Tuesday, June 13, 2017

Perilaku Mencontek pada mahasiswa

Pedoman Observasi
Perilaku Mencontek Pada Mahasiswa

A. Latar Belakang Observasi
     Dalam menghadapi era globalisasi sekarang ini, diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan ini terlebih dahulu dapat dilakukan dengan peningkatan mutu pendidikan. Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan merupakan hasil dari sebuah proses belajar diukur dengan prestas iakademik yang dicapai selama kurun waktu tertentu. Persaingan yang ketat dalam dunia pendidikan memungkinkan adanya perilaku mencontek yang dilakukan agar memperoleh hasil yang memuaskan, hal ini dilakukan oleh semua pelaku pendidikan tidak terkecuali oleh mahasiswa.   
     Kata mencontek sudah tidak asing di dunia pendidikan terutama pada siswa maupun mahasiswa sebagai peserta didik. Fenomena ini sering terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun universitas, karena setiap orang pasti ingin mendapatkan nilai yang baik dalam ujian dan segala cara di lakukan untuk mencapai tujuan itu. Banyak yang beranggapan bahwa mencontek merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja bila hasil yang didapat memuaskan.
    Masalah mencontek seharusnya menjadi masalah serius yang harus segera ditangani. Pendidikan karekater yang dicanangkan oleh pemerintah, khususnya Kementrian Pendidikan Nasional, seperti tidak bermakna. Hal ini dikarenakan perilaku mencontek telah menjadi benalu yang secara perlahan membunuh karakter mahasiswa.
    Sangat mungkin terjadi apabila tidak mendapatkan penanganan yang baik, ,mencontek mampu menjadi pintu bagi terjadinya masalah yang lebih besar. Perilaku menyontek apabila dilakukan terus menerus akan menjadi bagian dari kepribadian individu. Dampaknya, perilaku mencontek akan menjadi bagian kebudayaan yang berdampak pada kaburnya nilai-nilai moral dalam setiap aspek kehidupan dan pranata sosial dan bahkan bisa melemahkan kekuatan masyarakat.
    Saat ini mencontek pada saat ujian sepertinya bukan hal yang tabu lagi bagi sebagian kalangan mahasiswa. Berbagai cara dan strategi mulai dari yang termudah hingga yang tercanggih dilakukan untuk mendapatkan jawaban. Contohnya bertanya pada teman, saling menukar lembar jawaban, hingga melihat catatan kecil di kertas atau di handphone yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kurangnya keyakinan diri dapat menyebabkan perilaku mencontek muncul semakin tinggi. Jika perilaku mencontek tersebut sering dilakukan akan menajdi kebiasaan yang akhirnya akan menjadi budaya di kalangan mahasiswa untuk mendapat nilai akademik yang baik. Dengan kata lain, selalu mementingkan hasil daripada proses pada kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dilakukan karena dewasa ini banyak mahasiswa yang melakukan perilaku mencontek sebagai solusi mendapatkan nilai akademik dengan mudah.

B. Dasar Teori Aspek Psikologis yang Diobservasi
     Pengertian Perilaku Menyontek
    Bower (1964) mendefinisikan “cheating is manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure),” yang berarti mencontek adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuanyang terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis.
    Deighton (1971) juga mendefinisikan “Cheating is attempt an individual makes to attain success by unfair methods,”yang berarti, mencontek adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.
    Mencontek dalam tugas akademik meliputi susunan yang bermacam-macam dari fenomena psikologis, meliputi pembelajaran,perkembangan, dan motivasi. Fenomena ini merupakan inti dari psikologi pendidikan.
    Berdasarkan perspektif pembelajaran (learning), mencontek merupakan sebuah strategi yang (membuat kita berpikir pendek) berfungsi seperti cognitive shortcut. Di mana pembelajaran yang efektif seringya menggunakan pengaturan diri dan strategi kognitif yang kompleks, mencontek menghalangi pemakaian strategi tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelajar yang memilih untuk mencontek dikarenakan mereka tidak mengetahui bagaimana menggunakan strategi pembelajaran efektif atau sederhananya karena mereka tidak ingin menghabiskan waktu untk menggunakan strategi tersebut.
    Berdasarkan perspesktif perkembangan, mencontek dapat muncul dalam kuantitas dan kualitas yang berbeda tergantung dari level perkembangan kognitif, sosial dan moral siswa. Di mana mencontek cenderung sedikit muncul pada anak-anak daripada remaja (Miller, Murdock, Anderman, Poindexter), perbedaan perkembangan ini karena adanya perubahan pada kemampuam kognitif siswa dan struktur sosial dari konteks pendidikan di mana anak-anak dan remaja berinteraksi.
    Berdasarkan perspekstif motivasi, perilaku mencontek muncul karena adanya alasan tertentu dari siswa yang bersangkutan. Beberapa siswa mencontek karena mereka sangat fokus pada extrinsic outcomes seperti rangking, siswa lain mencontek karena mereka fokus dengan menjaga kesan untuk diri mereka sendiri atau untuk teman-teman mereka, kemudian siswa yang lain mencontek karena kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan diri dalam menyelesaikan tugas-tugas yang kompleks atau juga karena sifat yang telah berkembang pada diri mereka.

  Faktor-Faktor Perilaku Mencontek

Di dalam buku Pyschology of Academic Cheating di jelaskan bahwa perilaku mencontek ini berhungan dengan variabel situasi yang ada, motivasi, moral, dan faktor-faktor perkembangan. Sementara itu dari hasil survey di litbang Media Group yang dilakukan 19 April 2007, menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang menyontek adalah:
a. Teman dan Sanksi (faktor lingkungan)
     Dari hasil survey litbang Media Group yang dilakukan 19 April 2007, ditemukan bahwa penyebab lingkungan ternyata lebih besar peranannya dalam memunculkan tindakan mencontek peserta didik. Hal termasuk penyebab lingkungan adalah teman dan hukuman.Ketika ditanya berapa banyak teman responden dulu yang mencontek, mayoritas responden survei litbang Media Group yang dilakukan 19 April 2007 (46%) menjawab banyak. Jumlah yang menjawab sedikit juga tidak berbeda jauh, ada 44 persen. Sedangkan yang menjawab tidak ada hanya tujuh persen saja.
     Hasil uji Chi-Square antara jawaban ini dengan jawaban pada pertanyaan pertama menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara responden yang menjawab pernah mencontek dengan yang tidak pernah mencontek. Responden yang mengaku pernah mencontek menilai banyak teman mereka yang mencontek. Sedangkan responden yang mengaku tidak pernah mencontek menilai hanya sedikit atau bahkan tidak ada teman mereka yang mencontek. Artinya, tindakan mencontek amat dipengaruhi oleh teman. Jika teman mencontek, maka peserta didik juga akan mencontek. Sebaliknya, jika teman tidak mencontek atau hanya sedikit yang mencontek maka peserta didik juga cenderung tidak akan mencontek.
     Selain teman, tindakan mencontek juga disebabkan lemahnya pemberlakuan sanksi. Mayoritas responden survei (66 %) melihat bahwa guru atau dosen hanya memberikan hukuman yang lemah seperti menegur atau meminta ujian ulang peserta didik yang ketahuan mencontek. Hanya sedikit guru atau dosen yang memberi hukuman berat seperti membatalkan kelulusan peserta didik (15 %). Pengujian dengan Chi-Square antara jawaban ini dengan jawaban pada pertanyaan pertama juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara responden yang menjawab pernah mencontek dengan yang tidak pernah menyontek. Responden yang mengaku pernah mencontek menilaihukuman yang diberikan pada peserta didik yang ketahuan mencontek ringan, tidak tentu, atau bahkan tidak ada hukuman sama sekali. Sedangkan responden yang mengaku tidak pernah mencontek cenderung menjawab hukuman yang diberikan pada peserta didik yang ketahuan mencontek berat atau tidak tentu.
b. Tekanan Tinggi
    Mencontek biasanya dilakukan siswa dalam ujian ataupun mengerjakan tugas yang mana kedua hal tersebut mempengaruhi nilai rapor ataupun lulus tidaknya seseorang dalam ujian. Hal ini memberikan tekanan kepada para siswa, tekanan tinggi inilah yang memicu seorang siswa untuk mencontek.
c. Andil Pengajar dan Pengawas
    Pengajar, baik itu guru dan dosen, atau pihak sekolah dan fakultas, berfungsi sebagai pengawas. Masalahnya, kecurangan akademik ternyata juga ditemukan pada pengajar itu sendiri. Kasus pencurian naskah UN di SMU PGRI 4 Ngawi Jawa Timur menunjukkan bahwa pengajar juga dapat terlibat dalam kecurangan akademik. Jika ditilik lebih jauh, sekolah dan perguruan tinggi sebenarnya berkepentingan atas nilai peserta didiknya. Jika peserta didik memperoleh nilai bagus atau 100% lulus, maka akreditasi sekolah atau kampus meningkat. Sebaliknya, jika nilai jeblok maka akreditasi pun terancam anjlok. Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa pengajar atau pengawas pun memiliki andil untuk mendorong para peserta didik dalam melakukan kecurangan.

Hal-hal yang Termasuk Kategori Mencontek

Bentuk-bentuk mencontek atau kecurangan akademik menurut Underwood (2006) adalah sebagai berikut:
a. Perilaku curang dalam test dan ujian didefinisikan sebagai tindakan tidak jujur yang dilakukan dibawah pengawasan yang mencakup berbagai tindakan yang dilakukan secara individual atau berkelompok untuk mendapatkan keuntungan yang tidak pantas dalam berbagai bentuk evaluasi belajar yang dapat berupa latihan, tes, atau ujian. Tindakan ini dapat berupa:
   1) Melihat lembar jawaban siswa lain.
   2) Berinteraksi secara aktif dengan siswa lain yang juga sedang melaksanakan ujian baik dengan
       isyarat-isyarat tertentu atau dengan menggunakan alat elektronik seperti handphone dan lain
       sebagainya.
   3) Mendapatkan informasi dari pihak lain yang berada di luar ruang ujian dengan memanfaatkan
       teknologi digital (handphone, dll).
   4) Menyamar atau menggantikan. Menggantikan orang lain dalam ujian dengan berpura-pura
        menjadi individu tersebut, mengerjakan tugas orang lain atau menyebabkan seseorang
        menggantikan dirinya dalam ujian dan membuat orang lain mengerjakan tugas yang seharusnya
       dikerjakan sendiri.
   5) Mendapatkan informasi yang tidak diijinkan sebelum pelaksanaan ujian (telah mengetahui soal
        dan jawaban dalam ujian tersebut).
   6) Menyimpan dan memberitahukan soal yang akan ditanyakan dalam ujian kepada siswa lain yang
       belum mengikuti ujian tanpa sepengetahuan pihak penyelenggara ujian.
   7) Mengganti lembar jawaban yang disediakan dalam ujian dengan lembar jawaban yang telah
        disediakan sendiri sebelum ujian berlangsung.
   8) Menggunakan materi atau alat-alat yang tidak digunakan saat tes berlangsung seperti kertas yang
       disembunyikan, atau mengakses internet menggunakan telepon genggam.
b. Perilaku curang dalam kegiatan akademik yang tidak diawasi (pembuatan karya tulis, pengerjaan tugas rumah). Tindakan ini dapat berupa plagiarisme, kolusi dan subtitusi.
   1) Menyalin materi-materi yang didapatkan dari karya tulis oranglain tanpa mencantumkan sumber
       dengan jelas.
   2) Menggunakan ide dan hasil karya orang lain untuk kepentingannya sendiri tanpa sepengetahuan
       sumber.
   3) Mengumpulkan karangan atau karya tulis yang sama atau sangat mirip pada dua tugas atau mata
       kuliah yang berbeda.
   4) Melakukan banyak parafrase dari sumber-sumber lain ketika membuat karya tulis tersebut,
       sebagian besar merupakan peniruan terhadap ide orang lain.

