Saturday, May 20, 2017

PUASA

Ahad, 21 Mei 2017/24 Sya'ban 1438
Brosur No. : 1855/1895/IF
Puasa



     Puasa, yang di dalam bahasa Al-Qur'an Ash-Shaum/Ash-Shiyaam adalah salah satu dari beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan oleh orang-orang beriman.

Firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Sumber: https://muslim.or.id/4439-tafsir-surat-al-baqarah-183-berpuasa-menggapai-takwa.html
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa seba-gaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
[QS. Al-Baqarah : 183]

1. Pengertian Ash-Shiyam (Puasa)
    Ash-Shiyam atau Ash-shaum menurut lughah/bahasa, artinya : "Menahan diri dari melakukan sesuatu".
Seperti firman Allah kepada Maryam :

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِصَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, Sesungguhnya aku telah bernadzar akan berpuasa karena Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seseorang manusiapun pada hari ini.
[QS. Maryam : 26]

Menurut Syara', ialah :

اَلاِمْسَاكُ عَنِ اْلاَكْلِ وَ الشُّرْبِ وَ غَشَيَانِ النّسَاءِ مِنَ اْلفَجْرِ اِلىَ الْمَغْرِبِ اِحْتِسَابًا للهِ وَ اِعْدَادًا لِلنَّفْسِ وَ تَهْيِئَةً لَهَا لِتَقْوَى اللهِ بِالْمُرَاقَبَةِ لَهُ وَ
تَرْبِيَةِ اْلاِرَادَةِ. تفسير المنار 2: 143
Menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh, mulai fajar hingga Maghrib, karena mengharap ridla Allah dan menyiapkan diri untuk bertaqwa kepada-Nya dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah dan mendidik kehendak.
[Tafsir Al-Manaar juz 2, hal. 143]
~
اَلاِمْسَاكُ عَنِ اْلاَكْلِ وَ الشُّرْبِ وَ اْلجِمَاعِ وَ غَيْرِهِمَا ِممَّا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ فِى النَّهَارِ عَلَى اْلوَجْهِ الْمَشْرُوْعِ. وَ يَتْبَعُ ذ?لِكَ اْلاِمْسَاكُ عَنِ اللَّغْوِ وَ الرَّفَثِ وَ غَيْرِهِمَا مِنَ اْلكَلاَمِ الْمُحَرَّمِ وَ الْمَكْرُوْهِ فِى وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ بِشُرُوْطٍ مَخْصُوْصَةٍ. سبل السلام 2: 150
Menahan diri dari makan, minum, jima' dan lain-lain yang telah diperintahkan syara’ kepada kita menahan diri padanya, sepanjang hari menurut cara yang disyariatkan. Disertai pula menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan keji/kotor dan lainnya dari perkataan yang diharamkan dan dimakruhkan pada waktu yang telah ditentukan serta menurut syarat-syarat yang telah ditetapkan. [Subulus Salaam juz 2, hal. 150]

Tegasnya : "PUASA", ialah : Menahan diri untuk tidak makan, minum termasuk merokok dan bersetubuh dari mulai Fajar hingga terbenam matahari pada bulan Ramadlan karena mencari ridla Allah.

2. Hukum Ash-Shiyam (Puasa)
    Wajib 'Ain, artinya setiap orang Islam yang telah baligh (dewasa) dan sehat akalnya serta tidak ada sebab-sebab yang dibenarkan agama untuk tidak berpuasa, maka mereka itu wajib melakukannya, dan berdosa bagi yang meninggalkannya dengan sengaja.

Firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.
[QS. Al-Baqarah : 183]

Dan hadits-hadits Rasulullah SAW :

بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ اَنْ لاَ اِل?هَ اِلاَّ اللهُ وَ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ اِقَامِ الصَّلاَةِ وَ اِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صِيَامِ رَمَضَانَ وَ حَجّ اْلبَيْتِ. البخارى و مسلم
Islam didirikan atas lima sendi, yaitu 1. Mengakui bahwa tak ada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad pesuruh Allah, 2. Mendirikan Shalat, 3. Menunaikan zakat, 4. Berpuasa Ramadlan dan 5. Berhajji.
[HR. Bukhari dan Muslim]
~
اِنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ ص فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَخْبِرْنِى عَمَّا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصّيَامِ ! قَالَ: شَهْرُ رَمَضَانَ. قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ ؟ قَالَ: لاَ. اِلاَّ اَنْ تَطَوَّعَ. متفق عليه عن طلحة بن عبيد الله
Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, saya mohon diterangkan tentang puasa yang diwajibkan oleh Allah kepada saya". Nabi SAW menjawab, "Puasa di bulan Ramadlan". Orang itu bertanya pula, "Adakah puasa yang lain yang diwajibkan atas diri saya ?". Jawab Nabi SAW, "Tidak, kecuali bila engkau hendak mengerjakan tathawwu' (puasa sunnah). [HR. Muttafaq 'Alaih dari Thalhah bin 'Ubaidillah]

3. Yang wajib berpuasa
Ketentuan-ketentuan orang yang berkewajiban menjalankan puasa di bulan Ramadlan :
a. Orang Islam, tidak diwajibkan selain orang Islam.
b. 'Aqil baligh (dewasa), bukan anak-anak.
c. Sehat.
d. Muqim (berada di daerah tempat tinggalnya/daerah iqomahnya), bukan sebagai musafir.
e. Kuat, yakni tidak memaksakan diri karena sangat berat dan payah bila berpuasa.
f. Khusus bagi wanita pada waktu suci, artinya tidak sedang haidl atau nifas.

4. Yang membatalkan puasa Sepanjang tuntunan Allah dan Rasul-Nya hal-hal yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut :

Firman Allah SWT
dalam surat Al-Baqarah ayat 187,

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصّيَامِ الرَّفَثُ اِلى? نِسَآءِكُمْ، هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَ اَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ، عَلِمَ اللهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَ عَفَا عَنْكُمْ، فَلْئ?نَ بَاشِرُوْهُنَّ وَ ابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ، وَ كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا حَتّ?ى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلاَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلاَسْوَدِ مِن َاْلفَجْرِ، ثُمَّ اَتِمُّوا الصّيَامَ اِلىَ الَّيْلِ ... البقرة: 187
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu pakaian bagimu, dan kamupun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi keringanan kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu Fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam ..... .
[QS. Al-Baqarah: 187]

Dari ayat tersebut dapat diambil pengertian bahwa yang membatalkan puasa itu ialah :
a. Bersetubuh suami-isteri dengan sengaja dan dilakukan pada saat puasa (dari mulai masuk waktu
    Shubuh hingga masuk waktu Maghrib), padahal mereka termasuk orang yang berkewajiban puasa.
    Dan yang dimaksud dengan "bersetubuh", ialah masuknya kemaluan laki-laki/suami pada
    kemaluan wanita/istri. Jadi baik mengeluarkan mani maupun tidak, hukumnya tetap sama. Karena
    tidak adanya ayat-ayat lain maupun hadits-hadits yang membatasi, bahwa yang dimaksud
    "bersetubuh" adalah yang mengeluarkan mani, maka ayat itu tetap berlaku sesuai dengan
     keumuman lafadhnya.
b. Makan dengan sengaja, baik makanan yang mengenyangkan atau tidak.
c. Minum, baik yang menghilangkan haus atau tidak, termasuk merokok.

5. Yang boleh tidak berpuasa dan wajib mengganti di hari-hari yang lain :
  a. Orang yang sakit, yang apabila ia tetap berpuasa akan menambah berat atau akan memperlambat 
      kesembuhan sakitnya, sedang sakitnya itu dapat diharapkan kesembuhannya (bukan sakit yang
      menahun atau sakit yang kronis dan terus-menerus sehingga sulit diharapkan kesembuhannya).
  b. Musafir, ialah : Orang yang sedang bepergian keluar dari daerah iqomahnya, baik dengan
      perjalanan yang berat dan sukar maupun dengan ringan dan mudah; kesemuanya diperbolehkan
      untuk tidak berpuasa dan berkewajiban mengganti di hari yang lain.

Berdasarkan firman Allah :
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلى? سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ. البقرة: 184
Dan barangsiapa diantara kamu yang sakit atau dalam bepergian (musafir) ~maka bolehlah ia berbuka~ dan mengganti di hari-hari yang lain (sebanyak yang ditinggalkannya).
[QS. Al-Baqarah : 184].
~
وَ مَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلى? سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ. البقرة: 185
Dan barangsiapa yang sakit atau dalam bepergian (musafir) ~maka bolehlah ia berbuka~ dan mengganti di hari-hari yang lain (sebanyak yang ditinggalkannya).
[QS. Al-Baqarah : 185].

Keterangan : Tentang berapa kilometer jauhnya seseorang disebut sebagai musafir itu tidak ada penjelasan yang tegas dari Nabi SAW, namun yang jelas beliau bepergian dari Madinah ke Makkah, ketika baru sampai di Dzul Hulaifah beliau sudah mengqashar shalat, sedangkan jarak dari Madinah sampai Dzul Hulaifah itu kira-kira 6 mil (kira-kira 12 km) 6.

Batas waktu mengganti Tidak ada ketentuan dalam agama tentang batas waktu mengganti puasa yang ditinggalkan. Dapat dilaksanakan pada bulan-bulan sesudah selesai Ramadlan tahun itu atau bulan-bulan sesudah Ramadlan tahun berikutnya. Tegasnya selama ia masih hidup, kapanpun boleh, tanpa menambah fidyah atau melipat gandakan puasanya (misalnya hutang satu hari diganti dua hari dan sebagainya). Hanya sebaiknya segera diganti.

7. Yang boleh tidak berpuasa dan hanya mengganti fidyah tanpa harus mengganti puasa di hari yang lain.
Yaitu : Orang-orang yang bila dipaksakan untuk berpuasa masih dapat, tetapi sungguh amat payah sekali dalam melaksanakannya. Perhatikan Firman Allah:
وَ عَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَه فِدْيَةٌ ... البقرة: 184
Dan terhadap orang-orang yang bisa berpuasa tetapi dengan susah payah (boleh tidak berpuasa), wajib membayar fidyah.
[QS. Al-Baqarah : 184]

    Ayat tersebut umum, maka siapa saja yang walaupun mampu berpuasa tetapi dengan amat payah (rekoso) dalam menjalankannya, maka termasuk yang dimaksud oleh ayat di atas, misalnya :
a. Wanita yang sedang hamil yang bila berpuasa dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan pada
   dirinya dan/atau anak yang dikandungnya.
b. Wanita yang sedang menyusui, baik anaknya sendiri maupun anak orang lain yang diserahkan
   kepadanya untuk disusui, yang bila dipaksakan untuk berpuasa akan sangat berat bagi dirinya
  dan/atau bagi anak yang sedang disusuinya itu.

Rasulullah SAW bersabda :
اِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنِ اْلمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَ عَنِ اْلحُبْلَى وَ اْلمُرْضِعِ الصَّوْمَ. احمد عن انس بنمالك الكعبى
Bahwasanya Allah SWT telah membolehkan bagi musafir meninggalkan puasa dan mengqashar shalat, dan Allah telah membolehkan perempuan hamil dan yang sedang menyusui meninggalkan puasa.
[HR. Ahmad dari Anas bin Malik Al-Ka'bi].

