Monday, March 27, 2017

Sel

Anatomi sel manusia




pEngeRtiaN
 Satuan kehidupan terkecil yang menyusun tubuh mahluk hidup
 Tempat terselenggaranya fungsi kehidupan


Penyusun Sel
 KAPALAN
Karbohidrat
Protein
Air
Lipid
Asam Nukleat

Anatomi Sel
➛Membran Plasma
➛Sitoplasma
➛Nukleus/inti sel
➛Organel

MEMBRAN PLASMA
⇢Pelindung sel agar isi sel tidak keluar
⇢Pengatur pertukaran zat: keluar masuk sel
⇢Melakukan seleksi zat yang boleh keluar-masuk dari dalam atau luar sel (selective permeable)
⇢Tersusun atas karbohidrat, protein, lemak

Keterangan gambar dan Fungsinya:

INTI SEL
⇝Mengendalikan metabolisme sel
⇝Menyimpan informasi genetika: DNA
⇝Tempat penggandaan & transkripsi DNA

pusat data/informasi bank data raksasa
➧kromosom: rantai ganda DNA (seperti
spiral),
dengan 4 molekul:
A
denine,
Thyanin,
C
ytosin,
G
uanine



SITOPLASMA
→Merupakan cairan sel dalam sel
→Disebut juga dengan sitosol karena mirip dengan jelly (koloid)
→Berfungsi sebagai tempat berlangsungnya metabolisme sel.
→Di dalamnya terdapat berbagai organel sel
ORGANEL

SITOSKELETON
⤨Sebagai pemberi bentuk sel
⤨Pengatur gerakan sel
⤨Berupa jaringan protein filamen

RIBOSOM
⤀Butiran kecil nukleoprotein yang tersebar di sitoplasma
⤀Ada yang melekat di Retikulum Endoplasma (sehingga menjadikan RE tersebut dinamakan RE Kasar)
⤀Melakukan sintesis protein : mengubah asam amino (RNA=salinan DNA) → protein

Retikulum endoplasma
➽Terbagi menjadi 2:
 ➼RE Kasar
  -Ditempeli RIbOSom
  -Untuk sintesis protein
 ➵RE Halus
  -tidak punya ribosom
  -Untuk sintesis lemak

Badan golgi
➮Berbentuk kantong pipih yang berkelok-kelok
➮Memodifikasi protein dengan menambahkan oligosakarida (Glikosilasi)
➮Membentuk lisosom

LISOSOm
➮Mencerna makromolekul secara intraseluler
➮Menghidrolisis lemak, protein, asam nukleat, polisakarida

peroksisom
➭Menghasilkan enzim oksidatif untuk membentuk H2O2 untuk merombak lemak
➭Menghasilkan enzim katalase untuk mengubah H2O2  menjadi H2O dan O2

mitokondria
-Tempat terjadinya respirasi sel menghasilkanenergi

Sunday, March 26, 2017

Filsafat Yunani Kuno


1. Para Sofis


    Abad ke-5 SM kata Sofis berarti orang-orang yang bijaksana, “orang yang memiliki keahlian tertentu”. Di lain pihak, istilah sofis bergeser artinya menjadi “guru bayaran keliling”.
Di kemudian hari istilah sofis menjadi negatif: “seorang penipu daya cerdik dengan argurnentasi yang menyesatkan”. Maka Sofisme bukanlah mazhab yang terorganisir, tetapi lebih merupakan gerakan intelektual yang sedang “ngetrend” saat itu.
Hal itu disebabkan karena:
    1) Keadaan polis Athena yang kian maju dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya.
    2) Untuk mengimbangi kemajuan-kemanjuan tadi para kaum muda membutuhkan pendidikan yang
        lebih tinggi.
    3) Peraturan-peraturan etis menjadi dipersoalkan: apakah bersifat kodrati atau adat kebiasaan yang
        dibuat dan dijalankan secara ajeg (nomos).
Karena ketiga alasan itulah gerakan sofisme merebak dan populer kala itu.

2. Masa Sokrates ( 469 – 399 SM ) dan Kaum Sofis

 a. Sokrates sebagai tonggak periode filsafat
Dia tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya dikenal melalui para muridnya, terutama Plato.
Dia dijadikan tonggak peniodisasi filsafat karena dia “memindahkan filsafat dan langit ke bumi”; dan persoalan alam ke masalah manusia.

 b. Kaum Sofis
Sofis dari kata “sophia” (bijaksana). Kaum sophis semula bermakna positif sebagai kaum terpelajar/cendekiawan, namun kemudian bermakna negatif.

 c. Persamaan antara Sokrates dengan Kaum Sophis
    1) Mereka memajukan pendidikan dan pengajaran masyarakat khususnya kaum muda.
    2) Mereka mengarahkan perhatiannya kepada masalah diri manusia dan etika.
    3) Keutamaan hidup dicapai melalui belajar, tak hanya latihan.
    4) Mereka bertitik tolak dari pengalaman dan kehidupan konknit.

 d. Perbedaan antar Sokrates dengan Kaum Sophis
    1) Kaum Sophis mengaku sebagai cendekiawan dan bijaksana; sedangkan Sokrates tidak.
        Sokrates hanya pecinta kebijaksanaan (philosophos).
    2) Kaum Sophis mau mengajar dengan bayaran; Sokrates dengan tulus ikhlas.
    3) Bagi Sokrates ada kebenaran umum yang objektif. Kaum Sophis menganut sikap relativisme
        dan menolak kebenaran umum itu.
    4) Bagi Sokrates kebenaran setalu terkait dengan moral/etik, tak hanya teoritik sebagai bahan
        perdebatan seperti Kaum Sophis.

  e. Metode Sokrates
    1) Seni kebidanan (maieutike tekhne); seperti pekerjaan ibunya.
    2) Dialektika/dialog (percakapan).
    3) Perintisan metode induksi dan deduksi.

  f. Ajaran etika Sokrates
    1) Lebih mementingkan jiwa manusia daripada raga.
    2) Untuk mencapal kebahagiaan (eudaimonia rohani). Manifestasinya ialah kebaksanaan dan
        keutamaan (arete).
    3) Keutamaan dicapai tidak melalui moral, tetapi melalui pengetahuan.

   g. Ajaran Sokrates tentang negara
      Dia menolak demokrasi dengan alasan bahwa pengaturan negara harus dipegang oleh orang yang benar-benar bijaksana dan berpengetahuan.

Pengikut Sokrates (The Minor Socraties)

 a. Mazhab Megara; tokohnya Euklides
   1) Keutamaan diperoleh melalui pengetahuan yang diajarkan dalam pendidikan.
   2) Realitas hanya satu (monistik), yaitu yang baik.

 b. Mazhab Elis & Eretria; tokohnya Phaidon & Menedemos
   1) Keutamaan dicapai dalam filsafat, khususnya etika.
   2) Etika merupakan obat untuk mencapai kebebasan sempurna.
 c. Mazhab Sinik; tokohnya Antisthenes
   1) Tidak ada pengertian umum; yang ada itu individual.
   2) Keutamaan berupa kepuasan pribadi (autarkea); bebas dan pengaruh duniawi dengan
      kesederhanaan; menolak kesenangan jasmani.
   3) Keutamaan menuju kepada kebahagiaan denga jujur dan berbudi dengan azas kebaikan mutlak.

 d. Mazhab Kirena; tokohnya Aristippos
   1) Menekankan pada kesenangan jasmani (hedonistik).
   2) Kesenangan tergantung pada individu (nominalistik).
   3) Kesenangan hanya didapatkan sekarang dan langsung.

