraksi.

c. Metafisika
    Sesungguhnya Aristoteles sendiri tidak memakai istilah metafisika. lstilah itu mula- mula digunakan Andronikos dan Rhodos untuk menamai ajaran-ajaran Aristoteles sesudah ajarannya tentang fisika. Tetapi ada sinyalemen bahwa istilah metafisika telah digunakan oleh Ariston dan Keos, bahkan jauh sebelum itu, istilah metafisika telah digunakan oleh pengikut Aristoteles yang pertama.
Aristoteles sendiri menggunakan beberapa nama:
      a) metafisika: sophia (kebijaksanaan)
          kebijaksanaan: ilmu pengetahuan mencari prinsip-prinsip yang fundamental.
      b) metafisika : to on hei on ilmu pengetahuan yang mempelajari “yang ada” sejauh “ada” yakni
          menyelidiki kenyataan seluruhnya, menurut aspek seumum-umumnya.
      c) metafisika: filsafat pertama ilmu pengetahuan yang menyelidiki substansi yang tetap, tak
          berubah. Dalam konteks ini metafisika kadang-kadang disebut dengan teologi.

     Dunia idea yang “diciptakan” Plato itu tidak bisa diterima. Bagi Aristoteles, kenyataan/realitas benda-benda adalah “dirinya sendiri”. Dunia ide yang dimaksud Plato tidak lain adalah bentuk-bentuk yang tidak “mengasingkan” diri di dunia lain (idea-idea), melainkan lekat pada setiap benda secara individual. Menurut Aristoteles setiap benda memang punya esensi tapi bukan “terpisah” dan “ada” di dunia lain (dunia ide). Esensi tiap-tiap benda adalah pada benda itu sendiri. Rasio mampu menangkap esensi ini dengan jalan abstraksi (“melepaskan”). Penampilan benda-benda yang tercerap indera tidak menunjukkan “inti”, “hakikat”, “substansinya”, melainkan hanya aksidensianya. Dan untuk sampai pada esensi, harus “melepaskan” aksiden-aksidennya. Itulah yang disebutjalan abstraksi. Untuk itu Aristoteles mengajarkan 10 kategori:
       1) substansi
       2) kuantitas
       3) kualitas
       4) relasi
       5) ruang
       6) waktu
       7) aksi
       8) pasi
       9) posisi
      10) keadaan

d) Teologi
    Bahwa “gerak” yang terjadi dalam jagad raya disebabkan oleh “penggerak pertama”.
Penggerak ini terlepas dari sifat materi, karena sifat “materi” rnempunyai potensi untuk bergerak. Maka penggerak pertama adalah “aktus murni” yang immaterial, non jasmani. Sedangkan “aktus murni” ini aktivitasnya adalah “memikir”. Obyek pemikirannya adalah yang paling tinggi dan paling sempurna. Itu tidak lain adalah “pemikirannya sendiri”. Maka, Tuhan adalah “pemikir yang memikirkan pikirannya sendiri”.

d. Etika
    Tujuan tertinggi hidup manusia adalah eudamonia (“kebahagiaan”). Eudaimonia bukanlah bersifat subyektif, melainkan suatu keadaan manusia sebegitu rupa sehingga segala sesuatu yang termasuk keadaan bahagia harus terdapat pada manusia. Kebahagiaan bukan hanya dalam potensia, melainkan diaktualkan dalam suatu aktivitas. Aktivitas yang layak bagi manusia adalah mengikuti physisnya, kodratnya; yang menunjukkan perbedaan sekaligus keunggulannya dan mahluk-mahluk lain adalah rasionya. Maka kebahagiaan tertinggi adalah dalam aktivitas rasionya, akan tetapi berfikir bukanlah asal berfikir, melainkan berfikir yang disertai keutamaan
Keutamaan dibagi menjadi 2 yaitu:
    1) Keutamaan moral (putusan, tindakan senantiasa mengambil jalan tengah diantara 2 yang
        ekstrim.
    2) Keutamaan intelektual. Dimana pada bagian ini dibagi menjadi 2 yang pertama kebijaksanaan
         teoritis (senantiasa mengenal kebenaran secara ajeg) dan kebijaksanaan praktis (mengambil
         sikap dengan arif-bijaksaana).

e. Psikologi
    Psikologi menyelidiki segolongan mahluk yang memliki psykhe (tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia)

1) Tentang jiwa
    Mula-mula Aristoteles mengikuti Plato, jiwa memiliki “pra eksistensi” dan keabadian. Jiwa dan badan adalah 2 substansi yang terpisah (dalam eudemos). Dikemudian hari, dalam de anima, ia berpendirian lain sama sekali. “Jiwa” aktus yang pertama dari suatu badan organik. Disebut “aktus pertama” karena ia merupakan aktus yang fundamental, yang menjadi “sumber/penyebab” yang utama dan aktus-aktus sekunder.