Dan riwayat dari Ibnu Abbas RA. tentang istrinya yang sedang hamil, katanya :

اَنْتِ ِبمَنْزِلَةِ الَّذِى لاَيُطِيْقُهُ فَعَلَيْكِ اْلفِدَاءُ وَ لاَ قَضَاءَ عَلَيْكِ. البزار وصححه الدارقطنى
Engkau sekedudukan dengan orang yang amat payah untuk berpuasa. Maka wajib atasmu fidyah dan tidak ada qadla' bagimu.
[HR. Al-Bazzar dan dishahihkan oleh Ad-Daraquthni]

Serta riwayat dari Ibnu 'Umar ketika beliau ditanya oleh seorang wanita Quraisy yang sedang hamil tentang hal puasanya, maka jawab beliau :
 اَفْطِرِى وَ اَطْعِمِى كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَ لاَ تَقْضِى. ابن حزم
Berbukalah kamu dan berilah makan tiap hari seorang miskin, dan jangan mengqadla'nya.
[HR. Ibnu Hazm].
c. Orang yang lanjut usia/orang tua yang apabila berpuasa akan sangat memayahkannya.
Berdasarkan keumuman ayat (Surat Al-Baqarah ayat 184) dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas sebagai berikut :
 رُخّصَ لِلشَّيْخِ اْلكَبِيْرِ اَنْ يُفْطِرَ وَ يُطْعِمَ وَ لاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ. الدارقطنى والحاكم
Orang yang sangat tua, dibenarkan untuk berbuka dan wajib memberikan (fidyah) serta tidak ada qadla' atasnya.
[HR. Ad-Daraquthni dan Al-Hakim].
d. Orang yang pekerjaannya sangat berat, yang bila tetap berpuasa walaupun ia kuat akan sangat berat dan memayahkannya. Misalnya : Pengemudi becak, pekerja tambang, karyawan-karyawan pengangkat barang di stasiun, terminal, pelabuhan dan sebagainya.
e. Orang yang sakit menahun yang (menurut ahli kesehatan) sulit diharapkan sembuhnya, atau walaupun sembuh tetapi memakan waktu yang lama sekali.
f. Siapa saja yang karena kondisi badannya atau sebab-sebab lain akan amat berat sekali bila berpuasa, walaupun bila dipaksa akan kuat juga. Untuk nomor d), e) dan f), ini pun dasarnya adalah keumuman lafadh dari ayat 184 surat Al-Baqarah diatas.
Semua yang tersebut diatas, boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah tanpa harus mengganti puasa di hari yang lain.

8. Yang wajib untuk tidak berpuasa dan wajib mengganti dengan puasa di hari yang lain.

Yaitu khusus bagi wanita yang sedang haidl atau nifas.

Berdasar riwayat :

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كُنَّانَحِيْضُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَ لاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ. الجماعة عن المعاذة
Dari 'Aisyah, bahwa ia berkata, "Adalah kami haidl dimasa Rasulullah SAW maka kami diperintahkan supaya mengqadla’ (mengganti) puasa dan kami tidak diperintahkan mengqadla’ shalat".
[HR. Al-Jama'ah dari Al-Mu'adzah]
'~
                                                                           اَلَيْسَ اِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلّ وَ لَمْ تَصُمْ؟ فَذلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا. البخارى
Dari Abu Sa'id (Al-Khudriy) RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, "Bukankah apabila seorang wanita itu haidl, ia tidak shalat dan tidak berpuasa ? Itulah dari kekurangan agamanya".
[HR. Bukhari juz 2, hal. 239]
~
1. Pengertian Sahur
   Sahur, ialah makanan yang dimakan pada waktu sahar. Sahar menurut bahasa ialah "Nama bagi akhir suku malam dan permulaan suku siang". Lawannya ialah : Ashil, akhir suku siang.
Menurut Az-Zamakhsyari, dinamai waktu Sahar dengan Sahar karena ia adalah waktu berlalunya malam dan datangnya siang. Dengan demikian, jelaslah bahwa Sahar bukanlah satu atau dua jam sebelum terbit fajar, namun yang dimaksud adalah nama waktu pergantian siang dan malam. Jadi apabila kita makan pada jam 24.00 (jam 12 malam) atau sedikit setelah itu tidaklah dapat dinamakan "Bersahur (mengerjakan makan Sahur)".

Adapun yang dinamakan makan Sahur adalah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW pada riwayat di bawah ini :
 عَنْ اَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص : ثُمَّ قُمْنَا اِلىَ الصَّلاَةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: قَدْرَ خَمْسِيْنَ ايَةً. احمد و البخارى و مسلم
Dari Anas dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, "Kami pernah bersahur bersama Rasulullah SAW kemudian kami mengerjakan shalat (Shubuh)". Aku (Anas) bertanya kepada Zaid. "Berapa tempo antara keduanya ?". Zaid menjawab, "Sekadar membaca 50 ayat Al-Qur'an".
[HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].

2. Hikmah Sahur
 اَلسَّحُوْرُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَ لَوْ اَنْ يَجْرَعَ اَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَاِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى اْلمُسَحّرِيْنَ. احمد
Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa'id bahwa Nabi SAW bersabda :
Sahur itu suatu berkah. Maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang yang bersahur. [HR. Ahmad]

    Diriwayatkan oleh Muslim dari 'Amr bin 'Ash bahwa Rasulullah SAW bersabda:

 فَصْلُ مَابَيْنَ صِيَامِنَا وَ صِيَامِ اَهْلِ اْلكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ. مسلم                                                                                        
Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab ialah makan sahur.
[HR. Muslim].

3. Keraguan tentang waktu Sahur
    Bila seseorang ragu apakah telah habis waktu ataukah belum, maka ia diperbolehkan makan dan minum hingga nyata-nyata baginya bahwa waktu sahur telah habis dan masuk waktu shubuh.

Firman Allah :
 وَ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ اْلفَجْرِ. البقرة:187
Dan makanlah, minumlah, sehingga nyata kepadamu benang putih dari pada benang hitam yaitu Fajar.
[QS. Al Baqarah : 187]
Dari ayat di atas jelaslah bahwa Allah memperkenankan makan dan minum, sehingga nyata benar terbitnya Fajar.

4. Adab Berbuka Apabila sudah tiba waktunya dianjurkan untuk segera berbuka :
Dari Sahl bin Sa'ad RA. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,
 لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا اْلفِطْرَ. احمد والبخارى ومسلم وابوداود
"Senantiasalah hamba itu dalam kebaikan apabila mereka menyegerakan berbuka".
[HR. Muslim juz 2, hal. 771].
'~
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda
 يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ:اِنَّ اَحَبَّ عِبَادِى اِلَيَّ اَعْجَلُهُمْ فِطْرًا. الترمذى
Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Yang paling Ku-sayangi dari hamba-hamba-Ku ialah yang paling segera berbuka".
[HR. Tirmidzi juz 2, hal. 103, no. 696, ]

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dari Anas bin Malik, katanya :

 مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص قَطُّ صَلَّى صَلاَةَ اْلمَغْرِبِ حَتَّى يُفْطِرَ وَ لَوْ عَلَى شُرْبَةِ مَاءٍ. ابن عبد البر عن انس بن مالك
Tidak pernah aku melihat walau sekali Rasulullah SAW shalat Maghrib lebih dahulu sebelum berbuka, walaupun hanya dengan seteguk air.
[HR. Ibnu ‘Abdil Barr dari Anas bin Malik]

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi dari Anas, sbb :

 عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ اَنْ يُصَلّىَ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ. ابوداود و احمد و الترمذى
Dari Anas bin Maalik, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW berbuka dengan kurma basah sebelum shalat (Maghrib), jika tidak ada kurma basah, maka beliau berbuka dengan kurma kering, dan jika tak ada kurma kering, beliau menyendok beberapa sendok air.
[HR. Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi]
~
 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُحِبُّ اَنْ يُفْطِرَ عَلَىثَلاَثِ تَمَرَاتٍ اَوْ شَىْءٍ لَمْ تُصِبْهُ النَّارُ. ابو يعلى عن انس                                              
Adalah Rasulullah SAW suka berbuka puasa dengan tiga biji korma atau sesuatu yang tidak dimasak dengan api.
[HR. Abu Ya'la dari Anas]

Rasulullah SAW bersabda :
 اِذَا اَفْطَرَ اَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ، فَاِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَاِنَّهُ طَهُوْرٌ. ابو داود و الترمذى عن سليمان بن عامر
Apabila seseorang diantara kalian berbuka, maka hendaklah ia berbuka dengan korma. Jika ia tidak memperoleh korma, hendaklah ia berbuka dengan air, karena air itu bersih dan membersihkan.
[HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Sulaiman bin 'Amir]

Kesimpulan :
Hadits-hadits di atas menerangkan kepada kita, bahwa apabila kita berbuka puasa maka disunnahkan untuk :
1. Menyegerakan berbuka.
2. Sebelum shalat Maghrib kita berbuka dahulu walaupun dengan seteguk air.
3. Berbuka dengan tiga biji korma, bila tidak ada, dengan sesuatu makanan yang manis dan tidak
   dimasak dengan api. Seperti : pisang, kates, nanas dan lain-lain.
4. Bila tidak ada buah-buahan maka disunatkan kita untuk berbuka dengan air.
5. Dan dikala berbuka dituntunkan untuk membaca do'a sebagai berikut :

 ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ. ابوداود2: 306،عن ابن عمر
Haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapatkan. Insya Allah.
[HR. Abu Dawud juz 2, hal. 306, no. 2357, dari Ibnu Umar]

Tentang doa berbuka puasa
Ada bermacam-macam doa berbuka puasa, diantaranya sebagai berikut :

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Alloohumma laka shumnaa wa ‘alaa rizqika afthornaa fataqobbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim (Ya Allah, untuk-Mu kami berpuasa, dan atas rizqi-Mu kami berbuka, maka terimalah (ibadah) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)”.
[HR. Daraquthni juz 2, hal. 185 no. 26, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi ‘Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah]
~
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (Untuk-Mu aku berpuasa, dan atas rizqi-Mu aku berbuka, maka terimalah ibadahku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)”.
[HR. Thabarani dalam Al-Kabir juz 12, 14 hal. 113, no. 12720, dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah, ia dlaif]
~
Bismillah, Alloohumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthortu (Dengan nama Allah. Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizqi-Mu aku berbuka).
[HR. Thabarani, dalam Al-Ausath hadits no. 7547, dalam sanadnya ada perawi bernama Dawud bin Zabraqan, ia dlaif – Majma’uz Zawaaid juz 3, hal. 279]
~
Dari Mu’adz RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Alhamdu lillaahil-ladzii a’aananii fa shumtu wa rozaqonii fa-afthortu (Segala puji bagi Allah yang telah menolongku, sehingga aku berpuasa dan telah memberi rizqi kepadaku, maka aku berbuka)”. [HR. Ibnu Sunni hal. 169, no. 479, sanadnya dlaif, karena di dalamnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya]
~
Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya bahwa Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Alloohumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthortu (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rizqi-Mu aku berbuka puasa)”.
[HR. Abu Dawud juz 2,hal. 306, no. 2358, hadits tersebut mursal, karena Mu’adz bin Zuhrah tidak bertemu Nabi SAW]
'~
 عَنِ ابْنِ اَبِى مُلَيْكَةَ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةٌ مَا تُرَدُّ، قَالَ ابْنُ اَبِى مُلَيْكَةَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُوْلُ اِذَا اَفْطَرَ: اَللّهُمَّ اِنّى اَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَ لِى. ابن ماجه 1: 55?، رقم  1?53 حسن

Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata : Saya mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu ketika berbuka ada doa yang tidak akan ditolak”. Ibnu Abi Mulaikah berkata : Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr apabila berbuka puasa berdoa, “Alloohumma innii as-aluka birohmatikal-latii wasi’at kulla syai-in an taghfiro lii (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rohmat-Mu yang luas meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni aku)”.
[HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 557, no. 1753, hadits hasan]
~
 عَنْ مَرْوَانَ يَعْنِى ابْنَ سَالِمِ الْمُقَفَّعِ قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَ عَلَى اْلكَفّ وَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ الله ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ. ابو داود 2: 306، رقم 235?، حسن

Dari Marwan, yakni bin Salim Al-Muqaffa’, ia berkata : Aku melihat Ibnu ‘Umar RA memegang jenggotnya, lalu memotong yang lebih dari 16 genggaman tangannya. Ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, “Dzahabadh-dhoma-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru, insyaa-allooh (Haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapat, insyaa-allooh).
[HR. Abu Dawud juz 2, hal. 306, no. 2357, hadits hasan]

Keterangan :
    Dari riwayat-riwayat di atas bisa kita ketahui bahwa yang derajatnya hasan adalah riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Abi Mulaikah dan riwayat Abu Dawud dari Marwan bin Salim. Namun pada riwayat Ibnu Abi Mulaikah di atas, doa tersebut adalah lafadhnya Ibnu ‘Amr. Adapun pada riwayat Abu Dawud tersebut lafadh doa itu dari Nabi SAW. Dengan demikian kita ketahui bahwa doa berbuka puasa yang paling kuat riwayatnya adalah yang diriwayatkan Abu Dawud dari Marwan bin Salim dari Ibnu ‘Umar (Dzahabadh-dhoma-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru, insyaa-allooh).
~
~oO[ @ ]Oo~

Kewajiban Suami Terhadap Istri

Ahad, 29 Nopember 1998/10 Sya'ban 1419
Brosur No. : 958/998/IA
  Al-Akhlaqul Karimah (ke 29)



Kewajiban Suami Terhadap Istri

     Suami adalah pemimpin dan pelindung bagi istrinya, maka kewajiban suami terhadap istrinya ialah mendidik, mengarahkan serta memengertikan istri kepada kebenaran. Kemudian memberinya nafqah lahir-bathin, mempergauli serta menyantuninya dengan baik.

Firman Allah SWT :


اَلرّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلى بَعْضٍ وَّ بِمَا اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِـهِمْ. النساء:34

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafqahkan sebagian dari harta mereka ....
[QS. An-Nisaa' : 34]
~
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَ اْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ. التحريم:6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
[QS. At-Tahrim : 6]
~
وَ أْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلوةِ وَ اصْطَبِرْ عَلَيْهَا، لاَ نَسْأَلُكَ رِزْقًا، نَحْنُ نَرْزُقُكَ، وَ اْلعَاقِبَةُ لِلتَّقْوى. طه:132

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu, Kami lah yang memberi rezqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa.
[QS. Thaahaa : 132]
~
وَ عَلَى اْلمَوْلُوْدِ لَه رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلاَّ وُسْعَهَا. البقرة:233

Dan bagi ayah berkewajiban memberi nafqah dan memberi pakaian kepada ibu (dan anaknya) dengan cara yang ma'ruf. Seseorang tidak dibebani kecuali sekedar kesanggupannya.
[QS. Al-Baqarah : 233]
~
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مّنْ سَعَتِه، وَ مَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُه فَلْيُنْفِقْ مِمَّا اتيهُ اللهُ، لاَ يُكَلّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ مَا اتيهَا، سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا. الطلاق:7

Hendaklah orang yang mampu memberi nafqah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezqinya hendaklah memberi nafqah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [QS. Ath-Thalaaq : 7]
~
يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلمَحِيْضٍ، قُلْ هُوَ اَذًى فَاعْتَزِلُوا النّسَآءَ فِى اْلمَحِيْضِ، وَ لاَ تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّى يَطْهُرْنَ، فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللهُ، اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَ يُحِبُّ اْلمُتَطَهّرِيْنَ. نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ، فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّى شِئْتُمْ، وَ قَدّمُوْا ِلاَنْفُسِكُمْ، وَ اتَّقُوا اللهَ وَ اعْلَمُوْآ اَنَّكُمْ مُلقُوْهُ، وَ بَشّرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ. البقرة:222-223

Mereka bertanya kepadamu tentang haidl. Katakanah : "Haidl itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haidl, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri". Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah khabar gembira orang-orang yang beriman.
[QS. Al-Baqarah : 222-223]
~
وَ عَاشِرُوْهُنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ، فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَّ يَجْعَلَ اللهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا. النساء:19

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Dan bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bershabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
[QS. An-Nisaa' : 19]
~
وَ لَـهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ وَ لِلرّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ. البقرة:228

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu derajat kelebihan dari pada istrinya.
[QS. Al-Baqarah : 228]
~
Dan sabda Rasulullah SAW :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. َاْلاِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَ الرَّجُلُ رَاعٍ فِى اَهْلِهِ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَ اْلمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا وَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا. وَ اْلخَادِمُ رَاعٍ فِى مَالِ سَيِّدِهِ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. وَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. متفق عليه

Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemim-pinannya. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam menjaga harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan masing-masing dari kamu sekalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.
[HR. Bukhari dan Muslim]
~
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ حَيْدَةَ رض قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ اَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: اَنْ تُطْعِمَهَا اِذَا طَعِمْتَ وَ تَكْسُوَهَا اِذَا اكْتَسَيْتَ وَ لاَ تَضْرِبِ اْلوَجْهَ وَ لاَ تُقَبِّحْ وَ لاَ تَهْجُرْ اِلاَّ فِى اْلبَيْتِ. ابو داود، جديث حسن

Dari Mu'awiyah bin Haidah RA, ia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, apa yang menjadi haknya istri atas suaminya ?". Rasulullah SAW bersabda, "Kamu memberinya makan apabila kamu makan, kamu memberinya pakaian apabila kamu berpakaian, jangan memukul muka, janganlah kamu menjelek-jelekkannya dan janganlah kamu meninggalkannya kecuali di dalam rumah".
[HR. Abu Dawud]
~
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَمْعَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يَجْلِدْ اَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ اْلعَبْدِ. البخارى

Dari 'Abdullah bin Zam'ah, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "Janganlah seseorang diantara kamu memukul istrinya sebagaimana memukul seorang hamba".
[HR. Bukhari]
~
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: كَفَى بِاْلمَرْءِ اِثْمًا اَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ. ابو داود

Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash RA, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "Cukuplah bagi seseorang itu berdosa, apabila ia mengabaikan orang yang makan dan minumnya menjadi tanggungannya".
[HR. Abu Dawud]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: دِيْنَارٌ اَنْفَقْتَهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَ دِيْنَارٌ اَنْفَقْتَهُ فِيْ رَقَبَةٍ، وَ دِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ، وَ دِيْنَارٌ اَنْفَقْتَهُ عَلَى اَهْلِكَ، اَعْظَمُهَا اَجْرًا الَّذِيْ اَنْفَقْتَهُ عَلَى اَهْلِكَ. مسلم

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "Satu dinar kamu infaqkan fii sabiilillah, satu dinar kamu pergunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar kamu sedeqahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu, maka yang paling bersar pahalanya ialah yang kamu belanjakan untuk keluargamu".
[HR. Muslim]
~
عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ اْلبَدْرِيِّ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: اِذَا اَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى اَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ. متفق عليه

Dari Abu Mas'ud Al-Badriy RA, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda, "Apabila seorang laki-laki memberi belanja kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka yang demikian itu tercatat sebagai sedeqah".
[HR. Bukhari dan Muslim]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: اَلْيَدُ اْلعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اْليَدِ السُّفْلَى. وَ ابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ. وَ خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى. وَ مَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ. وَ مَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda, "Tangan yang di atas itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Dahulukanlah dalam pemberianmu kepada orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedeqah ialah yang lebih dari keperluan. Dan barangsiapa yang berlaku perwira, maka Allah akan memelihara keperwiraannya dan barangsiapa yang mencukupkan diri, maka Allah akan mencukupkannya".
[HR. Bukhari]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيَّ ص قَالَ: وَ اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَاِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَ اِنَّ اَعْوَجَ شَيْءٍ فِى الضِّلَعِ اَعْلاَهُ، فَاِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَ اِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ اَعْوَجَ، فَاصْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا. البخارى و مسلم و اللفظ للبخارى. و لمسلم: فَاِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَ بِهَا عِوَجٌ. وَ اِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَ كَسْرُهَا طَلاَقُهَا.
~
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau telah bersabda, "Nasehatilah wanita-wanita itu dengan baik, karena sesungguhnya mereka itu diciptakan (laksana) tulang rusuk, dan sesungguhnya sebengkok-bengkok tulang rusuk ialah yang paling atas. Maka jika kamu paksa meluruskannya (dengan kekerasan) berarti kamu mematahkannya, dan jika kamu biarkan saja, maka akan tetap bengkok, karena itu nasehatilah wanita-wanita dengan baik".
[HR. Bukhari dan Muslim, dan bagi Muslim]
Jika kamu mengambil kesenangan dengannya, niscaya kamu dapat kesenangan dengannya dalam keadaan dia bengkok itu, dan jika kamu meluruskannya, niscaya kamu menyebabkan patahnya. Sedangkan patahnya itu berarti cerainya.
~
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: لَوْ اَنَّ اَحَدَكُمْ اِذَا اَتَى اَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَ جَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَقُضِيَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرُّهُ. متفق عليه

Dari Ibnu 'Abbas RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Seandainya seseorang diantara kamu ketika mendatangi istrinya mengucapkan Bismillaahi, Alloohumma jannibnasy-syaithoona wa jannibisy-syaithoona maa rozaqtanaa (Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari syaithan, dan jauhkanlah syaithan dari rezqi yang Engkau anugerahkan kepada kami), lalu dari hubungan keduanya itu ditaqdirkan lahirnya anak, maka syaithan tidak akan membahayakannya".
[HR. Bukhari dan Muslim]
~
اِذَا جَامَعَ اَحَدُكُمْ اَهْلَهُ فَلاَ يَأْتِهِنَّ كَمَا يَأْتِى الطَّيْرُ لِيَمْكُثْ وَ لْيَلْبَثْ. الطوسى

Apabila seseorang dari kamu mengumpuli istrinya, maka janganlah mendatangi mereka sebagaimana burung, tetapi hendaklah ia tinggal sebentar dan jangan segera pergi.
[HR. Ath-Thusi]
~
عَنْ اِيَاسِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى ذُبَابٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَضْرِبُوْا اِمَاءَ اللهِ. فَجَاءَ عُمَرُ رض اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَ: ذَئِرْنَ النِّسَاءُ عَلَى اَزْوَاجِهِنَّ. فَرَخَّصَ فِى ضَرْبِهِنَّ. فَأَطَافَ بِآلِ رَسُوْلِ اللهِ ص نِسَاءٌ كَثِيْرٌ يَشْكُوْنَ اَزْوَاجَهُنَّ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَقَدْ اَطَافَ بِآلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ نِسَاءٌ كَثِيْرٌ يَشْكُوْنَ اَزْوَاجَهُنَّ لَيْسَ اُولئِكَ بِخِيَارِكُمْ. ابو داود