3. Plato (427-347 SM)

  a. Tahap pemikirannya (3 periode)
   1) Sepenuhnya ikut Sokrates.
   2) Mengikuti jalan pikirannya sendiri (dalam masalah dunia idea dan masalah negara).
   3) Terarah ke hal praktis/alami.

  b. Ajaran tentang idea-idea
   1) Idea berbeda dengan istilah modern ide/idea yang secara umum dimengerti sebagai gagasan yang datang dan subyek. Idea bukan ciptaan subyek, Ia terlepas dan subyek yang berpikir.
Ia tidak tergantung pada pemikiran, justru sebaliknya: pikiran itulah yang tergantung pada idea-idea. Berfikir berarti mengarahkan aktivitas pikiran kepada idea-idea. Cara memahami idea misalnya: dalam ilmu pasti, bisa ditemukan bermacam-macam segitiga secara “fisik inderawi”, akan tetapi idea segitiga tetap.
   2) Dua dunia
     - Dunia benda-benda jasmaniah beragam, berubah
     - Dunia idea tetap

Hubungan dua dunia:
 → Idea tidak terpengaruh dengan dunia jasmaniah, idea-idea justru mendasari dan menyebabkan 
    benda-benda jasmaniah.
 → Idea-idea “hadir” dalam benda-benda jasmaniah konkrit, tapi idea-idea itu tidak berkurang
    apa-apanya sedikitpun.
 → Benda-benda konkrit berpartisipasi pada satu atau Iebih idea. Atas partisipasinya benda-benda
    tersebut, idea juga tidak terkurang apa-apanya.
 → ide adalah “model”, Benda-benda konkrit adalah gambaran “tak sempurna yang menyerupai
    “model idea” tadi.
    Jadi dunia idea adalah dunia tersendiri, yang mandiri, sebagai “keberadaannya” yang “otonomi”. Bahkan, dunia ide itulah yang sejati. Dunia jasmaniah/fisik inderawi hanyalah suatu bayang-bayang dunia idea. Dalam dunia idea ada hierarkhi idea dan idea yang tertinggi” idea yang baik”.
Tetapi Plato mengusulkan 5 idea utama yaitu, ada, identik, lain, diam, gerak.

   c. Ajaran tentang Pengenalan
    Ada 2 jenis pengenalan yaitu: rasio dan inderawi.
     - Rasio mengenal dunia idea dengan obyek jelas, tetap, tidak berubah, mutlak yang disebut dengan
       istilah episteme (knowledge).
     - Inderawi mengenal dunia benda-benda jasmaniah dengan obyek relatif, berubah- ubah yang
       disebut dengan istiah doxa (opinion)
Dengan demikian Plato mengatasi pertentangan Heraklitos dan Parmenides dengan pengenalan dan “yang ada”.
    Dalam menjawab tentang permasalahan tentang dunia jasmaniah yang dianggap nyata, Plato menggambarkan bahwa: Manusia sebagai tahanan yang dibelenggu dalam gua.
Menghadap dinding gua. Di gua ada nyala api dan ada budak-budak lalu lalang dekat api ---- orang-orang tahanan tadi melihat bermacam-macam bayangan. Bayangan itulah yang dianggap realitas.
Ketika tahanan dibawa keluar dan gua, mereka merasa telah mengetahui realitas dan ketika mata mereka menatap matahari matanya silau, padahal itulah realitas yang sejati.
Matahari adalah dunia idea, sedangkan bayang-bayang para budak adalah benda-benda jasmaniah yang dianggap realitas yang sesungguhnya. ltulah kekeliruan manusia pada umumnya.

d. Ajaran tentang Manusia (Jiwa dan raga)
    Plato membagi manusia atas jiwa dan raga (badan). Keduanya berdiri “sendiri- sendiri”.
Keduanya dianggap sebagai dua substansi yang berbeda. Bahkan tubuh atau badan dianggap sebagai penjara jiwa. Jiwa bersifat baka/kekal, immortal dan sebelum jiwa ke dunia ini, ia sudah punya “pra eksistensi”.  Pada masa itulah sebenarnya jiwa sudah mengenal idea-idea. Maka pengenalan adalah pengingatan kembali terhadap idea-idea semasa jiwa masih dalam “pra eksistensi” (sebelum datang “menyusup ke dunia ini”). Dan peran doxa adalah menolong ke episteme.
     Menurut Plato, Jiwa itu terdiri dari 3 bagian, yang masing-masing menjalankan fungsinya:
   1) Rasional-----kebijaksanaan-----kepala
   2) Keberanian-----kegagahan-----dada
   3) Keinginan-----pengendalian diri-----dada
Sedangkan yang bertugas menjamin keseimbangan antara ketiga bagian jiwa tadi adalah keadilan. Ajaran ini kemudian terkenal sepanjang jaman dan dikenal sebagai “The Cardinal Virtues” yakni:
       ⤭Temperance (kesederhanaan)
       ⤭Fortitude (ketabahan)
       ⤭Prodence (kebijaksanaan)
       ⤭Justice (keadilan)
Plato juga menggambarkan bahwa jiwa rasional bagaikan kusir yang mengendalikan 2 ekor kuda bersayap. Jiwa rasional (sais) mengendalikan keberanian yang bertujuan ingin keatas ke dunia idea disamping itu juga mengendalikan keinginan yang bertujuan ke bawah (ke bumi).
Tentang Jiwa dunia bahwa Plato menggambarkan jagad raya sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos. Akan tetapi, jiwa dunia/ jagad raya diciptakan lebih dulu daripada jiwa manusia.

e. Ajaran tentang negara
 1) Plato menggaambarkan negara ideal terdiri dan 3 bagian:
   1) Yang pertama golongan tertinggi (kepemimpinan) yang memerintah adalah para filsuf yang
        bijaksanaan yang mengatur dengan kearifan dan kebijaksanaan.
   2) Yang kedua golongan pembantu (para prajurit) yang menjaga keamanan dengan kegagahan dan
        keberanian.
   3) Yang ketiga golongan terendah (petani, tukang batu) yang berproduksi, mencukupi keperluan
        hidup atau pekerja yang mengendalikan diri.
Setiap golongan memainkan peranan masing-masing, tanpa campur tangan golongan yang satu terhadap yang lain. Yang memungkinkan semua itu adalah keadilan.
Sebagaimana ajarannya tentang jiwa, ketiga golongan akan selaras/harmonis oleh prinsip keadilan.
Maka negara idea menurut Plato bukan demokrasi, tapi anistokrasi. (aristo : yang baik, kratein: yang berkuasa).

f. Bentuk pemerintahan
   Negara yang memiliki UUD, terbaik monarkhi, yang terjelek demokrasi. Negara yang belum memiliki UUD yang terbaik adalah demokrasi, yang terjelek adalah monarkhi.

4. Aristoteles (384 – 322 SM)

a. Tahap pemikirannya (3 periode)
  1) di Akademi Plato mengikuti ajaran Plato
  2) di Assos dia mengkritik ajaran Plato tentang Idea
  3) di Athena dia berbalik dan spekulatif ke empirik (konkrit, individual)

b. Logika
  1. Nama dan fungsi Logika
     lstilah logika diperkenalkan Cicero (pada abad 1 SM), yang berarti seni berdebat.
Kemudian Alexander Aphrodisias memakai istilah logika dalam arti sekarang, yakni suatu kajian tentang valid atau tidaknya penalaran. Aristoteles sendiri menggunakan dua nama yakni:
     • Analytica yakni argumen dengan premis-premis yang jelas-jelas benar.
     • Dialectica yakni argumen dengan hipotesis.
Aristoteles membuat kerangka ilmu sebagai berikut:
     • ilmu praktis yang terdiri dan etika, politika
     • produktif yang terdiri dani teknik, kesenian, kedoktenan.
     • teoritis yang tediri dan fisika, matematika, filsafat.
Logika “bukan ilmu” melainkan alat/piranti/organon bagi ilmu-ilmu. Aristoteles sering dibeni gelar Bapak Logika, meski filsuf sebelumnya dia sudah “bermain logika” (secara implisit), tapi baru Aristoteleslah yang memberikan uraian sistematis tentang logika.
 
  2. lnduksi dan deduksi
       Induksi adalah jalan pikiran yang dimulai dan kasus-kasus khusus untuk kemudian menarik kesimpulan untuk yang bersifat umum.
       Deduksi adalah jalan pikiran yang dimulai dan hal-hal yang bersifat umum dan jelas-jelas benar untuk kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus.