Sedangkan bentuk-bentuk perilaku curang menurut Finn & Frone (2004) dalam Rosa (2009:16) adalah sebagai berikut:
   1) Mendapatkan soal atau jawaban dari teman yang telah mengerjakan ulangan terlebih dahulu.
   2) Membantu teman mencontek saat ujian.
   3) Menyalin hampir seluruh kata demi kata dari suatu sumber dan mengumpulkan tugas sebagai
       hasil karya sendiri.
   4) Mengumpulkan tugas yang telah dikerjakan oleh orang lain atau orang tua.
   5) Mengerjakan tugas bersama orang lain padahal tidak ada instruksi untuk bekerjasama.
   6) Membiarkan orang lain menyalin tugas yang telah dikerjakan.
   7) Menyalin beberapa kalimat tanpa mencantumkan sumber aslinya.

C. Metode Observasi
     Metode yang akan digunakan dalam observasi ini adalah observasi alami (naturalistik).Dalam metode observasi peneliti berada di luar objek yang diteliti atau tidak menampakkan diri sebagai orang yang sedang melakukan penelitian. Sumber datanya ialah situasi wajar atau “natural setting”. Peneliti dengan demikian mengumpulkan data berdasarkan observasi situasi yang wajar, sebagaimana adanya, tanpa dipengaruhi.
1) Definisi Operasional Aspek yang Diobservasi
    Mencontek adalah sebuah strategi yang membuat kita berpikir pendek dengan cara-cara tidak jujur
    yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan akademik dan menghindari kegagalan
    akademik. Mencontek dalam tugas akademik meliputi susunan yang bermacam-macam meliputi
    pembelajaran, perkembangan, dan motivasi.
2) Tujuan Observasi
   − Memenuhi tugas dari dosen pembimbing.
   − Membuktikan perilaku mencontek mahasiswa dengan cara - cara tertentu saat dilaksanakannya
      ujian
3) Kriteria Subjek
  − Jumlah Subjek : 36 orang mahasiswa diamati secara bersamaan
  − Jenis Kelamin Subjek : Pria dan Wanita.
  − Usia Subjek : 18 tahun keatas.
4) Perilaku yang diamati
    Perilaku mencontek mahasiswa kelas 22B jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Mercu
    Buana Yogyakarta saat ujian mata kuliah Ekonomi Dasar.
5) Observer
    Observer merupakan mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta Fakultas Psikologi semester
    2 yang telah mempunyai dan kompeten dalam bidang Observasi. Dalam pengamatan ini,
    dibutuhkan observer sebangayak enam orang dengan tugas satu orang observer, mengobservasi 6
    orang mahasiswa yang duduk di barisan depan, tengah dan belakang.
6) Setting Lokasi/Tempat dan Waktu Observasi
    − Tempat : Kampus 4 Universitas Mercu Buana Yogyakarta Ruang 310
    − Hari/Tanggal : Sabtu, 07 Mei 2016
    − Waktu : 08.00 – 09.00
    − Durasi : 60 menit
7) Jenis Observasi yang Akan Digunakan
    Jenis observasi yang akan digunakan oleh tim penyusun yaitu observasi non partisipan dan
    observasi sistematik.
   a. Observasi Non Partisipan
       Observasi non partisipan adalah observasi yang dalam pelaksanaannya tidak melibatkan peneliti  
       sebagai partisipan atau kelompok yang diteliti.
   b. Observasi Sistematik
       Observasi Sistematik adalah observasi yang diselenggarakan dengan menentukan secara 
       sistematik faktor-faktor yang akan diobservasi lengkap dengan kategorinya. Dengan kata lain 
       wilayah materi observasi telah dibatasi secara tegas sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian.
       Umumnya observasi sistematik dilakukan dalam jangka waktu pendek. Oleh karena itu agar
       terkumpul data sebanyak mungkin, maka observasi ini memerlukan lebih dari seorang observer
       dan bilamana dimungkinkan dilengkapi pula dengan penggunaan alat pecatat mekanik
       (elektronik).
8) Teknik Pencatatan
    Teknik observasi yang digunakan berupa event sampling. Teknik event sampling fokus pada
    perilaku itu sendiri dan eksplorasi dari karakteristik event. Pada event sampling, observer
    menunggu kemunculan perilaku yang dipilih kemudian merekamnya. Tidak ada batasan waktu,
    fokus ada pada perilaku itu sendiri dan waktu adalah sebagai akibat dari durasi normal dari
    peristiwa. Rentang perilaku-perilaku yang diamati dibatasi . Pada event sampling, waktu yang
    dibutuhkan tidak dapat ditentukan. Pada kasus observasi ini, akan dihitung berapa banyak suatu
    indikator perilaku muncul pada mahasiswa menggunakan teknik tally mark.

D. Lembar Pencatatan Observasi
LEMBAR REKAM OBSERVASI

    Selain itu, berdasarkan observasi yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sejumlah mahasiswa terlihat melakukan tingkah laku mencontek dengan jumlah total mahasiswa yang melakukan tingkah laku mencontek sebanyak 2 orang dari 36 mahasiswa dan tidak melakukan perilaku menyontek sebanyak 34 orang dari 36 orang mahasiswa. Tingkah laku yang paling banyak muncul adalah melihat lembar jawaban siswa laindan yang paling jarang atau tidak pernah muncul adalah mengganti lembar jawaban yang disediakan dalam ujian dengan lembar jawaban yang telah disediakan sendiri
    Tingkah laku menyontek lain yang muncul diluar prediksi tingkah laku menyontek yang telah ditentukan sebelumnya (dalam tabel lembar rekam observasi) adalah sebagai berikut :
1. Ruangan hening namun bisa terdengar suara pssst
2. Banyak mahasiswa yang meminjam alat tulis antar sesama
3. Terdengar suara ringtone hp mahasiswa
4. Terdapat subjek yang berpura pura menjatuhkan bolpoin
9 | Tugas Observasi Mahasiswa Kelas 21C UMBY Tahun 2016
5. Terdapat subjek yang mengganggu temannya saat ujian berlangsung
6. Terdengar suara suara “nomor 1..... nomor 3...... “
7. Terdapat subjek yang melempar sebuah kertas ke teman lain sebanyak satu kali
8. Subjek A terlihat berinteraksi aktif dengan teman di sekitarnya
9. Terdapat subjek yang terlihat bertukar lembar jawaban dengan temannya
10. Terdapat subjek yang mencolek teman di depannya
11. Terdapat subjek yang mengobrol dengan temannya
12. Aada subjek yang meminta izin untuk mengambil tambahan alat tulis didalam tasnya
13. Suasana kelas sangat rusuh ketika pengawas meninggalkan kelas dalam waktu sekejap

Saturday, June 3, 2017

Tanya Jawab tentang Shalatul Lail

NOTULENSI JIHAD PAGI
Ahad, 28 Mei 2017/02 Ramadlan 1438
SHALATUL LAIL


PERTANYAAN DARI BROSURPertanyaan:
Nabi SAW shalat jamaah tarawih dengan sahabat hanya tujuh hari di bulan ramadhan, sisa 23 hari nabi SAW shalat munfarid? Di masjid atau dirumah?
Jawab :
عَنْ اَبىْ ذَرّ قَالَ: صُمْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص رَمَضَانَ. فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ اْلخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ. ابو داود 2: 50، رقم: 1375

Dari Abu Dzarr, ia berkata : Kami berpuasa Ramadlan bersama Rasulullah SAW. Beliau tidak shalat (malam) bersama kami sehingga tinggal tujuh hari dari bulan itu. Lalu beliau shalat bersama kami hingga lewat sepertiga malam, kemudian beliau tidak shalat malam bersama kami pada malam yang keenam. Tetapi beliau shalat malam bersama kami pada malam yang ke lima hingga lewat tengah malam.
[HR. Abu Dawud juz 2, hal. 50, no. 1375]

Tinggal 7 hari terakhir, nabi tidak selalu shalat tarawih berjamaah di masjid.

عَنْ عَائِشَةَ اُمّ الْمُؤْمِنِيْنَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِى الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ. ثُمَّ صَلَّى مِنَ اْلقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ. ثُمَّ اجْتَمَعُوْا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ اَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ اِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ ص فَلَمَّا اَصْبَحَ قَالَ:قَدْ رَأَيْتُ الَّذِى صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِى مِنَ اْلخُرُوْجِ اِلَيْكُمْ اِلَّا اَنّى خَشِيْتُ اَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَ ذٰلِكَ فِى رَمَضَانَ. البخارى 2: 44

Dari 'Aisyah Ummul Mu’minin RA, bahwasanya pada suatu malam Rasulullah SAW shalat malam dimasjid, maka orang-orangpun turut shalat bersama beliau. Kemudian beliau shalat pula pada malam berikutnya, maka bertambah banyak orang yang mengikutinya. Kemudian malam ketiganya atau ke empatnya mereka telah berkumpul, tetapi beliau tidak datang. Maka setelah pagi harinya beliau berkata, "Sungguh saya telah mengetahui apa yang kalian lakukan tadi malam dan saya tidak berhalangan untuk datang kepada kalian, hanyasaja saya khawatir kalau shalat itu diwajibkan atas kalian". (Kata 'Aisyah), "Kejadian tersebut pada bulan Ramadlan". 
[HR. Bukhari juz 2, hal. 44]
Nabi SAW tidak selalu shalat tarawih di masjid. Kalau kita? Shalat tarawih peserta banyak, sedangkan shalat 5 waktu tidak banyak, seolah-olah shalat tarawih jamaah di masjid itu wajib.
Abu dzar ikut shalat jamaah bersama Nabi SAW di 7hari terakhir. Itupun tidak selalu hadir.
Nabi SAW shalat tarawih sampai lewat 1/3 malam. Karena pelaksanaan shalat santai, istirahatnya panjang.
Kalau melihat tarawihnya nabi SAW, sebetulnya kita ndak ada yang tarawih ( santai ). Yang mengatakan shalat tarawih bukan nabi SAW, tapi karena pelaksanaannya santai, sahabat menamakannya shalat tarawih.

Pertanyaan:
Lebih utama yang mana shalat tarawih berjamaah di masjid atau munfarid di rumah?
Jawab :
Secara umum shalat jamaah lebih utama. Tapi kalau di rumah bisa tarawih, maka lebih utama yang bisa tarawih ( santai )
Kalau shalat jamaah tarawih lebih baik dari pada sendiri di rumah,tentu nabi sudah menganjurkan. Tapi karena shalat tarawih di masjid sendiri2, maka umar berpendapat lebih baik berjamaah. Ditunjuknya salah satu jadi imam, yang lain makmum. Itupun umar tidak ikut ( pergi ). Malam berikutnya umar cek ternyata sudah baik ( tidak sendiri-sendiri ). Maka ini termasuk bidah hasanah. Bidahnya pada mengaturnya. Kalau nabi SAW tidak mengatur sehingga berjamaah, tapi nabi SAW melaksanakan, sahabat yang melihat langsung ikut saja.

Pertanyaan:
Biasa yang saya kerjakan pada saat 1 atau ½ sebelum shalat subuh. 2 rekaat salam 2 rekaat salah lalu sahur sambil nonton tv, hampir masuk waktu subuh, saya witir 1 rekaat. Apa sudah benar?
Jawab :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ
صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. مسلم 1: 516

Dari Ibnu 'Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Shalat malam itu 2 raka'at 2 raka'at. Maka apabila seseorang diantara kalian khawatir masuk Shubuh, hendaklah ia shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan untuk shalat yang telah ia kerjakan".
[HR. Muslim juz 1, hal. 516]
Sudah benar,

Pertanyaan:
Bagaimana kalau saya di undang untuk mengimami tarawih di masjid, dengan pelaksanaan 2,2, istirahat, 2,2 witir 3 rekaat. Jam 8 malam sudah harus selesai 11 rekaat. Apa sudah benar?
Jawab :
Yang mengharuskan jam8 malam harus selesai, yang mengharuskan siapa? Kamu ngimami boleh juga. Entah dikatakan tarawih atau tidak. Karena tarawih pelaksanaannya santai / rilex.
Dari 'Aisyah RA, katanya :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَرَوَّحُ فَاَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ. البيهقى 2: 497

Adalah Rasulullah SAW shalat 4 rekaat dimalam hari. Kemudian beliau beristirahat/bertarawih lama sekali, sehingga aku merasa kasihan kepadanya.
[HR. Baihaqi juz 2, hal. 497]
4 rekaat >> 2 rekaat salam 2 rekaat salam kemudian istirahat panjang.