Dari Iyas bin 'Abdullah bin Abu Dzubab RA, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda : "Janganlah kamu memukul kaum wanita (para hamba Allah yang wanita)". Kemudian 'Umar RA datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Ya Rasulullah, kini para istri menjadi berani kepada suaminya". Maka Rasulullah SAW mengizinkan untuk memukul mereka. Tiba-tiba rumah Rasulullah SAW dikerumuni oleh banyak wanita yang mengadukan kekejaman suami mereka, maka Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh telah banyak wanita mengelilingi rumah keluarga Muhammad, mereka mengeluh tentang kekejaman suaminya. Mereka (para suami yang kejam itu) bukanlah orang yang baik diantara kamu".
[HR. Abu Dawud]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً اِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ اَوْ قَالَ غَيْرَهُ. مسلم

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "Janganlah seorang mukmin (laki-laki) membenci kepada orang mukmin (perempuan), jika dia tidak menyukai sesuatu kelakuannya, pasti ada juga kelakuan lainnya yang menyenangkan".
[HR. Muslim]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَ خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ. الترمذى

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik diantara mereka akhlaqnya, dan orang yang paling baik diantara kamu sekalian adalah orang yang paling baik terhadap istri mereka".
[HR. Tirmidzi]
~
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لاَهْلِهِ وَ اَنَا خَيْرُكُمْ لاَهْلِى. ابن ماجه

Sebaik-baik diantara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap istriku.
[HR. Ibnu Majah]
~
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ اْلعَاصِ رض، اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَ خَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا اْلمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ. مسلم

Dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda, "Dunia adalah kesenangan sementara dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah". [HR. Muslim]
~
~oO[ A ]Oo~

Kunci Meraih Mimpi

  Setiap orang pasti mempunyai mimpi atau harapan(everybody has a dream), harapan itu adalah perjalanan hidup yang terkadang pahit manis rasanya tetapi karena harapan kita mempunyai tujuan dan kekuatan untuk memperjuangkan sesuatu.
Dan dalam mewujudkan mimpi tersebut tentunya ada beberapa cara yang harus dilakukan, dibawah ini ada 9 kunci meraih mimpi yang saya dapatkan dari kuliah di UPH dengan pembicara panglima TNI gatot nurmantyo:

1. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa (great prayer)
   Yang pertama kamu harus 'berdo'a', meminta kepada tuhan "tuhan bantu saya untuk meraih mimpi, saya ingin menjadi.....).
Tuhan akan mengabulkan doamu sesuai dengan persepsimu, jadi kalau kamu bersepsi tuhan mengabulkan pasti akan dikabulkan. Dan apapun yang terjadi doamu harus tetap 'supaya tuhan tidak bingung' insyaallah tuhan pasti  akan mengabulkan setiap doamu.

2.Bermimpilah setinggi-tingginya (great dreamer)
  Selain berdoa kamu juga harus  menanamkan mimpi setinggi-tingginya.
 Sebagai contoh Pak Jokowi kuliah kehutanan di UGM jadi pegawai sampai di aceh tapi karena mimpinya terus akhirnya sekarang menjadi presiden.
Barrack Obama pada saat sekolah di menteng ditanya,"apa cita-citamu?" dan jawabnya "saya akan menjadi presiden amerika" dan tanggapan orang "kamu sudah hitam,orang negro, bajumu lecek,tinggalnya diindonesia lagi, mimpi jadi presiden?" tapi barack obama dimanapun ditanya "saya presiden amerika" dan buktinya jadi presiden amerika. Semua itu dengan menanamkan mimpi yang tinggi.

3. Tetap fokus wujudkan mimpi ((focus)

   Selain mempunyai mimpi yang tinggi kamu juga harus fokus terhadap mimpimu, setiap saat harus fokus "saya akan jadi presiden, saya akan jadi pengusaha, saya akan pemilik rumah sakit, saya akan pemilik perusahaan penerbangan " harus fokus.

4. Optimis
   Selanjutnya kita harus optimis bahwa mimpimu suatu saat pasti terwujud.

5. Berbuat maksimal mewujudkan mimpi (action) dan menghadapi hambatan dengan fleksibel (flexible)
    Selain optimis kamu jangan hanya sebagai pemimpi kamu harus action, actionnya bagaimana?
  1.kamu tidak boleh frustasi
  2.kamu harus fleksibel
    Bergaul fleksibel, belajarpun fleksibel, kamu jangan hanya percaya dengan pelajaran yg ada di sekolah tapi kembangkan seperti buka internet, buka website cari tambahan-tambahan sehingga apabila kamu dikasih pekerjaan oleh guru, guru mu akan terkejut karena kamu pasti mencari literatur-literatur, mencari bahan-bahan dari luar, fleksibel untuk mempelajari pelajaran apapaun.

6. Harus memiliki relasi (networking)
   Ketika mimpimu besar, kamu tidak bisa menggapai mimpimu sendiri, semua orang yang ada dilingkungan kita jadikan network(buatlah network dan jaringan) bayangkan dari kamu awal semua orang menjadi networkmu, apapun nanti karirnya akan mendukung kamu dan pasti bisa tercapai.

7. Tetap belajar (keep learning)
    Dan karena mimpimu besar maka kamu harus terus belajar, belajar apapun saja dan jangan puas hanya dengan pelajaran yang kita dapat disekolah tetapi kembangkan terus lalu belajar dengan kehidupan juga.

8. Lakukan semuanya dengan do by heart (dengan hati)
   Selanjutnya yang paling penting kamu harus lakukan segalanya dengan do by heart(dengan hati). Kamu diminta tolong temanmu lakukan dengan hati . 
  Hari jum'at sore, tau-tau dosen kasih pekerjaan yang panjang dan sulit "waaduh ini dosen satu: sudah tua, galak, ngasih pekerjaan susah lagi ngga tau kalau kita sudah mau liburan". Harusnya kamu balik "dosenmu baik sekali pekerjaan yang sulit justru dikasih waktu yang panjang yang saya punya kesempatan untuk mencari referensi dari manapun juga, beliau sangat baik saya harus kerjakan dengan referensi-referensi terbaru dan terbaik". Lakukakan semua itu  dengan du bai'at.

9. Introperksi
   Selanjutnya yang paling penting setiap hari sebelum tidur kamu bertanya kepada dirimu;
"sudahkah saya konsisten dan fokus terhadap mimpi saya"?,
"sudahkah saya berdo'a"?,
"sudahkah saya optimis hari ini"?,
"sudahkah saya fleksibel"?,
"sudahkah saya punya network baru sekarang ini"?,
"sudahkah saya melakukan aksi-aksi untuk meraih mimpi saya"?,
"sudahkah saya belajar belajar ilmu"?,
dan "sudahkah saya melakukannya dengan do by heart (dengan hati)"?.
Kalau belum catat dan rencanakan besok, manakala kamu bangun dipagi hari buka catatanmu "saya harus lakukan apa yang sudah saya rencanakan" dan jangan lupa berdoa. Dan semua itu harus kamu lakukan setiap hari dan saya yakin, kita semua punya peluang kamu sudah benar pada posisimu sekarang untuk meraih mimpi, jangan ragu-ragu tanamkan mimpimu setinggi-tingginya dan insyaallah itu pasti tercapai.
 Yang terakhir saya ucapkan selamat belajar, semangat berjuang menjadikan kita sebagai bangsa pemenang, serta wujudkan indonesia raya.
Terimakasih sekali lagi lakukan semua dengan niat terbaik, berani, tulus dan ikhlas.
Selamat berjuang meraih mimpi, KAMU PASTI BISAAA!!!!!!!

Wednesday, May 17, 2017

Hukum bagi pelaku Zina(pacaran)