2) Pengenalan inderawi
    Indera menenima/menyerap bentuk (tanpa materi) benda-benda. Indera ”menerima” bentuk-bentuk itu dalam salah satu aspek saja sesual dengan kemampuannya, misalnya mata melihat, telinga mendengar. Dalam pada itu, organ-organ indera yang menangkap bentuk-bentuk/ kualitas benda yang dicerap, tidak mempunyai kualitas secara aktual pada dirinya sendiri. Namun organ-organ indera mempunyai potensi akan kualitas- kualitas tadi. Maka pengenalan inderawi adalah peralihan dari potensi aktus. Organ-organ indera yang secara potensial mempunyai kualitas, menjadi memiliki/mengenal kualitas secara aktual lewat cerapannya terhadap benda-benda. Dengan kata lain pengenalan inderawi adalah proses peralihan dan potensi ke aktus.

3) Physis
    Semua benda alamiah (tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dan keempat anasir, yaitu air, tanah, udara, api) mempunyai physisinya, bertumbuh-berkembang,
mempertahankan diri. Dalam konteks yang demikian, istilah physis berarti semacam kodrat.
lstilah physis menunjuk arti yang luas yaitu keseluruhan mahluk yang mempunyai physis sebagai prinsip intern dan bekerja sama secara selaras. Istilah physis kadang-kadang juga berarti, “alam” atau “nature”. Di kemudian hari sering dijumpai nature dalam bahasa Inggris yang bukan saja berarti alam, tetapi juga bisa memliki arti “sifat-sifat bawaan”.

4) Teleologi
    Tiap-tiap mahluk, karena mereka mempunyai sifat physis bukanlah suatu kebutulan yang membuta, melainkan mempunyai tujuan (teleologi). Dengan ini Aristoteles mengkritik filsuf-filsuf atomis yang menganggap atom bergerak “membuta” ke segala arah tanpa tujuan.
Bagi Aristoteles mustahil segala sesuatu berlangsung tanpa tujuan. Setiap hal benda/peristiwa pasti mempunyai penyebab timbulnya final atau tujuan.

5) Kosmologi
    Dua wilayah jagad raya yang pertama yaitu bulan, planit-planit, bintang-bintang, anasir tunggai (aether) dan bumi yang dibagi menjadi 2 yaitu badan tunggal (terdiri dan satu anasir) dan badan majemuk (lebih dan satu anasir). Jagad raya bersifat azali dan abadi. Jagad raya berbentuk bundar dan ada batasnya. Bumi juga bundar dan tetap “diam” dalam pusat jagad raya (geosentris).
Setiap yang bergerak, menerima gerak dari sesuatu yang lain. Begitulah, menggerakkan dan digerakkan ini berantai terus menerus. Akan tetapi mustahil bahwa “gerak menggerakkan ini” tak terhingga. Maka pasti ada “penggerak pertama” suatu penggerak yang tidak digerakkan (unmoved mover). Karena jagad raya bersifat azali — abadi, maka harus dikatakan bahwa “penggerak pertama” juga azali-abadi. Ia tidak bersifat jasmaniah. inilah yang dimaksud dengan Tuhan.

f. Fisika
  1) Kajian fisika
    Gerak dibagi menjadi 2 yaitu gerak yang dipaksa dan gerak spontan/ alamiah.
Dalam gerak spontan/alamiah dibagi menjadi 2 yaitu gerak substansial: sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dan gerak aksidental: sesuatu menjadi lain.
Sedangkan kajian fisika Aristoteles adalah gerak spontan/alamiah, harus difahami, bahwa yang dimaksud “gerak” bukan sekedar “pergeseran”, akan tetapi segala macam perubahan.
Jalan keluar perdebatan Heraklitos dan Parmenides Analisis gerak: Gerak tidak lain adalah peralihan dan potensi ke aktus. Jadi “yang ada” dapat dianalisis “yang ada menurut potensi” dan “yang ada menurut aktus”.

2) Hylemorfisme
    Paralel dengan potensi dan aktus Aristoteles juga membedakan antara “materi” dan “bentuk”. Segala “kejadian”, “peristiwa” (apapun di dunia ini tentu berupa “peristiwa”) adalah berpadunya materi dan bentuk. lstilah materi tidak hanya difahami dalam konteks benda-benda material.
Materi adalah azas realita yang masih dalam potensi. ltulah materi yang fundamental, yang pada dirinya belum ada “bentuk”. Akan tetapi pada dirinya ada potensi untuk menjadi aktual. Materi dan bentuk senantiasa “saling mengandaikan”, “saling membutuh-kan” bagi terwujudnya “suatu peristiwa”.