Pertanyaan:
Apa ada tuntunannya, imam akan berdiri shalat mengomandoi para jamaah dengan mengucapkan Allahumma sholi ala Muhammad, dijawab jamaah : ya rasulullah dengan keras. Apa yang harus dilakukan imam, berdiri langsung? Lalu di ikuti makmumnya
Jawab :
Sampai hari ini saya belum tahu dalilnya, walau banyak orang yang praktek. Tidak perlu di komando, kalau melihat imam berdiri otomatis ikut berdiri.

Pertanyaan:
Di hadits ini nabi SAW mengerjakan witir di awal, pertengahan, akhir. Apa nabi tidak tidur? Karena di hadits yang lain, nabi juga shalat juga tidur
Jawab :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: مِنْ كُلّ اللَّيْلِ قَدْ اَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص مِنْ اَوَّلِ اللَّيْلِ وَ اَوْسَطِهِ وَ اٰخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ اِلىَ السَّحَرِ. مسلم 1: 512

Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Dalam seluruh (bagian) malam Rasulullah SAW pernah mengerjakan witir, di permulaan malam, dipertengahannya, dan di akhirnya, hingga witirnya selesai pada waktu sahur".
[HR. Muslim juz 1, hal. 512]
Maksudnya nabi SAW kadangkala witir di awal malam, kadangkala di pertengahan malam, kadangkala di akhir malam, setelah itu ya tidur.

Pertanyaan:
Maksud disaksikan itu apa maksudnya disaksikan malaikat / Allah. Saya pernah mendengar hadits bahwa Allah turun di sepertiga malam akhir untuk melihat hambanya, siapa yang berdoa dikabulkan?
Jawab :

عَنْ جَابِرٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ خَافَ اَنْ لَا يَقُوْمَ مِنْ اٰخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ اَوَّلَهُ وَ مَنْ طَمِعَ اَنْ يَقُوْمَ اٰخِرَهُ فَلْيُوْتِرْ اٰخِرَ اللَّيْلِ. فَاِنَّ صَلَاةَ اٰخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ وَ ذٰلِكَ اَفْضَلُ. مسلم 1: 520

Dari Jabir RA, ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa khawatir tidak akan bangun pada akhir malam, maka bolehlah berwitir pada awwal malam. Dan barangsiapa berkeyakinan mampu bangun di akhir malam, maka hendaklah mengerjakan witir pada saat itu, karena shalat di akhir malam itu disaksikan dan yang demikian itu lebih utama".
[HR. Muslim juz 1, hal. 520].
Witir di akhir malam bertepatan dengan Allah turun di langit bumi sehingga lebih utama dari pada di awal malam. Kalau khawatir tidak bisa bangun malam, witir di awal malam boleh.

Pertanyaan:
Witir menjadi penutup shalat malam, setelah shalat witir nabi shalat lagi 2 rekaat, mohon penjelasan?
Jawab :

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ اِذَا صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ الْمَنْزِلَ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهُمَا رَكْعَتَيْنِ اَطْوَلَ مِنْهُمَا، ثُمَّ اَوْتَرَ بِثَلَاثٍ لَا يَفْصِلُ فِيهِنَّ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، يَرْكَعُ وَهُوَ جَالِسٌ، وَيَسْجُدُ وَهُوَ قَاعِدٌ جَالِسٌ. احمد 11: 498، رقم: 25278

Dari 'Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW apabila setelah shalat 'Isyak, beliau masuk ke rumah. Kemudian beliau shalat 2 rekaat, kemudian shalat lagi 2 reka'at yang lebih panjang daripada 2 reka'at yang pertama tadi, kemudian beliau berwitir 3 rekaat, dan beliau tidak memisahkan diantara tiga rekaat itu. Kemudian beliau shalat lagi 2 reka'at dalam keadaan duduk, beliau ruku' dalam keadaan duduk dan bersujud, dan beliau shalat dengan duduk".
[HR. Ahmad juz 11, hal. 498, no. 25278]
Tahajjud dulu ditutup dengan witir boleh, atau witir dulu baru tahajjud boleh. Nabi SAW tidak memisahkan witir ( 3 rekaat utuh ). Sebaik-baik shalat itu dirumah kecuali shalat wajib kecuali shalat sunnah.

Pertanyaan:
Apakah hadits ini masih berlaku sampai sekarang?
Jawab :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرَأَيْتَ اِنْ عَلِمْتُ اَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ مَا اَقُوْلُ فِيْهَا؟ قَالَ: قُوْلِي: اللّٰهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنّي. الترمذى، و قَالَ: هٰذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، 5: 195، رقم: 3580

Dari ‘Aisyah, ia berkata : Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau apabila aku mengetahui bahwa malam itu malam Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca ?”. Beliau bersabda, Bacalah Alloohumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fafu annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku).
[HR. Tirmidzi juz 5, hal. 195, no. 3580]
Ada perbedaan pendapat :
Malam lailatur qodr turun setiap bulan ramadhan
Turun saat itu saja ( saat turunnya Al-Quran )
Kalau lailatul qodr itu dikatakan malam turunnya Al-Quran, turunnya saat nabi SAW hidup? atau sampai sekarang?
Sekarang ini ibaratnya mengenang saja, mengenang masa dahulu turunnya Al-Qur’an, di isi dengan perbuatan kebaikan ( tafsir fii dhillalil qur’an oleh sayd qutb )

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Diturunkan Al-Quran ya saat itu saja. Bukan sampai sekaang.

Pertanyaan:
Yang 2 rekaat terakhir shalat apa? yang sering saya lakukan setelah witir langsung tidur.
Jawab :
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ اِذَا صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ الْمَنْزِلَ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهُمَا رَكْعَتَيْنِ اَطْوَلَ مِنْهُمَا، ثُمَّ اَوْتَرَ بِثَلَاثٍ لَا يَفْصِلُ فِيهِنَّ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، يَرْكَعُ وَهُوَ جَالِسٌ، وَيَسْجُدُ وَهُوَ قَاعِدٌ جَالِسٌ. احمد 11: 498، رقم: 25278

Dari 'Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW apabila setelah shalat 'Isyak, beliau masuk ke rumah. Kemudian beliau shalat 2 rekaat, kemudian shalat lagi 2 reka'at yang lebih panjang daripada 2 reka'at yang pertama tadi, kemudian beliau berwitir 3 rekaat, dan beliau tidak memisahkan diantara tiga rekaat itu. Kemudian beliau shalat lagi 2 reka'at dalam keadaan duduk, beliau ruku' dalam keadaan duduk dan bersujud, dan beliau shalat dengan duduk".
[HR. Ahmad juz 11, hal. 498, no. 25278]
Nabi SAW mengatakan ada 3 amalan yang kalau bisa jangan ditinggalkan :
Witir sebelum tidur
Shalat dhuha 2 rekaat
Puasa pada 13,14,15
Kalau sebelum tidur sudah witir, bangun malam kemudian tahajjud, tidak perlu witir.

Pertanyaan:
Apakah ada hadits shalat tarawih 23 rekaat?
Jawab :
b. Bilangan Raka'atnya
Shalat Sunnah Tarawih ini, bilangan raka'at yang biasa dikerjakan oleh Nabi SAW adalah sebelas raka'at beserta witirnya. Dan sebanyak-banyaknya tak terbatas, berapa saja seseorang mampu melaksanakan-nya hingga habis waktu shalat sunnah tersebut, yaitu masuk waktu Shubuh.

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى مَا بَيْنَ اَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ اْلعِشَاءِ اِلىَ اْلفَجْرِ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلّمُ بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ، وَ يُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ. مسلم 1: 508

Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW shalat antara beliau selesai dari shalat 'Isyak hingga fajar, 11 rekaat. Beliau salam antara tiap-tiap 2 rekaat, lalu berwitir 1 rekaat".
[HR. Muslim juz 1, hal. 508].

Nabi SAW biasa melaksanakan tidak lebih dari 11 rekaat. Jumlah rekaat tidak ditentukan, yang ditentukan waktunya dari setelah shalat isya sampai subuh.

Pertanyaan:
Apa yang dimaksud “tidak diketahui jarh-tadilya”?
Jawab :

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ اَبْزَى عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص، كَانَ يُوْتِرُ بِسَبّحِ اسْمَ رَبّكَ اْلاَعْلٰى، وَ قُلْ يٰۤاَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ، وَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. فَاِذَا فَرَغَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ، ثَلَاثًا وَ يَمُدُّ فِى الثَّالِثَةِ. النسائى 3: 247

Dari Qatadah dari Zurarah dari ‘Abdur Rahman bin Abza dari Rasulullah SAW, biasanya beliau SAW di dalam shalat witir membaca surat Al-A’laa, Al-Kaafirun dan Al-Ikhlash. Setelah selesai lalu beliau mengucapkan, Subhaanal Malikil Qudduus (Maha Suci Allah Raja yang Maha Quddus) 3 kali, dan beliau memanjangkan pada bacaan yang ketiga.
[HR. Nasaaiy juz 3, hal. 247]

Dan menurut riwayat Thabaraniy, setelah bacaan tersebut ada tambahan Rabbul malaaikati war ruuh (Tuhan nya para Malaikat dan Ruuh), namun tambahan ini tidak shahih, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Isa bin Yuunus, yang tidak diketahui jarh - tadilnya.
Maksudnya tidak diketahui baik / buruknya.

Pertanyaan:
Tarawih di masjid, witir di rumah apa boleh?
Jawab :
Boleh, mari hidup-hidupkan bulan ramadhan dengan tarawih.

Pertanyaan:
Tarawih dikerjakan 4 rekaat 4 rekaat, bagaimana?
Jawab :
Dari 'Aisyah RA, katanya :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَرَوَّحُ فَاَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ. البيهقى 2: 497

Adalah Rasulullah SAW shalat 4 rekaat dimalam hari. Kemudian beliau beristirahat/bertarawih lama sekali, sehingga aku merasa kasihan kepadanya.
[HR. Baihaqi juz 2, hal. 497]
عَنْ اَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ اَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رض كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُوْلِ اللهِ ص فِي رَمَضَانَ؟ فَقَالَتْ: مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلّي اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلّي اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلّي ثَلَاثًا. البخارى 2: 47، مسلم 1: 509

Dari Abu Salamah bin 'Abdur Rahman, bahwasanya ia pernah bertanya kepada 'Aisyah RA, "Bagaimanakah shalatnya Rasulullah SAW di bulan Ramadlan ?". Maka 'Aisyah berkata, "Rasulullah SAW tidak melebihkan di bulan Ramadlan maupun di luar Ramadlan atas sebelas rekaat. Beliau shalat empat rekaat, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rekaat, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga rekaat". [HR. Bukhari juz 2, hal. 47; Muslim juz 1, hal. 509]
Keterangan :
Maksud hadits tersebut, Nabi SAW shalat 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat. Dilanjutkan lagi 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat. Kemudian beliau shalat witir 3 reka'at.
Namun hadits tersebut bukan merupakan batasan dari Nabi SAW, tetapi hanya menunjukkan bahwa biasanya Nabi SAW shalat malam sebelas raka'at.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. مسلم 1: 516

Dari Ibnu 'Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Shalat malam itu 2 raka'at 2 raka'at. Maka apabila seseorang diantara kalian khawatir masuk Shubuh, hendaklah ia shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan untuk shalat yang telah ia kerjakan".
[HR. Muslim juz 1, hal. 516]

Yang 2 rekaat salam dan yang 4 rekaat salam tidak bisa sama, saling menghormati.