     Menurut manusia orang pacaran zina hukumnya tidak mau tau ..
bagi yang mempunyai agama islam harus wajib tau bagi orang yang zina hukum islam tetap berlaku bila tidak di dunia pasti di akirat. Bila tidak taubat dengan sungguh-sungguh.
.
Halal Haram Dalam Islam (ke-20)
Hukuman Zina
اَلزَّانِيَةُ وَ الزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ، وَّ لاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلاخِرِ، وَ لْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مّنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ. النور:2
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu (menjalankan) agama Allah jika kamu beriman kepada Allah dan hari kiamat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.
[QS. An-Nuur : 2]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ وَ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ اَنَّهُمَا قَالاَ: اِنَّ رَجُلاً مِنَ اْلاَعْرَابِ اَتَى رَسُوْلَ اللهِ ص فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَنْشُدُكَ اللهَ اِلاَّ قَضَيْتَ لِى بِكِتَابِ اللهِ. وَ قَالَ اْلخَصْمُ اْلآخَرُ وَ هُوَ اَفْقَهُ مِنْهُ: نَعَمْ، فَاقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللهِ وَ ائْذَنْ لِى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قُلْ، قَالَ: اِنَّ ابْنِى كَانَ عَسِيْفًا عَلَى هذَا فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ، وَ اِنِّى اُخْبِرْتُ اَنَّ عَلَى ابْنِى الرَّجْمَ فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَ وَلِيْدَةٍ. فَسَأَلْتُ اَهْلَ اْلعِلْمِ، فَاَخْبَرُوْنِى اَنَّ عَلَى ابْنِى جَلْدَ مِائَةٍ وَ تَغْرِيْبَ عَامٍ، وَ اَنَّ عَلَى امْرَأَةِ هذَا الرَّجْمَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ َلأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ. اْلوَلِيْدَةُ وَ اْلغَنَمُ رَدٌّ. وَ عَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَ تَغْرِيْبُ عَامٍ. وَ اغْدُ يَا أُنَيْسُ لِرَجُلٍ مِنْ اَسْلَمَ اِلَى امْرَأَةِ هذَا، فَاِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا. قَالَ: فَغَدَا عَلَيْهَا، فَاعْتَرَفَتْ، فَاَمَرَ بِهَا رَسُوْلُ اللهِ ص، فَرُجِمَتْ. الجماعة
Dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid, mereka berkata : Bahwa ada seorang laki-laki Badui datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah, Demi Allah, sungguh aku tidak meminta kepadamu kecuali engkau memutuskan hukum untukku dengan kitab Allah”. Sedang yang lain berkata (dan dia lebih pintar dari padanya), “Ya, putuskanlah hukum antara kami berdua ini menurut kitab Allah, dan ijinkanlah aku (untuk berkata)”. Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Silakan”. Maka orang yang kedua itu berkata, “Sesungguhnya anakku bekerja pada orang ini, lalu berzina dengan istrinya, sedang aku diberitahu bahwa anakku itu harus dirajam. Maka aku menebusnya dengan seratus kambing dan seorang hamba perempuan, lalu aku bertanya kepada orang-orang ahli ilmu, maka mereka memberi tahu bahwa anakku harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedang istri orang ini harus dirajam”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh aku akan putuskan kalian berdua dengan kitab Allah. Hamba perempuan dan kambing itu kembali kepadamu, sedang anakmu harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun”. Dan engkau hai Unais, pergilah bertemu dengan seorang dari Aslam untuk bersama-sama ke tempat istri orang ini, dan tanyakan, jika dia mengaku, maka rajamlah dia”. Abu Hurairah berkata, “Unais kemudian berangkat ke tempat perempuan tersebut, dan perempuan tersebut mengaku”. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan untuk merajamnya, kemudian ia pun dirajam.
[HR. Jama’ah]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَضَى فِيْمَنْ زَنَى وَ لمَْ يُحْصَنْ بِنَفْيِ عَامٍ وَ اِقَامَةِ اْلحَدِّ عَلَيْهِ. احمد و البخارى
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW pernah memutuskan hukuman orang yang
berzina tetapi tidak muhshan, yaitu dengan diasingkan selama setahun dan dikenakan hukuman dera. [HR. Ahmad dan Bukhari]
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: خُذُوْا عَنِّى، خُذُوْا عَنِّى. قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً. اَلْبِكْرُ بِاْلبِكْرِجَلْدُ مِائَةٍ وَ نَفْيُ سَنَةٍ وَ الثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَ الرَّجْمُ. الجماعة الا البخارى و النساشى
Dari ‘Ubadah bin Shamit ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Ambillah (hukum itu) dariku, ambillah (hukum itu) dariku. Sungguh Allah telah membuat jalan bagi mereka (perempuan), yaitu : Perawan (yang berzina) dengan jejaka, sama-sama didera seratus kali dan diasingkan setahun. Sedang janda dengan duda, sama-sama didera seratus kali dan dirajam”.
[HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Nasai]
عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَنَّ رَجُلاً زَنَى بِامْرَأَةٍ، فَاَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ ص: فَجُلِدَ اْلحَدَّ، ثُمَّ اُخْبِرَ اَنَّهُ مُحْصَنٌ، فَاَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ. ابو داود
Dari Jabir bin ‘Abdullah bahwa ada seorang laki-laki berzina dengan seorang perempuan, lalu Nabi SAW memerintahkan untuk si laki-laki itu didera sebagai hukumannya. Tetapi kemudian beliau diberitahu, bahwa laki-laki tersebut adalah muhshan (sudah kawin), maka diperintahkan untuk dirajam, lalu orang itupun dirajam.
[HR. Abu Dawud]
عَنْ جَابِرٍ بْنِ سَمُرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص رَجَمَ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ وَ لَمْ يَذْكُرْ جَلْدًا. احمد
Dari Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah SAW merajam Ma’iz bin Malik. Dan Jabir tidak menyebutkan tentang dera.
[HR. Ahmad]
Keterangan :
a. Dari hadits-hadits diatas bisa diambil pengertian bahwa hukuman zina muhshan (laki atau perempuan yang sudah pernah nikah), adalah dirajam hingga mati. Adapun hukuman dera bagi mereka hanyalah sebagai hukuman tambahan.
b. Sedangkan hukuman zina yang bukan muhshan (jejaka atau perawan), adalah didera/dijilid seratus kali. Adapun hukuman pengasingan hanya sebagai hukuman tambahan.
Dilaksanakan hukuman apabila sudah jelas berbuat zina.
وَ الّتِيْ يَأْتِيْنَ اْلفَاحِشَةَ مِنْ نّسَآئِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوْا عَلَيْهِنَّ اَرْبَعَةً مّنْكُمْ، فَاِنْ شَهِدُوْا فَاَمْسِكُوْهُنَّ فِى اْلبُيُوْتِ حَتّى يَتَوَفّهُنَّ اْلمَوْتُ اَوْ يَجْعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً. النساء:15
Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.
[QS.An-Nisaa’ : 15]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: اَتَى رَجُلٌ رَسُوْلَ اللهِ ص وَ هُوَ فِى اْلمَسْجِدِ فَنَادَاهُ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنِّى زَنَيْتُ فَاَعْرَضَ عَنْهُ حَتَّى رَدَّدَ عَلَيْهِ اَرْبَعَ مَرَّاتٍ، فَلَمَّا شَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ اَرْبَعَ شَهَادَاتٍ دَعَاهُ النَّبِيُّ ص فَقَالَ: اَبِكَ جُنُوْنٌ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَهَلْ اَحْصَنْتَ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اِذْهَبُوْا بِهِ فَارْجُمُوْهُ. قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: فَاَخْبَرَنِى مَنْ سَمِعَ جَابِر َبْنَ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كُنْتُ فِيْمَنْ رَجَمَهُ، فَرَجَمْنَاهُ بِاْلمُصَلَّى. فَلَمَّا اَذْلَقَتْهُ اْلحِجَارَةُ هَرَبَ، فَاَدْرَكْنَاهُ بِاْلحَرَّةِ، فَرَجَمْنَاهُ. متفق عليه
Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah SAW di masjid, lalu menyeru, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar telah berzina”. Kemudian Rasulullah SAW berpaling, sehingga orang tersebut mengulanginya sampai empat kali. Maka setelah ia bersaksi atas dirinya empat kali, ia dipanggil oleh Nabi SAW. Lalu Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau mengidap penyakit gila ?” Ia menjawab, “Tidak”. Nabi bertanya lagi, “Apakah engkau sudah nikah ?” Ia menjawab, “Sudah”. Lalu Nabi SAW menyuruh para sahabat, “Bawalah dia lalu rajamlah”. Ibnu Syihab berkata, ada seorang yang mendengar dari Jabir bin Abdullah memberitahukan kepadaku, bahwa Jabir berkata, “Aku termasuk salah seorang yang merajamnya, yaitu kami rajam dia di mushalla (lapangan yang biasa untuk shalat ‘ied). Tetapi tatkala batu-batu lemparan itu melukainya, ia lari, lalu kami tangkap dia di Harrah, kemudian kami rajam (sampai mati)”.
[HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].
عَنْ جَابِرٍ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: رَأَيْتُ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ جِيْءَ بِهِ اِلَى النَّبِيِّ ص وَ هُوَ رَجُلٌ قَصِيْرٌ اَعْضَلُ لَيْسَ عَلَيْهِ رِدَاءٌ، فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ اَرْبَعَ مَرَّاتٍ اَنَّهُ زَنَى، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَلَعَلَّكَ؟ قَالَ: لاَ، وَ اللهِ. اِنَّهُ قَدْ زَنَى، اْلآخِرُ فَرَجَمَهُ. مسلم و ابو داود
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, Aku pernah melihat Ma’iz bin Malik dibawa menghadap Nabi SAW. dia adalah seorang laki-laki yang berperawakan pendek kekar, tanpa berselendang. Lalu ia bersaksi atas dirinya empat kali, bahwa ia telah berzina. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, "Barangkali (engkau gila) ?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah”. Memang benar-benar dia telah berzina. Lalu akhirnya dia dirajam.
[HR. Muslim dan Abu Dawud].
و لاحمد: اِنَّ مَاعِزًا جَاءَ فَاَقَرَّ عِنْدَ النَّبِيِّ ص اَرْبَعَ مَرَّاتٍ، فَاَمَرَ بِرَجْمِهِ
Ahmad meriwayatkan bahwa Ma’iz pernah datang kepada Nabi SAW mengaku berzina dengan empat kali pengakuan. Lalu Nabi SAW memerintahkan supaya dirajam.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ لِمَاعِزِ بْنِ مَالِكٍ اَحَقٌّ مَا بَلَغَنِى عَنْكَ؟ قَالَ: وَ مَا بَلَغَكَ عَنِّى؟ قَالَ: بَلَغَنِى اَنَّكَ قَدْ وَقَعْتَ بِجَارِيَةِ آلِ فُلاَنٍ. قَالَ: نَعَمْ. فَشَهِدَ اَرْبَعَ شَهَادَاتٍ. فَاُمِرَ بِهِ، فَرُجِمَ. احمد و مسلم و ابو داود و الترمذى و صححه
Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Nabi SAW bertanya kepada Ma’iz, “Betulkah apa yang sampai kepadaku tentang masalahmu itu ?”. Ia membalas bertanya, “Apa yang sampai kepadamu tentang aku ?”. Nabi SAW bersabda, “Berita yang sampai kepadaku, bahwa engkau telah mengumpuli seorang perempuan keluarga si fulan”. Ia menjawab, “Betul”. Lalu ia bersaksi atas dirinya empat kali. Kemudian Nabi SAW memerintahkan supaya dirajam, lalu ia dirajam.
[HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi, dan Tirmidzi mengesahkannya].
و فى رواية قال: جَاءَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ اِلَى النَّبِيِّ ص فَاعْتَرَفَ بِالزِّنَا مَرَّتَيْنِ، فَطَرَدَهُ، ثُمَّ جَاءَ فَاعْتَرَفَ بِالزِّنَا مَرَّتَيْنِ، فَقَالَ: شَهِدْتَ عَلَى نَفْسِكَ اَرْبَعَ مَرَّاتٍ اِذْهَبُوْا بِهِ، فَارْجُمُوْهُ. ابو داود
Dan dalam satu riwayat dikatakan, Ma’iz pernah menghadap Nabi SAW mengaku telah berzina, dia mengulangi pengakuannya dua kali. Lalu Nabi SAW menyuruhnya keluar. Kemudian ia datang lagi, mengaku telah berzina, dia mengulangi pengakuannya dua kali lagi. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Karena engkau telah bersaksi atas dirimu empat kali, maka sekarang (hai para sahabat) bawalah dia lalu rajamlah !”.
[HR. Abu Dawud]
عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ ص جَالِسًا فَجَاءَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ فَاعْتَرَفَ عِنْدَهُ مَرَّةً فَرَدَّهُ، ثُمَّ جَاءَ فَاعْتَرَفَ عِنْدَهُ الثَّانِيَةَ، فَرَدَّهُ، ثُمَّ جَاءَ فَاعْتَرَفَ عِنْدَهُ الثَّالِثَةَ، فَرَدَّهُ، فَقُلْتُ لَهُ: اِنَّكَ اِنِ اعْتَرَفْتَ الرَّابِعَةَ رَجَمَكَ. قَالَ: فَاعْتَرَفَ الرَّابِعَةَ، فَحَبَسَهُ، ثُمَّ سَأَلَ عَنْهُ، فَقَالُوْا: مَا نَعْلَمُ اِلاَّ خَيْرًا. قَالَ: فَاَمَرَ بِرَجْمِهِ. احمد
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia berkata, “Aku pernah duduk-duduk di samping Nabi SAW lalu seorang laki-laki namanya Ma’iz bin Malik datang mengaku di hadapan Nabi SAW bahwa ia telah berzina, sekali pengakuan, ditolak Nabi SAW. Kemudian ia datang lagi dan mengaku di hadapan Nabi SAW untuk kedua kalinya, lalu ditolaknya lagi. Kemudian ia datang lagi dan mengaku di hadapan Nabi SAW untuk ketiga kalinya, lalu ia pun ditolaknya lagi”. Kemudian aku (Abu Bakar) berkata, kepada Ma’iz, “Kalau engkau mengaku yang keempat kalinya, pasti akan dirajam”. Lalu ia pun mengaku yang keempat kalinya. Kemudian ia ditahan. Kemudian Nabi SAW bertanya (kepada para sahabat) tentang dia. Maka jawab shahabat, “Kami tidak tahu kecuali kebaikannya”. Abu Bakar berkata, “Kemudian Nabi SAW memerintahkan untuk dirajam”.
[HR. Ahmad]
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ: كُنَّا اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ ص، نَتَحَدَّثُ اَنَّ اْلغَامِدِيَّةَ وَ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ لَوْ رَجَعَا بَعْدَ اعْتِرَافِهِمَا، اَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ يَرْجِعَا بَعْدَ اعْتِرَافِهِمَا لَمْ يَطْلُبْهُمَا. وَ اِنَّمَا رَجَمَهُمَا بَعْدَ الرَّابِعَةِ. ابو داود
Dari Buraidah ia berkata, “Kami para sahabat Rasulullah SAW pernah berbincang-bincang tentang masalah perempuan Ghamidiyah dan Ma’iz bin Malik seandainya mereka berdua itu mau menarik pengakuannya itu, atau mereka tidak menarik sesudah pengakuannya (yang ketiga kali) itu niscaya merekapun tidak akan dituntut. Mereka itu dirajam, hanyalah karena pengakuannya yang keempat kalinya”.
[HR. Abu Dawud]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا اَتَى مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ النَّبِيَّ ص قَالَ: لَعَلَّكَ قَبَّلْتَ، اَوْ غَمَّزْتَ اَوْ نَظَرْتَ؟ قَالَ: لاَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: اَنِكْتَهَا؟ لاَ يَكْنِى. قَالَ: نَعَمْ. فَعِنْدَ ذلِكَ اَمَرَ بِرَجْمِهِ. احمد و البخارى و ابو داود
Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata : Tatkala Ma’iz bin Malik datang kepada Nabi SAW, Nabi SAW bertanya, “Barangkali engkau hanya mencium saja, atau mungkin engkau sekedar meraba saja atau mungkin sekedar memandang saja ?”. Ma’iz menjawab, “Tidak ya Rasulullah”. Lalu Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau setubuhi dia ?”. (Beliau tidak menggunakan kata sindiran). Ia menjawab, “Ya”. Ketika itu lalu beliau memerintahkan untuk dirajam.
[HR. Ahmad, Bukhari dan Abu Dawud]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ اْلاَسْلَمِيُّ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ اَنَّهُ اَصَابَ امْرَأَةً حَرَامًا اَرْبَعَ مَرَّاتٍ، كُلُّ ذلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ، فَاَقْبَلَ عَلَيْهِ فِى اْلخَامِسَةِ، فَقَالَ: اَنِكْتَهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: كَمَا يَغِيْبُ اْلمِرْوَدُ فِى اْلمِكْحَلَةِ وَالرَّشَاءُ فِى اْلبِئْرِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَهَلْ تَدْرِى مَا الزِّنَا؟ قَالَ: نَعَمْ. اَتَيْتُ مِنْهَا حَرَامًا مَا يَأْتِى الرَّجُلُ مِنِ امْرَأَتِهِ حَلاَلاً. قَالَ: فَمَا تُرِيْدُ بِهذَا اْلقَوْلِ؟ قَالَ: اُرِيْدُ اَنْ تُطَهِّرَنِى. فَاَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ. ابو داود و الدارقطنى
Dari Abu Hurairah ia berkata : Seorang laki-laki dari suku Aslam datang kepada Rasulullah SAW lalu ia mengaku telah melakukan perbuatan haram dengan seorang perempuan, dengan empat kali pengakuan, yang setiap kali pengakuannya itu Nabi berpaling. Lalu untuk yang kelima kalinya baru Nabi menghadapinya, seraya bertanya, “Apakah engkau setubuhi dia ?”. Ia menjawab, “Ya”. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah seperti celak masuk ke dalam wadahnya dan seperti timba masuk ke dalam sumur ?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bertanya lagi, “Tahukah engkau, apakah zina itu ?”. Ia menjawab, “Ya, saya tahu. Yaitu saya melakukan perbuatan yang haram dengan dia seperti seorang suami melakukan perbuatan halal dengan istrinya”. Nabi bertanya lagi, “Apakah yang kamu maksud dengan perkataanmu ini ?”. Ia menjawab, “Saya bermaksud supaya engkau dapat membersihkan aku (sebagai taubat)”. Maka Nabi SAW memerintahkan untuk dirajam, lalu dia dirajam.
[HR. Abu Dawud dan Daruquthni]
~oO[ A ]Oo~