    3. Silogisme adalah argumentasi yang terdiri dari tiga putusan.
      • semua kepala negara kelak pasti mati --------------------- premis mayor
      • Bill Clinton adalah kepala negara ---------------------------- premis minor
      • Bill Clinton kelak pasti mati ------------------------------------konklusi

    4. Pengenalan Rasional
       Meski semua makluk hayati mempunyai jiwa, tapi hanya mahluk manusia sajalah yang memiliki rasio. Rasio ini tidak hanya menangkap satu aspek sebagaimana indera, melainkan menangkap segala sesuatu yang ada.
Yang ditangkap rasio adalah esensi (hakikat) suatu benda. Rasio dibagi menjadi 2 yakni:
      a) rasio pasif (intelectus possibilis), bagian rasio ini “menenima esensi”
      b) rasio aktif (intelectus agens), bagian rasio ini “melepaskan esensi”
Dan cara rasio menangkap esensi dengan abstraksi.

c. Metafisika
    Sesungguhnya Aristoteles sendiri tidak memakai istilah metafisika. lstilah itu mula- mula digunakan Andronikos dan Rhodos untuk menamai ajaran-ajaran Aristoteles sesudah ajarannya tentang fisika. Tetapi ada sinyalemen bahwa istilah metafisika telah digunakan oleh Ariston dan Keos, bahkan jauh sebelum itu, istilah metafisika telah digunakan oleh pengikut Aristoteles yang pertama.
Aristoteles sendiri menggunakan beberapa nama:
      a) metafisika: sophia (kebijaksanaan)
          kebijaksanaan: ilmu pengetahuan mencari prinsip-prinsip yang fundamental.
      b) metafisika : to on hei on ilmu pengetahuan yang mempelajari “yang ada” sejauh “ada” yakni
          menyelidiki kenyataan seluruhnya, menurut aspek seumum-umumnya.
      c) metafisika: filsafat pertama ilmu pengetahuan yang menyelidiki substansi yang tetap, tak
          berubah. Dalam konteks ini metafisika kadang-kadang disebut dengan teologi.

     Dunia idea yang “diciptakan” Plato itu tidak bisa diterima. Bagi Aristoteles, kenyataan/realitas benda-benda adalah “dirinya sendiri”. Dunia ide yang dimaksud Plato tidak lain adalah bentuk-bentuk yang tidak “mengasingkan” diri di dunia lain (idea-idea), melainkan lekat pada setiap benda secara individual. Menurut Aristoteles setiap benda memang punya esensi tapi bukan “terpisah” dan “ada” di dunia lain (dunia ide). Esensi tiap-tiap benda adalah pada benda itu sendiri. Rasio mampu menangkap esensi ini dengan jalan abstraksi (“melepaskan”). Penampilan benda-benda yang tercerap indera tidak menunjukkan “inti”, “hakikat”, “substansinya”, melainkan hanya aksidensianya. Dan untuk sampai pada esensi, harus “melepaskan” aksiden-aksidennya. Itulah yang disebutjalan abstraksi. Untuk itu Aristoteles mengajarkan 10 kategori:
       1) substansi
       2) kuantitas
       3) kualitas
       4) relasi
       5) ruang
       6) waktu
       7) aksi
       8) pasi
       9) posisi
      10) keadaan

d) Teologi
    Bahwa “gerak” yang terjadi dalam jagad raya disebabkan oleh “penggerak pertama”.
Penggerak ini terlepas dari sifat materi, karena sifat “materi” rnempunyai potensi untuk bergerak. Maka penggerak pertama adalah “aktus murni” yang immaterial, non jasmani. Sedangkan “aktus murni” ini aktivitasnya adalah “memikir”. Obyek pemikirannya adalah yang paling tinggi dan paling sempurna. Itu tidak lain adalah “pemikirannya sendiri”. Maka, Tuhan adalah “pemikir yang memikirkan pikirannya sendiri”.

d. Etika
    Tujuan tertinggi hidup manusia adalah eudamonia (“kebahagiaan”). Eudaimonia bukanlah bersifat subyektif, melainkan suatu keadaan manusia sebegitu rupa sehingga segala sesuatu yang termasuk keadaan bahagia harus terdapat pada manusia. Kebahagiaan bukan hanya dalam potensia, melainkan diaktualkan dalam suatu aktivitas. Aktivitas yang layak bagi manusia adalah mengikuti physisnya, kodratnya; yang menunjukkan perbedaan sekaligus keunggulannya dan mahluk-mahluk lain adalah rasionya. Maka kebahagiaan tertinggi adalah dalam aktivitas rasionya, akan tetapi berfikir bukanlah asal berfikir, melainkan berfikir yang disertai keutamaan
Keutamaan dibagi menjadi 2 yaitu:
    1) Keutamaan moral (putusan, tindakan senantiasa mengambil jalan tengah diantara 2 yang
        ekstrim.
    2) Keutamaan intelektual. Dimana pada bagian ini dibagi menjadi 2 yang pertama kebijaksanaan
         teoritis (senantiasa mengenal kebenaran secara ajeg) dan kebijaksanaan praktis (mengambil
         sikap dengan arif-bijaksaana).

e. Psikologi
    Psikologi menyelidiki segolongan mahluk yang memliki psykhe (tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia)

1) Tentang jiwa
    Mula-mula Aristoteles mengikuti Plato, jiwa memiliki “pra eksistensi” dan keabadian. Jiwa dan badan adalah 2 substansi yang terpisah (dalam eudemos). Dikemudian hari, dalam de anima, ia berpendirian lain sama sekali. “Jiwa” aktus yang pertama dari suatu badan organik. Disebut “aktus pertama” karena ia merupakan aktus yang fundamental, yang menjadi “sumber/penyebab” yang utama dan aktus-aktus sekunder.

2) Pengenalan inderawi
    Indera menenima/menyerap bentuk (tanpa materi) benda-benda. Indera ”menerima” bentuk-bentuk itu dalam salah satu aspek saja sesual dengan kemampuannya, misalnya mata melihat, telinga mendengar. Dalam pada itu, organ-organ indera yang menangkap bentuk-bentuk/ kualitas benda yang dicerap, tidak mempunyai kualitas secara aktual pada dirinya sendiri. Namun organ-organ indera mempunyai potensi akan kualitas- kualitas tadi. Maka pengenalan inderawi adalah peralihan dari potensi aktus. Organ-organ indera yang secara potensial mempunyai kualitas, menjadi memiliki/mengenal kualitas secara aktual lewat cerapannya terhadap benda-benda. Dengan kata lain pengenalan inderawi adalah proses peralihan dan potensi ke aktus.

3) Physis
    Semua benda alamiah (tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dan keempat anasir, yaitu air, tanah, udara, api) mempunyai physisinya, bertumbuh-berkembang,
mempertahankan diri. Dalam konteks yang demikian, istilah physis berarti semacam kodrat.
lstilah physis menunjuk arti yang luas yaitu keseluruhan mahluk yang mempunyai physis sebagai prinsip intern dan bekerja sama secara selaras. Istilah physis kadang-kadang juga berarti, “alam” atau “nature”. Di kemudian hari sering dijumpai nature dalam bahasa Inggris yang bukan saja berarti alam, tetapi juga bisa memliki arti “sifat-sifat bawaan”.

4) Teleologi
    Tiap-tiap mahluk, karena mereka mempunyai sifat physis bukanlah suatu kebutulan yang membuta, melainkan mempunyai tujuan (teleologi). Dengan ini Aristoteles mengkritik filsuf-filsuf atomis yang menganggap atom bergerak “membuta” ke segala arah tanpa tujuan.
Bagi Aristoteles mustahil segala sesuatu berlangsung tanpa tujuan. Setiap hal benda/peristiwa pasti mempunyai penyebab timbulnya final atau tujuan.

5) Kosmologi
    Dua wilayah jagad raya yang pertama yaitu bulan, planit-planit, bintang-bintang, anasir tunggai (aether) dan bumi yang dibagi menjadi 2 yaitu badan tunggal (terdiri dan satu anasir) dan badan majemuk (lebih dan satu anasir). Jagad raya bersifat azali dan abadi. Jagad raya berbentuk bundar dan ada batasnya. Bumi juga bundar dan tetap “diam” dalam pusat jagad raya (geosentris).
Setiap yang bergerak, menerima gerak dari sesuatu yang lain. Begitulah, menggerakkan dan digerakkan ini berantai terus menerus. Akan tetapi mustahil bahwa “gerak menggerakkan ini” tak terhingga. Maka pasti ada “penggerak pertama” suatu penggerak yang tidak digerakkan (unmoved mover). Karena jagad raya bersifat azali — abadi, maka harus dikatakan bahwa “penggerak pertama” juga azali-abadi. Ia tidak bersifat jasmaniah. inilah yang dimaksud dengan Tuhan.

f. Fisika
  1) Kajian fisika
    Gerak dibagi menjadi 2 yaitu gerak yang dipaksa dan gerak spontan/ alamiah.
Dalam gerak spontan/alamiah dibagi menjadi 2 yaitu gerak substansial: sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dan gerak aksidental: sesuatu menjadi lain.
Sedangkan kajian fisika Aristoteles adalah gerak spontan/alamiah, harus difahami, bahwa yang dimaksud “gerak” bukan sekedar “pergeseran”, akan tetapi segala macam perubahan.
Jalan keluar perdebatan Heraklitos dan Parmenides Analisis gerak: Gerak tidak lain adalah peralihan dan potensi ke aktus. Jadi “yang ada” dapat dianalisis “yang ada menurut potensi” dan “yang ada menurut aktus”.