Pertanyaan:
Bagaimana kalau mengikuti jamaah di masjid, yang witir nya 2 + 1?
Jawab :
Nabi SAW mengatakan shalat witir dengan 3 rekaat tidak dipisahkan. Kalau kamu belum tahu ilmunya, maka amalkan yang sudah jelas tahu dalilnya.

Pertanyaan:
Di tempat kami tadi malam imam/khotib dalam menjalankan shalat tarawih lupa, 2 > 2 > 2 > 1. Setelah salam makmum di belakang imam baru mengingatkan. Kemudian imam menambah 2 kemudian 1?
Jawab :
Imam dan makmum sama-sama bingung, yang sudah ya sudah besok lagi jangan seperti itu. maka, makmum kalau melihat imam salah langsung di ingatkan ! Kecuali kalau nabi SAW yang melaksanakan ( di ingatkan setelah selesai ), karena untuk pedoman hukum.

Pertanyaan:
Shalat tarawih 23 rekaat, dengan alasan pahala tambah banyak, suratnya diperbanyak dengan surat al ikhlas. Apa ada dalilnya?
Jawab :
Tanya yang melaksanakan! sekiranya itu lebih baik, maka tentu sudah dicontohkan Nabi SAW.

TAUSIAH : Dr.(H.C.) DZULKIFLI HASAN, S.E., M.M. ( KETUA MPR RI )
Pengajian di Teras 1 ( Bentangan, Boyolali ), itu termasuk radikalisme, intoleransi. Harusnya aparat tidak perlu tanya, namun langsung ditindak.
Tidak mungkin indonesia merdeka tanpa peran ulama & umat islam. Maka tidak tepat kalau agama, kebangsaan, Negara dipisah, namun itu saling melengkapi.
Sedang ramai di sosmed soal pancasila & kebhinekaan. Kalau orang islam melaksanakan ajaran agamanya itu pancasilais. Pancasila sebagai pandangan hidup sehingga menjadi perilaku rakyat indonesia.
Sila Pertama : ketuhanan yang maha esa. Negara ini Negara yang bertuhan, dan menolak faham anti tuhan. Menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing secara leluasa. Kalau umat islam ingin punya gubernur islam, itu hak umat islam, itu pancasilais. Kalau ngaji dipagar bamboo, itu yang anti pancasilais.
Sila kedua : kemanusiaan yang adil dan beradap. Maksudnya, saling menghormati dan menghargai.
Sila ketiga : persatuan indonesia. Negeri ini telah bersumpah, untuk melindungi segenap tanah airnya, melindungi segenap rakyatnya. Kalau ada rakyat ada yang tidak bisa makan, ada rakyatnya yang mau pengajian digembok, maka Negara harus hadir !
Pelayanan mendasar public : makan, minum, pelayanan umum, mau pengajian, dll. Kalau pemimpin tidak memperhatikan hak-hak dasar rakyatnya maka tidak pancasilais.
Sila keempat : kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Maksudnya tentang musyawarah. Kalau tidak ketemu dalam suatu perkara, maka musyawarah mufakat.
Sila kelima : keadilan social bagi seluruh rakyat indonesia. Sebagai cita-cita bangsa indonesia.
Itulah perilaku yang harus dilaksanakan oleh para pemimpin, pak RT, kepala desa, bupati, gubernur, dll. Harus pancasilais.
NKRI maksudnya kalau saya orang lampung, datang ke Jakarta, statusnya sama, haknya sama. Orang jawa yang tinggal di sumatera hak nya sama dengan penduduk pribumi.
BHINEKA TUNGGAL IKA. Kata Alm KH.Hasyim Muzadi. Yang beda jangan disama-samakan, yang sama jangan dibeda-bedakan. Maka, saling menghormati & menghargai.
Tulisan Bung Hatta, September 1931:
Rakyat yang mempunyai kedaulatan dan kekuasaan. Rakyat itu jantung hatinya bangsa, hidup mati indonesia tergantung pada rakyat. Semua itu akan berarti kalau dibelakangnya ada rakyat yang sadar bahwa merekalah yang berdaulat, merekalah yang berkuasa.”
Kalau rakyat sadar berkuasa, dalam memilih pemimpin islam tidak mungkin kalah. Kekuasaan itu pentiiiiing sekali.
System ketatanegaraan indonesia adalah demokrasi pancasila. Yang berdaulat / yang berkuasa itu rakyat. Yang milih bupati, gubernur, dll adalah rakyat. Rakyat yang menentukan.
Maka memilih harus secara sadar, bukan karena sembako, dll. Yakin kalau yang dipilih orang baik.
Indonesia Negara hukum, punya rasa keadilan, karena MTA di bentangan, boyolali ngaji dipagari.
3 hal yang belum dicapai :
Demokrasi melahirkan kesenjangan, karena rakyat dalam memilih pemimpin tidak sadar, sehingga ada politik transaksional atau politik pencitraan. Wakil rakyat yang tidak jujur, untuk suap rakyat butuh dana. Cari raja baru ( pengusaha ). Sehingga setelah jadi memihak rajanya ( bukan rakyat, tapi pengusaha yang mendanai ). Kebijakan penguasa memihak kepada siapa yang mendanai, bukan rakyat.
Bung Karno tambang emas di irian jaya, kalau putra putri indonesia belum bisa ya tunggu dulu sampai ada yang bisa, karena tidak akan busuk . Sekarang tambang di obral murah kepada para investor.

PERTANYAAN LANGSUNGPertanyaan:
Bahran_boyolali
Usul : tolong panggil kapolri ! supaya memerintahkan kepada kapolres boyolali untuk mengatasi masalah MTA Teras 1. Karena sudah inkrah, MTA Teras 1 telah di ijinkan melaksanakan pengajian.
Bambang_Kasihan
Dengan kejadian di MTA Teras 1. Tindakan apa yang segera akan dilakukan?
Harianto tanjung_padang
Sejak pilkada Jakarta kapolri seperti raja diraja. Ulama dikriminalisasi, sampai ada yang masuk penjara?
Cucu darmawan_wonogiri
Saat ini sedang berkembang politik transaksional. Melihat kasus MTA Teras 1, yang sudah diputus oleh PTUN dan MTA menang. Apakah ini merupakan bagian dari politik, yang seharusnya pihak yang salah yang harus di amankan, koq mendapatkan dukungan dari pemerintah?
Setiap kali ada pemaparan dari pejabat, mestinya ada langkah nyata, tidak hanya janji-janji !
Jawab :
MPR akan langsung konsultasi dengan presiden, boleh panggil kapolri juga. Nanti kami akan rapat kepada kapolri hasilnya akan kami sampaikan kepada warga MTA.
MPR akan rapat dengan menteri dalam negeri, karena hubungannya dengan pemerintah daerah.
Waktu pilkada DKI, 3 calon muncul. Ada yang pertahanan ada penentang. Yang 1 bertahan yang 2 penentang, dimana kalau dari 2 kalah salah satu, maka yang kalah dukung yang menang. Agus-silfi kalah, dukung yang menang.
Demokrasi yang sekarang tidak bisa satu komando seperti jaman pak harto. Gubernur belum tentu taat kepada presiden ( karena beda partai ).
Akan kami perjuangkan mati-matian kasus Teras 1, inginnya berhasil. Tentang hasilnya cepat atau lambat wallahualam.
Saya mengikuti pengajian oleh Al-Ustadz, sangat senang.. yang tarawihnya 2 rekaat, 4 rekaat. Saling menghormati. Agar islam kuat, tidak terpecah-pecah.
Tantangan umat islam ekonominya masih lemah, maka :
Bekali anak-anak dengan ilmu
Galakkan interpreneur, ajari kewirausahaan.
Tidak mungkin bangsa kuat / maju. Kalau umat islam tidak maju. Indonesia tidak mungkin menjadi hebat, kalau umat islamnya tidak hebat.

Sukardi_semarang
Pertanyaan:
Perubahan UUD45 lebih menguntungkan pihak tertentu bukan rakyat. Apakah MPR sudah merencanakan kembali kepada UUD45?
Sila keempat dengan memilih wakil rakyat dengan memilih MPR / DPR / DRPD, untuk presiden, gubernur, bupati dll supaya dipilih lagi oleh MPR, itu cocok untuk demokrasi indonesia, bukan demokrasi barat?
Jawab :
592 anggota MPR ( DPR + DPD ) , ini kertas warna putih, kalau yang 500 bilang hitam, maka jadinya hitam. Maka pilih wakil itu pentiiiiiiiiiiiiiiiiiiing sekali, betul-betul menentukan.
Dari 11 perubahan amandemen, baru disetujui 1, yaitu adanya haluan Negara. Tapi harus disetujui 3/4 MPR. Kami + PKB + PKS tidak ada 150 kursi, sehingga kalah.

Inggus_Sragen
Pertanyaan:
Masalah MTA Teras 1 sudah di PTUN kan, harusnya sudah selesai. Kenapa masih ada yang meradikalisasi?
Negara penuh pencitraan, karena ada kepentingan. Bapak sebagai pengawas / pengontrol pemerintah, kami mengharapkan segera tuntas. Senarnya tidak perlu sampai pihak kapolri, kapolrespun sudah cukup. Pasti adal aktornya! maunya apa? selesai.
Jawab :
Karena di tingkat bawah tidak selesai-selesai, maka akan dibawa ke atas.

Agus_solo
Pertanyaan:
Pendapat MPR mengenai penegakan syariat islam? Kalau bicara syariat, di anggap bertentangan dengan pancasila. Padahal yang dimaksud syariat 98% syariat + 2% hukum.
Jawab :
UI riset dengan kebenaran 99%. Orang indonesia menganggap 2 hal yang penting yaitu agama & diri, kalau diganggu >> marah.
Di indonesia konstitusi yang berlaku, indonesia Negara pancasila, bukan Negara islam. Maka untuk mengubah konstitusi, pilih anggota DPR/MPR dengan benar, sehingga yang berhak merubah konstitusi.

Farid_karanganyar
Pertanyaan:
Bagaimana rakyat sadar bahwa berdaulat, kalau sehari-hari diperlihatkan di tv dengan acara yang tidak mendidik, konten negative. Situs porno kenapa tidak diblokir?
Jawab :
Ada undang-undang ITE ada undang-undang penyiaran, soal implementasi soal penegakan hukum. Kadang ada yang lelet, miring, tumpul ke atas. Tv sekarang jadi tim sukses, demo 1 juta dibilang 50rb.

Aditya_aceh
Pertanyaan:
Tarif listrik naik tinggi, biasa isi token 50rb untuk 1 bulan, sekarang 50rb untuk 1 minggu. MPR nya koq diam-diam saja?
Jawab :
Harga minyak naik, harga listrik naik, gas naik. Dan naiknya sekarang tidak pakai permisi, maka ini masukan. Yang di DPR suarakan ini, pejabat itu wakil rakyat, melayani rakyatnya untuk memperjuangkan aspirasi sesuai undang-undang yang berlaku.

CLOSING AL-USTADZ
Dikatakan oleh Bapak Dzulkifli Hasan ( Ketua MPR ), melihat kasus Teras 1, kalau yang memagari itu MTA pasti sudah dianggap radikalisme, bahkan terorisme.
Maka yang biasanya menggembar gemborkan NKRI HARGA MATI, berarti dia tidak faham KEBHINEKAAN.

Hadits-hadits Sekitar Puasa Ramadlan.