Sunday, May 14, 2017

Tanya Jawab Tentang Anjuran bershadaqah

NOTULENSI JIHAD PAGI
Ahad, 14 Mei 2017/17 Sya’ban 1438




PERTANYAAN DARI BROSUR
Berarti kaya dan miskin sudah menjadi ketentuan Allah?
Jawab:
قُلْ اِنَّ رَبّيْ يَبْسُطُ الرّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِه وَيَقْدِرُ لَهُ، وَ مَآ اَنْفَقْتُمْ مّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُه، وَ هُوَ خَيْرُ الرّزِقِيْنَ. سبأ:39
Katakanlah, "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezqi bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apasaja yang kamu nafqahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezqi yang sebaik-baiknya.
[QS. Saba’ : 39]
Iya, sudah ditentukan. Kaya dan miskin adalah ujian.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.
QS. Al-Anbiya’ (21) : 35

    Harta yang banyak itu menyenangkan, harta yang sedikit tidak menyenangkan. Namun semua itu merupakan ujian.
Walau ada sebagian beranggapan, kalau diberi harta yang banyak merasa dimuliakan Allah, kalau diberi harta yang sedikit merasa dihinakan Allah.

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku" .
QS. Al-Fajr (89) : 15-16

    Orang seperti ini, menanggap orang lain kalau miskin berarti tidak dimuliakan Allah, kalau kaya di muliakan Allah.
Padahal mulia di mata Allah tergantung pada takwanya.
Kaya dan miskin sudah ditentukan Allah, maka jangan terlalu bangga menjadi orang kaya, dan jangan terlalu sedih menjadi orang miskin

وَمِنْهُم مَّنْ عَاهَدَ اللّهَ لَئِنْ آتَانَا مِن فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ
Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
فَلَمَّا آتَاهُم مِّن فَضْلِهِ بَخِلُواْ بِهِ وَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعْرِضُونَ
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقاً فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُواْ اللّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُواْ يَكْذِبُونَ
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.
QS. Al-Taubah (9) : 75-77
    
      Orang seperti ini diuji oleh Allah dengan kekayaan tidak lulus, karena setelah kaya dijadikan orang munafiq sampai ketemu Allah. Orang munafiq tempatnya di neraka yang paling bawah.
Apapun kondisi saat ini disyukuri, mau beramal baik ya sekarang ini, tidak menunggu kalau sudah kaya. Kalau pandai bersyukur akan ditambah nikmatya oleh Allah.
Lihat sejarah majlis !! saat ngaji di kemlayan, di luar di bawah pohon, kalau angin besar uler, semut pada jatuh, hujan pakai paying, peserta ngaji belum ada mobil, kebanyakan sepeda onthel, paling balik sepeda motor. Sekarang Allah kasih gedung ahad pagi begini megah, mobil-mobil parkir sepanjang jalan bahkan tidak cukup, sepeda onthel sudah sangat jarang. Mari tingkatkan syukur !! dengan fasilitas yang saat ini semakin mudah.
Sebagai wujud syukur ( semakin menggencarkan dakwah ), menegakkan yang haq pasti diuji, kalau imannya benar menghadapi rintangan / cobaan tidak ragu-ragu. Orang ngaji koq koq dipagari jalannya, tidak normal otaknya. Kalau kita betul-betul beriman, pasti ada pertolongan dari Allah. Tidak akan ada yang bisa membendung pertolongan dari Allah.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi ; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang . Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.
QS. Al-Hajj (22) : 11

      Dalam suatu riwayat ada orang masuk islam, belum lama unta piaraan mati, kemudian kembali kafir.
Dia masuk islam ekonomi makin baik, rumah tangga makin baik, ekonomi lancar dengan tujuan semua serba kecukupan. Ternyata tidak? kembali berbalik ke belakang ( jadi kafir lagi ). Ibaratnya masuk islam lihat-lihat dulu, di tepian, tidak masuk secara keseluruhan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
QS. Al-Baqarah (2) : 208

Pertanyaan:

        Kalau sahabat dulu, mau berangkat perang, minta doa kepada istri supaya mati syahid. Ada suatu riwayat, pengantin baru habis kumpul dengan istri, ada perintah untuk perang, istri persiapkan peralatan perang, suami berangkat perang. Pamitnya doakan saya menemui syahid, akhirnya betul, suami mati syahid. Karena kumpul dengan istri belum sempat mandi janabat langsung berangkat perang. Dimandikan oleh bidadari dari syurga. Istrinya menjadi janda & senang, nanti ketemu di surganya Allah.
Sekarang nganten anyar, ada komando berangkat SAR aja ditahan istri. Padahal Al-Quran & Nabi yang dahulu ya yang sekarang ini, mengapa jadinya berbeda ? berangkat tugas koq ragu-ragu?
Apa yang dimaksud dengan “kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna”?
Jawab :
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّ?ى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ، وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللهَ بِه عَلِيْمٌ. ال عمران: 92
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafqahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafqahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
[QS. Ali 'Imraan ( 3 ) : 92]

      Memberikan sesuatu yang tidak baik, yang kamu melihatnya sudah tidak suka. dari pada nyepet-nyepeti mripat kasih orang saja. Kalau kamu memberi kepada yang lain barang yang sudah kamu tidak sukai, maka tidak dihitung benar-benar suatu kebaikan.
Menginfaqkan barang itu yang kamu suka !

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلاَّ أَن تُغْمِضُواْ فِيهِ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
QS. Al-Baqarah (2) : 267

      Maka memberi kepada orang lain, pilihkan yang baik-baik ! kalau yang jelek-jelek yang kamu tidak suka, maka tentu orang yang kamu beri juga tidak suka.
Umumnya kalau memberi yang jelek-jelek, ternyata Al-Quran melarang, bukan termasuk kebaikan, karena kamu sendiri tidak suka.

Pertanyaan:
Harta yang dibakhilkan akan dikalungkan di leher. Maksudnya apakah rumah, mobil, tanah, dll akan dikalungkan di leher karena tidak mau menzakati?
Jawab :
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَآ ا?ت?ىهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِه هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ، بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ، سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِه يَوْمَ الْقِي?مَةِ، وَ للهِ مِيْرَاثُ السَّم?و??تِ وَ اْلاَرْضِ، وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ. ال عمران: 180
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[QS. Ali 'Imraan (3) : 180]

Tidak dirinci oleh Allah, artinya harta apapun yang kamu miliki, di infaqkan di jalan Allah koq bakhil, hari kiamat akan dikalungkan di leher. Padahal yang memberi harta Allah

هَاأَنتُمْ هَؤُلَاء تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنتُمُ الْفُقَرَاء وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.
QS. Muhammad ( 47 ) : 38

Harta dari Allah, suruh membelanjakan di jalan Allah, koq bakhil? Harta yang kamu bakhilkan setelah dipanaskan di neraka akan disetrikakan di punggungmu. Kalau Allah yang mengajak, pasti dituntun kepada jalan yang membahagiakan. Jangan dikira Allah miskin, kamu yang miskin, Allah yang kaya.
Kalau kamu bakhil, akan diganti oleh hamba Allah yang tidak bakhil. Balasan infaq di jalan Allah berlipat ganda, maka tidak ada orang yang jadi mlarat karena berinfaq.
Kalau orang mau infaq dilajalan Allah dibisiki setan, yang ini belum dibayar, yang itu belum dibayar, dll sehingga akan infaq di jalan Allah Engko Gek ( penyakit hati ). Setan membisiki kamu berbuat bakhil..