2) Hylemorfisme
    Paralel dengan potensi dan aktus Aristoteles juga membedakan antara “materi” dan “bentuk”. Segala “kejadian”, “peristiwa” (apapun di dunia ini tentu berupa “peristiwa”) adalah berpadunya materi dan bentuk. lstilah materi tidak hanya difahami dalam konteks benda-benda material.
Materi adalah azas realita yang masih dalam potensi. ltulah materi yang fundamental, yang pada dirinya belum ada “bentuk”. Akan tetapi pada dirinya ada potensi untuk menjadi aktual. Materi dan bentuk senantiasa “saling mengandaikan”, “saling membutuh-kan” bagi terwujudnya “suatu peristiwa”.

3) Empat penyebab:
    Tugas ilmu pengetahuan mencari penyebab. Tiap peristiwa disebabkan oleh 4 hal yaitu:
   1. penyebab efisien (efficient causa)
   2. penyebab final (final causa)
   3. penyebab material (matterial caussa)
   4. penyebab formal (formal causa)

g. Politik
    Manusia itu “zoon politikon” (mahluk yang hidup dalam polis yang menurut kodratnya membutuhkan orang lain bagi hidupnya). Kenyataan menunjukkan, bahwa manusia membutuhkan sesamanya, dan mulal persekutuan hidup terkecil (rumah tangga/keluarga) sampai persekutuan tertinggi (polis/negara). Keadaan saling membutuhkan dan saling mencukupi itulah yang mampu membuat polis “mandiri”.
Sedang tujuan polis/negara adalah agar manusia hidup dengan baik.

h. Tentang pengelolaan/pemerintahan Negara
   Pengelolaan/pemerintahan yang baik adalah yang berkiblat pada pemenuhan kebutuhan/kepentingan warganya, sedangkan yang buruk adalah yang berkiblat pada pemenuhan kepentingan pengelola/penguasa.
Berdasarkan jumlah personel penguasa dan sifat-sifatnya Arstoteles membagi tiga-tiga.
       Yang buruk                        Jumlah penguasa                             Yang baik
           Tirani                                  satu orang                                   monarkhi
        Oligarkhi                           beberapa orang                               aristokrasi
       Demokrasi                            banyak orang                                  politeia
Diantara yang baik, Aristoteles mengatakan yang ideal adalah politeia yaitu demokrasi demokrat, demokrasi dengan undang-undang dengan cara memilih wakil-wakil yang dianggap cakap untuk memerintah atau mengelola negara, yakni mereka yang mengerti “yang baik” bagi warga negaranya.

III. FILSAFAT HELLENISME DAN ROMAWI
      Filsafat Hellenisme adalah filsafat pada masa sesudah Aristoteles sampai kira-kira abad pertama masehi. Sebutan Hellenisme menunjukkan bahwa pada masa ini dikuasai oleh corak kebudayaan Yunani. Pada masa ini muncul berbagai aliran filsafat, yang sebagian bersifat etik dan yang lain bersifat religius. Dengan penekanan pada etika, filsafat periode ini dinilai agak menurun.
Hal ini karena pengaruh kekuasaan pemerintahan kekaisaran Romawi.
A. Epikurisme (EPIKUROS, 341 – 270 SM)

1. Ajaran Etika:
    Aliran ini bersifat etis dengan menekankan pada Kebahagiaan manusia, ketenangan batin (ataraxia) dan mencapai tujuan hidup manusia yang berupa kenikmatan atau kepuasan (hedone). Ketenangan batin dapat tercapai jika bebas dan tiga sumber ketakutan, yaitu: 1.takut pada murka dewa, 2. takut pada mati, 3. takut pada nasib.
Alasannya:
     1) Tidak perlu takut kepada murka dewa karena dewa tidak ikut campur dalam urusan dunia ini.
         Kehidupan ini digerakkan oleh atom-atom.
     2) Tidak perlu takut kepada mati, karena setelah mati, jiwanya larut ke dalam atom- atom.
         Setelah mati orang tak merasakan apa-apa.
     3) Tidak perlu takut pada nasib karena yang menguasai hidup dan perbuatan kita adalah kita
          sendiri.
          Nasib itu tidak ada.
2. Ajaran fisika; Atomik dan materialistik
    Dasar segala sesuatu adalah atom. Dalam jagad raya segala benda tersusun dari atom-atom, yang semuanya kekal dan tak terbatas. Jiwa atau tubuh halus juga merupakan atom dengan bentuk bulat dan licin.
3. Ajaran Logika: empirik : Sumber pengetahuan adalah pengalaman indera.
B. Stoisisme (ZENO 336 – 264 SM)

a. Nama:
    Nama stoa dari “stoa poikile” (gang diantara tiang-tiang), yaitu tempat penyebaran aliran ini.
b. Hubungan antar fisika, logika dan etika
    Fisika merupakan ladang dengan tumbuhannya, logika adalah pagarnya; dan etika merupakan buahnya
c. Ajaran fisika
   Hanya ada satu dunia, yaitu dunia pengalaman yang jasmani, sementara alam ini terdiri dari dua unsur, yaitu:
     1) yang pasif, berupa bahan atau materi.
     2) yang aktif, berupa akal/budi yang menjiwai materi. Dunia dikuasai logos, yaitu akal atau rasio
          ilahi. Keteraturan alam merupakan harmoni.
d. Ajaran teologi; alam sama dengan Tuhan
    Segala aturan berjalan alamiah (natural) yang bersumber dari hukum logos, sebagai nasib yang tidak dapat berubah. Tuhan juga sesuatu yang jasmaniah dan bersifat kebendaan. Kekuatan ilahi sama dengan kekuatan alam. Kejahatan itu tidak ada, kejahatan hanyalah semu, karena hanya dilihat dan satu sisi saja.
e. Ajaran Etika
    Manusia adalah bagian dari alam yang harmonis. Manusia harus harmonis atau selaras dengan dininya sendiri, yaitu dengan akalnya. Kebajikan adalah akal, budi yang lurus dan harmoni dengan alam. Aturan alam sebagai nasib harus diterima dengan suka cita agar bahagia.
Kebajikan yang tertinggi adalah kebijaksanaan kunci. Kunci kebijaksanaan adalah melepaskan segala rasa dan terbebas dan segala nafsu.

C. Skeptisisme (PYRRHO, 365 – 275 SM)

  a. Skepsis artinya ragu-ragu, dasar ajarannya adalah relativisme.
  b. Ajaran etikanya didasarkan pada logika berikut:
    Orang tidak bahagia karena pengetahuannya salah dan selalu tidak pasti.
Pengetahuan indera dan akal tidak ada yang pasti. Setiap dalil, hukum dan norma dapat sekaligus benar dan salah. Agar tidak banyak salah maka bertindaklah sesedikit mungkin.
Kebahagiaan dan kebaksanaan sebagai kunci ketenangan hidup dapat tercapai jika orang tidak berbuat dan mengambil keputusan. Sikap hidup yang harus diambil adalah meragukan segala sesuatu.

D. Neopythagorisme (Appolonius, Abad pertama SM)
  a. Ajarannya bersifat religius yang berbentuk eklektis, yakni pencampuran antara beberapa aliran pemikiran dan kepercayaan. Aliran ini diwarnai oleh ajaran Pythagoras, Plato, Aristoteles dan Stoa.
  b. Corak Pythagoras adalah prinsip bilangan
  c. Pengaruh dan Plato adalah dualisme jiwa-badan, dan terkurungnya jiwa dalam badan.
  d. Pengaruh dan Aristoteles ialah pembagian daya manusia yang terdiri dari:
    • daya rohani (nous)
    • daya akal (dianola)
    • daya pengamatan indrawi (aisthesis)
  e. Pengaruh dan Stoa adalah ajaran yang menyatakan bahwa tak ada perbedaan antara Ilahi dengan dunia benda. Bahwa dunia ini berasal dari jiwa-dunia sebagai “demiourgos” (sang tukang).