3) Empat penyebab:
    Tugas ilmu pengetahuan mencari penyebab. Tiap peristiwa disebabkan oleh 4 hal yaitu:
   1. penyebab efisien (efficient causa)
   2. penyebab final (final causa)
   3. penyebab material (matterial caussa)
   4. penyebab formal (formal causa)

g. Politik
    Manusia itu “zoon politikon” (mahluk yang hidup dalam polis yang menurut kodratnya membutuhkan orang lain bagi hidupnya). Kenyataan menunjukkan, bahwa manusia membutuhkan sesamanya, dan mulal persekutuan hidup terkecil (rumah tangga/keluarga) sampai persekutuan tertinggi (polis/negara). Keadaan saling membutuhkan dan saling mencukupi itulah yang mampu membuat polis “mandiri”.
Sedang tujuan polis/negara adalah agar manusia hidup dengan baik.

h. Tentang pengelolaan/pemerintahan Negara
   Pengelolaan/pemerintahan yang baik adalah yang berkiblat pada pemenuhan kebutuhan/kepentingan warganya, sedangkan yang buruk adalah yang berkiblat pada pemenuhan kepentingan pengelola/penguasa.
Berdasarkan jumlah personel penguasa dan sifat-sifatnya Arstoteles membagi tiga-tiga.
       Yang buruk                        Jumlah penguasa                             Yang baik
           Tirani                                  satu orang                                   monarkhi
        Oligarkhi                           beberapa orang                               aristokrasi
       Demokrasi                            banyak orang                                  politeia
Diantara yang baik, Aristoteles mengatakan yang ideal adalah politeia yaitu demokrasi demokrat, demokrasi dengan undang-undang dengan cara memilih wakil-wakil yang dianggap cakap untuk memerintah atau mengelola negara, yakni mereka yang mengerti “yang baik” bagi warga negaranya.

III. FILSAFAT HELLENISME DAN ROMAWI
      Filsafat Hellenisme adalah filsafat pada masa sesudah Aristoteles sampai kira-kira abad pertama masehi. Sebutan Hellenisme menunjukkan bahwa pada masa ini dikuasai oleh corak kebudayaan Yunani. Pada masa ini muncul berbagai aliran filsafat, yang sebagian bersifat etik dan yang lain bersifat religius. Dengan penekanan pada etika, filsafat periode ini dinilai agak menurun.
Hal ini karena pengaruh kekuasaan pemerintahan kekaisaran Romawi.
A. Epikurisme (EPIKUROS, 341 – 270 SM)

1. Ajaran Etika:
    Aliran ini bersifat etis dengan menekankan pada Kebahagiaan manusia, ketenangan batin (ataraxia) dan mencapai tujuan hidup manusia yang berupa kenikmatan atau kepuasan (hedone). Ketenangan batin dapat tercapai jika bebas dan tiga sumber ketakutan, yaitu: 1.takut pada murka dewa, 2. takut pada mati, 3. takut pada nasib.
Alasannya:
     1) Tidak perlu takut kepada murka dewa karena dewa tidak ikut campur dalam urusan dunia ini.
         Kehidupan ini digerakkan oleh atom-atom.
     2) Tidak perlu takut kepada mati, karena setelah mati, jiwanya larut ke dalam atom- atom.
         Setelah mati orang tak merasakan apa-apa.
     3) Tidak perlu takut pada nasib karena yang menguasai hidup dan perbuatan kita adalah kita
          sendiri.
          Nasib itu tidak ada.
2. Ajaran fisika; Atomik dan materialistik
    Dasar segala sesuatu adalah atom. Dalam jagad raya segala benda tersusun dari atom-atom, yang semuanya kekal dan tak terbatas. Jiwa atau tubuh halus juga merupakan atom dengan bentuk bulat dan licin.
3. Ajaran Logika: empirik : Sumber pengetahuan adalah pengalaman indera.
B. Stoisisme (ZENO 336 – 264 SM)

a. Nama:
    Nama stoa dari “stoa poikile” (gang diantara tiang-tiang), yaitu tempat penyebaran aliran ini.
b. Hubungan antar fisika, logika dan etika
    Fisika merupakan ladang dengan tumbuhannya, logika adalah pagarnya; dan etika merupakan buahnya
c. Ajaran fisika
   Hanya ada satu dunia, yaitu dunia pengalaman yang jasmani, sementara alam ini terdiri dari dua unsur, yaitu:
     1) yang pasif, berupa bahan atau materi.
     2) yang aktif, berupa akal/budi yang menjiwai materi. Dunia dikuasai logos, yaitu akal atau rasio
          ilahi. Keteraturan alam merupakan harmoni.
d. Ajaran teologi; alam sama dengan Tuhan
    Segala aturan berjalan alamiah (natural) yang bersumber dari hukum logos, sebagai nasib yang tidak dapat berubah. Tuhan juga sesuatu yang jasmaniah dan bersifat kebendaan. Kekuatan ilahi sama dengan kekuatan alam. Kejahatan itu tidak ada, kejahatan hanyalah semu, karena hanya dilihat dan satu sisi saja.
e. Ajaran Etika
    Manusia adalah bagian dari alam yang harmonis. Manusia harus harmonis atau selaras dengan dininya sendiri, yaitu dengan akalnya. Kebajikan adalah akal, budi yang lurus dan harmoni dengan alam. Aturan alam sebagai nasib harus diterima dengan suka cita agar bahagia.
Kebajikan yang tertinggi adalah kebijaksanaan kunci. Kunci kebijaksanaan adalah melepaskan segala rasa dan terbebas dan segala nafsu.