Ahad, 04 Juni 2017/09 Ramadlan 1438
Brosur No. : 1857/1897/IF


Beberapa hadits-hadits terkait Puasa Ramadlan.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. البخارى 2: 228 و مسلم 1: 524

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadlan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
[HR. Bukhari juz 2, hal 228, dan Muslim juz 1, hal. 524]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. البخارى 2: 251

Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bangun (shalat malam) pada bulan Ramadlan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
[HR. Bukhari 2 : 251]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ اٰدَمَ لَهُ اِلَّا الصّيَامَ فَاِنَّهُ لِيْ وَ اَنَا اَجْزِى بِهِ، وَ الصّيَامُ جُنَّةٌ. وَ اِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ اَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَاِنْ سَابَّهُ اَحَدٌ اَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ اِنّى امْرُؤٌ صَائِمٌ. وَ الَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ اَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا، اِذَا اَفْطَرَ فَرِحَ وَ اِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ. البخارى 2: 228

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Allah berfirman, ”Setiap amal anak Adam itu untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila salah seorang diantara kalian berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata keji dan jangan berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau menyerangnya maka hendaklah ia mengatakan, ”Sesungguhnya saya sedang berpuasa”. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulutnya orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum dari pada bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya, yaitu apabila ia berbuka, bergembira karena bukanya, dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, bergembira karena puasanya”.
[HR. Bukhari 2 : 228]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَلصّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَاِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ اَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ اِنّى صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ. وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ اَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ اَجْلِى. اَلصّيَامُ لِى وَاَنَا اَجْزِى بِهِ وَاْلحَسَنَةُ بِعَشْرِ اَمْثَالِهَا. البخارى 2 : 226

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ”Puasa itu perisai, maka janganlah ia berkata-kata keji dan jangan berbuat kebodohan. Jika ia dimusuhi atau di caci maki oleh seseorang maka katakanlah, ”Sesungguhnya saya ini sedang berpuasa“. (dua kali). Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi”. (Firman Allah), “Ia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, sedang kebaikan itu (dibalas) dengan sepuluh kali lipat”.
[HR. Bukhari 2 : 226]
'~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتّحَتْ اَبْوَابُ اْلجَنَّةِ وَغُلّقَتْ اَبْوَابُ النَّارِ وَصُفّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ. مسلم 2: 758

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila bulan Ramadlan datang maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaithan-syaithan dibelenggu”. [HR. Muslim juz 2, hal. 758]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ اَبْوَابُ اْلجَنَّةِ وَ يُغْلَقُ فِيْهِ اَبْوَابُ اْلجَحِيْمِ وَ تُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ. مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ. احمد 2: 230، انقطاع

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Ketika tiba bulan Ramadlan Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang pada kalian bulan Ramadlan, bulan yang diberkahi, Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa pada bulan itu, ketika itu pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka Jahim ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu. Dalam bulan itu ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikan-kebaikannya, maka sungguh dia telah terhalang (dari segala kebaikan)”. [HR. Ahmad juz 2, hal. 230, munqathi’]
~
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ اِفْتَرَضَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامَهُ وَاِنّى سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ اُمُّهُ. احمد. ضعيف لان فى سنده النضر بن شيبان

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Ramadlan adalah bulan dimana Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan puasa padanya, dan aku mensunnahkan shalat malam untuk kaum muslimin, maka barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadlan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka ia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana ketika ibunya melahirkannya”.
[HR. Ahmad dari ‘Abdurrahman juz 1, hal. 195, dla’if karena dalam sanadnya ada An-Nadlr bin Syaiban]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَاْلعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ِلِلّٰهِ حَاجَةٌ فِى اَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ. البخارى 2: 228

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan dusta, maka tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya”.
[HR. Bukhari juz 2, hal. 228]
~
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اَجْوَدَ النَّاسِ بِاْلخَيْرِ وَكَانَ اَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِى رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ ص اْلقُرْاٰنَ، فَاِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ اَجْوَدَ بِاْلخَيْرِ مِنَ الرّيْحِ الْمُرْسَلَةِ. البخارى 2: 228

Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata, “Adalah Nabi SAW orang yang paling dermawan diantara manusia pada kebaikan. Dan beliau paling pemurah pada bulan Ramadlan, ketika Jibril bertemu beliau, dan Jibril AS bertemu beliau pada tiap malam di bulan Ramadlan hingga selesai. Nabi SAW menyimakkan Al-Qur’an kepadanya. Maka apabila Jibril AS menemui beliau, beliau adalah sangat dermawan dalam kebaikan, lebih murah dari pada angin yang terlepas”.
[HR. Bukhari juz 2, hal. 228]
'~
عَنْ سَهْلٍ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِنَّ فِى اْلجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ اَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: اَيْنَ الصَّائِمُوْنَ؟ فَيَقُوْمُوْنَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ اَحَدٌ غَيْرُهُمْ. فَاِذَا دَخَلُوْا اُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ اَحَدٌ. البخارى 2 : 226

Dari Sahl RA dari Nabi SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat pintu yang disebut Rayyan, yangmana besok pada hari qiyamat orang-orang yang berpuasa masuk dari pintu itu. Dan tidak ada seorangpun yang masuk dari pintu itu selain mereka. Dikatakan, ”Dimanakah orang-orang yang berpuasa ?”. Maka mereka berdiri, tidak ada seorangpun selain mereka yang masuk darinya. Apabila mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk darinya”.
[HR. Bukhari 2 : 226]
~
عَنْ اَبِى الدَّرْدَاءِ رض قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيّ ص فِى بَعْضِ اَسْفَارِهِ فِى يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ اْلحَرّ وَ مَا فِيْنَا صَائِمٌ اِلَّا مَا كَانَ مِنَ النَّبِيّ ص وَ ابْنِ رَوَاحَةَ. البخارى 2: 238

Dari Abud Darda’ RA, ia berkata, “Kami keluar bersama Nabi SAW dalam sebagian perjalanan beliau di hari yang sangat panas sehingga seseorang meletakkan tangannya diatas kepalanya karena sangat panas. Diantara kami tidak ada yang berpuasa kecuali Nabi SAW dan Ibnu Rawahah“.
[HR. Bukhari 2 : 238]
~
عَنْ سَلْمَانَ قَالَ: خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ ص فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ: اَيُّهَا النَّاسُ قَدْ اَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ اْلخَيْرِ، كَانَ كَمَنْ اَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ اَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ اَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ اْلجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ، وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِيْهِ صَائِمًا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ وَعِتْقِ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ اَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ اَجْرِهِ شَيْءٌ، قَالُوْا: لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطّرُ الصَّائِمَ، فَقَالَ: يُعْطِي اللهُ هٰذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ، اَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ، اَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ، وَهُوَ شَهْرٌ اَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَاَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ، وَاَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ، وَاسْتَكثِرُوْا فِيْهِ مِنْ اَرْبَعِ خِصَالٍ: خَصْلَتَيْنِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ، وَخَصْلَتَيْنِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا، فَاَمَّا اْلخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ: فَشَهَادَةُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ، وَ تَسْتَغْفِرُوْنَهُ، وَاَمَّا اللَّتَانِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا: فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ اْلجَنَّةَ، وَتَعَوَّذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ اَشْبَعَ فِيْهِ صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِي شَرْبَةً لَا يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ اْلجَنَّةَ. ابن خزيمة 3: 191، رقم: 1887

Dari Salman, ia berkata : Rasulullah SAW berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban, beliau bersabda, “Hai para manusia, sungguh telah menaungi kalian bulan yang agung, bulan yang diberkahi, bulan yang di dalamnya ada satu malam lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya suatu kewajiban, dan shalat malamnya tathawwu’an (sunnah). Barangsiapa mendekatkan diri (kepada Allah) pada bulan itu dengan sesuatu berupa kebaikan, maka dia seperti orang yang menunaikan kewajiban di luar bulan Ramadlan. Barangsiapa yang menunaikan satu kewajiban (amalan fardlu) pada bulan itu, maka dia (pahalanya) seperti orang yang menunaikan tujuh puluh kewajiban di luar bulan Ramadlan. Dan bulan (Ramadlan) adalah bulan keshabaran, sedangkan shabar pahalanya adalah surga, dan bulan pertolongan dan bulan yang padanya bertambah rezqinya orang mu’min. Barangsiapa memberi buka kepada orang yang berpuasa pada bulan itu, maka yang demikian itu merupakan ampunan untuk dosa-dosanya dan membebaskan dirinya dari neraka, dan dia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa berkurang sedikitpun dari pahalanya”. Para shahabat bertanya, “(Ya Rasulullah), tidak setiap orang dari kami mesti mempunyai sesuatu untuk memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa”. Maka beliau menjawab, “Allah memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka orang yang berpuasa meskipun berupa sebuah kurma, seteguk air atau sedikit susu. Bulan Ramadlan itu adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya bebas dari neraka. Barangsiapa yang memberi keringanan kepada budaknya, maka Allah mengampuninya dan membebaskannya dari neraka. Dan perbanyaklah pada bulan itu melakukan empat hal, dua hal yang dengannya kalian membuat ridla Tuhan kalian, dan dua hal lagi yang kalian membutuhkannya. Adapun dua hal yang dengannya kalian bisa membuat ridla Tuhan kalian ialah kesaksian (syahadat) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan kalian mohon ampunan kepada-Nya. Adapun dua hal yang kalian membutuhkannya ialah kalian mohon surga kepada Allah dan mohon perlindungan dari neraka. Dan barangsiapa di bulan itu membuat kenyang kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, sekali minum dia tidak akan haus hingga masuk surga”.
[HR. Ibnu Khuzaimah juz 3, hal. 191 no 1887, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Ali bin Zaid bin Jud’aan]

Keterangan :
Tentang perawi ‘Ali bin Zaid bin Jud’aan tersebut :
Ahmad bin Hanbal berkata : ia dla’if
Bukhari dan Ibnu Hibban berkata : tidak dapat dijadikan hujjah
Nasaiy berkata : ia dla’if.
Ibnu Khuzaimah berkata : saya tidak berhujjah dengannya karena buruk hafalannya.

Bisa dilihat dalam Mizaanul I’tidal juz 3, hal. 127, no. 5844. Dan Tahdzibut Tahdzib juz 7, hal. 283, no 545.