E. Neoplatonisme (Plotinus, 204 – 270 M)

  a. Aliran ini bercorak Platonis, karena banyak dipengaruhi oleh pandangan Plato, namun mempunyai bentuk baru (neo).
  b. Corak Platonis dalam dua hal:
    1) Dualisme Plato antara dunia ini dan dunia idea ditingkatkan ke arah kesatuan yang lebih tinggi,
        yaitu antara arus kehidupan di alam ini dengan “Yang llahi”.
   2) Dunia idea Plato sebagai wujud sejati, yang bersumber dan idea tertinggi, idea kebaikan, oleh
       Plotinus diberi bentuk baru dengan menempatkan Tuhan sebagai wujud tertinggi yang menjadi
       sumber segala wujud yang lain. Hubungan antara Tuhan, Yang liahi, dengan wujud Iainnya
       terjalin melalui proses “emanasi” (pancaran, pengaliran, pelimpahan).
c. Teori Emanasi
    Semua wujud mengalir dari Yang Ilahi, Tuhan Yang Maha Esa, secara bertahap dari tingkat tertinggi ke tingkat yang lebih rendah. Tahap-tahap emanasi adalah:
   1) Dari Tuhan Yang Esa (to Hen) mengalirlah nous (roh Ilahi).
   2) Dari nous mengaliriah jiwa dunia, termasuk jiwa manusia (psukhe) sebagai gambarannous.
   3) Dari jiwa dunia mengalinlah benda (me on), termasuk tubuh manusia.
d. Ajaran tentang manusia terdiri dari 3 substansi:
   1) Roh (nous), yang berkaitan dengan Yang Ilahi.
   2) Jiwa (psykhe) yang berupa kesadaran.
   3) Tubuh (soma).
e. Ajaran Etika
Tujuan hidup manusia ialah bersatu kembali dengan Tuhan, yang disebut “remanasi”,
dengan melalui 3 tahap:
    1) Berbuat kebajikan umum (virtues).
    2) Berfilsafah (kontemplasi, perenungan mendalam).
    3) Hidup mistik (persatuan dengan Tuhan).

Saturday, March 25, 2017

Apa itu Filsafat?

Pengertian Filsafat
➜ Etimologis, istilah “filsafat” (falsafah – Arab; Philosophy- Inggris) berasal dari bahasa Yunani
philosophia; terdiri dari kata philo yang berarti cinta, kekasih, sahabat, dan kata sophia yang berarti kebijaksanaan. Filsafat berarti cinta kebijaksanaan.
➜ Menurut para filsuf pra-Socrates (Thales, Anaximandres, Anaximenes, Herakleitos, Pythagoras, Parmenides): filsafat adalah ilmu yang berupaya memahami hakikat alam dan realitas ada dengan mengandalkan akal budi.
➜ Menurut Plato (427-347 SM)—murid Socrates: filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni.
➜ Menurut Aristoteles (384-322 SM)—murid Plato: filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab realitas yang ada serta yang mempelajari “ada sebagai ada” (being as being) dan “ada sebagaimana adanya” (being as such).

Asal Mula Filsafat
➧Apa saja yang menyebabkan manusia berfilsafat?
 1. Ketakjuban.
     Thaumasia (kekaguman, keheranan, ketakjuban) menjadi awal kelahiran filsafat.
Dalam ketakjuban, ada subyek yang takjub dan sesuatu yang menakjubkan.
Hanya manusia yang bisa takjub termasuk takjub pada dirinya.
 2. Ketidakpuasan.
     Sebelum filsafat, mitos yang menjelaskan fenomena kehidupan.
Tetapi, penjelasan itu tidak memuaskan karena manusia tidak pernah puas untuk terus menerus mencari penjelasan. Ketika manusia berusaha menjelaskan dengan rasio, lahirlah filsafat!
 3. Hasrat Bertanya.
     Ketakjuban dan ketidakpuasan melahirkan pertanyaan yang tak kunjung habis.
Selama manusia ada, pertanyaan selalu ada. Maka selama manusia ada, filsafat tetap ada!
 4. Keraguan.
     Manusia bertanya karena sesuatu tidak jelas atau belum terang!
Belum jelas berarti sudah tahu tetapi baru sedikit.
Inilah yang disebut keraguan yang membuat manusia perlu dan harus bertanya alias berfilsafat! (Spinoza:...sipakah yang dapat mengetahui bahwa sesuatu adalah pasti baginya, kalau dari mula-mula hal itu sudah tidak pasti baginya?)

Sifat Dasar Filsafat
➧Apa saja sifat dasar atau ciri-ciri berfilsafat?
1. Berpikir Radikal.
    Berfilsafat berarti berpikir radikal (radix: akar).
Berpikir radikal berarti berupaya menemukan akar terdalam seluruh realitas dan persoalan tanpa berhenti dan terpaku pada fenomena suatu entitas tertentu.
2. Mencari asas.
    Filsafat tidak mengacu pada bagian tertentu dari realitas melainkan keseluruhannya.
Yang dicari filsafat adalah asas paling hakiki dari keseluruhan realitas.
3. Memburu Kebenaran.
    Filsuf adalah pemburu kebenaran.
Kebenaran yang diburu adalah kebenaran hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dipersoalkan. Sekalipun demikian, kebenaran filsafati tidak pernah bersifat mutlak dan final melainkan yang terus bergerak menuju kebenaran yg lebih pasti!
4. Mencari Kejelasan.
    Filsafat lahir karena ada keraguan.
Karena itu, berfilsafat berarti berupaya mendapatkan kejelasan dan penjelasan mengenai keseluruhan realitas. Mengejar kejelasan berarti mengeliminir segala sesuatu yang tidak jelas, yang kabur, gelap bahkan yang serba rahasia dan berupa teka-teki. Filsuf mengejar kejelasan ,pengertian (clarity of understanding).
5. Berpikir rasional.
    Berpikir rasional berarti berpikir logis, sistematis dan kritis.
Berpikir logis berarti menggapai pengertian sesuai akal sehat dan sanggup menarik kesimpulan dan keputusan yang tepat dari premis- premis yang digunakan.

Cabang-Cabang Filsafat
➧Ada beberapa  versi pembagian cabang filsafat, namun secara umum, terdapat sepuluh cabang filsafat yang tergabung dalam 4 cabang induk (Hamersma, 1981).
I. Filsafat tentang Pengetahuan                                               ➽ Wilayah Epistemologi
🔼 Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)
🔼 Logika
🔼 Kritik Ilmu-ilmu (Filsafat Ilmu)
II. Filsafat Tentang Keseluruhan Kenyataan                             ➽ Wilayah Ontologi
 ◦ Metafisika Umum (Ontologi)
 ◦ Metafisika Khusus
 ◦ Teologi Metafisik (Teodise/ Filsafat Ketuhanan)
 ◦ Antropologi (Filsafat Manusia)
 ◦ Kosmologi (Filsafat Alam)
III. Filsafat Tentang Tindakan                                                     ➽ Wilayah Aksiologi
 🔼 Etika (Filsafat Moral)
 🔼 Estetika (Filsafat Seni)
IV. Sejarah Filsafat

Penjelasan Singkat Setiap Cabang Filsafat
1) Epistemologi.
    Disebut juga “pengetahuan tentang pengetahuan” atau teori-teori pengetahuan (theories of knowledge). Pertanyaan pokok: “bagaimana saya tahu bahwa saya tahu?” Suatu studi tentang asal usul, hakikat dan jangkauan pengetahuan.
2) Logika; studi tentang asas-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat dan sehat.
3) Kritik ilmu-ilmu atau filsafat ilmu.
    Studi tentang titik pangkal, metode, obyek, asumsi dan batas- batas ilmu pengetahuan.
4) Ontologi: pengetahuan tentang “semua pengada sejauh ada.” atau teori tentang “ada”
5) Teologi metafisika; studi tentang hakikat, ragam dan obyek kepercayaan agama.
6) Antropologi atau filsafat manusia; studi tentang manusia seutuhnya dari segala sudut secara rasional.
7) Kosmologi; studi tentang hakikat alam atau kosmos; asal-usul, kemajuan dan tujuan alam semesta.
8) Etika; studi tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap tindakan manusia.
9) Estetika; studi tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian kita atas berbagai bentuk seni; mengapa sesuatu dialami sebagai indah?
10) Sejarah filsafat; mengejar apa jawaban pemikir-pemikir zaman atas pertanyaan-pertanyaan dasariah manusia.
➭Pohom Filsafat


