Analisa Kasus Perspektif Belajar (Sosial-Kognitif)


             

    “Seorang anak SD yang men’smack down’ temannya sendiri”

   Pada tahun 2006 booming sekali acara telivisi ‘smack down’  pada saat itu saya masih ingat betul teman-teman sebaya kami( teman sekoklah maupun teman bermain) sangat hobi melihat tayangan smack down yg ditayangkan sekitar pukul 21.00 dan kami sangat hobi bermain game smack down di rental ps.
   Hingga pada suatu hari ada kasus seorang anak SD yang men’smack down teman sekelasnya sendiri hingga harus dirawat di UGD ,korban kebetulan adalah adik kelas saya ketika duduk di kelas 5 sd.
   Pada contoh kasus diatas termasuk pada “PERSPEKTIF BELAJAR (SOSIAL-KOGNITIF)".
Teori kognitif sosial (Social Cognitive Theory) dikembangkan oleh Albert Bandura, 
Pada beberapa publikasinya, Bandura telah mengelaborasi proses belajar sosial dengan faktor-faktor kognitif dan behavioral yang memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial.
Teori ini sangat berperan dalam mempelajari efek dari isi media massa pada khalayak media di level individu.
    Teori Kognitif Sosial memberikan sebuah penjelasan tentang bagaimana perilaku bisa dibentuk melalui pengamatan pada model-model yang ditampilkan oleh media massa.  Efek dari pemodelan ini meningkat melalui pengamatan tentang imbalan dan hukuman yang dijatuhkan pada model, melalui identifikasi dari khalayak pada model tersebut, dan melalui sejauh mana khalayak memiliki efikasi diri tentang perilaku yang dicontohkan di media.  Meski berdasarkan bidang studi psikologi sosial, teori ini memeiliki efek yang kuat untuk pemahaman tentang efek kekerasan melalui media baik untuk anak-anak maupun orang dewasa dan juga pada perencanaan kampanye yang ditujukan untuk mengubah perilaku masyarakat melalui media.

    Dari kasus seorang anak yg melakukan tindak kekerasan(smack down) pada teman sekelasnya maka saya mencoba menganalisis sesuai dengan teori kognitif sosial, perilaku atau tindakan seorang anak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya lingkungan(termasuk media)  dan pengalaman . yang kedua faktor tersebut sangat berpengaruh pada pembentukan sifat,psikologis anak atau tindakan yang ia lakukan dalam kesehariannya.dari contoh kasus smack down ini, faktor media sangat mempengaruhi bagi tindakannya dan keagresifan.  Si anak yang masih dalam taraf operasional konkret  belajar langsung tentang “kekerasan” atau perilaku agresif dengan mengamati dan mencermati perilaku-perilaku tokoh (model) yang ada dalam tayangan “Smack Down”. Ia mempelajari segala hal tentang apa yang dilakukan dan terjadi dalam tayangan ”Smack Down”
dengan menirukannya (melalui proses imitasi perilaku model) dan sekaligus menerapkannya dalam bentuk permainan bersama teman-temannya. Si anak belum mampu atau tidak memiliki wawasan yang lebih luas untuk membedakan sebagian materi tayangan “Smack Down” mana yang hanya bersifat dramatisasi suatu adegan dan mana yang memang terjadi.

    Pada titik ini, peran guidance/guru/orangtua yang memiliki otoritas menjadi penting dalam proses pembelajaran yang benar terutama dalam memberikan informasi pembanding atau pemerluas wawasan yang memungkinkan teredamnya dampak yang buruk dan membahayakan. Dalam kasus ini adalah dampak buruk proses peniruan perilaku agresif pada anak akibat proses modeling terhadap tokoh-tokoh yang terlibat dalam tayangan sarat perilaku agresif, yakni tayangan “Smack Down”.
   Terlepas dari perdebatan soal apakah tayangan ”Smack Down” atau tayangan yang bermuatan semacam (seperti film laga) itu etis atau tidak, edukatif atau tidak,  maka proses belajar anak yang mengamati tayangan itu secara langsung dan bahkan melakukan imitasi atas apa yang ditayangkan dengan melakukan gerakan dan perilaku ”smack down” menyiratkan telah terjadinya atau berlangsungnya proses belajar yang efektif terhadap diri si anak (meskipun tidak bagus dari sisi pendidikan karena menimbulkan korban tewas dan meningkatnya perilaku agresif anak yang
merusak).
     Tayangan “Smack Down” di satu sisi telah berperan sebagai ‘Guru yang Agung,’   meminjam istilah yang diciptakan oleh William A. Ward, karena ia telah menginspirasi si anak yang menyaksikan tayangannya dengan berupaya menjadi seperti ‘jagoan’ sebagaimana yang ditayangkan.

 Dari kasus diatas kesimpulan saya adalah
•    Proses belajar anak terhadap perilaku agresif terjadi melalui proses modeling atau peniruan perilaku agresif tokoh yang ditayangkan dalam tayangan ”Smack Down” atau tayangan sejenis. Proses belajar anak terhadap agresivitas ini makin diperkuat ketika pengaruh orang tua/ guidance/ guru absen saat terjadinya proses belajar.
•    Peran orang tua/ guidance/ guru dalam ikut mempengaruhi dan memperluas cakrawala wawasan dan pengetahuan anak merupakan hal yang krusial bagi anak untuk dapat meredam perilaku agresif yang dipelajari melalui modeling tayangan ”Smack Down” atau tayangan sejenis.

  Sebagai penutup bagian kesimpulan, saya ingin menekankan bahwa belajar sendiri ternyata mengandung bahaya yang besar terutama bila proses belajar itu terjadi dan berlangsung melalui tayangan media televisi.  Apalagi jika proses belajar itu minim peran keterlibatan guru/guidance/orang tua sebagai sumber informasi pendamping si pembelajar (anak).

Comments

Popular posts from this blog

OTAK dan Pengaruhnya terhadap perilaku manusia

Struktur Otak & Fungsinya