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيّ ص فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ. البخارى 2 : 238

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, ”Kami bepergian bersama Nabi SAW. Dan orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa”. [HR. Bukhari 2 : 238]
~
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رض قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص فِى سَفَرٍ فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدْ ظُلّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ: مَا هٰذَا؟ فَقَالُوْا: صَائِمٌ. فَقَالَ: لَيْسَ مِنَ اْلبِرّ الصَّوْمُ فِى السَّفَرِ. البخارى 2 : 238

Dari Jabir bin Abdullah RA, ia berkata : Ketika dalam suatu perjalanan, Rasulullah SAW melihat kerumunan orang, dan seseorang telah dinaungi. Beliau SAW bertanya, ”Ada apa ini ?”. Mereka menjawab, ”Orang yang berpuasa“. Maka beliau bersabda, ”Tidak termasuk kebajikan berpuasa dalam bepergian“.
[HR. Bukhari 2 : 238]
'~
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ يُحَدّثُ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: كَانَ النَّاسُ فِى رَمَضَانَ، اِذَا صَامَ الرَّجُلُ فَاَمْسَى فَنَامَ حَرُمَ عَلَيْهِ الطَّعَامُ وَ الشَّرَابُ وَالنّسَاءُ حَتَّى يُفْطِرَ مِنَ اْلغَدِ، فَرَجَعَ عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ مِنْ عِنْدِ النَّبِيّ ص ذَاتَ لَيْلَةٍ قَدْ سَهِرَ عِنْدَهُ فَوَجَدَ امْرَأَتَهُ قَدْ نَامَتْ فَاَرَادَهَا، فَقَالَتْ: اِنّى قَدْ نِمْتُ. قَالَ: مَا نِمْتُ. ثُمَّ وَقَعَ بِهَا. وَصَنَعَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ مِثْلَ ذٰلِكَ. فَغَدَا عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ اِلَى النَّبِيّ ص فَاَخْبَرَهُ، فَاَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى: عَلِمَ اللهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ. احمد 5: 356، رقم: 15795

Dari 'Abdullah, bin Ka’ab bin Malik ia menceritakan dari ayahnya, ia berkata dahulu pada bulan Ramadlan orang-orang apabila berpuasa, ketika tiba saat berbuka lalu tidur, maka dia tidak boleh makan minum dan mencampuri istrinya hingga berbuka hari berikutnya. Pada suatu malam ‘Umar bin Khaththab datang dari sisi Nabi SAW setelah berbincang-bincang dengan beliau. Ketika itu ia mendapati istrinya telah tidur padahal ia ingin mencampurinya, (lalu ia membangunkannya). Maka istrinya berkata, “Sesungguhnya aku sudah tidur !”. ‘Umar berkata, “Tetapi aku belum tidur !”. Kemudian ‘Umar mencampurinya. Dan Ka’ab bin Malik pun berbuat seperti itu. Keesokan harinya ‘Umar bin Khaththab datang kepada Nabi SAW memberitahukan hal itu. Maka Allah Ta'aalaa menurunkan ayat ‘alimalloohu annakum kuntum takhtaanuuna anfusakum fataaba 'alaikum wa 'afaa 'ankum (Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, oleh karena itu Allah mengampuni kalian dan mema'afkan kalian.(Al-Baqarah : 187)
[HR. Ahmad, 5, : 356, no. 15795]
~
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَا يَمْنَعَنَّ مِنْ سَحُوْرِكُمْ اَذَانُ بِلَالٍ وَ لَا بَيَاضُ اْلاُفُقِ الَّذِى هٰكَذَا حَتَّى يَسْتَطِيْرَ. ابو داود 2: 303، رقم: 2346

Dari Samurah bin Jundab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah adzannya Bilal menghalangi sahur kalian, dan jangan pula terangnya ufuq yang (tegak) demikian, sehingga terangnya ufuq itu melintang dan menyebar”.
[HR. Abu Dawud juz 2, hal. 303, no. 2346]
~
عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنْ اَبِيْهِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِنَّ بِلَالًا يُؤَذّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوْا وَ اشْرَبُوْا حَتَّى يُنَادِيَ ابْنُ اُمّ مَكْتُوْمٍ. قَالَ: وَكَانَ رَجُلًا اَعْمَى لَا يُنَادِى حَتَّى يُقَالَ لَهُ: اَصْبَحْتَ اَصْبَحْتَ. البخارى

Dari Salim bin ‘Abdullah, dari ayahnya, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Bilal itu adzan pada malam hari, maka makanlah dan minumlah sehingga Ibnu Ummi Maktum adzan”. (Abdullah bin ‘Umar) berkata, “Dia adalah seorang yang buta, tidak beradzan sehingga dikatakan kepadanya, “Sudah Shubuh, sudah Shubuh”.
[HR. Bukhari juz 1, hal. 153]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا سَمِعَ اَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَاْلاِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ. ابو داود 2: 304، رقم: 2350

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian mendengar seruan (adzan), sedangkan bejana sudah berada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sehingga selesai keperluannya itu”.
[HR. Abu Dawud juz 2, hal. 304, no. 2350]
~
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ص يُقَبّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ اَمْلَكَكُمْ ِلِاِرْبِهِ. البخارى 2 : 233

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Nabi SAW mencium dan bercumbu padahal beliau berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling bisa menguasai nafsunya diantara kamu sekalian”.
[HR. Bukhari juz 2, hal. 233]
~
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: اِنْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص لَيُقَبّلُ بَعْضَ اَزْوَاجِهِ وَهُوَ صَائِمٌ ثُمَّ ضَحِكَتْ. البخارى 2 : 233

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah mencium diantara para istri beliau sedangkan beliau berpuasa. Kemudian istrinya tertawa”.
[HR. Bukhari juz 2, hal. 233]
~
عَنْ عَائِشَةَ وَاُمّ سَلَمَةَ زَوْجَيِ النَّبِيّ ص اَنَّهُمَا قَالَتَا: اِنْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ غَيْرِ احْتِلَامٍ فِى رَمَضَانَ ثُمَّ يَصُوْمُ. مسلم 2 : 781

Dari 'Aisyah dan Ummu Salamah istri Nabi SAW, keduanya berkata, “Sesungguhnya dahulu Rasulullah SAW pernah pada waktu shubuh di bulan Ramadlan masih dalam keadaan junub karena persetubuhan bukan karena mimpi, kemudian beliau tetap berpuasa”.
[HR. Muslim 2 : 781]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا نَسِيَ فَاَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَاِنَّمَا اَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ. البخارى 2 : 234

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila seseorang sedang berpuasa, lalu lupa sehingga makan dan minum, maka hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Hanyasanya Allah memberikan makan dan minum kepadanya”.
[HR. Bukhari juz 2, hal. 234]
'~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ النَّبِيّ ص اِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلَكْتُ. قَالَ: مَا لَكَ؟ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَ اَنَا صَائِمٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيْعُ اَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ قَالَ: لَا. فَقَالَ: فَهَلْ تَجِدُ اِطْعَامَ سِتّيْنَ مِسْكِيْنًا؟ قَالَ: لَا. قَالَ: فَمَكَثَ عِنْدَ النَّبِيّ ص فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذٰلِكَ اُتِيَ النَّبِيُّ ص بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٌ، وَاْلعَرَقُ الْمِكْتَلُ. قَالَ: اَيْنَ السَّائِلُ؟ فَقَالَ: اَنَا. قَالَ: خُذْ هَا فَتَصَدَّقْ بِهِ. فَقَالَ الرَّجُلُ: اَ عَلَى اَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَوَ اللهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا يُرِيْدُ اْلحَرَّتَيْنِ اَهْلُ بَيْتٍ اَفْقَرَ مِنْ اَهْلِ بَيْتِى. فَضَحِكَ النَّبِيُّ ص حَتَّى بَدَتْ اَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ: اَطْعِمْهُ اَهْلَكَ. البخارى 2 : 235

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Ketika kami sedang duduk-duduk di sisi Nabi SAW, tiba-tiba seorang laki-laki datang kepada beliau lalu berkata, ”Wahai Rasulullah, saya binasa“. Beliau bertanya, ”Ada apa engkau ?”. Ia berkata, ”Saya menyetubuhi istriku diwaktu aku puasa (Ramadlan)”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ”Apakah kamu mempunyai budak yang bisa kamu merdekakan ?”. Ia menjawab, ”Tidak”. Beliau bersabda, ”Apakah kamu mampu untuk berpuasa dua bulan berturut-turut ?”. Ia menjawab, ”Tidak” . Beliau bersabda, “Apakah kamu dapat memberi makan enam puluh orang miskin ?”. Ia berkata, “Tidak”. (Abu Hurairah) berkata : Lalu orang tersebut diam di sisi Nabi SAW. Ketika kami dalam keadaan demikian itu tiba-tiba dibawakan satu ‘araq kurma kepada Nabi SAW. Adapun ‘araq maksudnya adalah miktal (keranjang). Beliau bersabda, “Dimana orang yang bertanya tadi ?”. Ia menjawab, “Saya”. Beliau bersabda, “Ambillah ini dan sedeqahkanlah”. Ia berkata kepada beliau, “Apakah kepada orang yang lebih faqir daripada saya, wahai Rasulullah ? Demi Allah, diantara dua tepian kota Madinah (yang ia maksud dua tanah berbatu hitam), tidak ada keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku”. Maka Nabi SAW tertawa sehingga nampak gigi taring beliau. Kemudian beliau bersabda, “Berikan makan keluargamu dengan kurma itu”.
[HR. Bukhari 2 : 235]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ: مَنْ اَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَاِنْ صَامَهُ. البخارى 2: 235

Dari Abu Hurairah, ia merafa’kannya (ia mengatakan dari Nabi SAW), “Barangsiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadlan tanpa halangan dan bukan karena sakit, maka tidak bisa diganti dengan puasa selamanya, jika dia akan melakukannya”.
[HR. Bukhari juz 2, hal. 235]
'~
Tentang I’tikaf

وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِي الْمَسَاجِدِ، تِلْكَ حُدُوْدُ اللهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا. البقرة: 187

Janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu), sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.
[QS. Al-Baqarah: 187]
~
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا دَخَلَ اْلعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَاَحْيَا لَيْلَهُ وَاَيْقَظَ اَهْلَهُ. البخارى 2: 255

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Dahulu Rasulullah SAW apabila memasuki malam-malam sepuluh (akhir Ramadlan) beliau mengencangkan ikat pinggang (lebih meningkatkan ibadahnya), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya”.
[HR. Bukhari juz 2, hal. 255]
~
عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَعْتَكِفُ اْلعَشْرَ اْلاَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ. البخارى 2: 255

Dari 'Abdullah bin ‘Umar RA, ia berkata, “Dahulu Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan”.
[HR. Bukhari juz 2, hal. 255]
~
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَعْتَكِفُ فِى كُلّ رَمَضَانَ وَاِذَا صَلَّى اْلغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيْهِ قَالَ: فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ اَنْ تَعْتَكِفَ فَاَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْ فِيْهِ قُبَّةً فَسَمِعَتْ بِهَا حَفْصَةُ فَضَرَبَتْ قُبَّةَ وَسَمِعَتْ زَيْنَبُ بِهَا فَضَرَبَتْ قُبَّةً اُخْرَى. فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ ص مِنَ اْلغَدِ اَبْصَرَ اَرْبَعَ قِبَابٍ فَقَالَ: مَا هٰذَا؟ فَاُخْبِرَ خَبَرَهُنَّ. فَقَالَ: مَا حَمَلَهُنَّ عَلَى هٰذَا آلْبِرُّ، اِنْزَعُوْهَا فَلَا اُرَاهَا فَنُزِعَتْ فَلَمْ يَعْتَكِفْ فِى رَمَضَانَ حَتَّى اعْتَكَفَ فِى آخِرِ اْلعَشْرِ مِنْ شَوَّالٍ. البخارى 2: 259

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Dahulu Rasulullah SAW beri’tikaf pada setiap bulan Ramadlan. Setelah shalat Shubuh beliau masuk ke tempat i’tikafnya. (Perawi) berkata : Lalu ‘Aisyah minta ijin kepada beliau untuk beri’tikaf, maka beliau mengijinkannya. Kemudian ‘Aisyah membuat kemah. Kemudian Hafshah mendengar hal itu, lalu ia pun membuat kemah. Kemudian Zainab juga mendengar hal itu, maka iapun membuat kemah. Setelah Rasulullah SAW selesai shalat Shubuh, maka beliau melihat ada empat kemah, lalu beliau bertanya, “Ada apa ini ?”. Lalu beliau diberitahu bahwa itu adalah kemah-kemah istri-istri beliau. Lalu beliau bertanya, “Apa yang mendorong mereka berbuat demikian ? Apakah yang demikian itu kebaikan ? Bongkarlah kemah-kemah itu, karena aku melihatnya bukanlah kebaikan”. Lalu kemah-kemah itu dibongkar, dan beliau tidak jadi beri’tikaf Ramadlan (tahun itu), sehingga beliau beri’tikaf pada sepuluh hari akhir di bulan Syawwal.
[HR. Bukhari juz 2, hal. 259]
~
Keterangan :
Di dalam riwayat lain disebutkan “sehingga beri’tikaf sepuluh hari yang awwal di bulan Syawwal”. Di dalam riwayat yang lain lagi disebutkan, “Sehingga beliau beri’tikaf sepuluh hari di bulan Syawwal”, walloohu a’lam.