➭Aspek Geo-Kultur Filsafat


➭Periodisasi dan tokoh filsafat
Cara belajar Filsafat...
Sangat MUDAH mempelajari filsafat! Caranya?
1. Berfilsafat! Mempelajari filsafat bukan pertama-tama proses akumulasi pengetahuan melainkan latihan berpikir dan berpengetahuan mendalam, logis, sistematis, kritis.
Daripada mempelajari Socrates, berfilsafatlah bersama Socrates; ajukan pertanyaan lalu lalu jawab, tanya lagi, jawab lagi, tanya lagi...sampai tersisa pertanyaan!
2. Pelajari pokok pikiran dan ide para filsuf TETAPI dalam dialog dengan konteks sejarah pemikiran tersebut; alias dialog dg pemikiran sebelum dan setelahnya.
Filsafat adalah rangkaian pertanyaan dan jawaban maka berfilsafat berarti “masuk”, berada dan “tinggal” dalam “rangkaian pemikiran” tersebut!
3. Sebagaimana psikologi pembelajaran umumnya; belajarlah dari hal yang mudah ke hal yang lebih rumit. Dalam filsafat, kajian yang paling mudah adalah kajian historis perkembangan filsafat.
Kajian historis tersebut dapat dilakukan per tokoh atau per. tema

KESIMPULAN!
Belajar filsafat ilmu bukan pertama-tama belajar “tentang ilmu pengetahuan”
Melainkan belajar “tentang belajar ilmu pengetahuan!”

Mengapa perlu belajar FILSAFAT?

 Selamat Datang di Kelas Filsafat

Secara spontan, apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata FILSAFAT?

Quotes...
“The unexamined life is not worth living.” ― Socrates

“By all means marry; if you get a good
wife, you'll be happy. If you get a bad
one, you'll become a philosopher.” ― Socrates

“By all means marry; if you get a good
wife, you'll be happy. If you get a bad
one, you'll become a philosopher.” ― Socrates

“Strong minds discuss ideas, average minds
discuss events, weak minds discuss people.”
Socrates
Pernah berpikir begini?
➛ Filsafat itu ilmu yang maharumit...”njlimet” ...”bikin” susah diri.
➛ Filsafat itu ilmu yang mengawang- awang; tidak mendarat, tidak membumi; ilusi!
➛ Filsafat itu tidak praktis, tidak bisa “buat cari uang” dan cari pekerjaan
➛ Filsafat itu bisa membuat seseorang menjadi ATEIS, murtad atau sekurang- kurangnya meragukan agama!
➛ Filsafat itu menyebalkan; provokator, suka mempertanyakan hal yang sudah biasa!
FAKTANYA
➤Semua yang di dunia dan “nanti” tampak lebih mudah, menarik, terpahami, mudah dijelaskan jika telah terbiasa berfilsafat.
➤ Banyak pengalaman riil, sehari-hari, baru “jelas”dan bermakna setelah ditanyakan dengan berfilsafat; dan teori filsafat sering dikutip ‘di jalanan”; filsuf tak pernah terjebak ilusi!
➤ kebanyakan filsuf “laku” di mana-mana, dan terkenal, terkenang selalu, orang-orang “berutang budi” padanya.
➤ hampir semua pemuka agama manapun belajar dan berfilsafat!
➤ Tanpa filsafat, dunia ini MEMBOSANKAN!

Mengapa Berfilsafat? Belajar filsafat?
“Karena pada suatu saat Anda secara tidak sadar sudah bergelut dengan suatu permasalahan filsafat, yang dengan sendirinya menjadi bahan pemikiran Anda.”
Contoh:
1. Seorang neuropsikolog yang meneliti korelasi fungsi otak manusia dengan rasa sakit, kecewa,
dll, mulai sangsi, apakah “akal budi” sungguh berbeda dengan otak?
2. Seorang psikolog beraliran behaviorisme yang berhasil memprediksi perilaku manusia, mulai bertanya, adakah tindakan manusia yang dapat dikatakan “bebas”?
3. Seorang ibu yang bertekad mempertobatkan anaknya yang komunis, terpaksa harus membaca karya Karl Marx, Communist Manifesto
Jadi, pertanyaan bukan lagi haruskah kita menangani permasalahan filsafat, melainkan bagaimanakah caranya!

Apa itu permasalahan filsafat?
Seperti apakah ciri permasalahan filsafat itu?
#1 Berkaitan dengan ide-ide dasar
  ◦ Ide dasar: ide di mana bergantung kebenaran ide-ide lain yang spesifik.
  ◦ Ide dasar bersifat umum (cakupan semua) dan pervasif (meluas ke berbagai bidang)
#2 Berkaitan dengan kebenaran, makna dan hubungan logis antar ide dasar
#3 Tidak bersifat empiris langsung

Jadi...Filsafat itu tentang:
Finding answers to serious questions about ourselves and about the world we live in:

  ◦ What is morally right and wrong? And why?
  ◦ What is a good life?
  ◦ Does God exist?
  ◦ What is the mind?
  ◦ What is art?
  ◦ Is the world really as it appears to us?
  ◦ What can we know?
  ◦ ...and much, much more
  ◦ Questioning existing knowledge and intuitions to get closer to the truth
Lantas, Filsafat itu apa sih?
Secara praktis, filsafat dapat dipahami sebagai:
1. ‘Philosophy’ as an academic discipline
2. ‘Philosophy’ as a set of beliefs or worldview
3. ‘Philosophy’ as a study or inquiry


Filsafat semacam apa yang mau kita gapai
?
Philosophy as Rational Inquiry
Philosophy in this sense is (like definition 1, but unlike definition 2) an activity: it is something you do.
In particular, doing philosophy is using our rationality in trying to figure out the answers to difficult questions (related to any subject matter).

Apa relevansi telaah filsafat?
➭Semakin mandiri secara intelektual, lebih toleran terhadap perbedaan sudut pandang, dan semain membebaskan diri dari dogmatisme; karena luas dan mendalamnya kajian filsafat.
➭ Semakin berpikir kritis. Filsafat bukan sekadar meninjau ulang teori-teori, tetapi juga menilainya secara kritis.
➭ Inti filsafat adalah membentuk pemikiran, bukan sekadar mengisi kepala dengan fakta-fakta.

Apa saja yang Anda lakukan ketika mempelajari Filsafat?
Filsafat itu berbeda dengan berbagai bidang ilmu lain.
  ◦ To study philosophy you have to do philosophy
BELAJAR FILSAFAT BERARTI KITA HARUS BERFILSAFAT!
Kita menganalisis dan mengkritisi argumen-argumen yang sudah ada (We analyze and criticize existing arguments)
Kita menyusun argumen-argumen kita sendiri (We construct our own arguments)
  ◦ Tentu saja dengan dasar pemikiran yang lebih kuat.

Persiapkan diri belajar filsafat
1. Sikap batin:
  a) berani menguji keyakinan secara kritis;
  b) berani memberikan hipotesis dan tanggapan awal pada teori-teori filsafat sekonyol apa pun itu;
  c) menempatkan upaya pencarian kebenaran di atas kepuasan menang atau kalah;
  d) memisahkan kepribadian seseorang dari diskusi.
2. Berfilsafat itu keterampilan yang harus selalu dilatih; berlatihlah terus!
3. Kita belajar filsafat sekaligus berfilsafat.
4. Tidak hanya berpegang pada pendapat sendiri; belajar gagasan lain.
5. Jangan mencampuradukkan berfisafat dan praktek psikologi; melihat latar belakang psikologis seseorang.
6. Selalu memiliki dua sisi: kritis dan konstruktif; sampai pada insight.
7. Ukurlah juga, seberapa kuat kritik Anda; jangan sok yakin.