C. Skeptisisme (PYRRHO, 365 – 275 SM)

  a. Skepsis artinya ragu-ragu, dasar ajarannya adalah relativisme.
  b. Ajaran etikanya didasarkan pada logika berikut:
    Orang tidak bahagia karena pengetahuannya salah dan selalu tidak pasti.
Pengetahuan indera dan akal tidak ada yang pasti. Setiap dalil, hukum dan norma dapat sekaligus benar dan salah. Agar tidak banyak salah maka bertindaklah sesedikit mungkin.
Kebahagiaan dan kebaksanaan sebagai kunci ketenangan hidup dapat tercapai jika orang tidak berbuat dan mengambil keputusan. Sikap hidup yang harus diambil adalah meragukan segala sesuatu.

D. Neopythagorisme (Appolonius, Abad pertama SM)
  a. Ajarannya bersifat religius yang berbentuk eklektis, yakni pencampuran antara beberapa aliran pemikiran dan kepercayaan. Aliran ini diwarnai oleh ajaran Pythagoras, Plato, Aristoteles dan Stoa.
  b. Corak Pythagoras adalah prinsip bilangan
  c. Pengaruh dan Plato adalah dualisme jiwa-badan, dan terkurungnya jiwa dalam badan.
  d. Pengaruh dan Aristoteles ialah pembagian daya manusia yang terdiri dari:
    • daya rohani (nous)
    • daya akal (dianola)
    • daya pengamatan indrawi (aisthesis)
  e. Pengaruh dan Stoa adalah ajaran yang menyatakan bahwa tak ada perbedaan antara Ilahi dengan dunia benda. Bahwa dunia ini berasal dari jiwa-dunia sebagai “demiourgos” (sang tukang).

E. Neoplatonisme (Plotinus, 204 – 270 M)

  a. Aliran ini bercorak Platonis, karena banyak dipengaruhi oleh pandangan Plato, namun mempunyai bentuk baru (neo).
  b. Corak Platonis dalam dua hal:
    1) Dualisme Plato antara dunia ini dan dunia idea ditingkatkan ke arah kesatuan yang lebih tinggi,
        yaitu antara arus kehidupan di alam ini dengan “Yang llahi”.
   2) Dunia idea Plato sebagai wujud sejati, yang bersumber dan idea tertinggi, idea kebaikan, oleh
       Plotinus diberi bentuk baru dengan menempatkan Tuhan sebagai wujud tertinggi yang menjadi
       sumber segala wujud yang lain. Hubungan antara Tuhan, Yang liahi, dengan wujud Iainnya
       terjalin melalui proses “emanasi” (pancaran, pengaliran, pelimpahan).
c. Teori Emanasi
    Semua wujud mengalir dari Yang Ilahi, Tuhan Yang Maha Esa, secara bertahap dari tingkat tertinggi ke tingkat yang lebih rendah. Tahap-tahap emanasi adalah:
   1) Dari Tuhan Yang Esa (to Hen) mengalirlah nous (roh Ilahi).
   2) Dari nous mengaliriah jiwa dunia, termasuk jiwa manusia (psukhe) sebagai gambarannous.
   3) Dari jiwa dunia mengalinlah benda (me on), termasuk tubuh manusia.
d. Ajaran tentang manusia terdiri dari 3 substansi:
   1) Roh (nous), yang berkaitan dengan Yang Ilahi.
   2) Jiwa (psykhe) yang berupa kesadaran.
   3) Tubuh (soma).
e. Ajaran Etika
Tujuan hidup manusia ialah bersatu kembali dengan Tuhan, yang disebut “remanasi”,
dengan melalui 3 tahap:
    1) Berbuat kebajikan umum (virtues).
    2) Berfilsafah (kontemplasi, perenungan mendalam).
    3) Hidup mistik (persatuan dengan Tuhan).

Comments

Popular posts from this blog

OTAK dan Pengaruhnya terhadap perilaku manusia

Apa itu Filsafat?