عَنْ عَائِشَةَ رض زَوْجِ النَّبِيّ ص اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَعْتَكِفُ اْلعَشْرَ اْلاَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ تَعَالَى، ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. البخارى 2: 255.

Dari ‘Aisyah RA istri Nabi SAW, bahwasanya Nabi SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan sehingga Allah mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sesudahnya”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 255]
~
عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَعْتَكِفُ اْلعَشْرَ اْلاَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. مسلم 2: 831

Dari ‘Aisyah RA, bahwasanya Nabi SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan sehingga Allah 'Azza wa Jalla mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sesudahnya”. [HR. Muslim juz 2, hal. 831]
~
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص اِعْتَكَفَ مَعَهُ بَعْضُ نِسَائِهِ وَهِيَ مُسْتَحَاضَةٌ تَرَى الدَّمَ، فَرُبَّمَا وَضَعَتِ الطَسْتَ تَحْتَهَا مِنَ الدَّمِ. البحارى 1: 80

Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW beri’tikaf, diikuti sebagian dari istri-istri beliau, padahal pada waktu itu ia sedang istihadhah, ia melihat darah. Kadangkala ia meletakkan bejana di bawahnya karena darah istihadhah itu.
[HR. Bukhari juz 1, hal. 80]
~
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص يَعْتَكِفُ فِى اْلعَشْرِ اْلاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَلَمْ يَعْتَكِفْ عَامًا. فَلَمَّا كَانَ فِى اْلعَامِ الْمُقْبِلِ اِعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ. الترمذى 2: 148، ررقم: 800

Dari Anas bin Malik, ia berkata, "Dahulu Nabi SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadlan, dan beliau pernah satu tahun tidak beri’tikaf padanya.. Kemudian tahun berikutnya beliau beri’tikaf selama dua puluh hari".
[HR. Tirmdzi juz 2, hal. 148, no. 800, dan ia berkata : Ini hadits hasan gharib shahih]
~
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص يَعْتَكِفُ فِى كُلّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ اَيَّامٍ. فَلَمَّا كَانَ اْلعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيْهِ اِعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ يَوْمًا. البخارى 2: 260

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Adalah Nabi SAW beri’tikaf pada setiap Ramadlan selama sepuluh hari. Maka ketika pada tahun dimana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 260]
~
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا قَالَتْ: اَلسُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ اَنْ لَا يَعُوْدَ مَرِيْضًا وَلَا يَشْهَدَ جَنَازَةً وَلَا يَمَسَّ امْرَأَةً وَلَا يُبَاشِرَهَا، وَلَا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ اِلَّا لِمَا لَا بُدَّ مِنْهُ. وَلَا اعْتِكَافَ اِلَّا بِصَوْمٍ وَلَا اعْتِكَافَ اِلَّا فِى مَسْجِدٍ جَامِعٍ. ابو داود 2: 333، رقم: 2473

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Menurut sunnah, bahwa orang i‘tikaf itu tidak menjenguk orang sakit, tidak melayat, tidak menyentuh wanita, tidak mengumpulinya, dan tidak keluar (dari tempat i’tikaf) untuk sesuatu keperluan, kecuali sesuatu yang ia harus melakukannya. Dan tidak ada I'tikaf melainkan dengan puasa, dan tidak ada I'tikaf melainkan di masjid jami'”.
[HR. Abu Dawud juz 2, hal. 333, no. 2473]
~
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا كَانَتْ تُرَجّلُ النَّبِيَّ ص وَهِيَ حَائِضٌ، وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فِى الْمَسْجِدِ. وَهِيَ فِى حُجْرَتِهَا يُنَاوِلُهَا رَأْسَهُ. البخارى 2: 260

Dari ‘Aisyah, bahwasanya ia pernah menyisir (rambut) Nabi SAW, padahal ia sedang haidl, dan Nabi SAW sedang i’tikaf di masjid. Pada waktu itu ‘Aisyah di dalam kamarnya, dan Nabi SAW menjulurkan kepala beliau ke kamar ‘Aisyah.
[HR. Bukhari juz 2, hal. 260]
~
عَنْ عَائِشَةَ رض زَوْجِ النَّبِيّ ص قَالَتْ: وَاِنْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص لَيُدْخِلُ عَلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ فَاُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ اِلَّا لِحَاجَةٍ اِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا. البخارى 2: 260

Dari 'Aisyah RA istri Nabi SAW berkata, "Sungguh, dahulu Rasulullah SAW pernah menjulurkan kepala beliau (ke kamarku), sedangkan beliau berada di masjid, lalu aku menyisir rambut beliau. Dan dahulu apabila beri'tikaf, beliau tidak masuk rumah kecuali untuk suatu keperluan".
[HR. Bukhari juz 2, hal. 260]
~oO[ @ ]Oo~

Pengertian & Kode Etik Wawancara

Wawancara

  Pengertian Wawancara
➛Wawancara adalah:
   ⤷Tanya jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapat tentang suatu hal atau masalah
   ⤷Proses komunikasi berpasangan dengan suatu tujuan yang serius sesuai rancangan yang telah ditetapkan sebelumnya dan kegiatannya melibatkan tanya jawab.
➛Wawancara dilakukan oleh 2 pihak:
   ⤹Pewawancara (interviewer): orang yang bertanya
   ⤹Yang diwawancarai (interviewee): orang yang diwawancarai

Definisi wawancara
➛Percakapan antara individu yang ingin memperoleh informasi (pewawancara) untuk tujuan tertentu dengan individu lain yang menjadi sumber informasi (responden)
➛Interaksi dalam wawancara melibatkan aspek verbal & non-verbal.
➛Wawancara dilihat sebagai bentuk percakapan daripada bentuk pertanyaan:
   ⤷Pewawancara membuat pernyataan untuk merangkum atau memberikan stimulasi

Kapan menggunakan wawancara?
→ Responden buta huruf
→ Responden terlalu muda untuk mengisi skala atau tes psikologi
→ Responden terlalu sibuk mengisi skala atau tes psikologi
→ Topik yang diukur bersifat pribadi, individual, & rahasia.

Sebagai pengumpul data
→ Wawancara menggantikan alat ukur psikologis yang lain
→ Wawancara menjadi pelengkap pengumpul data alat ukur psikologi yang lain
→ Alat pengumpul data kuantitatif
→ Alat pengumpul data kualitatif

Pedoman wawancara (Hadi, 1992)
→ Memberikan bimbingan tentang pokok-pokok yang ditanyakan
→ Menghindarkan kemungkinan lupa tentang beberapa persoalan yang relevan terhadap pokok  
   penyelidikan
→ Meningkatkan wawancara sebagai metode yang hasilnya memenuhi prinsip komparabilitas

Pedoman wawancara
Wawancara terstruktur
⤷ Tentukan tujuan wawancara
⤷ Buat batasan dari tujuan secara operasional
⤷ Jabarkan operasionalisasi tujuan dalam rincian
⤷ SARAN: tanyakan pada diri sendiri, mengapa mengajukan suatu pertanyaan?
Wawancara tidak terstruktur
⤷ Tentukan tujuan wawancara
⤷ Jabarkan tujuan dalam garis besar informasi yang ingin diperoleh
⤷ Tidak perlu ada pertanyaan rinci, gunakan pedoman bahwa “peneliti/pewawancara adalah alat”

Mengapa menggunakan wawancara?
1) Dapat mengajukan pertanyaan yang tidak dapat dilakukan dengan metode lain
2) Memberikan kesempatan bagi pewawancara untuk mendapat data tentang minat, tingkat
    pemahaman, kecerdasan, dan kemampuan komunikasi subjek
3) Memberikan kesempatan bagi pewawancara untuk menilai aspek-aspek subjektif, reaksi
    non-verbal, tampilan emosi, dan aspek lain yang diperlukan.

Fungsi wawancara
1) Sebagai metode primer:
➮ digunakan sebagai satu-satunya alat pengambil data
2) Sebagai metode pelengkap:
➮ digunakan sebagai alat untuk mencari informasi-informasi yang tidak dapat diperoleh dengan cara 
    lain
3) Sebagai kriteria:
➮ digunakan untuk menguji kebenaran dan kesesuaian data yang diperoleh dengan metode 
    pengumpulan data yang lain.

Fungsi & kegunaan wawancara
→ Dalam psikologi, wawancara memiliki beberapa fungsi yaitu:   


Kelebihan wawancara
1) Pewawancara dapat memotivasi  subjek untuk menjawab  dengan  bebas dan terbuka terhadap
    pertanyaan­ pertanyaan yang diajukan.
2) Pewawancara  dapat mengembangkan  pertanyaan­ pertanyaan sesuai dengan situasi yang
    berkembang.
3) Pewawancara dapat menilai kebenaran jawaban, yang diberikan dari gerak ­gerik dan raut wajah
    subjek.
4) Pewawancara dapat menanyakan kegiatan ­kegiatan khusus yang tidak selalu terjadi.

Kelemahan wawancara
1) Proses wawancara membutuhkan waktu  yang lama, sehingga relatif mahal dibandingkan
    dengan tehnik yang lainnya.
2) Keberhasilan hasil wawancara sangat tergantung dari kepandaian pewawancara untuk
    melakukan hubungan antar manusia.
3) Wawancara tidak selalu tepat kondisi, dalam tempat tertentu, misalnya di lokasi ramai .
4) Wawancara dapat menyita waktu subjek karena bila waktu yang dimilikinya sangat terbatas.

Perbedaan antara wawancara dan percakapan sehari-hari
1) pewawancara dan subjek biasanya belum saling kenal mengenal sebelumnya.
2) responden selalu menjawab pertanyaan, pewawancara selalu bertanya.
3) pewawancara tidak menjuruskan pertanyaan kepada suatu jawaban, tetapi harus selalu bersifat
    netral.
4) pertanyaan yang ditanyakan mengikuti panduan yang telah dibuat sebel umnya, pertanyaan
    panduan ini dinamakan panduan wawancara (Interview Guide.

Jenis-jenis wawancara
→ Berdasarkan jenis panduan wawancara dan jumlah responden:


PERBEDAAN
Wawancara terstruktur
⤷ ADA PANDUAN WAWANCARA
⤷ Pertanyaan & jawaban bersifat tertutup
⤷ Pewawancara menjaga jarak
⤷ Tujuan: mencari penjelasan suatu fenomena
Wawancara tidak terstruktur
⤷ TIDAK ADA PANDUAN WAWANCARA
⤷ Pertanyaan terbuka, jawaban lebih luas & bervariasi
⤷ Pewawancara tidak menjaga jarak & tidak apriori
⤷ Tujuan: mencari pemahaman suatu fenomena

Jenis wawancara berdasarkan fungsi
➛ Wawancara penelitian:
  ⤷ Dilakukan sebagai metode memperoleh data/informasi tertentu tentang suatu fenomena yang
     diteliti
➛ Wawancara diagnostik/asesmen :
  ⤷ Berfungsi untuk melakukan pemeriksaan psikologis
➛ Wawancara terapiutik
  ⤷ Fungsinya untuk konseling, terapi, pemulihan, dan bentuk pendampingan psikologis lainnya

Jenis wawancara berdasarkan tujuan
➛ Wawancara pekerjaan
  ⤷ Untuk kepentingan bekerja, seleksi, & promosi
➛ Wawancara informatif
  ⤷ Untuk memperoleh informasi/berita jurnalistik
➛ Wawancara administratif
  ⤷ Untuk mendisiplinkan aturan, misal: siswa yang bolos
➛ Wawancara konseling (intake interview)
  ⤷ Untuk mengetahui permasalahan yang terjadi pada klien untuk membantu mengatasi
     permasalahan klien

 Kode etik wawancara

1) Inform consent subjek (persetujuan)
2) Kerahasiaan subjek
3) Kerahasiaan data subjek
4) Perlindungan  terhadap kenyamanan & keamanan
5) Proses diseminasi informasi terhadap para profesional & komunitas ilmuwan
6) Mencegah kecurangan & penipuan terhadap subjek
7) Penggunaan oleh dirinya atau pihak lain untuk kejahatan


Wednesday, May 31, 2017

Refleksi Tentang Gagasan Jung


(1)
Kegelapan Di Atas Kegelapan:
"Seberapa gelap Kedirian Kita"?