Mari Berfilsafat!
#1 The Tram Dilemma
An out of control tram will soon kill 5 people who are stuck on the track.
You can flick a switch to divert the tram to another track where only one person is stuck.
Should you flip the switch?
Should you kill one person to save five?
#2 Aborsi ...........Setuju?
#3 Euthanasia...........Setuju?

“Filsafat “tidak membuat roti”, namun filsafat dapat menyiapkan tungkunya, menyisihkan noda-noda dari tepungnya, menambah jumlah bumbu yang layak, dan mengangkat roti itu dari tungku pada saat yang tepat.
Jadi, tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta mengatur itu semua dalam bentuk yang sistematis.
Filsafat membawa kita pada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih baik.”
(Louis Kattsoff)

Wednesday, March 22, 2017

Psikologi Perkembangan

PSIKOLOGI
⏩ Psikologi adalah suatu ilmu yang mempelajari secara ilmiah tentang gejala-gejala jiwa atau tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan.
⏩ Psikologi merupakan ilmu tentang tingkah laku.
⏩ Pada hakekatnya tingkah laku manusia itu sangat luas, semua yang dialami dan dilakukan manusia merupakan tingkah laku. Objek ilmu psikologi sangat luas.
⏩ Perilaku:
➛ tampak (overt behaviour) &
➛ tidak tampak (covert behaviour)

PENGERTIAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Psikologi perkembangan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku individu dalam perkembangannya dan latar belakang yang mempengaruhinya.
⏩ Dalam ruang lingkup psikologi, ilmu ini termasuk psikologi khusus, karena psikologi perkembangan mempelajari kekhususan dari pada tingkah laku individu.

MANFAAT MEMPELAJARI PERKEMBANGAN MANUSIA
Manfaat mempelajari Psikologi Perkembangan
1) Untuk mengetahui tingkah laku individu itu sesuai atau tidak dengan tingkat usia/perkembangannya.
2) Untuk mengetahui tingkat kemampuan individu pada setiap fase perkembangannya
3) Untuk mengetahui kapan individu bisa diberi stimulus pada tingkat perkembangan tertentu.
4) Agar dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan-perubahan yang akan dihadapi anak.
5) Khusus bagi guru, agar dapat memilih dan memberikan materi dan metode yang sesuai dengan kebutuhan anak

PERIODISASI PERKEMBANGAN MANUSIA
1) Periodisasi berdasar biologis
2) Periodisasi berdasar psikologis
3) Periodisasi berdasar didaktis

1) PERIODISASI BERDASAR BIOLOGIS
⏩ Periodisasi atau pembagian masa-masa perkembangan ini didasarkan kepada keadaan atau proses biologis tertentu.
⏩ Pembagian Aristoteles didasarkan atas gejala pertumbuhan jasmani yaitu :
➛ antara fase satu dan fase kedua dibatasi pergantian gigi,
➛ antara fase kedua dengan fase ketiga ditandai dengan mulai bekerjanya kelenjar kelengkapan kelamin.
⏩ Fase-fase tersebut yaitu :
➛ Fase anak kecil : 0 – 7 th,
➛ Fase anak sekolah: 7 – 14 th
➛ Fase remaja : 14 – 21 th
2) PERIODISASI BERDASAR PSIKOLOGIS
⏩ Tokoh utama yang mendasarkan periodisasi ini adalah Oswald Kroch.
➛ masa-masa kegoncangan (trotz) sebagai dasar pembagian masa-masa psikologi perkembangan,
➛ masa kegoncangan merupakan keadaan psikologis yang khas dan dialami oleh setiap anak dalam masa perkembangannya.
⏩ Fase-fase tersebut yaitu:
➛ Dari lahir sampai masa “trotz”( kegoncangan) pertama: kanak-kanak awal.
➛ Trotz pertama sampai trotz kedua : masa sekolah.
➛ Trotz kedua sampai akhir remaja: masa kematangan
3) PERIODISASI BERDASAR DIDAKTIS
⏩ Mencakup sepanjang hidup manusia sesuai dengan hakikat perkembangan manusia yang berlangsung sejak konsepsi sampai mati dengan pembagian periodisasinya.
⏩ Tokoh dalam periodisasi didaktis:
➛ Elizabeth B. Hurlock
➛ Santrock

RUANG LINGKUP PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
⏩ Perkembangan manusia diyakini terjadi sejak masa konsepsi yaitu saat pertemuan sel telur dengan sel sperma. Masa konsepsi dipandang menjadi peletak dasar perkembangan manusia.
Fase perkembangan akan berakhir pada saat manusia meninggal.
⏩ Secara parsial, psikologi perkembangan dapat dipecah menjadi beberapa subdisiplin yaitu:
➛ perkembangan masa prenatal,
➛ perkembangan anak,
➛ Perkembangan remaja,
➛ perkembangan orang dewasa, dan
➛ gerontology (psikologi perkembangan yang mempelajari masa usia lanjut).
⏩ Ruang lingkup psikologi perkembangan adalah dimulai sejak masa konsepsi sampai manusia meninggal.





⏩ Hurlock (1996) membagi tahapan perkembangan menjadi sepuluh (10) fase:
    a. prenatal (masa konsepsi sampai melahirkan)
    b. neonatal (bayi baru lahir)
    c. bayi (0 tahun sampai 2 tahun)
    d. awal kanak-kanak (3 sampai 6 tahun)
    e. kanak-kanak akhir (7 sampai 10 tahun)
    f. puber (11 sampai 15 tahun)
    g. remaja (16 sampai 21 tahun)
    h. dewasa dini (22 sampai 40 tahun)
    i. dewasa madya (41 sampai 60 tahun)
    j. lanjut (61 tahun dan seterusnya)
⏩  Santrock (1999) membagi menjadi delapan fase :
    a. Masa prenatal dari konsepsi sampai bayi lahir
    b. Masa bayi (infancy) dari lahir sampai 18-24 bulan
    c. Masa kanak-kanak (early childhood) dari akhir masa bayi berakhir pada 5-6 tahun
    d. Masa anak-anak (masa sekolah/middle and late childhood) dari akhir masa kanakkanak sampai 
        11 tahun
    e. Remaja usia 11-18 tahun
    f. Remaja akhir masa anak-anak sampai 18-22 tahun
    g. Dewasa awal dari akhir masa remaja sampai 35 tahun
    h. Dewasa tengah baya dari 35 sampai 60 tahun
    i. Usia lanjut dari 60 tahun sampai meninggal

Proses-proses perkembangan:
   

Tuesday, March 21, 2017

Sejarah Kesehatan dan gangguan mental


 TIMELINE SEJARAH
Masa klasik ➨Abad pertengahan ➨ Modern
Sejarah kajian/ilmu kesehatan mental diawali dengan sejarah kajian /ilmu tentang Gangguan Mental.
Di Barat : dibagi menjadi tiga masa:
    ➬Masa Klasik – jaman Yunani  
        ➛demonologis
        ➛medis spekulatif
    ➬Masa Abad Pertengahan
    ➬Masa Modern


MASA KLASIK


SEJARAH: DEMONOLOGIS – TRADISI SUPERNATURAL

↺Kepercayaan terhadap roh, mahluk-mahluk halus, kekuatan magis, takhayul
↺Gangguan  jiwa dianggap Kesurupan makhluk halus
↺Terapi:
   ↪Threpening: lubangi kepala→roh halus keluar
   ↪Exorcism : ritual pengusiran roh halus
  
Yunani & Roma
  Kepercayaan masyarakat Yunani, bahwa gangguan mental disebabkan oleh pengaruh setan & dewa-dewa yg sedang marah.
Di Roma gangguan mental dianggap krn kerasukan roh jahat oleh perbuatan tukang tenung/tukang sihir. 

Asia & Afrika
    Masyarakat Cina, bhw fungsi normal & sehat diperoleh bila terjadi keseimbangan antara Yin & Yang (baik/buruk, laki laki/ peremp, gelap/terang, positif/negatif). Keluarga melindungi anggota keluarganya yg sakit & mencarikan dukun penyembuh.

Masy Palestina, Irak & Mesir, 
    gangguan mental adl kondisi kerasukan kekuatan supra natural seperti dewa, roh-roh halus/setan yang menghukum perbuatan dosa.