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
QS. Ali-Imran ( 3 ) : 134
Pertanyaan:
Ada sahabat berinfaq, si A berinfaq 1 dirham, si B berinfaq 100.000 dirham tapi pahalanya lebih banyak yang berinfaq 1 dirham, koq bisa? Karena si A punya uang 2 dirham, yang 1 dirham di infaqkan.
Mohon penjelasan hadits berikut?
Jawab :
عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْيَدُ اْلعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اْليَدِ السُّفْلَى. وَ ابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ. وَ خَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى. وَ مَنْ يَسْتَعِفَّ يُعِفَّهُ اللهُ. وَ مَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ. البخارى 2: 117
Dari Hakim bin Hizaam RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tangan yang di atas itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Dahulukanlah dalam pemberianmu kepada orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedeqah ialah yang lebih dari keperluan. Dan barangsiapa yang berlaku perwira, maka Allah akan memelihara keperwiraannya dan barangsiapa yang mencukupkan diri, maka Allah akan mencukupkannya". [HR. Bukhari juz 2, hal. 117]

Tangan yang di atas maksudnya memberi, tangan yang dibawah maksudnya yang menerima ( yang minta ). Kalau kamu punya harta utamakan diberikan kepada orang yang menjadi tanggungannya ( orang tua, istri, anak, dll ).
Jangan sedekahkan kepada yang lain, sedekah tidak mengalahkan kepentingan keluarga, tapi juga jangan semua untuk keluarga.
Menjaga keperwiraan maksudnya tidak meminta-minta. Keluarga juga baik, tidak pernah mengeluh, yakin Allah akan memberikan rejeki. Orang lain yang mengetahui semacam itu, punya kewajiban untuk berinfaq kepadanya.

لِلْفُقَرَاء الَّذِينَ أُحصِرُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْباً فِي الأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ
(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.QS. Al-Baqarah (2) : 273

      Siapa yang mencukupkan dirinya Allah akan mencukupkannya. Maksudnya seberapapun pemberian Allah, dicukup-cukupkan.
Orang yang kaya adalah orang yang banyak mengingat mati, yang berguna yang banyak amal di hadapan Allah.
Bukan berarti orang islam tidak boleh kaya, tapi harta ditangannya, namun tidak dibelenggu oleh hartanya. Misal mau berangkat ngaji pelanggan pada datang, takut pelanggan pergi akhirnya dilayani, yang seperti itu dibelenggu oleh hartanya.
Contoh lagi toko sedang rame, terdengar adzan shalat jumat, Allah perintahkan tinggalkan jual-belimu ! harta yang kamu cintai, akhirnya akan dipisahkan oleh Allah.

Pertanyaan:
Bagaimana kalau mempunyai sedikit? Apa untuk diri sendiri, anak & istri tidak diberi nafkah?
Mohon penjelasan kamu lebih mengetahui siapa yang harus kamu beri sedekah ?
Jawab :
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: تَصَدَّقُوْا. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، عِنْدِي دِيْنَارٌ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: اَنْتَ اَبْصَرُ. النسائى 5: 62
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Bershadaqahlah kalian". Lalu ada seorang laki-laki yang bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana kalau saya punya uang satu dinar ?" Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk dirimu". Orang laki-laki itu bertanya lagi, "Kalau saya punya yang lain ?". Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk istrimu". Orang itu bertanya lagi, "Kalau saya punya yang lain lagi ?". Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk anak-anakmu". Orang itu bertanya lagi, "Kalau saya masih punya yang lain lagi ?". Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk pelayanmu". Orang itu bertanya lagi, "Kalau saya masih punya yang lain lagi ?". Beliau bersabda, "Kamu lebih mengetahui siapa yang seharusnya kamu beri shadaqah".
[HR. Nasaiy juz 5, hal. 62]

        Nabi SAW juga mengatakan berilah makan istrimu jika kamu makan. bukannya tidak mempedulikan anak istri, kalau kamu makan anak istri juga diberi makan. Kalau untuk dirimu sendiri tidak makan, bagaimana bisa memberi makan anak istri? << maksudnya begitu.

Pertanyaan:
Bersodaqohlah untuk istrimu, istri kalau di ajak hubungan Cuma alesan-alesan, ngantuk dsb, kalau mau melayaninya tidak ikhlas?
Jawab :
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: تَصَدَّقُوْا. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، عِنْدِي دِيْنَارٌ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ. قَالَ: عِنْدِي آخَرُ؟ قَالَ: اَنْتَ اَبْصَرُ. النسائى 5: 62
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Bershadaqahlah kalian". Lalu ada seorang laki-laki yang bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana kalau saya punya uang satu dinar ?" Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk dirimu". Orang laki-laki itu bertanya lagi, "Kalau saya punya yang lain ?". Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk istrimu". Orang itu bertanya lagi, "Kalau saya punya yang lain lagi ?". Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk anak-anakmu". Orang itu bertanya lagi, "Kalau saya masih punya yang lain lagi ?". Beliau bersabda, "Bershadaqahlah untuk pelayanmu". Orang itu bertanya lagi, "Kalau saya masih punya yang lain lagi ?". Beliau bersabda, "Kamu lebih mengetahui siapa yang seharusnya kamu beri shadaqah".
[HR. Nasaiy juz 5, hal. 62]
 
   Hadits di atas tidak ada hubungannya dengan kumpul suami istri. Istri di ajak tidur suami tidak mau, akan dilaknat malaikan sampai pagi. Maka, istri di ajak ngaji yang serius, sungguh-sungguh.

Pertanyaan:
Apakah maksudnya orang miskin yang bersedekah, mempunyai derajat lebih tinggi dari pada orang kaya yang bersedekah?
Jawab :
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ اَلْفِ دِرْهَمٍ. قَالُوْا: وَكَيْفَ؟ قَالَ: كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ تَصَدَّقَ بِاَحَدِهِمَا وَانْطَلَقَ رَجُلٌ اِلَى عُرْضِ مَالِهِ فَاَخَذَ مِائَةَ اَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا. النسائى 5: 59
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Pahala shadaqah satu dirham bisa mengalahkan pahala shadaqah seratus ribu dirham". Para shahabat bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi, ya Rasulullah ?". Beliau bersabda, "Ada seseorang yang hanya punya uang dua dirham, kemudian ia menyedekahkan uangnya yang satu dirham. Dan ada orang yang kaya, ia menuju hartanya yang bertumpuk-tumpuk, lalu ia mengambil seratus ribu dirham, lalu ia shadaqahkan".
[HR. Nasaiy juz 5, hal. 59]

Nilai 1 dirham lebih berat karena hanya punya 2 dirham, separoh harta untuk fii sabilillah. Yang satu punya buuuanyak uang, tapi infaqnya hanya 100.000 dirham ( belum ada 1/3 atau 1/4 harta nya )

Pertanyaan:
Allah tidak mau menerima sedekah kecuali dari usaha yang halal. Bagaimana dengan orang yang bersedekah, dari hasil yang tidak halal ( bank plecit/bank harian/bank titil/rentenir )?
Apa yang disedekahkan disisi Allah akan tumbuh?
Jawab :
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيّبٍ، وَ لاَ يَقْبَلُ اللهُ اِلاَّ الطَّيّبَ، وَ اِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبّى اَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ اْلجَبَلِ. البخارى 2: 113
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang bersedeqah senilai satu biji kurma dari hasil usaha yang halal, dan Allah tidak mau menerima kecuali dari usaha yang halal, maka Allah akan menerima sedeqah itu dengan tangan kanan-Nya, kemudian dipelihara-Nya baik-baik untuk yang bersedeqah itu, sebagaimana salah seorang diantara kamu memelihara anak kudanya, sehingga sedeqah satu biji kurma itu menjadi sebesar gunung.
[HR. Bukhari juz 2, hal 113]

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
QS. Al-Baqarah (2) : 261
      Kalau yang di infaqkan dari hasil usaha yang haram, Allah tidak akan menerima. Orang kafir yang beramal dengan harta sebanyak apapun, seperti debu di atas batu tertimpa hujan lebat, sia-sia.
Kalau dulunya kafir, berinfaq. Setelah menjadi orang islam, infaq yang dulu dicatat sebagai kebaikan.

Pertanyaan:
Saya punya usaha batik/sablon/printing. Kadang kala hasil kurang bagus, kalau sudah bagus, yang kurang bagus saya sortir jadi barang BS. Kadang kala orang yang beli jarik yang baik saya kasih orang yang BS, saya tidak memicingkan mata kepada barang yang BS, karena kalau dikumpulkan banyak bisa dijual pula. Saya beri barang BS apa kena ayat tersebut?
Jawab :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلاَّ أَن تُغْمِضُواْ فِيهِ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
   Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
QS. Al-Baqarah : 267

Tidak kena ayat ini, barang BS itu bisa kamu jual pula.

Pertanyaan:
Shadaqah di waktu subuh, apa keutamaanya menurut Quran & Sunnah?
Jawab :
Saya belum tahu, kapan saja shadaqah baik. Allah akan memberi balas berlipat ganda.
..
..
..
PERTANYAAN MINTA DIJAWAB SEGERA
      Ustadz, saya sedang menggenggam bara api. 5 bulan aktif dengarkan kajian di radio/mtatv. 2 bulan mengikuti kajian di cabang. Saya beritahu ibu bahwa saya dan suami ikut ngaji di MTA, waktu itu ibu menjawab : saya tidak akan ikut agama kamu, karena saya sudah haji. Selang 2 minggu ibu sms : saya tidak boleh injakan kaki di rumah ibu, tidak mau diberi, memutuskan hubungan sehidup semati. Kalau ibu meninggal tidak boleh melayat. Apa Allah menerima ibadah saya, karena ridho Allah tergantung ridho orang tua? Mohon nasihatnya ustadz, karena 1 dusun yang ngaji baru saya?
Jawab :
       Mestinya ibu kamu dekati, kasihan. Ditanyakan agama ibu apa? kalau ibu menjawab agamanya ahlussunah wal jamaah, jawab agama hanya islam. Kalau ibu mengaji ahlussunah wal jamaah, ibu menyalahi sunnah, karena kalau ada yang memutus hubungan, supaya disambung. Kalau ibu tidak mau disambung, itu bukan ahlussunah, tapi ahli maksiat. Apalagi kalau tidak boleh menshalatkan ( kalau mati ) itu ahli neraka. Kadang orang tidak tahu ahlussunah, yang perilakunya melanggar sunnah semua.
Ridho Allah tergantung ridho orang tua itu selama orang tua meridho anaknya yang benar.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ آبَاءكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاء إَنِ اسْتَحَبُّواْ الْكُفْرَ عَلَى الإِيمَانِ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
QS. At-Taubah (9) : 23

     Kalau ibumu muslim, tentu tidak benci dengan Al-Qur’an & Sunnah. Ukuran haji bukan karena mengerti tuntunan agama.
Dalam Al-Qur’an kalau memutus hubungan tidak mau disambung maka termasuk orang fasik.