    Dalam banyak hal barangkali kita ini tidak lebih dari lembaran photo copy dari teks yang ditulis, dirancang oleh lingkungan (keluarga, masyarakat, budaya). Kita lahir, tumbuh dan berkembang dalam dunia yang telah lengkap dengan prinsip, nilai, norma, aturan. Itu serupa tisu yang dicelupkan dalam cawan bertinta merah, maka merahlah ia. Dengan begitu, apa yang disebut sebagai diri yang otentik, terlalu sulit dilacak, dikenali, bahkan dibayangkan.
Dan itu pun masih dipergelap dengan persona, yang membuat kita begitu terlatih melakukan penipuan diri. Menampakkan wajah yang lain, yang barangkali jauh berbeda dari wajah kita yang sebenanya. Selain bahwa kenyataannya, ada shadow, yang barangkali kita malu mengakuinya, menentangnya, dan atau mengingkarinya. Itu sisi gelap, dorongan-dorongan hewan purba, yang membuat kita sama dengan binatang ternak, atau yang lebih liar dari itu. Dan hewan yang berpikir, dapat melakukan kekejian-kekejian yang bahkan tak dapat dilakukan oleh binatang. Juga anima-animus
Artinya, bukan hanya kegelapan kita yang berlapis-lapis, tapi juga ada pertentangan-pertentangan jiwa yang berlawanan, yang bila sedemikian carut marutnya, membuat kita tak lagi mengenali bagian sadar dan tak sadar dari diri kita. Seperti labirin, semakin masuk ke dalam, menyusurinya, semakin gelap dan semakin gelap, penuh ranjau. Maka, dalam keadaan semacam itu, nyaris mustahil mengalami keutuhan kepribadian, menyatunya semua aspek dalam jiwa yang berlawanan. Dan lebih mustahil lagi, melakukan realisasi diri (self-realization). Tak ada yang dapat direalisasikan dari diri yang tak otentik, dari jiwa yang begitu gelap, tak disadari, tak dikenali.
Maka, barangkali ada banyak orang yang hidup dan mati bukan sebagai diri sendiri. Mereka pikir dirinya kupu-kupu, tapi sebenarnya kepompong. Dikira kepompong, tapi sejatinya ulat. Dan itu pun kupu-kupu, kepompong, dan ulat yang dikonstruks oleh hal-hal di luar diri. Hidup dan mati hanya dalam evolusi tubuh, tapi tidak demikian dengan jiwanya. Tubuh berevolusi, dan dapat saja tumbuh lebih cepat, tapi ada perhentian. Namun tidak begitu dengan jiwa. Ia dapat terus tumbuh, tak punya garis tepi. Kitalah yang membuatnya bertepi, dan lalu membusuk.

(2)
Membaca Diri:
"Ekstravert atau Introvert"?

     Membaca Jung, saya jadi tergoda untuk membacai diri sendiri. Sekaligus ingin menunjukkan bagaimana gagasan tentang dunia luar (ekstravert) dan dunia dalam (introvert) ini, dapat difahami, ditafsir dengan cara yang sedikit berbeda.
Agaknya, saya lebih cenderung introvert ketimbang ekstravert. Saya lebih betah dengan kesendirian ketimbang kebersamaan. Lebih tahan dalam kesunyian ketimbang keramaian. Saya dapat berhari-hari, berminggu, dan berbulan sendirian. Tapi akan merasakan kelelahan psikologis, kosong, hampa bila terlalu sibuk dengan banyak orang, dalam keramaian, bahkan dalam hitungan dua tiga hari. Saya merasa, ada sesuatu yang hilang dari diri saya. Dan itu penanda, bahwa saya butuh kesendirian. Beranjak menuju diri, beringsut dari dunia luar.
Pun begitu, ada sesi keberminatan indrawi (sensing) dalam diri saya. Ketika terlalu lama sendiri, saya juga merasa kosong, sebab terhempas dari realitas, berjauh jauh jarak dengan dunia luar. Itu penanda bagi saya untuk keluar menghirup udara di luar diri. Dan sederhana. Saya hanya mengendari motor, keliling desa-desa, menyusuri jalan-jalan yang membelah persawahan, dan lalu berhenti di warung kecil, perlintasan kereta api, atau menatap senja kemerahan. Seringkali bersama isri dan anak saya. Atau, saya tetap berdiam di rumah, mendengarkan musik yang saya suka, atau mencari-cari musik yang lain. Itu sudah cukup membuat jiwa saya terisi kembali. Itulah kenapa, saya tak suka hiburan yang digambarkan banyak orang (jalan-jalan, nonton dan semacamnya). Bila saya melakukannya, itu wujud dari perhatian dan penghargaan saya pada orang lain. Dan terutama, orang-orang terdekat. Berpikir (thinking) tentu saja adalah dunia terbesar dari diri saya sebagai seorang pengajar. Dan itu lebih dari sekedar tugas rutin, formal-prosedural. Mengajar yang di dalamnya riuh dengan dialektika pemikiran, adalah sebentuk jalan hidup, yang saya bahagia, bermakna melakukannya. Atau semacam pengabdian, yang disana saya menangkap sisi heroik. Saya meyakini, merasa, dan mengalami bahwa saya dapt bertumbuh dalam jalan yang saya pilih.
Namun, diantara penanda seorang manusia adalah juga tentang rasa (feeling). Cinta, rindu, syukur, keharuan, keterikatan psikologis, bahagia, makna-makna adalah tentang rasa, yang seringkali tak tertakar oleh pikiran. Itulah mengapa mencintai dengan hati, memahami dengan pikiran. Dan itu bukan hanya akan membentuk cinta yang mencerdaskan, tapi juga ditaburi dengan gugusan syair. Rasa adalah bagian dari diri yang selayaknya diperkaya.
Dan tentu saja, indrawi yang secara sadar dipilih, pikiran yang benar-benar dipertajam, dan rasa yang sungguh-sungguh diolah, dapat menguatkan intuisi (intuiting) yang sekali waktu dapat diandalkan saat tak cukup pijakan untuk bergerak.

(3)
Merenung-Refleksi Diri:
"Apakah Lebih Mungkin yang Introvert"?

     Ekstrovert dan introvert itu, juga fungsi-fungsi psikologisnya bersifat netral, belum terkait dengan positif dan negatif. Ia berkaitan dengan seberapa banyak energi kesadaran yang dikeluarkan, apakah ke luar diri (ekstrovert) ataukah ke dalam diri (introvert). Juga fungsi-fungsi psikologisnya, apakah lebih thingking (pemikir) feeling (perasa) sensing (pengindra), ataukah intuiting (intuitif). Misalnya, dua orang yang sama-sama ekstravert ketika melihat gelandangan kecil jalanan, bisa jadi beda penayerapannya. Yang pemikir-thingking, mungkin berkata, “Apa dan mengapa anak-anak hidup dijalanan?” Dan yang perasa-feeling mungkin berkata, “Oh, kasihan sekali.” Dan tentu saja, dalan thinking ada feeling, dalam feeling ada thinking.
Jung yang mengatakan, “Who looks outside, dreams, who looks inside, awakes.” Apakah dengan begitu, yang introvert lebih mungkin dapat melakukan refleksi diri dibanding ekstrovert? Jawabanya, belum tentu, dan tidak sesedehana itu.
Pertama-tama, kita cermati dulu apa itu refleksi diri? Secara sederhana, ia petama-tama adalah suatu upaya sadar membangkitkan ulang atau memantulkan pengalaman tentang diri. Ibrat LCD proyektor yang memantulkan cahaya ke arah slide, sehingga materi, file-file, bukan saja terlihat jauh lebih luas tapi juga lebih besar, baik huruf dan atau gambar-gambarnya. Dengan begitu, akan jauh lebih jelas dan terang itu huruf, kata, kalimat, dan gambar apa, juga maknanya.
Nah, karena dalam ruang refleksi itu, pengalaman tentang diri menjadi jauh lebih jelas dan terang, maka yang bersangkutan dapat melakukan permenungan, intropeksi, pembenahan, menata, manafsir ulang tentang diri, hidup, pengalaman dan dunianya. Artinya, ada kemungkinan bagi peningkatan kesadaran. Sadar itu artinya terjaga (awakes). Orang yang terjaga menjadi tahu, sadar apa dan bagaimana sebaiknya dan semestinya berbuat. Itulah saya kira makna dari, “Who looks inside, awakes.” Adapun, “Who looks outside, dream” itu kebalikannya. Terlalu fokus, sibuk, terjebak pada perkara dunia, orang-orang, pekerjaan dan sebagainya, sehingga lalai melakukan permenungan, intropekesi, pembenahan, menata, manafsir ulang tentang diri, hidup, pengalaman dan dunianya. Tidak punya LCD proyektor diri. Dengan begitu, tidak memiliki cukup kejelasan, kesadaran, dan pemahaman tentang apa, mengapa, dan bagaimana diri dan dunianya. Karena tak cukup kejelasan, kesadaran, dan pemahaman tentang apa, mengapa, dan bagaimana diri dan dunianya, bisa jadi yang dia lakukan penuh ilusi, semu, mimpi-mimpi (dreams). Nah, “Who looks inside, awakes“ dan “Who looks outside, dream” itu berbeda, dan atau tak sesedehana dengan apa yang dimasud ekstrovert-introvert.
Perlu diperhatikan bahwa ekstrovert itu lebih tertuju di luar diri (toward the outside world), yakni orang yang cenderung tebuka, asertif, dapat bersosialisi, orientasi pada orang lain, dunia di luar diri. Sementara yang introvert ke dalam diri (toward of the self), yakni cenderung menarik diri, pemalu, fokus pada diri, baik pikiran maupun perasaan.
Apakah orang yang cenderung menarik diri, pemalu, fokus pada diri, baik pikiran maupun perasaan (introvert) lebih mungkin melakukan refleksi diri, dibanding orang yang cenderung tebuka, asertif, dapat bersosialisi, orientasi pada orang lain, dunia di luar diri (ekstrovert)? Jawabannya, belum tentu, dan tidak sesedehana itu. Gampangnya, diam belum tentu merenung. Dan merenung belum tentu dalam diam. Apakah orang yang sibuk dengan pikiran dan perasannya sendiri bermakna sedang melakukan refleksi? Belum tentu juga. Apakah orang yang tebuka, bersosialisi, banyak hadir di dunia di luar tak punya waktu untuk melakukan refleksi? Juga belum tentu.
Ekstrovert dan introvert itu baru sebatas soal seberapa banyak energi kesadaran yang dikeluarkan, apakah ke luar diri atau kah ke dalam diri, dan belum menyangkut fungsi psikologis, apakah ekstrovert-introvert yang pemikir (thingking); yang perasa (feeling); yang pengindra (sensing); ataukah yang intuitif (intuiting). Katakanlah misalnya, introvert yang pemikir yang lebih fokus pada ide-ide, gagasan ketimbang orang. Pertanyaanya, apakah yang dipikir itu ide-ide, gagasan tentang apa dan bagaimana diri dan hidupnya, yang membawanya pada refleksi? Belum tentu. Atau juga ekstrovert yang pemikir, yang logis, objektif, analisis. Pertanyaanya, apakah yang dipikir secara objektif analisis itu selalu tenang hal-hal di luar diri dan pengalamannya? Juga belum tentu.
Jadi, refleksi itu akan lebih pada soal peristiwa, moment-moment penting tentang diri dan apa yang dialami seseorang, ketimbang perkara apakah seseorang itu ekstrovert dan introvert.

ads

Translate

FeedBurner

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Author

Author
myself