Masy Afrika,
   sakit mental disebabkan oleh kondisi alam, sehingga stigma sos relatif rendah & lebih toleran
terhadap penderita gangguan mental; dukun berperan besar dalam proses penyembuhan
melalui “terapi kelompok”, spt tarian, musik & transpersonal.


SEJARAH: MEDIS KLASIK –TRADISI BIOLOGIS

Hippocrates (461-377BC) :
 - otak sebagai pusat kesadaran, intelektual dan emosi
 - pikiran dan perilaku menyimpang merupakan penyakit otak

Teori humors, yaitu tiga macam cairan penting dalam diri manusia
→phlegm (lendir) → phlegmatic (lesu, lemah)
→black bile (empedu hitam)→ melancholia (sedih)
→blood (darah) → Sanguine (ceria, optimis)
→yellow bile (empedu kuning)→ Choleric (mudah marah)
INGAT : Teori Kepribadian Hippocrates

KLASIFIKASI HIPPOCRATES VS MODERN
 HIPPOCRATES MELETAKKAN DASAR KLASIFIKASI GANGGUAN JIWA MODERN

HIPOTESIS SOMATOGENIK: TRADISIBIOLOGIS

    Hippocrates mengawali pandangan ilmiah tentang hipotesis somatogenik.
Gangguan mental disebabkan ada sesuatu yang salah, yang terjadi pada soma atau tubuh dan akan menganggu pikiran dan perilaku.
Disebut juga: Tradisi Biologis.

ABAD PERTENGAHAN


Di Eropa: Pembantaian orang-orang abnormal karena dianggap sebagai  Witchcraft (tukang sihir)
-Dibakar
-Tes Mengapung: Kalau tenggelam bukan tukang sihir, kalau bisa mengapung tukang sihir-dibunuh.

Eropa
  Pada masa sebelum Renaissance perlakuan terhadap penderita gangguan mental sangat tak manusiawi, diperlakukan sebagai musuh gereja (dianggap sebagai tukang tenung/tukang sihir).
PENYIHIR

 Tradisi ilmiah Medis – Biologis dari Yunani dikembangkan oleh ilmuwan Muslim  di negara Islam → Avicienna (Ibnu Sina)
-Munculnya Assyllum (Rumah Orang Gila)
-Rumah Sakit Jiwa pertama di Bagdad

 MASA RENAISSANCE (1300-1700AN)
   Orang Barat belajar dari ilmuwan Muslim tentang gangguan jiwa.
Muncul Gerakan Reformasi dan Moral Therapy di Barat.
Revolusi Kesehatan
Mental I: Philip Pinel melepas rantai pasien dan memberikan terapi medis.

MASA MODERN

REVOLUSI KESEHATAN MENTAL
⇛Revolusi I 
 ⇒Phillipe  Pinel : Gangguan Jiwa = “Sakit”
   -Treatment Medis
⇛Revolusi II
 ⇒Freud : Gangguan Jiwa  = Sumber Psikologis
   -Treatment Psikologis/Terapi
⇛Revolusi III
 ⇒Gangguan Jiwa Bersumber Faktor Sosial
   -Intervensi  Komunitas

TRADISI MEDIS-BIOLOGIS MODERN
   Wilhelm Griesinger (1817-1868) dalam The pathology and therapy of psychic disorder → semua gangguan mental disebabkan oleh 
patologi otak.
Mulai abad-18
perlakuan thd pend gg mental lebih manusiawi memakai tritmen moral 
(dipelopori oleh Phillippe Pinel),
dilanjutkan dengan gerakan kesehatan mental
(dipelopori oleh Dorothea Dix)










TRADISI MEDIS BIOLOGIS MODERN

Emil Kraepelin (1856-1926)
-Gangguan jiwa karena brain pathology
-Mengembangkan Classification System



    Perkembangan lebih lanjut menghasilkan sistem klasifikasi diagnostik oleh Emile Kraeplin; teori kepribadian psikoanalisis oleh Sigmund Freud, berlanjut sampai ditemukan paradigma² baru sept 
behavioristik, humanistik, kognitif & pendekatan 
transpersonal
SIGMUNDFREUD
EMILEKRAEPL













TRADISI PSIKOLOGIS
➲Revolusi ke II
   Gangguan jiwa disebabkan oleh masalah psikologis
➲Muncul berbagai aliran
→Psikoanalisis,
→Behavioristic,
→Humanistic Transpersonal

TRADISI PSIKO-SOSIAL
-Revolusi III :
Gangguan jiwa disebabkan masalah psikologis dan terkait dengan masalah sosial
-Terapi komunitas

SEJARAH GERAKAN KESEHATAN MENTAL DI AMERIKA

Dorothea Dix (1802-1887):
→Dorothea Lynde Dix (April 4, 1802 – July 17,1887)
→Seorang Guru
→Mengampanyekan reformasi penanganan kegilaan.
→Hasil kerjanya dikenal dengan Mental Hygiene Movement
→Perawatan mental bagi semua orang yang membutuhkan terutama kaum tunawisma
→Reformasi rumah sakit jiwa

Clifford Beers (1876-1943)

→Clifford Whittingham Beers (March 30, 1876 – July 9, 1943)
→Seorang tokoh humanis Amerika yang mengabdikan hidupnya untuk studi dan pengembangan gerakan kesehatan mental.
→Dilahirkan di New Haven, Connecticut.
→Menyelesaikan pendidikan di Yale

→University, dan memulai karir profesionalnya pada perusahaan asuransi.
→Th 1900 Beers dirawat di RS Jiwa, didiagnosis manic-depressive, dari pengalamannya disimpulkan bahwa tritmen di RSJ sangat tidak manusiawi dan tidak efektif
→Setelah sembuh, Beers menulis otobigrafi dengan judul `A Mind that Found Itself' (1908), suatu bentuk protes terhadap perlakuan penderita gangguan jiwa.

MENTAL HEALTH SERVICES  

















1946 : WILLIAM C. MENNINGER

William Claire Menninger (October 15, 1899 – September 6, 1966) 

  William C. Menninger mempelopori “Group for the Advancement of Psychiatry.”  
Psikiatri tidak hanya fokus pada penyembuhan pasien tetap  lebih pada melakukan gerakan sosial utk mencegah munculnya gangguan mental pada orang normal
Tahun 1946 mendirikan the National Institute for Mental Health (NIMH)

1947: WHO
↻Tahun 1947 WHO mendefisinikan SEHAT sebagai “A state of complete physical, mental, and social well-being and not merely the absence of disease and infirmity.”
↻Tahun 1947 merupakan Gerakan the Mental
Health → Kesehatan Mental merupakantanggung jawab pemerintah

1955 : CMHCS
↻Gerakan Mental Health, fokus pada penelitian tentang mengubah perawatan penderita gangguan mental dari Rumah Sakit Jiwa menjadi pencegahan di komunitas The Community Mental Health Centers (CMHCs),

1963: PERKEMBANGAN DI AMERIKA
⇏Kennedy (‘63) Di Kongres-> Bold New Approach
Mencegah Gangguan Mental tidak hanya melalui pengobatan tetapi dengan tindakan preventif:
↪Memperkuat Masyarakat
↪Social Welfare
↪Membuat Program-2 Meningkatkan Kemampuan Masyarakat Untuk Menghadapi Dampak Lingkungan
↪Mendidik Masyarakat Dg Program-2
↪A New Type Of Health Facility

KESMEN DI AMERIKA.........
   Dalam perkembangannya di Amerika kemudian muncul tindakan aksi untuk Kesehatan mental:
↪Perawatan intensif penderita gangguan jiwa di community based clinics (puskesmas)
↪Meningkatkan pelayanan penderita gangguan jiwa dengan mengurangi peran RSJ
↪Mengembangkan pelayanan aftercare dan rehabilitasi
↪Mengembangkan program konsultasi oleh caregiver utk mendidik masyarakat
↪memperbanyak mental heatlh personpower tenaga2 nonprofesional

1970: CONSUMER AND FAMILY MOVEMENT
   Terinspirasi oleh Clifford Beers, pada tahun 1970-an banyak penderita gangguan jiwa yang sudah sembuh kemudian menulis riwayat hidupnya.
Sebagai protes terhadap pelayanan RSJ yang terfokus pada aspek medis saja.
Muncul Consumer and Family Movement
Baca artikel : Subandi (2010) Pemberdayaan pasien dan keluarga gangguan jiwa di Indonesia.