Pertanyaan:
Mendekati bulan ramadhan biasanya banyak yang ziarah kubur, kalau ziarah kubur apa yang dibaca? Kalau doa jenasah apa benar?
Jawab :
     Ziarah kubur tidak harus bulan sya’ban ( ruwah / menjelang ramadhan ). Kemudian kebiasaan orang kalau ziarah pakai air kembang, kalau sampai punya keyakinan air bunga tadi bisa menghapus siksa kubur, atau yang meninggal menjadi senang? Kenapa harus sebelum ramadhan, kenapa tidak setiap hari, koq anak bakhil banget.
Maka, hal seperti itu hanya pikirannya orang yang masih hidup, dibayang-bayangkan, seolah-olah…..
Yang sesuai syariat, Assalamu’alaikum yaa ahladdiyar minal mu’minin,dst….
Boleh doakan yang meninggal, kalau selama hidup shalat… siapapun didoakan boleh, Allahummaghfir lil mukminin wal mukminat, wal muslimin wal mukminat…
Doa : allhummaghfirlaha war hamha, dst >> boleh.
Nabi saat ziarah kubur, menangis tidak boleh doakan ibunya, bolehnya hanya menziarahi.

Pertanyaan:
Hari jum’at ada acara tahunan ( sadranan ), dhadiri petugas kelurahan, saya ditugasi untuk membuat tumpeng? Apa yang harus saya lakukan
Jawab :
     Kalau kamu ngaji, ndak usah Tanya apa yang akan kamu lakukan. Kalau kamu mau mengamalkan islam, katakan saja apa adanya. Resikonya akan diboikot warga sekampung. Kalau imanmu benar, tidak akan ragu-ragu walau diboikot manusia, yang penting tidak di boikot Allah.
Kita tidak perlu melarang mereka ! silahkan kalau mau selamatan dikuburan, tapi tidak usah ikut. Negara kita berdasarkan bhineka tunggal ika, walau berbeda tetap saling menghormati. Yang selamatan biarkan selamatan, yang tidak mau selamatan ya jangan dipaksa ikut.
Yang sama-sama fahamnya dilaksanakan bersama, yang tidak sepaham, masing-masing melaksanakan menurut keyakinan sendiri-sendiri.
Kebanyakan yang gembar gembor NKRI HARGA MATI, MENGABAIKAN KEBHINEKAAN.

PERTANYAAN MINGGU LALU
Batal atau tidak sesudah wudhu makan/minum?
Jawab :
Tidak. Yang batal itu kalau kamu makan/minum pas puasa.

Pertanyaan:
Imam belum fasih, saya ingin berjamaah, bagaimana?
Jawab :
Dikandani saja imamnya, dari hati kehati, datang ke rumah.

Pertanyaan:
Saya punya impian ingin bangun masjid & rumah untuk ketiga anak saya, apa yang harus saya lakukan agar segera terkabul?
Jawab :
Kalau sudah ada dana, segera dibangun. Kalau kamu ndak punya apa2? Impian itu boleh, tapi kalau tidak punya apa-apa?

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas .
QS. Al-A’raff (7) : 55

     Doa boleh, tapi jangan melampaui batas, jangan teriak-teriak. Sesuai kenyataan, jangan melampui batas kemampuan. Disamping berdoa juga bekerja keras.

Pertanyaan:
    Saya menikah, kata istri mas kawinnya palsu, bukan mas asli? Padahal sudah nikah 2 tahun yang lalu?
Jawab :
    Yang nyebutkan dulu gimana? Kalau bilangnya “cincin 3 gram”, tidak pakai “mas” maka tidak menipu. Mas kawin itu cincin dari besi saja boleh.

Pertanyaan:
Apakah boleh menggaduhkan sapi? Tapi yang menggaduh tidak mau merumput, tapi sapi di lepas, sore di bawa pulang?
Jawab :
Kalau tidak boleh kenapa? Yang gaduh tidak mau merumput, tapi yakin kalau sapinya dilepas jadi kenyang ( makan rumput sendiri ). Boleh saja.

Pertanyaan:
Apa aib seseorang akan di buka oleh Allah ( di akherat )? Misal dia sudah berusaha menutup dengan amal baik?
Jawab :
    Di hadapan Allah, semua dibuka, karena buku catatan amal akan dikasihkan.

PERTANYAAN LANGSUNG
Yosep Anang_Bintan
    Islam rahmatan lil alamin. Artinya kalau mengamalkan berdasarkan Al-Qur’an & Sunnah akan masuk surga. Bagaimana menurut ustadz dengan pembubaran HTI?
Katanya, Kalau meninggal tidak ditahlilkan koq seperti ngubur kucing saja?
Jawab :
    Pembubaran HTI itu bukan urusan kita, urusan politik. Ini belum dibubarkan, akan menempuh jalur hukum. Saya yakin HTI pun mempunyai pembela ( penegak hukum ). Ini baru di usulkan, belum diputuskan. Urusan politik, biar mereka yang mengurusi.
Orang meninggal kalau tidak ditahlilkan seperti ngubur kucing. Wong “katanya” aja. Kata ustadz abdul aziz tahlilan 7 hari, 40 hari, dst itu ajaran hindu. Yang masih begitu silahkan. Yang benar, kalau bisa baca tahlil saat sakaratul maut matinya masuk surga.


Sidiq_pangandaran
Pertanyaan:
Doa sesudah fajar yang benar?
Adzan & iqomah untuk bayi lahir & orang meninggal? “qoddomati qiyamah”?
Jawab :
Doa sesudah fajar apapun boleh saja.
Adzan iqomah bayi lahir memang ada haditsnya , tapi dhoif.
عَنْ اَبِى رَافِعٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص اَذَّنَ فِى اُذُنَيِ اْلحَسَنِ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ. احمد 9: 230، رقم 23930
Dari Abu Rafi' ia berkata, "Saya pernah melihat Rasulullah SAW membaca adzan (sebagaimana adzan) shalat, pada kedua telinga Hasan ketika dilahirkan oleh Fathimah".
[HR. Ahmad juz 9, hal. 230, no. 23930, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Ashim bin ‘Ubaidillah]

Keterangan :
Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Hakim dan Baihaqi dan juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan lafadh yang agak berbeda. Dan hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Imam Ath-Thabrani sebagai berikut :
عَنْ اَبِى رَافِعٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص اَذَّنَ فِى اُذُنِ اْلحَسَنِ وَ اْلحُسَيْنِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا حِيْنَ وُلِدَا وَ اَمَرَ بِهِ. الطبرانى فى المعجم الكبير 1: 313، رقم: 926
Dari Abu Rafi’ bahwasanya Nabi SAW membaca adzan pada telinga Hasan dan Husain RA ketika keduanya dilahirkan. Dan beliau menyuruh yang demikian itu.
[HR. Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabiir juz 1, hal. 313 no. 926]

      Hadits-hadits tersebut kesemuanya diriwayatkan melalui jalan 'Ashim bin 'Ubaidillah.
Tentang ‘Aashim bin ‘Ubaidillah ini, Bukhari berkata : Ia mungkarul hadits. Abu Zur’ah berkata : Ia mungkarul hadits. Abu Hatim berkata : Ia mungkarul hadits. Daruquthni berkata : ia matruukul hadits. Nasa’iy berkata : Ia dla’if. (Lihat Mizaanul I’tidal juz 2 hal. 353 no. 4056; Tahdziibut Tahdziib juz 5, hal. 42, no. 79).

Sutarjo_Bantul, Jogja
Pertanyaan:
Dari QS. Al-Baqarah : 1-20 dijelaskan. Ada manusia beriman, kafir, munafiq. Dalam ayat yang lain yang beriman masuk surga, yang kafir & munafiq masuk neraka. Kami takut masih di anggap munafiq oleh Allah, tidak takut di anggap munafiq oleh manusia?
Jawab :
      Innasholati wa nusuki wamahyaya wa mamati lillahi robbil alamin.. apa kata orang tidak usah didengar.
ada hadits, kalau kamu menuduh saudara sesame muslim orang yang munafiq / kafir. Kalau tidak benar tuduhan itu, tuduhan itu akan kembali kepada diri sendiri.
QS. An-Nisa’ : 61
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُوداً
Apabila dikatakan kepada mereka : "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.
QS. An-Nisa’ : 61

Mulyanto_Cilacap
Pertanyaan:
     Dalah brosur halaman 10 ada kata-kata tidak boleh menarik kembali suatu pemberian, kecuali pemberian orang tua kepada Anak. Tahun 1997 orang tua berikan hibah pada salah satu putranya nomor 8, dengan luas tanah 2500m2 sudah di balik namakan. Ahli waris yang lain secara langsung memberikan pernyataan setuju, karena takut kepada orang tua, ahli waris yang lain ada yang belum diberi. Anak yang lain ada yang mengingatkan, mbok ya di atasnamakan 2 anak, jangan 1 anak. Anak yang lain, kalau adik kesulitan ekonomi, apa boleh di jual. Tahun 2011 anak ke-8 menjual tanah itu senilai 300juta, ketahuan orang tua, untuk menutupi malu, tanah dibeli lagi oleh orang tua. Anak ke-8 dipanggil, tanah itu dikembalikan kepada orang tua. Anak ke-8 setuju. Pada tahun 2013 orang tua meninggal dunia, ..
Apa adik berdosa? Bagaimana status tanah yang tadi kembali dibeli orang tua?
bagaimana ahli waris yang lain? Ada perjanjian bahwa tanah itu tidak akan dijual, sekarang dijual?
Jawab :
       Adiknya bapak tadi ( anak ke-8 ) sudah mengingkari janji. Kalau anak ke-8 faham aturan islam, tanah sudah menjadi hak orang tua, walaupun sertifikat masih atas nama nya. Kalau orang tua meninggal, maka jadi hak ahli waris.

Anwar_gondangrejoPertanyaan:
Kalau ada saudara yang meinggal kewajiban ada 4 macam, memandikan, menghafani, menshalatkan, mengkubur. Di waktu ngubur jenazah, kuping diletakkan pada tanah, dihadapkan kiblat. Ada aturannya atau hanya ilmu otak atik saja? Padahal di bali kalau ada orang meninggal, Cuma diletakkan dibawah pohoh. Di arab saja ada sumur yang ada pintunya, kalau ada orang meninggal jenazah dimasukkan sumur kemudian ditutup lagi. Di daerah wonogiri, yang meninggal perempuan, tidak tahu dishalatkan atau belum, jenazah dimasukkan peti mati, di dalam peti mati dimasuk’I piring, gelas, sisir, pacul kecil. Ada aturannya atau tidak?
Jawab :
     Bapak, ngaji aja agama islam yang benar, tidak bingung begitu. Kalau haji meninggal, dishalatkan bersama-sama, kemudian di kubur. Kalau menurut syariat dihadapkan ke kiblat, dibuatkan liang landak.
#Bapak beli buku janaiz di toko depan gedung.



Wati_purwodadi
Pertanyaan:
Teman saya di perjalanan mendengar adzan, teman tidak tahu di masjid belum iqomah ( shalat duluan ). Setelah shalat saat berdoa terdengar iqomah. Hukumnya gimana? Apa shalat sah atau tidak? Beserta dalilnya?
Jawab :
    Shalat tidak harus nunggu iqomah / adhan, kalau sudah masuk waktu shalat boleh shalat. Kalau misal musafir, segera ngejar pesawat, shalat duluan tidak menunggu iqomah boleh ( waktu shalat sudah masuk )

Ari lestari_pangandaranPertanyaan:
Hukum bershadaqah dengan niat menolak balak / rejeki lancar? Apa syirik / mengurangi pahala shadaqah?
Jawab :
    Innasholati wanusuki wamahyaya wa mamati lillahi robbil alamin
Jangan shadaqah agar rejeki lancar, jangan shalat malam karena punya keinginan, Puasa senin-kamis agar mudah mengerjakan ujian itu salah niat ! itu termasuk penyimpangan dari tujuan.

ads

Translate

FeedBurner

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Author

Author
myself